
Keesokan paginya, Zaidan sedang bersiap-siap untuk jalan-jalan pagi. Namun, ia kembali menjahili Kirana dengan mengambil diam-diam id card milik Kirana. Zaidan pura-pura tidak tau apa yang dicari.
"By, cari apa?" tanya Zaidan mencegah tangan Kirana yang sedari tadi berlari kesana kemari.
"Id card volunteer aku by" ucap Kirana dengan wajah cemas karena tidak menemukan id card miliknya.
Zaidan tersenyum jahil. "Kamu nyari ini by?" tanya Zaidan mengangkat tangannya yang memegang id card milik Kirana.
"Ih, balikin!" rengek Kirana dengan manja. Ia berusaha mengambil id card miliknya yang berada di tangan Zaidan. Karena tinggi badan mereka berbeda, hal itu dimanfaatkan Zaidan untuk menjahili Kirana.
"Ambil sini kalau bisa" ledek Zaidan sengaja meninggikan tangannya.
Kirana berdecak kesal. Ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan id cardnya kembali. Kirana naik ke atas ranjang untuk menyeimbangkan tinggi mereka dan saat Kirana berhasil mengambil id cardnya, kaki Kirana tersangkut selimut dan membuatnya jatuh tepat di pelukan Zaidan dan tidak sengaja mencium bibir Zaidan.
Cup
Pipi Kirana bersemu merah, ia sangat malu karena tidak sengaja mencium bibir Zaidan. Sedangkan yang dicium malah tersenyum bahagia.
"Wah ternyata istri mas udah tambah nakal ya. Thank you morning kiss nya" ucap Zaidan tersenyum dan mencium pipi kanan Kirana.
"Ish! Pasti ini akal-akalan mas Zaidan kan? Biar aku cium?" tanya Kirana sambil mengerucutkan bibirnya.
Baru kali ini Kirana menunjukkan sikap yang manja, polos dan mudah kesal membuat Zaidan sangat gemas padanya. Karena itu dia sangat suka menjahili Kirana, apalagi sampai pipi beruang kutub bersemu
"Kok tau by? Karena udah tau, boleh dong lagi" goda Zaidan dan mendapat cubitan kecil dari Kirana.
"Aw, sakit tau by" ringis Zaidan yang berpura- pura terluka.
Kirana ingin bersiap-siap untuk jalan-jalan pagi harus mengurungkan niatnya karena saat ini Zaidan tengah memeluknya dengan sangat erat.
"Ih lepasin mas!" ucap Kirana meronta-ronta.
__ADS_1
"By, tolong biarin mas peluk kamu ya. Hari ini kamu harus balik ke Jakarta dan aku harus menetap disini" ucap Zaidan enggan melepaskan pelukannya.
Kirana pasrah dan membiarkan Zaidan memeluknya dengan sangat erat dengan sedikit merunduk untuk menyeimbangkan tinggi mereka. Perlahan tangan Kirana membalas pelukan Zaidan dan mengelus pelan punggung Zaidan.
Sepasang kekasih tersebut masih enggan melepaskan pelukannya satu sama lain dan disaat yang bersamaan ada orang yang mengetuk pintu kamar mereka. Padahal Kirana sudah memperingatkan jangan ada yang mengganggu dirinya kecuali memang Kirana yang memanggil mereka.
“Bu Kirana” panggil orang tersebut sambil menatap pintu.
Zaidan berkata lembut pada Kirana. "By, buka dulu pintunya. Siapa tau penting" ucap Zaidan tersenyum.
"Bentar lagi ya by" celetuk Kirana masih berada didalam pelukan Zaidan.
"Gak boleh gitu by, coba kamu bayangkan kalau kamu memanggil staff kamu, terus mereka gak langsung dateng. Gimana perasaan kamu? Pasti kecewa kan? Begitu juga dengan orang yang diluar pintu, dia menunggu kamu untuk keluar" jelas Zaidan dengan lembut. Ia paling tidak suka jika ada orang yang dipanggil, tapi tidak langsung keluar atau datang.
"Ternyata aku lupa kalau suami Kirana ini sangat cerdas dan berbudi luhur. Iya Zaiyang, aku temuin dia dulu. Kamu bersiaplah, kita akan jalan-jalan setelah sarapan" ucap Kirana melepaskan pelukannya, lalu mencium lembut puncak kepala Zaidan.
Kirana berjalan menuju pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang. Ia menyembulkan kepalanya keluar tanpa membuka seluruh pintu karena kamar mereka masih berantakan.
