Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Digodain


__ADS_3

Zaidan beranjak dari tempat tidur. Ia melangkah secara perlahan, karena di bagian sensitifnya terasa sangat tidak nyaman untuk dibuat jalan. Zaidan mengambil kotak P3K dan menghampiri Kirana.


"By" panggil Zaidan pelan.


"Dalem Sayang. Eh jalan kamu kok gitu? Kenapa by?" tanya Kirana khawatir melihat langkah Kirana yang rapat. Padahal biasanya pria itu akan berlari, tapi kali ini langkahnya sangat pelan dan rapat.


"Gak apa-apa" jawab Zaidan yang berjalan seperti siput.


'Dia gak tau aja, kayak ada yang mau jatuh dari sana! Argh, semoga pas kegiatan sukarelawan nanti udah normal deh. Kalau gak, habis aku di bully sama kak Calvin!' batin Zaidan.


"Kirana, sini biar aku plester tanda yang ada di leher kamu" ucap Zaidan yang sudah siap dengan kotak p3k milik Kirana.


"Kenapa harus di plester by? Biarin aja, Kirana suka kok. Kalau kamu mau nambah lagi juga boleh, masih banyak lahan kosong di badan mas. Kan lumayan punya tato gratis, terus berpahala lagi" goda Kirana membuat pipi Zaidan kembali memerah dan kesal.


"Iiih! Kirana ngeselin banget sih! Kalau gak di plester, nanti banyak yang lihat gimana? Kamu mau jawab apa kalau ada yang nanya?" tanya Zaidan kesal.


"Tinggal Kirana jawab habis bikin tato sekalian latihan" balas Kirana tersenyum smirk.


Zaidan memicingkan matanya. "Au ah kesel!"


Kirana semakin senang menggoda suaminya yang sangat labil jika bersama dengan dirinya. Padahal kata Calvin, Zaidan sangat mandiri jika sedang bertugas merawat pasiennya.


Ponsel Zaidan berdering. Ia melangkah dengan sangat pelan sampai dering ponselnya mati.


"Tumben banget jalannya lama, by?" tanya Kirana masih heran melihat langkah Zaidan yang sangat rapat.


"Kepo!" balas Zaidan kesal.


Ponselnya kembali berdering. Zaidan langsung menerima telpon tersebut yang ternyata video call dari sang papa.


"Halo, assalamualaikum pa" sapa Zaidan dengan senyum sumringah.


"Waalaikumussalam pangeran kecil papa. Zaidan jadi berangkat ke Lombok hari ini?" tanya Daniel pada Zaidan.


"Insya Allah jadi pa. Tapi, Zaidan gak berangkat bareng staff rumah sakit karena udah ketinggalan pesawat, pa" jawab Zaidan cemberut.


"Iya papa udah tau dari Kirana, nak. Kalian hati-hati ya" ucap Daniel dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


Kirana menghampiri Zaidan yang sedang asik mengobrol dengan papanya. Ia pun ikut masuk ke dalam panggilan video tersebut.


"Assalamualaikum papa" sapa Kirana tersenyum.


"Waalaikumussalam putri papa. Gimana kabarnya?" tanya Daniel pada Kirana.


"Alhamdulillah Kirana baik, pa. Papa sendiri apa kabar?" tanya Kirana balik.


"Alhamdulillah papa juga baik. Kalian udah pesen tiket nak? Atau mau papa yang pesen kan?" Daniel kembali bertanya pada Kirana dan membuat Zaidan cemburu.


"Biar Kirana aja yang pesan, pa" jawab Kirana.


Mereka berdua bercengkrama layaknya seorang ayah pada putrinya dan bukan pada menantunya.


"Disini yang anaknya papa, aku atau Kirana sih!" ucap Zaidan kesal, karena dari tadi ia dianggap tidak ada oleh mereka.


"Haha, ternyata anak papa cemburu" ucap Daniel tertawa renyah menanggapi ucapan Zaidan.


