Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Khawatir


__ADS_3

Setelah Kirana pamit ke kantor, Zaidan menutup pintu kamar, setelah itu ia menangis melihat foto boygroup asal Korea Selatan yang salah satu membernya keluar dari agensi, padahal grup mereka baru saja merayakan anniversary. Tidak banyak orang yang tau kalau Zaidan juga menyukai musik K-pop.


Lama Zaidan menangis hingga tak menghiraukan panggilan Carissa.


Tok..Tok...Tok


Suara ketukan pintu membuat Zaidan tersadar dan segera ke kamar mandi untuk cuci muka agar tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sedang menangis termasuk mertuanya.


Zaidan membuka pintu dengan tersenyum tipis, namun terlihat jelas di mata Zaidan bahwa pria itu habis menangis.


"Zaidan mata kamu kok sembab? Kamu habis nangis? Atau Kirana memarahi mu lagi?" tanya Carissa pada Zaidan.


'Malu... , bisa-bisanya aku nangis cuman gara-gara itu doang!" batin Zaidan terkekeh mengingat kejadian ia menangis tersedu hanya gara-gara salah satu member boygroup favoritnya keluar agensi.


Zaidan menggeleng pelan." Enggak kok bun, tadi ada hewan kecil yang masuk ke mata Zaidan" jawab Zaidan terpaksa berbohong. Ini pertama kalinya Zaidan berbohong, ia malu jika harus berkata bahwa dirinya menangis hanya karena boygroup.


"Yakin?" tanya Carissa memastikan keadaan Zaidan.


"Iya bun. Oh iya, bunda butuh sesuatu?" kini giliran Zaidan yang bertanya pada menantunya.


"Enggak nak. Bunda cuman mau ngasih tau kalau ayah sudah menjemput bunda dan bunda harus pulang ke rumah sekarang" jawab Carissa mengelus kepala Zaidan dengan lembut.


"Bunda enggak mau tinggal disini lagi?" tanya Zaidan manja, ia belum siap jika harus ditinggal berdua dengan Kirana. Walaupun ada beberapa pegawai Kirana yang tinggal di sebelah rumah mereka. Tapi tetap saja, Zaidan belum siap jika harus berdua dengan Kirana.


"Bukan seperti itu nak. Bunda harus kembali ke rumah, kamu tau kan ayah Aarav disana butuh bunda untuk persiapan kantor?" ucap Carissa mengusap kepala Zaidan.


Zaidan hanya mengangguk pelan. Ia tidak bisa mencegah mertuanya untuk pergi dan meninggalkannya.


Mereka berdua pun turun ke bawah untuk bertemu dengan Aarav. Zaidan mencium tangan ayah mertuanya.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Aarav kepada Zaidan.


"Alhamdulillah Zaidan baik yah. Ayah sendiri apa kabar?" tanya Zaidan lagi.


“Alhamdulillah ayah juga baik” jawab Aarav dengan senyum di wajahnya.


Orang tua mana yang tidak menginginkan menantu seperti Zaidan, sosoknya yang lemah lembut, selalu menurut pada perintah orang tua, taat terhadap agama.


Orang tua Kirana sangat menyayangi Zaidan, mereka yakin hanya Zaidan yang bisa merubah sikap keras kepala Kirana.

__ADS_1


Zaidan ke dapur untuk mengambil teh ayah mertuanya, setelah itu ia kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh dan juga makanan ringan.


"Ini tehnya yah, diminum dulu" ucap Zaidan dengan lembut.


"Kenapa kamu repot-repot nak, Ayah tadi udah minum teh di kantor" ucap Aarav menggoda Zaidan yang cemberut karena teh buatannya tidak diminum oleh ayah mertuanya.


Carissa hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah Zaidan yang cemberut, Aarav dan Carissa tidak menganggap Zaidan sebagai menantu, melainkan sudah seperti putra mereka sendiri.


"Ayah ini, jangan di godain gitu. Zaidan jadi cemberut kan" ucap Carissa menyenggol lengan suaminya.


"Ayah bercanda ya nak. Jangan dianggap serius" seru Aarav membuat Zaidan tersenyum.


Zaidan duduk di sebelah Carissa sambil memeluknya.


Notif ponsel Zaidan berbunyi, ia menarik bar notifikasi dan membacanya sekilas ternyata dari Kirana si beruang kutub.


Istriku 💖: Zaidan, lemarinya sudah datang?


Zaidan tidak membalas pesan dari Kirana, ia sedang tidak mood untuk membuka aplikasi chat.


Setelah selesai minum teh, Aarav dan Carissa pamit untuk kembali ke kerumah mereka.


"Nak jangan nangis gitu, kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa telpon bunda atau ayah. Bunda juga titip Kirana ya, awasi istri mu jika Kirana kasar sama kamu, langsung lapor ke bunda ya sayang" ucap Carissa memeluk sambil mengelus pelan kepala Zaidan.


