
Mereka berdua selesai makan malam. Zaidan melihat sekelilingnya yang tampak sepi. Padahal di dalam resort sangat ramai.
"By, kok disini sepi?" tanya Zaidan heran. Moodnya saat ini sudah berubah menjadi lebih baik. Dari kecil Zaidan memang moodyan, ia bisa bersikap dewasa jika bersama dengan anak-anak dan pasiennya.
"Iya By. Aku gak mau terlalu ramai disini" tukas Kirana.
"Kenapa?" Zaidan kembali bertanya. Ia masih merasa aneh kenapa ada banyak security di depan kamar mereka dan sekarang restoran resort juga sepi.
"Karena aku gak mau kalau nantinya ada mata yang memandang bayi aku satu ini" ucap Kirana tersenyum simpul.
"Ih by! Aku gak bayi! Umurku 28 tahun" ucap Zaidan cemberut.
Ekspresi wajah Zaidan yang cemberut menambah rasa gemas Kirana padanya. Menurut Kirana, Zaidan sangat menggemaskan jika sedang manja, cemberut, penasaran dan kesal. Makanya, ia suka menggoda pangerannya itu dan hanya Zaidan lah yang digoda olehnya.
"Bukan 28 tahun. Tapi, 2 tahun 8 bulan by" ucap Kirana tertawa lepas.
"Iih kesel sama Kirana!" ucap Zaidan beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Kirana sendiri.
Kirana terkikik geli melihat wajah Zaidan yang sangat kesal padanya. Ia langsung berlari menyusul sang suami, kalau tidak akan susah membujuk Zaidan.
Zaidan melangkah menuju kamarnya. Ia mendengar ada para security yang berbisik mengenai dirinya.
"Tampan sih, pantes aja bu Kirana protektif soal keamanannya" bisik security tersebut pada temannya.
"Anak pengusaha internasional dan suami dari bu Kirana. Turunkan pandangan kalian! Kalau kalian tidak ingin mendapatkan masalah" ucap salah satu dari mereka.
Zaidan sudah biasa mendengar kata- kata seperti itu di Indonesia. Padahal sewaktu ia di LA, Zaidan sama sekali tidak pernah mendengar kata kunci seperti itu.
'Oke gak apa-apa. Beda negara beda budaya,' batin Zaidan.
Ia mengabaikan perkataan orang-orang disekitarnya. Zaidan terbiasa hidup di negara yang individualisme tanpa memperhatikan atau mengambil hati dari perkataan orang di sekitarnya.
Zaidan langsung masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Disusul dengan Kirana yang sudah berada di ambang pintu dan langsung masuk ke dalam kamar.
"By, udah siap?" goda Zaidan saat Kirana keluar dengan piyama dan rambut yang terurai.
"Ih apaan sih, mas!" ucap Kirana berdecak kesal.
"Haha, sholat isya dulu yuk" ucap Zaidan dengan tertawa puas.
Kirana mengangguk pelan. Ia yang sudah mengambil wudhu langsung memakai mukena dan menyiapkan perlengkapan sholat. Sementara Zaidan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Zaidan keluar dengan rambut yang basah karena air wudhu membuat Kirana diam-diam terkesima.
Ya. Memang sudah lama Kirana mencintai suaminya, tapi kali ini berbeda. Aura ketampanan Zaidan meningkat saat baru selesai mengambil air wudhu ditambah dengan baju koko dan juga peci hitam menambah berkali-kali lipat ketampanannya.
"Kenapa lihatin mas By? Ganteng ya?" goda Zaidan membuat Kirana memalingkan wajahnya.
Mereka berdua sholat dengan khusyuk. Lantunan ayat suci al-quran yang keluar dari mulut Zaidan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tentram. Suara lembut serta kefasihannya membuat Kirana berdecak kagum.
Zaidan mengakhiri sholatnya dengan mengucapkan salam setelah itu ia berdo'a. Selesai berdoa, Zaidan berbalik ke belakang dan menyerahkan punggung tangannya untuk dicium oleh Kirana. Zaidan langsung memegang kepala Kirana dan berdoa sebelum melakukan praktek bersama sang istri.
"Sekarang udah siap By?" tanya Zaidan sekali lagi.
Kirana diam dan tidak menjawab. Sudah tugasnya untuk melayani Zaidan dan ia juga tau apa hukumnya.
"Diam berarti iya" putus Zaidan secara sepihak
"Ko mas agresif si?" tanya Kirana heran dengan perubahan Zaidan
"Mas cuma ingin memulainya lebih awal, biarkan kali ini mas yang bekerja kamu tinggal diam dan nikmati" ucap Zaidan
Setelah membereskan semua perlengkapan sholat. Zaidan menggendong Kirana dan merebahkannya diatas kasur. Perlahan tangan Zaidan meraba bagian sensitif Kirana dan mendapatkan respon dari istrinya. Zaidan mencium bibir tipis Kirana.