"Mana ada Zaidan cemburu" ucap Zaidan masih merasa kesal pada papanya.


"Yakin? Terus kenapa mukanya ditekuk gitu? Heum?" tanya Daniel pada putranya itu.


"Iya. Zaidan cemburu sama Kirana! Papa itu cuman punya Zaidan dan mas Calvin, Titik!" ucap Zaidan cemberut membuat Kirana semakin gemas padanya.


"Iya deh iya. Udah jadi suami orang, masih aja manja" ucap Daniel terkekeh.


"Udah dulu ya sayang, papa harus ke kantor. Kalian berangkat jam berapa? Nanti papa kesana" sambung Daniel.


"Bada dzuhur, pa" jawab Zaidan dan Kirana serempak.


Daniel yang mendengar hal itu merasa bahagia, awalnya ia takut jika nantinya Zaidan tidak akan bahagia bersama dengan Kirana. Namun, takdir Allah berkata lain, ternyata putranya sangat bahagia bersama dengan istrinya.


"Ekhem. Pengantin baru, kompak terus ya" goda Daniel membuat keduanya merasa malu.


"Yaudah, papa tutup dulu ya, assalamualaikum" ucap Daniel menutup sambungan telponnya.


Di rumah keluarga Daniel, setelah menutup sambungan telponnya dengan pangeran kecilnya itu. Daniel memanggil istrinya dengan tersenyum.


"Mama, sini deh. Papa punya berita bagus" panggil Daniel pada istrinya.


"Iya sebentar pa. Ada berita apa?" tanya Naura pada Daniel.


Daniel tersenyum bahagia dan berkata. "Sebentar lagi kita bakal punya cucu"


"Papa tau darimana?" Naura kembali bertanya pada suaminya.

__ADS_1


"Tadi waktu papa video call sama Zaidan, papa gak sengaja lihat tanda merah di dada Kirana dan juga lehernya. Berarti hubungan mereka sudah mulai membaik dan menerima satu sama lain" ucap Daniel tersenyum sangat bahagia.


Orang tua mana yang tidak bahagia ketika melihat anaknya juga bahagia.


"Alhamdulillah kalau gitu, pa. Sekarang kita tinggal cari jodoh untuk putra kita yang paling ganteng tapi belum mau menikah" balas Naura terkekeh.


Sementara Zaidan dan Kirana sibuk mengecek barang-barang mereka yang akan dibawa ke Lombok. Kirana juga mengambil kemeja flanel berwarna hitam lengkap dengan kaos oblong yang akan ia gunakan untuk pergi.


"Kamu pakai itu?" tanya Zaidan yang melihat Kirana mengeluarkan kemeja flanel miliknya.


Kirana berbalik dan tersenyum ke arah Zaidan. "Iya Zaiyang, kenapa? Kamu gak suka?"


"Suka sih, tapi itu kan lehernya terbuka. Kalau ada yang lihat tanda itu gimana? Makanya sini biar aku plester!" ucap Zaidan ketus.


Muncul ide jahil di benak Kirana untuk menjahili pria itu. Entah sejak kapan, Kirana suka menjahili seseorang.


"Iya, iya. Tapi ada syaratnya ya, by" ucap Kirana mendekatkan wajahnya ke arah Zaidan.


Zaidan memalingkan wajahnya karena malu ditatap seperti itu oleh Kirana.


"Apa?" tanya Zaidan.


"Sun dulu disini" jawab Kirana menyentuh pipi kanannya.


Zaidan memicingkan matanya dan menatap Kirana dengan sinis. "Ih! Gak mau!"


"Yaudah kalau gak mau, Kirana mau cari baju yang V necknya turun juga. Biar kelihatan yang di dada" goda Kirana dengan smirknya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih! Gak gitu juga! Yaudah iya, tapi Kirana harus tutup mata" ucap Zaidan kesal.


Tanpa pikir panjang, Kirana langsung menutup matanya dan menunggu bibir Zaidan menyentuh pipi kanannya.


