Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Pergi ke Lombok


__ADS_3

Setelah berhasil melepaskan diri dari Kirana, Zaidan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke Lombok. Tak butuh waktu lama bagi Zaidan menyelesaikan ritual mandinya. tampan cantik itu keluar dengan baju koko berwarna navy dengan rambut yang masih basah.


Kirana terkesima melihat penampilan pangerannya. Ia sampai tidak bisa mengedipkan mata dan berpaling ke arah lain.


"Masya Allah, you look so handsome, by" ucap Kirana masih terkesima melihat penampilan Zaidan.


Pria itu tersenyum malu. Dan cepat- cepat berlalu dari hadapan Kirana atau pipinya akan semakin merona, jika Kirana kembali menggodanya.


"Udah sana mandi, terus ke masjid! Tadi pagi gak ke masjid, masa ini gak ke masjid lagi!" ucap Zaidan mengerikan rambutnya.


"Iya bawel" ucap Kirana mencubit pipi Zaidan kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar satu jam lima belas menit, Kirana baru keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk sepinggang dengan bagian dadanya dibiarkan terbuka.


Zaidan yang melihat hal itu melempar bantal sofa dan tepat mengenai dada bidang Kirana.


"Ih kebiasaan deh!" umpat Zaidan kesal.


"Lho siapa yang kebiasaan by? Baju aku ketinggalan di situ" kilah Kirana menunjuk ke arah baju gamis yang ada di tempat tidur.


"Terserah!" ucap Zaidan menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"By" panggil Kirana membuat Zaidan mendongakkan kepalanya dan ternyata Kirana sudah berada tepat di depannya dengan jarak 3 cm.


Zaidan hanya berdehem dan tidak berani membuka mulutnya. Terakhir kali Kirana menjebaknya seperti ini dan langsung menyerangnya, Zaidan tidak ingin hal itu terjadi lagi.


"Aku punya sesuatu buat kamu, tapi sebelum itu... kamu harus tutup mata dulu" ucap Kirana tepat di depan wajah Zaidan dan membuat pria itu bisa merasakan hembusan napas hangat Kirana.


Zaidan mengangguk dan menuruti perintah Kirana untuk menutup mata. Kirana mengambil jam tangan dan memasangkan jam tangan tersebut pada lengan Zaidan.


" Udah by, sekarang kamu bisa buka mata" ucap Kirana


Dengan perlahan Zaidan membuka matanya. Ia tersenyum saat jam tangan berada pas di tangannya.


"Kamu suka?" tanya Kirana


"Suka Kirana, ini bagus banget, sekarang kamu tutup mata" ucap Zaidan


Kirana mengangguk dan menuruti perintah Zaidan untuk menutup mata. Zaidan mengambil kalung berlian dan memasangkan kalung tersebut pada leher Kirana


Zaidan membawa Kirana ke cermin depan kemudian menyuruhnya untuk membuka mata.


"Udah by, sekarang kamu bisa buka mata" pinta Zaidan.


Dengan perlahan Kirana membuka matanya. Ia tersenyum saat kalung berlian dengan liontin berbentuk hati berada cantik di lehernya.


"Kamu suka by?" tanya Zaidan memeluk Kirana dari belakang.


"Suka mas, ini bagus banget, terus ada tulisannya juga di liontinnya" ucap Kirana antusias dan membaca tulisan kecil yang terdapat di liontin kalung tersebut.


"Zairan?" tanya Kirana memastikan dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


"Zaidan dan Kirana" sambung Zaidan tersenyum lebar.


"Makasih mas, tapi sejak kapan mas berubah jadi romantis gini? Biasanya anti romantis, kan aku jadi melting" ucap Kirana tersipu malu.


"Sama-sama by. Mas memang romantis, kamunya aja yang gak tau" jawab Zaidan meletakkan dagunya di pundak Kirana.


"Kamu tau gak, siapa yang milih kalung itu buat kamu?" tanya Zaidan masih memeluk tubuh Kirana dari belakang.

__ADS_1


"Kak Calvin kan?" ucap Kirana dengan yakin.


"Kamu kok tau? Gak asik ih" cicit Zaidan.


"Udah ku duga. Mas Zaidan mana bisa pilih perhiasan untuk cewek, orang waktu fitting baju pengantin aja mas bilang cantik semua" ledek Kirana tersenyum bahagia.


"Kan beda kondisi waktu itu by" kilah Zaidan mencium leher Kirana. Wangi vanilla yang menempel pada tubuh Kirana membuat Zaidan tidak ingin jauh-jauh dari wanitanya.


"Kalau jam tangan ini pasti dari Adrian kan" ucap Zaidan


"Iya" jawab Kirana


"Sudah ku duga. Kamu mana bisa pilih jam tangan untuk cowok, orang waktu fitting baju pengantin aja kamu bilang bagus semua" ledek Zaidan tersenyum bahagia.


