
Setelah mengudara selama 2 jam, akhirnya Zaidan dan Kirana tiba di Lombok. Mereka berdua tiba di pulau yang dijuluki pulau seribu masjid.
Zaidan berdecak kagum saat melihat pemandangan indah laut berwarna biru dengan pasir putih di tepinya dari atas udara, deburan ombak yang menyapu pasir putih tersebut, memanjakan mata bagi yang melihat.
"Masya Allah, cantik banget" ucap Zaidan berdecak kagum.
Pandangan mata Zaidan tidak berkedip saat helikopter yang ia naiki berada tepat di atas indahnya lautan berwarna biru. Dengan sedikit atraksi di udara, menambah decak kagum serta debaran jantung Zaidan.
"By" panggil Zaidan lirih dan menggenggam tangan Kirana.
Jantung Zaidan berdebar saat helikopter yang mereka naiki melakukan atraksi dengan berputar 180 derajat di atas permukaan laut.
"Tenang aja by. Pak pilotnya udah profesional kok" ucap Kirana menenangkan Zaidan.
Setelah melakukan atraksi, helikopter yang mereka naiki tiba di Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid. Karena Kirana ingin pulang besok, maka ia mengajak pilot pribadinya untuk menginap bersama mereka.
Mereka bertiga turun dari lapangan pendaratan ke ruang kedatangan, Zaidan semakin kagum melihat pemandangan indah dari bandara tersebut.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Lombok" tukas Zaidan menggandeng lengan Kirana.
"Alhamdulillah, iya by" sambung Kirana mengelus punggung tangan Zaidan.
Zaidan ingin berfoto di depan bandara itu. Tapi ia bingung bagaimana bilang ke Kirana.
Kirana sangat peka dengan perubahan mimik wajah Zaidan yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa by?" tanya Kirana melihat ke arah Zaidan.
"Fotoin disana boleh?" ucap Zaidan ragu, menunjuk ke arah depan bandara.
"Boleh dong Zaiyang. Jangankan fotoin kamu di depan bandara, kalau bisa aku beli, bakal Kirana beli bandara ini buat kamu" goda Kirana membuat Zaidan berdecak kesal. Padahal ia hanya ingin berfoto saja dan menyimpannya sebagai dokumentasi.
"Udah deh, gak jadi!" ucap Zaidan cemberut.
Kirana terkikik, melihat wajah imut suaminya ketika sedang cemberut.
"Kirana bercanda by, udah cepetan biar aku fotoin" ucap Kirana mengambil kamera canon dari ranselnya.
Walaupun kesal pada Kirana. Namun ia tetap mengambil beberapa foto untuk dokumentasi dan mengisi lookbook pribadinya.
"By, gitu aja gayanya ya. Bagus" ucap Kirana kemudian memfokuskan kamera Canon miliknya dan menjepret Zaidan yang berpose seolah-olah tidak melihat kamera.
"Lihat deh by. Bagus kan" ujar Kirana menghampiri Zaidan.
"This is amazing!" ucap Zaidan tersenyum bahagia.
Melihat senyuman itu, pilot yang sejak tadi menunggu pasangan yang baru saja menikah itu memiliki ide untuk memotret keduanya secara diam-diam.
Setelah puas berfoto ria, Zaidan merengek pada Kirana karena lapar. Wajar saja ia lapar, tadi pagi mereka berdua hanya makan roti bakar buatan Kirana.
"Kirana laper" ucap Zaidan manja.
"Kita tunggu mobil dulu ya, habis itu kita cari makan" ujar Kirana.
__ADS_1
Kirana celingukan mencari keberadaan anak buahnya yang sudah ia perintahkan untuk tiba di bandara lebih dulu. Namun, tampaknya mereka tidak mendengarkan perintah Kirana.
Mobil alphard berwarna hitam menghampiri mereka di parkiran khusus penjemputan. Kirana langsung membuka pintu mobil miliknya yang sengaja ia tinggal di Lombok agar mempermudah dirinya jika ingin bepergian di pulau ini.