Dengan ragu Zaidan mencium pipi kanan Kirana setelah itu, ia menutupi wajahnya karena malu.


"Udah ih!" ucap Zaidan cemberut.


"Yang ini belum" balas Kirana menyentuh pipi kirinya, setelah itu dahi dan juga bibirnya


"Iiih! Nyebelin deh!" umpat Zaidan kesal.


Kirana tertawa puas melihat Zaidan yang sangat kesal. Ia pun mencium puncak kepala Zaidan dengan lembut.


"Kirana bercanda Zaiyang. Yaudah gih di plester, padahal tadi mau Kirana plester sendiri eh kamunya peka" jelas Kirana dengan santainya.


"Tuh kan nyebelin!" umpat Zaidan mencubit lengan Kirana.


"Udah by? Kok malah bengong" tanya Kirana menoleh ke arah Zaidan.


Zaidan mengangguk pelan. Dan kembali duduk di hadapan Kirana.


"By, aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh?" kini nada bicara Kirana berubah menjadi serius.


"Boleh, kenapa?" tanya Zaidan penasaran.


Saat Kirana ingin mengucapkan pertanyaannya, tiba-tiba ada bayangan misterius dari balkon kamar mereka. Sontak Kirana langsung berlari dan mengecek siapa yang berada disana.


"Hei! Siapa disana!" teriak Kirana membuat Zaidan terhenyak.


"Ada siapa?" tanya Zaidan khawatir.


"Kamu tunggu disini ya by. Biar Kirana cek keluar" ucap Kirana menenangkan Zaidan.


Sebelum keluar kamar, Kirana menjentikkan jarinya. Seluruh jendela dan pintu yang ada di kamar mereka langsung tertutup dengan rapat.


"Kamu jangan keluar dari kamar ya, kalau ada yang mengetuk pintu atau jendela balkon jangan dibuka!" ucap Kirana mengingatkan Zaidan. Setelah itu ia berlari keluar kamar dan mengunci pintu kamar tersebut menggunakan pin dan hanya mereka berdua yang tau pin tersebut.


Kirana menuruni tangga dengan tergesa gesa. Ia paling tidak suka jika ada orang yang masuk ke rumahnya secara diam-diam.


Kirana melangkah menuju pos security untuk melihat siapa orang yang baru saja mengusik dirinya.


"Pak Yanto, tolong cek cctv sekarang!" perintah Kirana dengan ekspresi datar.


Pak Yanto langsung menuruti perintah Kirana. Ia membuka layar komputer dan menunjukkan rekaman cctv di setiap sudut rumah Kirana yang diambil dari luar, karena rekaman cctv di dalam rumah hanya dipegang oleh Kirana.


Kirana mengamati setiap rekaman cctv tersebut, pandangan matanya menangkap seorang gadis dengan menggunakan hodie berwarna hitam dengan masker yang menutupi wajahnya.


"Stop! Dan tolong perbesar!" perintah Kirana dengan serius.


Kirana mengamati rekaman cetv tersebut dengan serius. Ia kesal karena tidak bisa mengidentifikasi wajah gadis asing tersebut.


"Tolong cetak rekaman cctv ini sekarang, pak! Saya akan periksa cctv yang ada di dalam" ucap Kirana berlari menuju ruang kerjanya.


Dengan segera, Kirana membuka laptopnya. Rahang Kirana mengeras, setelah melihat rekaman cctv tersebut.

__ADS_1


'Aku seperti mengenali gadis ini!' gumam Kirana terus memperbesar rekaman cctv tersebut.


"Elsa?" desis Kirana, namun ia masih menahan diri agar emosinya tidak menguasai dirinya.


Kirana menelpon seseorang dan meminta orang itu untuk mencari tau bagaimana Elsa bisa masuk ke dalam rumahnya yang dijaga sangat ketat.


