Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Perhatian Kecil Karina


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa matahari sudah ingin terbenam. Zaidan memotret langit yang sudah menunjukkan warna orange dan mempostingnya di story wa.


“Senja itu unik, indah tapi hanya sebentar” begitu kira-kira caption yang ditulis Zaidan pada foto senja yang ia potret.


Banyak teman-teman sejawat Zaidan yang membalas story wa yang ia posting, namun Zaidan tidak membalas pesan dari teman-temannya tersebut.


Tapi ada satu pesan yang langsung dibalas oleh Zaidan, pesan tersebut muncul dari Calvin,


Kak Calvin: Ekhem, pengantin baru udah galau aja nih


Zaidan tersenyum membaca pesan tersebut dan langsung membalasnya


Zaidan: Dih! Mana ada Zaidan galau


Selang beberapa menit Calvin langsung membalas pesan Zaidan


Calvin: Haha, oh iya bulan depan ada kegiatan sukarelawan ke lombok, mau ikut?


Zaidan berpikir sejenak, dan ia membalas pesan dari Calvin


Zaidan: Really? Zaidan tanya ke Kirana dulu ya kak, kalau di izini Kirana, Zaidan pasti berangkat


Calvin langsung membalas pesan Zaidan


Kak Calvin: Ciee yang udah punya istri, harus izin ke istri dulu


Zaidan berdecak kesal karena di goda oleh Calvin, ia pun mematikan ponselnya karena di panggil oleh mertuanya. Zaidan turun ke bawah menemui mertuanya yang sedang berada di meja makan.


"Nak sini makan bareng bunda" ucap bunda Carissa memberikan piring ke Zaidan.


Zaidan menolaknya dengan lembut "Zaidan nunggu Kirana pulang aja bunda"


Bunda Carissa menggelengkan kepalanya "Kirana pulang malam dan biasanya udah makan diluar, kamu makan aja duluan nak"


Zaidan tetap bersikeras tidak ingin makan sebelum Kirana pulang " Gak apa-apa umi, lagian Zaidan juga belum lapar"

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu, bunda makan duluan ya nak" ucap bunda Carissa dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


Setelah selesai menemani mertuanya makan malam, Zaidan kembali ke kamar untuk sholat isya setelah itu ia turun dan menunggu Kirana pulang.


Naura dulu pernah menasihatinya jika sudah menikah, maka sebagai seorang suami harus memastikan bahwa istri aman, memastikan sang istri sudah makan, begitulah kira-kira nasihat dari Naura.


Zaidan duduk di sofa sambil membawa tasbih, pria itu berdzikir sembari menunggu Kirana pulang sampai ia pun tertidur di sofa dengan tasbih digital di tangannya.


Tepat jam dua belas malam, Kirana pulang membuat Zaidan memicingkan matanya dan melihat siapa yang datang. Pandangan Zaidan menangkap gadis dengan tubuh atletis memakai pakaian rapi sama seperti waktu akan pergi kerja tadi pagi.


Zaidan bangkit dan mendatangi Kirana.


"Kirana udah pulang?" tanya Zaidan dengan lembut.


"Hem" jawab Kirana singkat dan berlalu meninggalkan Zaidan yang masih setia berdiri di dekat sofa.


Zaidan mengekori Kirana yang akan masuk ke dalam kamar, Kirana berhenti secara tiba-tiba dan membuat Zaidan menubruk tubuh atletisnya. Zaidan pun meringis kesakitan.


"Aw" ringis Zaidan mengusap keningnya yang sakit.


'Kirana secepat ini? Apa kamu udah siap?' gumam Zaidan dalam hati, ada perasaan yang tidak dapat di ungkapkan menggunakan kata-kata saat Kirana mendekat ke arahnya, namun lagi dan lagi Zaidan harus merasakan kekecewaan karena Kirana tidak melakukan apa yang Zaidan pikirkan.


"Jangan baper! Ada sampah di rambut mu, dan saya tidak ingin kamu mengotori sofa di kamar!" ucap Kirana datar dan membuat Zaidan menepis semua pikiran yang ada di benaknya.


'Kirana aku ini suami mu loh!' gerutu Zaidan dalam hati.