Sebenarnya Kirana tadi menginginkannya memerintahkan anak buahnya untuk membawa mobil BMW saja, tapi ia baru ingat bahwa dirinya membawa pilot pribadi untuk ikut berlibur di Lombok.
"Silahkan masuk by" ucap Kirana membukakan pintu untuk Zaidan.
Zaidan berpikir bahwa ini adalah mobil yang di sewa Kirana untuk mengantarkan Zaidan ke lokasi kegiatan. Setelah semua barang-barang Zaidan masuk ke dalam bagasi, Kirana masuk dan duduk di kursi tengah bersama Aisyah. Sedangkan sang pilot duduk di depan bersama supir.
Tubuh Zaidan masih merasa letih karena kejadian tadi malam ditambah perjalanan yang lumayan lama. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Kirana.
"Kenapa by? Capek?" tanya Kirana mengerutkan dahinya.
Zaidan hanya berdehem menanggapi pertanyaan Kirana. " Hm"
Kirana memijat kepala Zaidan dengan lembut sambil sesekali mengelusnya.
"Pak, kita cari restoran dulu ya. Suami saya lapar" perintah Kirana setelah mereka keluar dari lingkungan bandara.
"Baik non" jawab supir yang fokus mengemudi.
Suasana di dalam mobil hening. Zaidan tidak banyak bicara kali ini, pria itu sangat ingin merebahkan dirinya di atas kasur.
"Di depan sana ada restoran seafood yang terkenal non" ucap supir dan langsung dibantah oleh Kirana.
"Jangan seafood!" bantah Kirana dingin.
Sang supir merasa heran, karena selama ia menjadi supir Kirana di Lombok. Wanita itu selalu makan seafood setiba di Lombok. Tapi, kali ini berbeda.
"By, kamu mau makan sate bulayak?" tanya Kirana lembut menatap wajah yang saat ini sedang letih.
Zaidan gagal fokus karena letihnya, ia mendengar sate biyawak dan bukan bulayak.
"Hah? Sate biyawak?" tanya Zaidan terkejut.
"Bukan biyawak by. Tapi, bulayak" jelas Kirana gemas pada suaminya.
"Sate apa itu by?" Zaidan masih bertanya karena baru kali ini ia mendengar kata sate bulayak.
"Makanan khas Lombok, tuan. Terbuat dari daging sapi" ucap supir dan dibalas anggukan oleh Kirana.
"Iya, aku mau" jawab Zaidan, mengangkat kepalanya yang berada di pundak Kirana menjadi tegak.
Mobil Kirana tiba di sebuah warung sate bulayak yang cukup terkenal disana. Zaidan turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Kirana dan menggandengnya.
Zaidan duduk di sebelah Kirana dan mengelus tangan Kirana dengan lembut. Selang beberapa menit, sate yang mereka pesan sudah sampai di meja makan.
Kirana hendak mengambil piringnya. Namun dicegah oleh Zaidan karena ia ingin menyuapi bidadarinya.
"Kamu diem dan duduk aja. Biar mas suapin kali ini" ucap Zaidan mengambil piring milik Kirana.
"Aku bisa sendiri by, lagian malu ih ada bapak-bapak ini" tolak Kirana dengan lembut.
__ADS_1
"Gak apa-apa, nona. Kami berdua bisa pindah meja kalau nona mau" ucap pak supir dan dibalas gelengan cepat oleh Kirana.
"Gak perlu pak" ucap Kirana melarang keduanya untuk pindah meja.
"Sekali ini saja by, Mas yang suapin kamu" ucap Zaidan.
"Yaudah terserah kamu by" ucap Kirana.
Kirana membuka mulutnya saat sendok berisikan potongan kecil dari lontong tiba di depan bibirnya.
Setelah menyuapi Kirana. Zaidan makan dengan sendok yang sama yang digunakan untuk Kirana makan.