Elsa adalah pesaing bisnis Kirana. Elsa sangat membenci Kirana karena Kirana selalu saja memenangkan kontrak. Elsa akan melakukan apapun untuk membalaskan dendamnya pada Kirana. Padahal Kirana tidak pernah bermaksud untuk bersaing dengannya. Ia hanya bersikap profesional pada pekerjaannya.


Terakhir kali Elsa mengusiknya dua tahun lalu, waktu Kirana masih tinggal di Surabaya sebelum akhirnya pindah ke Jakarta menghilangkan jejak dari Elsa. Ada perasaan khawatir di benak Kirana, ia takut jika Elsa akan menyakiti dan melibatkan Zaidan untuk membalaskan dendam padanya.


Sebelum kembali untuk menemui Zaidan. Kirana menelpon penjaga kompleks perumahan yang ia tempati.


"Halo, assalamualaikum" ucap Kirana tenang agar emosinya tidak meluap.


"Waalaikumussalam Kirana, tumben menelpon saya pagi-pagi begini" ucap penjaga kompleks di seberang sana.


"Saya tidak ingin basa-basi! Kenapa kalian tidak bisa menjaga rumah saya dengan benar? Pertama gerombolan orang masuk ke lingkungan rumah saya, dan sekarang ada gadis asing yang berhasil masuk ke dalam balkon kamar saya! Jika tidak sanggup untuk menjaga rumah saya, bilang! Biar saya cari kompleks perumahan yang lebih ketat dari ini!" ucap Kirana ketus. Ia sudah tidak tahan lagi dengan penjagaan di rumahnya yang sudah tidak ketat.


"Akan kami perketat lagi. Tapi saya mohon untuk tidak pindah dari kompleks ini" jawab penjaga kompleks tersebut.


"Saya tunggu sampai siang ini! Semua orang yang akan masuk ke rumah saya harus diperiksa kecuali nama-nama yang sudah saya kirimkan sebelumnya!" balas Kirana masih dengan nada ketus.


"Baik Kirana, akan segera kami laksanakan. Maaf atas ketidak nyamanan anda, assalamualaikum" sambung penjaga kompleks menutup sambungan telponnya.


Sementara di kamar, Zaidan tengah mondar-mandir. Ia penasaran kenapa Kirana tiba-tiba langsung pergi setelah melihat sosok misterius di balkon.


"Keluar aja kali ya? Tapi kata Kirana gak boleh keluar kamar, aaa aku kepo" gumam Zaidan manja.


Pintu kamar terbuka, menampilkan wanita cantik dengan stelan kaos oblong dan rambut rapi.


"Zaiyang" Kirana berjalan mendekati suaminya yang tengah mondar-mandir.


"Kirana dari mana aja? Terus tadi itu siapa? Kok aku gak boleh keluar, kenapa kamu? Semua baik-baik aja kan ?" Zaidan terus bertanya, membuat Kirana hanya tersenyum mendengarkan pria itu hingga selesai bicara.


"Udah selesai by?" tanya Kirana tersenyum lembut ke arah prianya.


"Sini duduk dulu" ucap Kirana menggenggam tangan Zaidan untuk duduk di sofa.


"Kamu gak usah khawatir ya Zaiyang, semua baik-baik aja dan semoga demikian" sambung Kirana menenangkan Zaidan.


"Beneran semuanya baik-baik aja?" tanya Zaidan yang tidak yakin dengan ucapan Kirana.


Kirana mengelus punggung tangan Zaidan dan menenangkan prianya. "Insya Allah by, kamu percaya sama Kirana kan?"


Zaidan mengangguk kecil. Kemudian tersenyum dan menggenggam tangan Kirana. Ia seperti ingin menguatkan Kirana yang tengah dilanda kekhawatiran. Walaupun Kirana tidak bercerita padanya. Namun Zaidan tau kalau istrinya sedang khawatir.


"By, Kirana mau nanya golongan darah kamu apa?" tanya Kirana mengalihkan pembicaan.


"Golongan darah aku O rhesus negatif, kenapa?" tanya Zaidan heran karena Kirana tiba-tiba bertanya tentang golongan darahnya.


