Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Wedding


__ADS_3

Semenjak ia kepergok sedang berciuman dengan Zaidan oleh Daniel didalam kamar, pernikahan ia dengan Zaidan dipercepat. Kirana sangat bosan dirumah aja, ia dikurung didalam rumah ini oleh couple singa dan putra anehnya itu. Sifat Kirana yang tak tahan berdiam diri saja, membuatnya frustasi karena tak bisa melakukan apapun.


Hari ini adalah hari terakhir dirinya di lockdown paksa oleh para penghuni rumah ini. Yang bisa Kirana lakukan hanyalah nonton video balapan mobil melalui laptop miliknya.


Brak


Kirana melihat Adrian yang mendobrak pintunya dengan sangat keras dan tanpa tau diri langsung tiduran disamping dirinya yang sedang asik menonton.


"Owh, kesini mau ngajak ribut lu?" tanya Kirana dengan raut wajah garangnya


"Engga dong kakakku cantik" jawab Adrian


"Ngapain!" sinis Kirana yang melihat muka adik jeleknya


"Kok elu gak ada sweetnya si sama adik sendiri, gue liat disosmed pada sweet sama adiknya" ketus Adrian


"Elah pansos itu mah bodoh" sahut Kirana


Adrian hanya menatap sinis kakaknya yang sangat jarang bersikap baik kepada pria tampan ini.


"Elu mau ngapain ke kamar gue bocah?" tanya Kirana yang kesal adiknya tak pergi-pergi


Adrian menepuk jidatnya karena melupakan tujuan ia datang ke kamar milik kakaknya itu.


"Sebentar lagi elu nikah Kirana, rumah besar ini bakal sepi karena gak ada ribut lagi sama gue" ucap Adrian yang seraya menatap kakaknya yang tepat berada disampingnya.


"Gak usah sedih, gue bakal datang ke rumah ini terus kok" ujar Kirana


"Gak usah kakakku sayang. Elu mending dirumah melayani suami, terus elu harus jadi istri yang baik ya buat kakak ipar gue yang super baik itu" kata Adrian berusah menasehati kakaknya itu


"Sip" sahut Kirana dengan jempol yang ia tunjukan ke muka sok tampan miliki Adrian


"Serius bodoh!" dengan Adrian raut wajah garang


"Berani banget elu ngatain gue bodoh!" teriak Kirana seraya menendang paha Adrian agar keluar dari kamar miliknya


Adrian yang sudah diusir secara kejam pun melangkah keluar untuk ke kamarnya karena ingin bermain game tentu saja dong.


Malam semakin larut dan hawa dingin pun mulai menusuk tubuhnya. Kirana berjalan menuju balkon kamarnya, ia menatap bintang-bintang dengan raut wajah sedikit tersenyum. Besok ia akan menjadi seorang pengantin, besok juga ia akan menjadi Kirana istri dan besok juga ia akan menantu. Kirana hanya menghela nafas, walupun ia belum siap tapi ia harus menerima takdir yang Tuhan gariskan dalam hidupnya.


"Kirana" panggil Aarav


Kirana tersenyum melihat ayahnya melangkah semakin dekat kepada dirinya. Aarav mengusap puncak rambut putri sulungnya dengan penuh kelembutan.


"Maafin ayah" ucap Aarav


"Maaf kenapa ayah?" tanya Kirana yang merasa bingung dengan sikap ayahnya


"Karena memaksa mu untuk menikah" jawab Aarav seraya masih mengusap lembut kepala putrinya


"Sebel si, tapi gak masalah kalo cowoknya macam si Zaidan" jawab Kirana


"Zaidan baik kok, ayah udah seleksi sebelum jodohin dia sama kamu" ujar Aarav


"Aku percaya ayah melakukan itu karena ingin terbaik untuk hidup Kirana" kata Kirana seraya memeluk dan meletakan kepalanya di dada hangat ayahnya


"Layani suami mu dengan baik, jangan sampai dia bermain hati dengan perempuan lain" nasehat Aarav


"Dia gak berani, kalo dia berani ku potong pusakanya jadi 8 bagian lalu ku kasih buat makan buaya" ucap Kirana dengan sorot mata sungguh-sungguh


"Kurangi kekejaman mu itu" Aarav memperingati putrinya yang kelakuan macam lelaki saja


"Iya" sahut Kirana seraya tersenyum mendongkak menatap ayahnya.