Setelah selesai makan, Kirana membayar tagihan tersebut. Mereka semua keluar dari warung makan tersebut. Namun salah satu pegawai mereka memanggil nama Kirana.
"Kirana" teriaknya membuat mereka semua menoleh terutama Zaidan.
"Iya ada apa? Apakah uang saya kurang?" tanya Kirana khawatir jika ia khilaf menghitung tagihan tadi.
"Bukan. Ehm anu boleh saya foto bareng sama Kirana? Saya salah satu penggemar nona Kirana" ucapnya malu-malu.
Zaidan tersenyum masam mendengar hal itu. Ada sesuatu yang membakar hatinya, tapi Zaidan tetap berusaha untuk mengikat biasa saja dan menjaga sikapnya di depan penggemar Kirana.
"Boleh, tapi tidak berdua ya" ucap Kirana menggenggam erat tangan Zaidan dan dibawa untuk berfoto bersama penggemarnya.
Pria yang tadinya sangat antusias bisa bertemu dengan Kirana berubah menjadi guratan kecewa karena Kirana menggenggam tangan Zaidan.
"Terimakasih Kirana. Kalau boleh tau tuan ini siapanya Kirana ya?" tanyanya membuat Kirana merasa jengah. Kirana paling kesal jika ada orang yang bertanya tentang kehidupan pribadinya. Padahal kabar tentang pernikahan Kirana sudah tersebar luas, walaupun Kirana masih menutupi identitas Zaidan. Begitu pun sebaliknya.
"Ada hak apa kamu sampai bertanya tentang kehidupan pribadi saya? Setiap orang punya privasi yang tidak perlu dijadikan konsumsi publik. Saya permisi, assalamualaikum" ucap Kirana tenang tapi menusuk, membuat siapapun yang mendengar perkataan Kirana akan merasa terpojok.
Kirana kembali menggenggam tangan Zaidan dan membawanya pergi dari sana. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Senggigi Beach. Jarak dari bandara internasional Lombok menuju pantai senggigi memakan waktu kurang lebih 1 jam 20 menit.
"By" panggil Zaidan bersandar pada Kirana.
"Kenapa by?" tanya Kirana menatap wajah tampan nan teduh milik Zaidan.
"Nada bicara kamu, tadi kok dingin lagi?" tanya Zaidan yang tidak suka istrinya berbicara terlalu dingin pada orang lain. Terlebih lagi pada penggemarnya.
"Ya kan aku hangat cuman untuk pangeran Kirana ini. Kalau ke orang lain, aku bakal dingin seperti biasanya" ucap Kirana membuat pikiran Zaidan travelling.
"Ih!" pekik Zaidan merasa malu. Apalagi di dalam mobil ada orang lain selain mereka berdua.
"Lho kenapa by? Kan emang benar. Sikap aku akan berubah kalau sama kamu aja, kalau sama orang lain ya bakal kayak biasanya, hayo pikirannya travelling kemana?" goda Kirana membuat semua orang yang berada di dalam mobil terkekeh.
'Astaghfirullah, kenapa aku travelling? Ini pasti gara-gara Kirana!' batin Zaidan merutuki dirinya sendiri.
"Iih! Kesel sama Kirana!" ucap Zaidan kesal.
"Udah ih jangan cemberut gitu, aku mau gigit bibirnya tapi malu ada pak Rafli dan juga pak Adi" bisik Kirana tepat di telinga Zaidan dan membuat pria itu mencubit tangan Kirana.
Kirana hanya meringis. Namun ia senang bisa menggoda pangerannya itu. Sekarang, Zaidan terlelap dalam tidurnya. Pria tampan itu tertidur dengan bersandar di pundak Kirana.
Kirana melihat ke arah dan seberapa indah ciptaannya Allah yang satu ini.
__ADS_1
'Aku harus berterimakasih sama ayah, karena ayahlah aku dapet suami sholeh, polos, dan cerdas seperti Zaidan. Tampan itu hanya bonus. Tampan itu bukan hanya tampan fisik tapi juga cantik hati' gumam Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.