"Mas yang buka atau kamu by?" tanya Zaidan.
Kirana kembali terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Zaidan. Zaidan paham bahwa istrinya memberikan dia kesempatan membukanya, ia langsung membukanya.
Setelah itu, hanya Allah yang tau apa yang terjadi setelahnya.
Setelah bercinta, Zaidan merebahkan tubuhnya di samping Kirana dan membuat lengannya sebagai bantalan wanitanya.
Kirana memalingkan wajahnya dari Zaidan. Ia kesal karena Zaidan sedikit kasar dan membuatnya merasa sakit. Padahal Zaidan berjanji kalau akan pelan, tapi faktanya ia bermain kasar.
__ADS_1
"Jangan merajuk gitu by. Maaf ini baru pertama kalinya mas memulai sesuatu" ucap Zaidan merasa bersalah dan menarik Kirana ke dalam dekapannya.
Zaidan mengelus pelipis Kirana sambil bersholawat 'Antassalam' agar wanitanya tertidur dengan pulas meski merasa kesal padanya.
Allahumma antas- salam... Wa- min kas- salam... Taba- rokta rob- bana... Ya dzal- jalali wal- ikroom.
Suara Zaidan mendayu lembut melantunkan sholawat tersebut membuat Kirana langsung terlelap. Selain dirinya merasa lelah, ia juga sangat senang jika di sholawatin seperti itu.
Zaidan berhasil membujuk istrinya yang kesal dan membuatnya tertidur pulas. Terbukti karena saat ini Kirana tertidur dengan memeluknya.
Zaidan tersenyum sambil menatap wajah kelelahan sang istri yangg berada di dalam pelukannya saat ini. Dia tidak menyangka, jika ia berani menyentuh Kirana pertama kalinya.
"Beruntung banget aku punya istri secantik kamu" bisik Zaidan yang tidak di dengar oleh Kirana.
"Aku harap kelak, kamu bisa menjadi istri yang solehah dan menutup semua aurat kamu" ujarnya sambil membelai setiap helai rambut Kirana. "Dan hanya aku saja yang boleh melihat apa yang tubuh kamu miliki" sambung pria itu lagi.
Zaidan semakin mempererat pelukannya, kemudian dia mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.
"Ternyata jatuh cinta sama kamu itu sangat indah rasanya. Walaupun awal pernikahan kita terbilang sangat unik dan bukan dari keinginan kita" sambungnya dan mengusap punggung tangan telanjang sang istri.
"Hmm, aku harap kamu segera mencintai aku sepenuh hati kamu" lirih Zaidan sebelum pria itu ikut menutup matanya dan terhanyut ke alam mimpi.
...****************...
"Enghh..." Terdengar lenguhan dari bibir Kirana. Kirana terbangun dan duduk di samping Zaidan.
"Imut banget kalau lagi tidur. Tapi kalau lagi praktek, dewasa ya" gumam Kirana sesekali menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zaidan.
Kirana baru saja ingin bangun dari tempat tidurnya. Namun, sepertinya Kirana harus mengurungkan niatnya karena Adrian menelponnya.
"Waalaikumussalam, apa?! Ngurus hal kecil begitu saja kalian tidak bisa!" ucap Kirana kesal.
"Baiklah. Saya akan melihatnya, tapi tidak sekarang, Zaidan masih tidur" ucap Kirana memelankan suaranya karena waktu ia terkejut, suaminya menggeliat dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Kirana mematikan sambungan telponnya dan kembali mengelus pelipis Zaidan agar pangerannya tetap tertidur dengan pulas.
"Apapun yang terjadi, aku akan berusaha untuk melindungi mu dari Elsa. Walaupun akan aku bayar mahal nantinya" ucap Kirana tersenyum menatap intens Zaidan.
Setelah memastikan Zaidan tertidur pulas, Kirana melepaskan perlahan tangannya yang menjadi tumpuan kepala Zaidan. Ia kembali memakai pakaiannya dengan rapi dan keluar dari kamar untuk melihat apa yang baru saja dikirimkan oleh Adrian.
Kirana membuka laptopnya dan melihat video yang baru saja dikirim oleh Adrian. Rahang Kirana mengeras seketika, rasanya ia ingin langsung kembali ke Jakarta dan melampiaskan amarahnya pada Elsa. Namun, hati Kirana masih bisa menahan dirinya untuk tidak marah.
"Jika tidak ada hadist yang memerintahkan seorang muslim untuk menahan amarah, mungkin saat ini Elsa babak belur!" ucap Kirana bermonolog pada dirinya sendiri.