"Kan beda kondisi waktu itu by waktu itu aku belum mencintaimu" kilah Kirana


"Udah sana ke masjid! Jangan nempel aku terus, nanti malah kamu cepet kangen sama aku" ucap Kirana terkekeh.


"Gimana gak kangen coba, orang istri secantik dan sewangi ini. Candu tau by, sama wangi kamu" ucap Zaidan semakin menghirup aroma badan Kirana.


"Ih! Ke masjid gak! Kalau gak berangkat sekarang, aku bakal merajuk sama kamu!" ucap Kirana ketus.


"Merujak atau merajuk? Merajuk kok bilang-bilang" ucap Zaidan terkekeh dan mengecup pipi Kirana sebelum akhirnya ia bersiap-siap untuk pergi ke masjid.


"Au ah" desis Kirana kesal.


"By, kalau kamu ke Lombok terus besok yang pasang naikin resleting baju saya siapa?" tanya Kirana yang baru teringat kalau dirinya tidak bisa naikin resleting baju sendiri.


Zaidan melangkah menuju lemarinya dan mengambil beberapa baju dengan beberapa warna yang baru ia beli bareng dengan perlengkapan untuk kegiatan sukarelawan.


"Kamu bisa pakai ini. Cara pakainya di kacing dan dirapikan. Udah deh selesai" jelas Zaidan sambil mempraktikkan cara memakai kemeja tersebut.


"By, sana siap-siap kemasjid" ucap Kirana


Zaidan mengangguk paham. Setelah itu ia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lalu ia memakai kopiah dan menghampiri Kirana untuk berpamitan pergi ke masjid.


"Sayang, mas ke masjid dulu ya. Assalamualaikum" ucap Zaidan menyerahkan tangannya untuk dicium oleh Kirana.


"Waalaikumussalam warahmatullah, mas" jawab Kirana mencium punggung tangan Zaidan.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, kalau ada yang mengetuk pintu dilihat dulu dan jangan langsung dibuka" ucap Zaidan tak henti-hentinya mengingatkan pria itu untuk waspada.


"Iya mas, kamu juga hati-hati ya kalau di jalan" jawab Kirana.


"Iya, mas pergi ya" ucap Zaidan. Zaidan keluar dari kamar menuju masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, sementara Kirana tetap sholat di rumah saja.


Waktu berlalu dan Zaidan sudah pulang dari masjid dan juga sudah siap dengan stelan kemeja berwarna navy. Ia tidak jadi memakai warna hitam karena ingin warna baju yang ia kenakan senada dengan warna gamis Kirana.


Kini tibalah Zaidan dan Kirana akan pergi ke Lombok. Kirana hanya mengantarkan dan menginap sehari saja disana, jika koneksi internet di lokasi kegiatan Zaidan bagus, mungkin Kirana lebih memilih untuk menemani pria itu dan memantau semuanya lewat layar laptop.


Kirana tidak dibiarkan berjalan oleh Zaidan. Sejak keluar dari kamar mereka, Zaidan langsung menggendong Kirana sampai di halaman rumah mereka.


Pandangan Zaidan terkesiap saat melihat sebuah helikopter terparkir disana. Sejak dulu, Zaidan sangat ingin belajar mengendalikan helikopter, namun papanya melarang dan itu merupakan larangan pertama dari papanya.


Wajah Zaidan berseri dan ia pun tersenyum sumringah. "Kirana kita naik helikopter?" tanya Zaidan excited.


"Iya by" ucap Kirana tepat di depan pintu masuk ke dalam helikopter.


"Ini helikopter punya kamu? Wah bravo!" ucap Zaidan masih tidak menyangka bahwa ia akan terbang ke Lombok menggunakan helikopter.

__ADS_1


Kirana tertawa kecil melihat tingkah Aisyah yang seperti seorang balita yang baru saja dibelikan mainan baru oleh orang tuanya.


'Gimana Kirana bisa jauh dari kamu selama dua bulan by? Tingkah kamu aja kayak gini' gumam Kirana memikirkan bagaimana ia bisa bertahan jauh dari Zaidan.


"Iya by, ini punya aku dan cuman aku gunakan kalau penting aja" ucap Kirana mempersilahkan Zaidan untuk masuk ke dalamnya.


Zaidan membantu Kirana untuk naik ke dalam helikopter tersebut. Sebelum berangkat, Zaidan mengecek kembali barang-barang mereka dan memastikan tidak ada yang tertinggal.


