Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Tom and Jerry


__ADS_3

Malam hari, Kirana kembali fokus pada dokumen-dokumennya. Sedangkan Zaidan, sibuk dengan berkas-berkas pendaftaran sekolah spesialisnya.


Mereka berdua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zaidan yang sudah selesai langsung membereskan semua dokumennya dan tidur lebih dulu, karena kondisi tubuhnya belum pulih.


"Mas, mau tidur?" tanya Kirana di sela-sela pekerjaannya.


"Hm" jawab Zaidan singkat.


Zaidan yang sudah berganti pakaian langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Kirana yang melihat hal itu, langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuka selimut suaminya. Ia masih trauma dengan kejadian di rumah sakit beberapa hari lalu.


Zaidan merengut kesal. Padahal ia senang sekali tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa dibuka?" tanya Zaidan kesal.


"Jangan ditutup gitu mas, aku gak suka" ucap Kirana dengan lembut.


"Terus dipersalahkan sama ku apa?" tanya Zaidan lagi.


"Pokoknya jangan ditutupi kayak gitu" lanjut Kirana mengusap puncak kepala Zaidan.


"Terserah!" ucap Zaidan final. Ia tetap bersikeras untuk tidur dengan wajah yang ditutupi selimut.


Kirana membuka kembali selimut tersebut dan menjauhinya dari Zaidan.


"Ish! Dingin tau!" celetuk Zaidan masih dengan wajah kesalnya.


Kirana langsung naik ke atas kasur dan memeluk erat tubuh Zaidan. Ia rela meninggalkan dokumennya agar prianya tidak merasa kedinginan.


"Modus!" celoteh Zaidan memukul pelan dada bidang Kirana.


"Biarin!" lanjut Kirana sambil mengeratkan pelukannya.


"Udah sana kerjain dokumennya!" usir Zaidan berusaha keluar dari dekapan Kirana.


"Bisa diurus nanti, kalau yang ini kan gak bisa" celetuk Kirana mencibir hidung Zaidan.


Zaidan hanya diam saja. Beberapa menit kemudian, ia pun terlelap dalam dekapan Kirana.


"Imut banget" ujar Kirana mengulas senyum termanisnya.


Kirana ikut tertidur dan membiarkan dokumennya serta laptopnya tergeletak diatas meja.


Pagi harinya, Zaidan sangat kesal pada Kirana karena setelah subuh ia malah diajak berolahraga pagi oleh Kirana.


Zaidan memasang wajah datar. Namun, bukannya galak malah imut di mata Kirana.


"Udah dong ngambeknya" ucap Kirana menghampiri suaminya.


Zaidan melirik sekilas. Tubuhnya sangat lelah karena Kirana bermain kasar seperti binatang buas yang menerkam mangsanya.


Kirana ingin memeluk tubuh Zaidan, tapi pria itu dengan lincah menjauh dari Kirana dan meninggalkannya di kamar seorang diri.


"Lihat, ngambek lagi" gumam Kirana menatap punggung Zaidan yang sudah menghilang di balik pintu.


Zaidan menuruni tangga dengan berlari kecil, sesampainya di ruang tamu ia mendengar suara bel dan langsung membukanya.


"Eh dek Adrian, silahkan masuk bro" ucap Zaidan tersenyum ramah.


"Assalamualaikum kak Zaidan. Kak Kirana ada?" tanya Adrian sembari masuk ke dalam rumah besar nan mewah tersebut.


Senyum Zaidan pudar ketika Adrian menyebut nama Kirana. Ia benar-benar masih kesal pada istrinya itu.


"Waalaikumussalam dek, ada di kamar entah di ruang kerja" ucap Zaidan mengedikkan bahunya.


"Bisa tolong panggilkan kak? Karena hari ini ada rapat penting dan harus dihadiri oleh Kirana langsung" ucap Adrian masih berdiri di depan pintu berukuran besar tersebut.


"Panggil aja sendiri dek, aku lagi ada urusan. Aku tinggal gak apa-apa kan?" ucap Zaidan langsung pergi meninggalkan Adrian di ruang tamu, tanpa menunggu jawaban dari Adrian.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami dari kakaknya. Ia sudah tidak heran dengan tingkah Zaidan, pria itu sangat moodyan dan ia juga tidak tersinggung karena sikap Zaidan yang pergi begitu saja dari hadapannya.


Selang satu menit, Kirana keluar dari lift dengan menggunakan kaos oblong dan celana training saja. Pandangannya menangkap sosok pria yang ia ketahui pria itu adalah Adrian.


"Ada apa?" tanya Kirana datar.


"Biasa, lo harus rapat" jawab Adrian santai.


Kirana menghela napas kasar. Beginilah pekerjaannya, semua dokumen harus di tanda tangani olehnya dan rapat khusus juga harus dihadiri langsung olehnya.