Disisi lain

__ADS_1


Tiga hari sebelum acara pernikahan Kirana dan Zaidan, Zaidan sempat ragu namun pada akhirnya pernikahan ini akan berlangsung.


"Hei, calon pengantin kenapa melamun disitu?" tanya seseorang di belakang Zaidan dan membuat Zaidan terhentak.


"Eh mas, gak melamun kok mas" jawab Zaidan tersenyum masam.


Ternyata yang datang adalah Calvin.


"Jangan bohong, kamu gak pinter berbohong dek, katakan ada apa?" tanya Calvin duduk di sebelah Zaidan.


"Sebenarnya Zaidan gak mau di jodohkan mas, Zaidan takut gak bisa menjadi Suami yang baik buat Kirana" ucap Zaidan lirih, dari awal ia memang menerima namun karena ucapan dan sikap Kirana yang berubah-ubah membuat ia takut.


"Kenapa gak mau dek?, Kirana juga baik sifatnya polos dan lugu kamu pasti bisa menjadi suami yang baik buat Kirana" jelas Calvin mengusap puncak kepala Zaidan.


"Baik dari mana! Sikapnya aja berubah-ubah sebentar dingin dan sebentar lagi hangat, Kirana mana ada baik!" umpat Zaidan sambil tersenyum miris.


"Itu tantangan buat mu, terimalah pernikahan ini dengan bismillah, tata niat ikhlas lillahi ta'ala, insya allah semuanya akan baik-baik aja"


Calvin memeluk adik semata wayangnya itu, ia memberi kekuatan serta kehangatan pada Zaidan untuk bisa menjalankan pernikahan ini.


"Insya allah Zaidan siap mas, tapi Zaidan takut kalau gak bisa jalani pernikahan ini dengan berhasil" ucap Zaidan lirih dan menyandar pada pundak tegap Calvin.


"Kamu percaya Allah itu ada kan? Menikah untuk menyempurnakan agama dan mas yakin adek kesayangan mas ini bisa menjalankan ibadah terpanjang ini, mas selalu dukung kamu sayang, jika Kirana berani kasar denganmu hubungi mas, hem? Mas selalu ada untukmu dulu, sekarang dan nanti, insya allah" ucap Calvin dengan tersenyum dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


Cukup lama Zaidan menyandarkan kepalanya di pundak Calvin, sampai Calvin teringat bahwa ia disuruh Papanya untuk memanggil Zaidan dan mengambil beberapa peralatan untuk dibawa ke gedung tempat acara pernikahan akan berlangsung.


"Astaghfirullah, mas lupa dek" ucap Calvin setelah ingat apa yang di perintahkan oleh papanya.


Zaidan mengangkat kepalanya dan bertanya "Kenapa mas?"


"Mas tadi disuruh papa untuk memanggil kamu karena penghulunya sudah datang dan mengambil peralatan dan segera ke gedung, tapi mas malah ngobrol dengan mu disini, yaudah mas ke gedung dulu ya, jangan melamun lagi! Percaya sama Allah, bahwa semua akan indah pada waktunya" ucap Calvin lalu pergi meninggalkan Zaidan di gazebo taman.


πŸ’πŸ’πŸ’


Kirana duduk dengan balutan gaun berwarna putih, ia tampak anggun dan elegan. Kirana menatap dirinya sendiri, ia menarik satu lengkungan di bibirnya dan menatap layar yang menampilkan Zaidan tengah duduk di depan ayahnya dan juga penghulu. Tak hanya itu para saksi serta Calvin dan juga Adrian turut hadir dalam acara sakral ini.


Mata Kirana menangkap seorang pria dengan balutan jas warna senada dengan Kirana dan dasi sedang duduk untuk bersiap-siap menjabat tangan ayahnya.


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan!" dengan satu tarikan napas, Zaidan mengucapkan kalimat sakral itu dan dibalas kata 'halal' oleh para saksi.


Kirana menangis terharu karena statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, Kirana yang dahulu hanya mementingkan dirinya sekarang ia harus mengurus suaminya juga.


