
Kirana sudah siap dengan hodie dan juga topi yang akan ia kenakan untuk pergi bersama Zaidan, entah mengapa hari ini ia sangat ingin keluar bersama Zaidan. Rasanya jika dekat dengan Zaidan hati Kirana tentram dan tenang.
"Ayo" ucap Kirana pada Zaidan yang masih sibuk melipat pakaiannya.
"Kemana? Ke rumah papa? Tadi kan udah janji buat anterin aku ke rumah papa" ucap Zaidan
"Beli lemari, tadi kamu mengeluh karena sudah tidak ada tempat yang tersisa di lemari saya" sambung Kirana menyisir rambutnya agar kelihatan rapi.
"Gak! Aku lagi gak mood, pengen tidur seharian!" Zaidan menguap untuk meyakinkan Kirana kalau ia benar-benar mengantuk padahal Zaidan sedang menghindari Kirana untuk mengajaknya ke pasar.
Kirana merasa kecewa karena baru kali ini ada orang yang berani menolak ajakannya.
"Yaudah terserah!" ucap Kirana dingin dan membuka hodie nya.
Zaidan yang mengetahui Kirana bertelanjang dada langsung melemparkan salah satu pakaiannya ke arah Kirana.
"Aw, dimana sopan santun mu mas!?" bentak Kirana dingin.
"Lagian kamu sih, suruh siapa shirtless!" jawab Zaidan ketus.
"Jadi kamu gak suka saya shirtless?" tanya Kirana mendekat ke arah Zaidan yang sedang asik melipat pakaiannya.
"Gak!" jawab Zaidan ketus.
"Nih pakaian mu atau besok kamu akan mengeluh bahwa saya telah mencuri pakaian mu!" ucap Kirana melemparkan baju koko yang masih terbungkus plastik pada Zaidan.
Zaidan melirik ke arah Kirana, pandangan Zaidan tertuju pada kotak-kotak yang ada di perut Kirana, namun Zaidan tidak mengetahui apa sebenarnya itu. Ia pun tidak mengambil pusing dan membereskan pakaiannya dengan cepat.
Waktu berlalu begitu saja, hingga adzan zuhur sudah berkumandang merdu dari masjid sekitaran kompleks mereka.
Kirana sudah rapi dengan baju gamis lengan pendek yang disiapkan oleh Zaidan.
"Ayo kita pergi ke mesjid" ucap Kirana
"Iya!" Zaidan mencium pipi Kirana, ia pun terhenyak saat Kirana memeluknya.
'Bunda disini ya? Tapi pintu kamar ini tertutup' batin Zaidan.
"Ih lepasin, batal loh wudhu nya meluk-meluk aku" ucap Zaidan, mencoba lepas dari Kirana.
"Gak apa-apa, nanti bisa wudhu lagi" sambung Kirana mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Kirana sendiri pun tidak mengerti mengapa ia sangat ingin memeluk Zaidan.
"Tapi kan, nanti kita ketinggalan jamaah loh, udah ah sana ke masjid!" Zaidan mendorong tubuh Kirana pelan.
"Iya bawel banget sih, dulu bunda sekarang kamu, kamu duluan aja ke masjidnya" seru Kirana mengigit gemas pipi Zaidan. Kirana sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigit pipi chubby Zaidan yang sangat menggemaskan, apalagi jika pria itu sedang penasaran atau tersipu.
Kirana melepaskan pelukannya, dan beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu kembali karena ia sudah batal saat memeluk Zaidan.
Sepanjang jalan Kirana berpikir apa yang salah dengannya sehingga ia merasa gemas dan nyaman saat berada di dekat Zaidan. Kirana tiba di masjid yang tak jauh dari rumahnya, ia bertemu dengan ustadzah Fatimah.
"Assalamualaikum Kirana, tumben ikut jamaah di masjid ini siang-siang, biasanya sibuk kerja" sapa Fatimah bersalaman dengan Kirana.
"Waalaikumussalam ustadzah, iya nih kebetulan rapat yang seharusnya saya hadiri hari ini ditunda" ucap Kirana, tersenyum canggung karena ia memang tidak ikut jamaah di masjid kompleks, jika siang hari karena harus bekerja walaupun begitu Kirana selalu menyempatkan untuk ikut jamaah di masjid mana pun sekitaran ia rapat.
Mereka berjalan bersama, Fatimah tidak sengaja melihat bekas gigitan di tangan Kirana.
"Hem maaf nih, bukan bermaksud apa-apa, tangan mbak Kirana kenapa? Lebih baik di plester gus, takut nya malah terkena infeksi" ucap Fatimah, dan Kirana melihat ada bekas gigitan disana.
"Oh ini, saya digigit kucing ustadzah, kebetulan kucingnya masih liar" ucap Kirana asal. Padahal ia tau itu ulah Zaidan saat ia mengurut kaki pria itu.
Fatimah tersenyum mendengar kata-kata Kirana yang tidak masuk akal
"Iya, saya paham, nanti juga jinak" goda Fatimah pada Kirana.
Fatimah adalah abang tingkat Kirana sekaligus sahabat dan juga sudah seperti abang sendiri bagi Kirana, kebetulan Fatimah dan Kirana satu komplek perumahan jadi mereka semakin akrab.