"Maaf mengganggu waktunya bu, saya diminta oleh pak Rahmat untuk bertanya apakah bu Kirana bisa menemui beliau 20 menit lagi bu? Karena kata beliau anda sangat marah kemarin malam" ucapnya sambil menundukkan badan.
Kirana memutar bola matanya jengah. "Baiklah, tolong bilang ke beliau 20 menit lagi saya akan ke ruang rapat" ucap Kirana setelah berpikir.
Kirana adalah tipikal orang yang tenang tapi tegas. Jika dia sudah mengambil keputusan maka akan sulit untuk merubah kembali keputusannya. Kirana terkenal dikalangan para pebisnis Asia, selain terkenal akan visualnya, Kirana juga terkenal sebagai pebisnis muda yang sukses padahal perusahaannya baru berjalan 5 tahun, tapi sudah bisa menduduki peringkat pertama di Asia.
Banyak dari kolega Kirana yang menginginkannya untuk dijadikan menantu dan yang beruntung adalah Zaidan putra dari Daniel Assaba yang merupakan pemilik perusahaan Assaba Group dan juga pebisnis tingkat internasional.
Kirana masuk kembali dan menutup pintunya. Ia menghampiri Zaidan yang tengah kesulitan mengeringkan rambutnya.
"Can I help you, by?" tanya Kirana yang melihat suami kesulitan mengerikan rambutnya.
"Ya, kamu harus membantuku, by" jawab Zaidan.
__ADS_1
Kirana bergerak menuju ke arah Zaidan yang sedang berdiri di depan cermin besar. Suaminya sangat tampan mengenakan kemeja sangat cocok dengan skintone Zaidan.
Bukan langsung membantu Zaidan untuk mengerikan rambut. Kirana justru memeluk Zaidan dari belakang dan menciumi leher jenjang dan putih suaminya.
"Ih by! Kayaknya aku salah minta bantuan ke kamu!" ucap Zaidan mendengus kesal.
Kirana malah semakin gemas pada suaminya yang menekuk wajahnya kesal. Perlahan tangan Kirana dengan lihai mengerikan dan merapikan rambut Zaidan yang tampak berantakan. Biasanya suaminya ini menyisirnya ajak-ajakan namun kali ini Kirana menyisir rambut Zaidan dengan sangat rapi.
"Udah by, bagus kan" ucap Kirana meletakkan dagunya di pundak Zaidan.
"Rapi banget by, biasanya aku cuma ajak-ajakan sisirnya" ucap Zaidan tersenyum sumringah melihat hasil sisir rambut Kirana dari balik cermin.
"Kirana udah biasa by. Dulu waktu bunda sibuk mengisi acara pengajian, aku selalu mengeringkan dan menyisir rambut Adrian" lanjut Kirana tersenyum mengingat bagaimana ia sering dimarahin oleh adik kecilnya karena tidak bisa menyisir rambutnya dengan benar dan akhirnya Kirana memutuskan untuk belajar otodidak dari media sosial dengan boneka sebagai kelinci percobaannya.
Zaidan berbalik dan menatap wajah Kirana dengan berbinar. Ia tidak menyangka kalau Kirana yang terkenal dingin ternyata sangat sayang pada adik laki-lakinya.
"Sekarang giliran mas yang bantuin kamu" ucap Zaidan
Zaidan melepaskan pelukannya dan mengeluarkan hijab pashmina berwarna putih. Ia membantu Kirana untuk memakai hijabnya. Setelah selesai memakai hijab, Kirana tersenyum melihat penampilannya yang sedikit berbeda. Biasanya Kirana tidak suka dengan warna gamis dan hijab yang berbeda, namun kali ini ia memadukan warna gamis pastelnya dengan hijab pashmina putih dan ternyata sangat cocok di tubuhnya.
"Masya Allah. Bidadari turun darimana ini?" puji Zaidan membuat pipi Kirana kembali bersemu merah.
"Ih mas, jangan gitu! Aku malu" ucap Kirana menggigit bibir bawahnya dan membuat Zaidan semakin gemas padanya.
"Kenapa harus malu by? Kan dipuji suami sendiri" celetuk Zaidan sambil mencibir hidung Kirana karena gemas pada wanita di depannya ini.
"Ya, aku malu aja mas" jawab Kirana yang menghindari kontak mata dengan Zaidan.
Namanya juga Zaidan, pasti ia memiliki cara untuk menatap intens manik mata hazel berwarna coklat milik istrinya.
"I'm yours and you only mine" bisik Zaidan setelah berhasil menangkupkan wajah istrinya yang tengah malu.
__ADS_1