Kirana memeluk bundanya dengan menangis haru, ia masih tidak bisa menyangka bahwa secepat ini pernikahannya akan berlangsung.


"Udah jangan nangis sayang, nanti make up mu luntur" ucap sang bunda menghapus air mata Kirana.


Zaidan menjemput Kirana yang berada di ruang tunggu di lantai dua untuk turun ke bawah karena semua orang sudah menunggunya.


"Cium tangan suamimu nak" perintah sang bunda mendekatkan mereka berdua.


Zaidan langsung menyerahkan punggung tangannya untuk di cium oleh Kirana, sebenarnya Kirana malas untuk mencium tangan Zaidan namun ia tetap menghargai ayah dan bunda nya.


Kirana meraih tangan Zaidan dan mencium punggung tangannya, Zaidan membacakan do'a di atas kepala Kirana.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Artinya: ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau berikan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Setelah selesai membaca do'a, mereka berdua turun, Kirana berjalan duluan walaupun sudah diminta oleh kedua ibu mereka untuk berjalan berdampingan namun tetap saja Kirana tidak menghiraukan perintah bundanya.


Mereka berdua sampai di meja pernikahan dimana acara sakral tadi dilaksanakan, Kirana dan Zaidan menandatangi semua surat-surat yang ada, lalu mendatangi papa dan ayah mereka untuk meminta restu dan mendo'akan mereka agar pernikahan ini bertahan hingga di akhirat.


"Barakallahu lakuma wa baa rakaβ€˜ alaika wa jama'a bainakumaa fii khoiir berarti "Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atas mu, dan semoga la himpun kalian berdua dalam kebaikan" ucap Aarav saat mereka meminta restu dari Aarav begitu pun ketika mereka meminta restu pada Daniel.


Setelah semua acara pernikahan selesai, Zaidan langsung dibawa ke rumah Kirana.

__ADS_1


Mobil yang membawa mereka tiba di rumah besar nan mewah, tak kalah jauh dibandingkan rumah Aarav dan Daniel.


Kirana keluar dulu, lalu susul dengan Zaidan yang mengekori Kirana di belakangnya. Kirana tekanan beberapa pin di pintu tersebut, ya! Rumah tersebut memakai fitur keamanan berteknologi canggih, rumah Aarav saja masih memakai kunci manual, kecuali kamarnya dan kamar Adrian yang sudah memakai pin.


"Masuklah, untuk pin nya nanti saya tuliskan" ucap Kirana datar dan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Zaidan mengangguk dan melangkah masuk, tak lupa ia mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah.


Zaidan celingukan, 'Rumah sebesar ini hanya dihuni satu orang? Gak mungkin!' ucap Zaidan setelah mengedarkan pandangannya.


Kirana yang pintar membaca ekspresi wajah orang mengetahui apa yang ada di pikiran Pria yang baru saja ia nikahi.


"Rumah ini sudah lama tidak di tempati dan baru kemarin saya menyuruh orang untuk membersihkannya" ucap Kirana masih dengan ekspresi datarnya.


Zaidan mengangguk paham, ia mengikuti langkah Kirana yang naik ke lantai dua dan ternyata menuju kamar mereka berdua. Zaidan berjalan dengan tersipu sambil sesekali menatap Kirana, walaupun sebelumnya ia menolak menikah, namun setelah mendengarkan ucapan sang abang, Zaidan menerimanya dengan ikhlas dan tata niat.


Kamar Kirana juga memakai pin, sepertinya semua ruangan di rumah ini memakai pin untuk bisa masuk.


"Pin kamar ini tanggal pernikahan kita" ucap Kirana dan menyerahkan kertas bertuliskan pin seluruh ruangan di rumah ini, kecuali satu kamar yang Zaidan tidak mengerti kamar apa itu.


"Terima kasih" jawab Zaidan singkat dan masuk ke dalam kamar Kirana, ia langsung mengambil perlengkapan mandinya untuk segera mandi, karena tubuhnya sudah sangat lengket dan membuat Zaidan risih.


Tak butuh waktu lama bagi Zaidan untuk mandi dan berganti pakaian.