Setelah melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, Kirana langsung pulang tanpa pergi kemana pun, cuaca hari ini sedikit mendung membuat Kirana tidak terlalu merasa gerah.
Kirana tidak langsung masuk ke dalam, melainkan membuka mobilnya dan mengambil hadiah dari koleganya untuk Zaidan sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka.
Kirana terkejut saat membuka mobilnya yang terisi penuh dengan bingkisan.
"Dari teman-teman Zaidan?" gumam Kirana.
Lalu, Kirana memanggil pak Yanto untuk membantunya membawa semua bingkisan itu ke dalam, saat mereka ingin masuk ada segerombolan orang yang datang ke rumah Kirana, mereka semua membawa bingkisan dengan berbagai macam ukuran.
Kabar pernikahan Zaidan dan Kirana sudah tersebar sejagad raya, membuat para fans mereka berdua merasa patah hati, namun ada juga yang menyambut pernikahan mereka dengan bahagia dan mendoakan mereka agar tetap langgeng dunia akhirat seperti orang-orang yang berkumpul di depan pagar rumah Kirana untuk memberikan bingkisan selamat atas pernikahan mereka.
"Kirana selamat ya, semoga jodoh dunia akhirat" teriak salah satu dari mereka dengan menggunakan pengeras suara.
Kirana menghargai hal itu, dia tersenyum ke arah mereka dan meminta anak buahnya untuk mengurus serta membagikan suvenir untuk mereka semua. Sedangkan Kirana heran bagaimana mereka semua bisa masuk ke dalam kompleks, sedangkan kompleks perumahan ini sangat ketat penjagaannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa masuk ke kompleks dan menemukan rumah saya?" tanya Kirana pada pak Yanto yang berada di sebelahnya.
"Saya juga kurang tau. Tapi, saya akan hubungi security yang bertugas di gerbang utama" jawab pak Yanto meyakinkan Kirana agar tidak khawatir.
"Baiklah, saya akan masuk. Tolong kalian urus mereka dan bagikan souvenir sebagai ucapan terima kasih saya" perintah Kirana dan ia pun berlalu masuk.
Suara riuh menganggu konsentrasi Zaidan yang sedang memecahkan satu kasus untuk mendiagnosis suatu penyakit dengan tepat, Zaidan melihat dari atas balkon apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar.
"Kenapa ramai orang? Emang di rumah mas Kirana ada bioskop?" tanya Zaidan heran.
Zaidan hendak keluar dan mencari tau lebih jelas, sikap penasaran Zaidan tidak pernah pudar sejak kecil, ia selalu merasa penasaran dengan apa yang terjadi disekitarnya. Namun langkahnya terhenti saat Kirana tiba di ambang pintu dengan membawa bingkisan.
"Assalamualaikum" seru Kirana, tapi tidak di hiraukan oleh Zaidan.
Pria itu masih terus penasaran dengan apa yang terjadi di luar.
"Assalamualaikum Zaidan!" Kirana sedikit meninggikan suaranya.
Zaidan terhentak kaget mendengar suara Kirana yang meninggi.
"Waalaikumssalam"
"Ini bingkisan dari kolega saya, kemarin saya lupa memberikannya padamu" ucap Kirana menyerahkan bingkisan tersebut pada Zaidan, pria itu menurut dan menerima bingkisan tersebut.
Zaidan meletakkan bingkisan tersebut di tempat tidur, ia pun kembali menemui Kirana di ambang pintu karena rasa penasarannya belum terpecahkan.
"Diluar ada apa?" tanya Zaidan penasaran.
"Ada orang!" jawab Kirana singkat, ia memberikan kedua tangan agar dipeluk oleh Zaidan, ia merasa ini adalah kebiasaan barunya sepulang dari masjid.
Zaidan tidak langsung menyambut pelukan Kirana, melainkan mengintip keluar walaupun ia tidak mendapatkan apa-apa.
"Halo? Ini tangan saya nganggur loh" ucap Kirana mengkibas-kibaskan tangannya di depan Zaidan, pria itu sama sekali tidak tertarik dengan tangan Kirana yang menghalangi pandangannya.
"Zaidan, kewajiban seorang suami ketika istri baru pulang dari masjid apa?" tanya Kirana membuat Zaidan mencebik kesal. Ia pun memeluk Kirana dan Zaidan hendak keluar kamar, namun langkahnya kalah cepat dari Kirana yang sudah menariknya masuk ke dalam kamar.
"Ih lepasin, aku ingin melihat apa yang terjadi diluar" Zaidan berusaha melepaskan tangan Kirana, namun usahanya gagal karena tenaga Kirana lebih kuat darinya.
"Bukan apa-apa!" ucap Kirana melepaskan tangan Zaidan dan menyuruhnya untuk duduk di samping Kirana.
Zaidan menurut begitu saja, tapi rasa penasarannya belum juga hilang.
__ADS_1
"Kalau bukan apa-apa kenapa ribut? Hayo kamu menyembunyikan apa dariku?" tanya Zaidan dengan tatapan mengintimidasi.
"Jangan suudzon, kamu gak ingin tau apa keputusan saya untuk kegiatan suka relawan itu?" tanya Kirana mengalihkan perhatian Zaidan, pria itu tersenyum kemudian mengangguk menunggu keputusan Kirana.