Zaidan menepis pikiran yang sudah melayang jauh dan ia menanyakan apakah Kirana sudah makan atau belum.


"Kirana kamu mau makan disini atau di meja makan?" tanya Zaidan mencoba mengimbangi langkah Kirana.


"Saya sudah makan!" jawab Kirana dingin dan berlalu masuk kamar, Zaidan merengut kesal karena tidak dianggap ada oleh Kirana.


'Zaidan, ini salahmu padahal udah di ingati sama bunda kalau Kirana sering makan diluar masih aja ngeyel!' umpat Zaidan pada dirinya sendiri.


Zaidan ikut masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, walaupun seharian ini ia tidak melakukan apapun, namun tetap saja membuat tubuh Zaidan lumayan pegal.

__ADS_1


"Bunda dan Adrian dimana?" tanya Kirana dingin.


"Mungkin udah tidur" jawab Zaidan menerka-nerka.


Kirana manggut-manggut "Bagus, jadi saya tidak perlu melakukan banyak drama" ucap Kirana lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Zaidan menghela napasnya kasar dan bergumam 'Sabar Zaidan sabar, harus sabar!'


Zaidan mencoba untuk tidur, namun perutnya berbunyi dan membuat Zaidan tidak bisa tidur, ia ingin turun ke bawah tapi Zaidan takut jika harus ke dapur sendirian. Pria itu duduk di sofa tempat ia tidur menunggu Zaidan keluar dari kamar mandi dan berharap gunung es itu mau menemaninya ke dapur untuk makan.


Kirana pun keluar dengan memakai kaos dan celana training, ia mengedarkan pandangannya dan menangkap Zaidan yang tengah duduk sambil memegangi perutnya. Kirana mendekat ke arah Zaidan dan menaikkan sebelah alis tebalnya untuk bertanya apakah Zaidan baik-baik saja, Kirana tidak ingin di cap sebagai istri yang dzolim padahal Kirana memang istri dzolim.


"Lapar hehe..." ucap Zaidan tersenyum canggung.


"Emang bi Inem gak masak? Sampai kamu lapar tengah malam!?" tanya Kirana dengan raut wajah datar.


"Aku tadi yang masak lo" sambung Zaidan tersenyum dan masih memegangi perutnya agar tidak mengeluarkan bunyi dari cacing yang sedang berdemo di dalamnya.


"Terus?" Kirana masih bertanya, namun tidak ada ekspresi yang terpasang di wajah cantiknya itu.


"Aku kira kamu belum makan, cuman ngikutin sunnah rasul aja kok" jawab Zaidan menatap Kirana seolah-olah meminta bantuan untuk menemaninya makan.


Kirana menghela napasnya dan kemudian beranjak keluar dari kamar, Zaidan berdecak kesal, ia kira Kirana akan seperti istri-istri diluar sana yang akan perhatian melihat suaminya kelaparan, namun Kirana malah pergi meninggalkan Zaidan sendirian di dalam kamar.


Beberapa menit kemudian Kirana masuk dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan juga air mineral.


"Ini makan lah, lain kali jangan menunggu saya! Saya tidak ingin ada keluhan dari keluarga mu bahwa saya kejam!" ucap Kirana menyerahkan piring yang ia bawah kepada Zaidan, setelah itu ia pun naik ke atas kasur untuk beristirahat tanpa memperhatikan Zaidan yang tersipu malu.


"Makasih" ucap Zaidan dengan tersipu dan ia pun memakan nasi yang dibawa Kirana.


Zaidan makan dengan tersipu, ia melihat porsi makanan yang pas dan berpikir bagaimana Kirana bisa tau porsi makannya.


Zaidan menyelesaikan makannya dan dia pun meletakkan piring di atas nakas. Zaidan duduk untuk menunggu makanan yang ia makan tercerna dengan baik.


Zaidan menatap Kirana yang sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah, Zaidan tersenyum melihat wajah cantik Kirana sesekali Zaidan juga tergoda dengan tubuh atletis Kirana, namun Zaidan segera menepis semua pikirannya.

__ADS_1


'Astaghfirullah Zaidan! kemana perginya Zaidan yang polos itu? Sadar Zaidan sadar!' gerutu Zaidan merutuki dirinya dalam hati.


__ADS_2