"Saya menikahi mu agar membuat keluarga kita bahagia dan supaya saya bisa balapan dengan mudah, setelah satu tahun maka saya minta kamu membebaskanku!. Jadi jangan harap saya akan mau disentuh olehmu malam ini!" ucap Kirana dan membuat Zaidan terhentak.


Malam pertama yang kata orang indah, tapi tidak dengan Zaidan, baru beberapa jam yang lalu mereka menikah, namun Kirana sudah membicarakan perpisahan antara mereka.


Zaidan yang kesal langsung menjawab ucapan Kirana "Dih! Siapa juga yang mau menyentuh mu!"


"Bagus! Kalau begitu jangan pernah harapkan cinta dariku! Karena kamu tidak akan pernah mendapatkannya!" sambung Kirana dengan tersenyum miris ke arah Zaidan.


"Kita lihat aja nanti siapa yang akan jatuh hati dan siapa yang akan makan omongan sendiri! Terserah kamu mau bicara apa, aku tetap akan menjalani kewajiban ku, hanya itu!" ucap Zaidan tak kalah ketus dan tersenyum miris ke arah Kirana.


Zaidan membereskan pakaiannya dan meletakkannya tetap di dalam koper, karena ia tidak melihat celah di lemari besar Kirana.


Untuk malam ini Zaidan akan mengalah, tapi besok pagi ia akan memesan lemari khusus untuk pakaiannya sendiri.


Kaki Zaidan terasa sangat lelah, punggung nya juga sakit karena ia terlalu lama berdiri di pelaminan menyambut para tamu dan kolega ayahnya, tak lupa para rekan-rekan Zaidan juga ikut andil dalam pernikahan ini.


Baru saja Zaidan ingin tidur, namun Kirana kembali mengusiknya dengan menarik selimut Zaidan dan juga bantal yang dipakai Zaidan.


"Pakai lah selimut mu sendiri! Ini selimut ku!" ucap Kirana datar dan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.


Zaidan merasa kesal karena tidurnya terganggu "Aku tidak membawa selimut! Pakai lah apapun yang kamu mau!" ucap Zaidan dengan sangat kesal.


Kirana tak menghiraukan suaminya yang sedang kesal, ia beralih ke sofa dan menyusun selimutnya disana. Zaidan merasa heran, kenapa Kirana menyusun selimutnya di sofa.


"Kenapa disitu?" tanya Zaidan yang penasaran.


"Bukan kah tadi sudah saya bilang? Bahwa saya tidak ingin satu ranjang dengan mu!" ucap Kirana ketus.


"Tidurlah disini, biar aku yang di sofa lagian ini kamarmu, aku hanya pendatang di rumah ini!" ucap Zaidan mengalah, ia tidak ingin menjadi suami durhaka yang membiarkan istrinya mengalami kesulitan.


"Itu permintaan mu, terserah! Tapi jangan mengeluh padaku jika punggung mu sakit!" Sambung Kirana dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


Zaidan lebih memilih untuk mengalah, bukan karena ia ingin, namun papanya pernah menasihatinya bahwa ia harus menuruti apa yang istrinya.


Zaidan beranjak menuju sofa, selimut yang dibawa oleh Zaidan untuk tidur di sofa dibawa oleh pemiliknya ke atas kasur. Zaidan kedinginan karena tidak ada selimut serta Ac di kamar ini dinyalakan, menambah sensasi dingin di kamar itu.


' Zaidan malam ini kamu jangan terjatuh lagi ya! Malu ada Kirana! Bisa dibully kamu kalau jatuh dari sofa! ' batin Zaidan.


Zaidan mencoba untuk memejamkan matanya namun ia tidak bisa tidur karena suasana yang dingin dan tidak ada selimut yang diberikan oleh Kirana.


Zaidan menatap punggung wanita bertubuh atletis yang sedang tertidur pulas, nampak dari deru napasnya yang stabil.


"Lihatlah dia, bisa-bisanya dia tertidur dengan pulas! Sedangkan aku harus tidur disini tanpa selimut dan dengan ac yang menyala! Papa... hiks.... Zaidan pengen pulang Kirana jahat" ucap Zaidan dengan nada kesal dan ketus. Ia kesal karena sikap Kirana yang berubah terlampau dingin.

__ADS_1


__ADS_2