"Bunda, hiks..." Zaidan masih menangis dalam dekapan Carissa.


"Udah jangan nangis, nanti kalau Kirana enggak sibuk kalian main-main ke rumah ya" ucap Carissa menenangkan Zaidan.


"Bener kata bunda mu nak, ajak Kirana untuk ke rumah. Kalau dia enggak mau, telpon ayah, biar ayah jewer telinganya" ucap Aarav tertawa renyah untuk menghidupkan suasana, agar Zaidan tidak terlalu sedih.


Zaidan tersenyum tipis setelah mendengar ucapan ayah mertua.


"Bunda sama ayah pamit yang, jaga diri kamu jangan telat makan, tolong ingatkan Kirana ya kalau makan tepat waktu. Bunda titip salam ke Kirana, bilang jangan terlalu sibuk kerja" Ucap Carissa.


Zaidan menyambut tangan mereka berdua dan membawa mereka ke depan pintu.


"Jangan nangis nggih, kapan-kapan bunda kesini lagi, assalamualaikum" sambung Carissa


"Wa'alaikumsalam warahmatullah bunda. Fii Amanillah ayah, bunda" kata Zaidan tersenyum ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Mobil yang digunakan mertuanya sudah keluar dari pagar rumah Kirana. Zaidan kembali menutup pintu, tanpa melihat notifikasi ponselnya.


Sementara di cafe tempat Kirana rapat, gadis itu tengah khawatir sampai tidak fokus dengan pembahasan rapat mereka, Kirana khawatir jika sesuatu terjadi pada Zaidan karena pria itu tidak menjawab telpon ataupun chat darinya.


'Kemana pria ini? Apa susahnya sih tinggal jawab 'iya' doang!' omel Kirana pelan dan kesal.


"Ibu Kirana, apakah anda memiliki seratus pintu masuk?" dia bertanya kepada stafnya, tapi Kirana masih memikirkannya mengapa Zaidan tidak membalas pesan darinya.


Adrian yang merasa heran dengan kakaknya ia langsung menyenggol lengan Kirana untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Kirana? Hei!" ucap Adrian menyenggol lengan Kirana dan membuat Kirana terhenyak.


"Hah? Iya ada apa?" tanya Kirana tersadar dari lamunannya.


Adrian menepuk jidatnya, baru kali ini kakakknya tidak fokus saat rapat. Biasanya Kirana sangat tegas jika sudah membahas tentang proyek yang besar.


Adrian membisikkan sesuatu pada Kirana, ia bilang sebaiknya rapat ditunda sampai ishoma, agar Kirana bisa fokus pada pekerjaannya. Kirana mengangguk paham dan menuruti saran dari Adrian.


"Baiklah, rapat kita tunda sampai selesai ishoma" ucap Kirana membereskan berkasnya dan pergi untuk pulang ke rumah. Ia sedikit khawatir tentang keadaan Zaidan yang tidak membalas pesan darinya.


Kirana mengingat ucapan Calvin tadi pagi, kalau Zaidan sedang kesal, maka pria itu bisa melakukan apapun. Kirana langsung menambah kecepatannya, tak butuh waktu lama bagi Kirana untuk sampai di kompleks perumahannya.


Sesampanya di rumah, Kirana langsung masuk dan memanggil nama Zaidan, namun pria itu tidak kunjung menjawab dan membuat rasa khawatir Kirana semakin bertambah.


"Mas Zaidan" teriak Kirana dan tidak mendapat jawaban dari sang empunya nama.


Kirana terus mencari keberadaan Zaidan, dimulai dari kamar mereka hingga ke balkon dimana pria itu sering membaca buku. Namun, kali ini Zaidan tidak ada disana.


Kirana menuruni anak tangga dengan terburu-buru, ia terus mencari keberadaan Zaidan di sekitaran rumah. Sampai akhirnya ia bertanya dengan security yang berjaga di rumahnya.


"Pak Yanto, suami saya kemana ya?" tanya Kirana dengan guratan khawatir.


"Tuan Zaidan? Saya kurang tau gus, karena saya baru pergantian shift dengan pak Arya" jawab Yanto yang baru saja tiba di pos security.


Raut wajah Kirana berubah muram, ia mulai pusing dengan keamanan rumahnya yang mulai longgar.


'Menjaga Zaidan saja mereka semua tidak bisa!' umpat Kirana dalam hati.


"Panggil pak Arya untuk menghadap saya sekaran! Dan cari Zaidan sekarang juga!" perintah Kirana dingin dan tegas.

__ADS_1


Yanto langsung menuruti perintah Kirana, atau ia akan dimarahi oleh Kirana yang selang kesal.


__ADS_2