Kirana tertegun mendengar ucapan Zaidan. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas. Tubuh Kirana lemas seketika saat mengetahui golongan darah Zaidan adalah golongan darah langka dan sangat berharga.


"Halo? Kenapa ih! Kok malah bengong" Zaidan mengibaskan tangannya di depan Kirana.


"Aku gak salah denger kan? Golongan darah kamu O rhesus negatif?" Kirana kembali memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


"Iya, golongan darah aku O rhesus negatif. Sebentar ya, aku ambil hasil tes darah ku sebelum pernikahan kita" ucap Zaidan membuka tas nya dan mengambil secarik kertas berisikan hasil tes darahnya.


"Ini Kirana bisa lihat sendiri" sambung Zaidan memberikan kertas tersebut pada Kirana.


Kirana langsung membaca dengan saksama. Hati Kirana merasa bersalah karena telah kasar pada Zaidan. Ternyata pangerannya memiliki golongan darah yang langka dan sangat berharga.


"By, maafin Kirana ya" ucap Kirana langsung memeluk Zaidan. Tak terasa air mata Kirana jatuh dari pelupuk matanya.


"Kirana minta maaf kenapa? Emang kamu punya salah sama aku?" tanya Zaidan. Ia merasa Kirana tidak memiliki kesalahan padanya dan jika ada, Zaidan sudah memaafkan semuanya.


"Maaf karena aku pernah kasar sama kamu, maaf karena aku pernah nyakitin kamu dan maaf karena aku gak tau kalau kamu punya golongan darah yang langka by. Maaf" belum sempat Kirana menyelesaikan ucapannya, bibir Kirana ditutup dengan jari Zaidan.


"Aku udah maafin semuanya, bahkan sebelum mas minta maaf. Lupain semuanya, mari kita buka lembaran baru lagi Kirana. Anggap aja itu semua sebagai ujian buat aku di awal pernikahan kita" jelas Zaidan tersenyum.


"Mulai sekarang, kamu harus hati-hati! Jangan sampai terluka, aku gak mau kamu kenapa-napa, by" ucap Kirana mengelus kepala Zaidan.


"Iya" balas Zaidan.


Mereka berdua saling mengeratkan pelukannya dan saling menguatkan satu sama lain. Perasaan Kirana campur aduk, ia sangat takut jika ada seseorang yang ingin menyakiti Zaidan. Apalagi golongan darah Zaidan sangat langka.


Zaidan melepaskan pelukannya. Mata hazel miliknya menatap mata elang milik Kirana dengan serius.


"Sebenarnya ada satu rahasia yang belum pernah aku ceritain ke siapapun kecuali mas Calvin karena dia seorang dokter dan juga abang aku. Sekarang aku mau cerita ke mas, karena kamu istriku dan berhak tau semuanya yang ada di diriku"


"Jadi, karena golongan darah aku O rhesus negatif ada kemungkinan kamu susah untuk hamil Kirana. Berdasarkan penelitian dan buku yang aku baca, pria yang memiliki golongan darah O cenderung lebih susah untuk memiliki keturunan dibanding golongan darah A. Dan persentase hamil itu kurang lebih 20%" jelas Zaidan sendu. Ia takut jika Kirana akan kecewa padanya.


Namun, nyatanya tidak. Kirana justru menenangkan Zaidan lewat kata-katanya.

__ADS_1


"Masih berdasarkan penelitian kan? Zaiyang, kita punya Allah dan anak itu rezeki dari Allah. Kamu gak perlu khawatir tentang hal itu, karena aku yakin kamu akan selalu disamping aku dimanapun aku melangkah" ucap Kirana tersenyum.


Sebenarnya titik ke khawatiran Kirana bukan karena dirinya yang akan sulit hamil, tapi lebih kepada jika ada orang yang ingin melukai Zaidan, akan sulit bagi Kirana untuk mendapatkan pendonor dengan golongan darah O rhesus negatif.


__ADS_2