"By, ini kartu debit punya kamu. Jadi, setiap bulan akan mas transfer kesini terserah mau kamu gunain buat apa. Kalau untuk belanja bulanan, mas udah siapin sendiri, jadi ini khusus untuk kamu mau belanja" ucap Zaidan menyerahkan kartu debit atas nama Kirana yang baru saja ia buat.


"Dan ini black card tanpa batas limit, kamu bisa gunain sesuka kamu untuk apapun" sambung Zaidan menyerahkan black card pada Kirana.


Kirana yang diberikan dua kartu penting sekaligus terhenyak kaget, banyak sekali kartu yang diberikan padanya. Jika ditotal, maka Kirana memiliki 6 kartu debit dan 5 black card tanpa batas limit yang ia dapatkan dari Ayahnya, bundanya, Om yang sudah ia anggap sebagai papa, tante yang sudah ia anggap sebagai mamanya, dari Adrian dan juga dari Zaidan.


"Kenapa banyak banget mas? Kan tadi udah dikasih uang tunai, aku juga punya uang sendiri" tanya Kirana heran


"Disimpan aja uang kamu, siapa tau nanti butuh, mulai sekarang kamu pakai uang mas, mas tau kamu ada uang tapi ini adalah tanggung jawab mas" sambung Zaidan menggelengkan kepalanya.


"Tapi mas, nanti pakai apa kalau dosanya?" tanya Kirana


"Mas ada uang ko tadi kan kamu sudah kasih mas" ucap Zaidan


Dimata Kirana, Zaidan adalah pria naif jika menyangkut kekayaan. Padahal ia terlahir dari keluarga kaya, tapi ketika dikasih hadiah dari brand ternama atau disuruh memilih untuk meminta uang berapa, pria itu justru bingung dan ketika sudah diberikan, dia akan bilang kalau semua itu berlebihan.


"Oh iya, udah gak ada yang tertinggal kan? Kita berangkat sekarang by?" tanya Kirana kembali memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.


"Tunggu papa dan mama ya, kan kata papa tadi beliau mau kesini dan makasih untuk uangnya" ucap Zaidan menatap wajah Kirana.


"Makasih kartunya mas, nanti Kirana akan pakai sebaik-baiknya" ucap Kirana menatap wajah Zaidan


"Sama-sama by" ucap Zaidan mengelus kepala Kirana.


Selang beberapa menit, mobil mewah berwarna hitam masuk ke halaman rumah Kirana yang ternyata adalah Daniel dan Naura.


Kirana langsung menemui mertuanya dan mencium punggung tangan mertuanya. Sedangkan Zaidan masih duduk masih di dalam helikopter.


"Udah mau berangkat?" tanya Naura menghampiri Zaidan.


"Iya ma" jawab Zaidan sambil mengangguk


"Ini uang jajan untuk kamu nak" ucap Naura menyerahkan lembaran uang kertas berwarna merah pada Zaidan.


"Gak perlu ma. Kirana udah ngasih uang kok ke Zaidan, lagian Zaidan cuman dua bulan di Lombok, gak setahun" ucap Zaidan cemberut karena mamanya sama saja seperti Kirana yang mengkhawatirkan keuangannya. Padahal ia tidak melaksanakan kegiatan itu sendirian melainkan bersama para staff rumah sakit.


"Yaudah kalau gitu. Kalian berdua hati-hati ya," ucap Naura mengelus kepala Kirana dan juga Zaidan.


"Dan kamu nak, walaupun kamu udah sering ikut kegiatan volunteer, kamu harus tetap jaga diri ya. Inget kamu udah jadi suami Kirana, jaga nama baik keluarga istri mu dan keluarga kita" sambung Naura menasehati Zaidan. Walaupun ia tau kalau Zaidan adalah pria cerdas yang tau baik dan buruk bagi dirinya.


"Iya. Zaidan bakal jaga diri kok" ucap Zaidan meyakinkan sang mama.


"Oh iya, Kirana ikut kegiatan ini juga? Atau hanya mengantarkan Zaidan aja nak?" tanya Daniel ke Kirana.


"Kirana hanya nganterin Zaidan aja pa, karena koneksi internet disana kurang stabil untuk dipakai rapat, pa" jawab Kirana.


"Yaudah kalian berangkat sekarang, biar tidak kesorean sampai sana" sambung Daniel mempersilahkan anak dan menantunya untuk pergi.


"Kami berdua pamit pergi ya pa,ma. Assalamualaikum" ucap Kirana dan juga Zaidan sambil mencium punggung tangan papa dan mama Zaidan.


"Waalaikumussalam, fii Amanillah anak-anak papa" ucap Daniel tersenyum ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Kirana masuk ke dalam helikopter, setelah itu mereka lepas landas dan mengudara menuju Lombok. Tempat dimana Zaidan akan melakukan kegiatan sukarelawan.


__ADS_2