Kirana mengetikkan beberapa pesan ke Adrian. Tapi sebelum itu, ia melihat ada yang aneh di ruangannya. Benar dugaan Kirana, ternyata di ruangan rapat pribadi ini terdapat alat penyadap. Ia cukup kecewa dengan resort ini. Padahal saham Kirana sudah cukup besar untuk meminta ruangan pribadi.
"Selamat malam, saya kecewa dengan resort ini" ucap Kirana menelpon owner resort yang ia tempati.
Kirana mematikan semua alat penyadap tersebut. Kemudian ia menelpon Adrian.
"Halo, assalamualaikum dek. Bagaimana dia bisa tau tentang Zaidan?" ucap Kirana datar.
"Waalaikumussalam kak. Kan udah gue bilang lo harus hati-hati sama Elsa! Lo sih pakai acara gandeng tangan suami lo! Pusing kan!" hardik Adrian yang sudah pusing bagaimana plot twist selanjutnya.
Kirana memijat kepalanya. "Saya sudah berhati-hati. Kamu aja yang ceroboh!" ucap Kirana dingin dan tegas.
"Hei, yang gandeng tangan Zaidan di depan umum siapa? Yang memperlakukan Zaidan bak raja di depan umum siapa? Kan udah gue bilang, kalau Elsa dapet identitas suami lo, tugas gue nambah satu! Dan bukan hanya lo yang pusing, tapi gue juga!" baru kali ini Adrian berani membentak Kirana dan sudah seharusnya Kirana dibentak seperti itu.
Kirana menghela napasnya kasar. Tubuhnya yang letih ditambah dengan informasi bahwa Elsa sudah mengetahui identitas Zaidan membuatnya semakin pusing.
"Bilang ke Elsa kalau pria yang bersama saya bukan suami saya, tapi sepupu kita" putus Kirana setelah berpikir dengan matang.
Adrian tertawa mendengar ucapan Kirana. Bagaimana bisa Adrian mengatakan bahwa Zaidan adalah sepupu mereka, sedangkan Kirana tidak pernah menggandeng tangan pria manapun kecuali Zaidan, papanya dan juga dirinya.
"Haha. Lo sehat kan kak? Lo kira Elsa mudah di bohongi? Kalau perilaku lo kayak gue yang sering pacaran mungkin Elsa bisa dengan mudah percaya gitu aja. Lah ini, lo gak pernah gandeng tangan pria manapun. Ketemu kak Kai aja lo minta bantuan gue buat nemeni!" ledek Adrian. Ia tertawa begitu puas seperti ada yang menggelitik perutnya.
"Terima aja kak, gue akan berusaha untuk melindungi kalian berdua. Ya, walaupun gue pusing" sambung Adrian masih dengan kekehan.
Bisa-bisanya Adrian tertawa disaat genting seperti ini. Pria itu tidak tau bagaimana isi kepala Kirana yang sudah hampir ingin meledak.
"Udah sekarang lo mending balik ke kamar temeni suami lo. Gue tau kalau lo nelpon gue di ruang khusus" ucap Adrian yang tau betul kebiasaan Kirana. Bagaimana tidak? Adrian sudah bersama sejak kecil dan besar bersama, walaupun terkadang Kirana marah-marah tidak jelas.
"Bagaimana bisa saya kembali ke kamar? Pikiran saya sedang kacau" ucap Kirana lemas, terbukti dari nada bicaranya yang sedikit memelan dibanding tadi.
__ADS_1
"Lo tenang aja kak, gue bisa urus Elsa. Mending lo nikmati waktu bersama suami lo, lusa gue akan berusaha untuk bisa bertemu Elsa dan bertanya apa maunya" ucap Adrian meyakinkan Kirana agar tidak terlalu memikirkan semua ini dan fokus pada Zaidan.
Kirana menuruti perintah Adrian. Kali ini ia harus nurut jika ingin Zaidan baik-baik saja. Kirana berjalan keluar ruangan, ia tidak menjawab telpon dari owner resort ini setelah mengungkapan rasa kecewanya. Suasana sedang sepi, ternyata ia cukup lama berada di ruangan rapat tersebut sampai dini hari.
Kirana masuk ke dalam kamar dan melihat Zaidan sedang duduk meringkuk. Ia langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk meringkuk berbalut selimut.
"By?" panggil Kirana setelah berada di samping Zaidan.
Zaidan yang mendengar suara wanita lembut dengan serak basah. Ia tau kalau suara tersebut adalah suara Kirana istrinya.
Zaidan langsung memeluk Kirana. Terdengar suara isakan pelan dari mulut Zaidan yang membuat Kirana kaget.
"Hei, kenapa nangis by?" tanya Kirana heran.
Bukan menjawab pertanyaan Kirana. Zaidan malah terisak dalam tangisnya. Kirana mendekap Zaidan dengan erat dan memberikan kehangatan pada prianya. Ia mengelus rambut Zaidan dan mencoba menenangkannya.
Kirana mengerutkan dahinya. Ia bingung mengapa suaminya ini menangis di tengah malam. Perlahan napas Zaidan susah mulai teratur dan sudah tidak terdengar suara isakan lagi. Setelah tenang, Kirana mendongakkan kepala Zaidan dengan lembut dan memberikan segelas air pada Zaidan.
"Ini minum dulu biar tenang" ucap Kirana tersenyum.
Zaidan meminum segelas air tersebut dan kembali memeluk Kirana seakan tidak ingin berpisah walaupun sedetik.
"Kamu kenapa by?" tanya Kirana yang masih mengusap kepala Zaidan.
"Takut" jawab Zaidan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kirana.
"Takut kenapa heum?" lanjut Kirana heran.
"Tadi ada kecoa disana" ucap Zaidan menunjuk ke arah kamar mandi. Wajar saja ia takut, karena selama ini ia tidak pernah bertemu dengan hewan kecil seperti kecoa.
Kirana terkekeh geli. Ia tak habis pikir dengan Zaidan, perkara perusuh saja nangis sampai tersedu- sedu.
"Ih kamu kok ketawa sih?" tanya Zaidan kesal.
"Kamu lucu sih, lagian sama kecoa aja takut by" ucap Kirana menahan tawa.
"Yaudah, sekarang tidur heum?" lanjut Kirana mengelus puncak kepala Zaidan.
"Kamu tadi dari mana?" tanya Zaidan menatap intens istrinya, dan yang ditatap malah tersenyum jahil.
"Dari luar by, kamu tau kan gimana dunia bisnis? Sibuk dan pusing" jawab Kirana.
"Oh" ucap Zaidan kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Kirana.
"Udah tidur yuk" ajak Kirana mengusap kepala Zaidan.
"Yaudah aku tidur duluan aja, nanti kamu gak banguni aku buat sholat tahajjud" ucap Zaidan cemberut mengingat kemarin malam ia tidak dibangunkan oleh Kirana.
“Oke, kalau sholat tahajud akan lebih afdhol jika tidur terlebih dahulu. Walaupun tidak ada larangan untuk itu melaksanakan tahajud sebelum tidur" jelas Kirana mengusap-usap kepala Zaidan.
"Kalau kamu gak mau tidur, bagaimana kalau kita mengulangi praktek tadi by? Aku sedikit lupa karena harus mengurus pekerjaan" goda Kirana dengan refleks Zaidan memukul pelan dada bidang Kirana.
"Iya aku tidur!" ucap Zaidan kesal dan langsung merebahkan tubuhnya. Kirana juga ikut merebahkan dirinya disamping Zaidan dengan lengannya yang menjadi tumpuan Kirana untuk tidur.
Posisi Zaidan lebih tinggi dari Kirana, sehingga memudahkan baginya untuk menatap wajah cantik nan teduh istrinya. Zaidan mengelus pelipis Kirana dengan penuh kasih sayang, sementara dirinya tengah melamun dan meraba masa depan.
Zaidan menatap langit-langit lalu menatap wajah Kirana. Ia mengulang hal itu dan membuat Kirana heran.
"Mas, kenapa?" tanya Kirana sedikit mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah tampan Zaidan.
"Mas lagi meraba masa depan by" jawab Zaidan tersenyum manis.
"Maksud mas?" tanya Kirana semakin dalam menatap wajah Zaidan.
"Iya, mas lagi berkhayal gimana kalau kita punya anak nanti. Pasti dia sama persis seperti kamu baik, berjiwa sosial tinggi, cerdas, lembut dan mas berharap semua sikapnya kelak persis seperti aku" ucap Zaidan dengan mata berbinar.
"Ish! Kok cuman kamu sih mas? Emang mas gak mau kalau anak kita persis seperti aku?" tanya Kirana heran.
"Mau, tapi lebih baik sikapnya mirip seperti aku. Biar visual aja yang mirip sama kamu, karena aku gak mau sikap kamu yang dingin, nurun ke anak kita oke" lanjut Zaidan tersenyum dengan jantung berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia takut jika Kirana akan kecewa jika nanti Kirana akan sulit untuk mengandung, Zaidan terdiam.
Kirana melirik ke arah Zaidan yang sedang terdiam. Ia langsung memeluk erat tubuh Zaidan.
"Udah jangan di pikirin by, sekarang tidur yuk. Mau aku sholawatin?" tanya Kirana mengulas senyum dan mengecup puncak kepala Zaidan.
__ADS_1
Zaidan mengangguk kecil. Pertanda ia ingin mendengar lantunan sholawat dari mulut istrinya dan Kirana langsung melantunkan sholawat dengan mengelus pelipis Zaidan.