"Jam berapa?" tanya Kirana sembari melirik sekilas ke jam rolex limited edition miliknya.


"Jam 9 tepat" jawab Adrian melihat beberapa jadwal rapat Kirana di Ipad miliknya.


Kirana mengangguk kepalanya. Sebenarnya, ia masih ingin di rumah. Namun, ia juga harus bekerja dan tidak bisa hanya mengandalkan Adrian saja tanpa ikut turun tangan.


Beberapa menit kemudian, Zaidan kembali ke ruang tamu dengan membawa makanan ringan dan juga jus buah. Karena jus buah sangat bagus untuk kesehatan jika diminum pada pagi hari.


"Adrian, silahkan diminum dulu" ucap Zaidan tersenyum.


"Hanya Adrian aja?" tanya Kirana pada suaminya yang masih merajuk padanya.


Zaidan melirik sinis ke arah Kirana. "Silahkan diminum nona KIRANA!" ucap Zaidan kesal dengan menekan kata Kirana.


Adrian menahan tawanya, ingin sekali ia tertawa puas. Tapi, tatapan dingin Kirana membuatnya harus mengurungkan niat untuk tertawa.


"Bi Inem kemana? Kenapa kamu yang bawa minuman? Kamu belum pulih mas, jangan capek-capek!" ucap Kirana menatap sepasang manik hazel milik suaminya.


'Dih jangan capek-capek! Gak sadar diri, padahal dia yang bikin aku capek!' gerutu Zaidan dalam hati.


"Adrian, tolong bilangin ke Kirana kalau Bi Inem lagi ke pasar" jawab Zaidan mengalihkan pandangannya ke Adrian.


Kirana mengerutkan dahinya. Ternyata suaminya masih saja merajuk padanya.


"Adrian, tolong bilangin ke suami saya jangan ngambek nanti tampannya hilang. Karena dari tadi saya sudah membujuknya, tapi tidak direspon sama sekali" sambung Kirana sengaja mengikuti cara bicara Zaidan.


"Adrian, bilang ke Kirana kalau aku kesel sama dia!" celoteh Zaidan kesal.


"Adrian, tolong bilang ke suami saya yang paling imut dan tampan, saya benar-benar minta maaf" lanjut Kirana memelas.


Adrian meneguk orange juice yang dibuatkan Zaidan. Setelah itu, ia melerai sepasang kekasih yang tengah bertengkar dengan melibatkan dirinya.


"Stop! Kalian ini udah dewasa! Masih aja seperti anak kecil! Oke kalau Zaidan memang manja, tapi lo kak" ucap Adrian menunjuk ke Kirana gemas.


"Lo itu pemimpin sekaligus pemilik perusahaan Fernando Group! Lo biasanya bersikap jauh lebih dewasa dari gue, sekarang kemana Kirana yang gue kenal? Kalau kalian ada masalah, selesaikan baik-baik bukan malah ribut di depan gue! Berasa gue yang udah nikah!" lanjut Adrian kesal. Karena sedari tadi sepasang kekasih halal itu bertengkar dengan menyebut namanya.


"Zaidan yang mulai" ucap Kirana santai.


"Kok aku? Kamu tuh yang mulai!" balas Zaidan tidak ingin disalahkan.


Adrian menggelengkan kepalanya saja. Bisa terkena dampak perang dunia ketiga dirinya kalau terus-terusan berada di Mansion mewah Zaidan.


"Udah stop! Kalian berdua salah!" ucap Adrian melerai keduanya layaknya seorang wasit.


'Kalau nikah kayak gini, mendingan gue jomblo seumur hidup! Ikhlas serius!' batin Adrian yang sudah pusing dengan sepasang kekasih halal tersebut.


"Sekarang, kalian minta maaf satu sama lain! Cepat!" perintah Adrian gemas pada keduanya.


Kirana melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zaidan. Ia menarik tangan Zaidan dengan lembut sembari berjongkok.


"Mas, maafin aku ya. Aku tau aku salah dan gak seharusnya aku minta hak aku disaat kondisi kamu belum pulih" ucap Kirana dengan lembut dan mencium tangan Zaidan.


Zaidan tidak tega melihat istrinya berjongkok di depannya. Ia pun menyuruh Kirana untuk bangkit.

__ADS_1


"Kamu gak salah kok, mas aja yang berlebihan. Maafin aku ya" ucap Zaidan dengan mata yang berkaca-kaca.


Kirana langsung menarik Zaidan ke dalam dekapannya. Ia membelai kepala Zaidan dengan lembut dan mengecup puncak kepala Zaidan.


'Gini amat ya ngontrak di bumi! Tadi jadi wasit sekarang jadi nyamuk!' batin Adrian iri melihat sepasang kekasih halal di depannya itu.


'Jodoh gue kira-kira lagi dimana ya? Belum nemu hilalnya' gumam Adrian asal.


Adrian yang sudah tidak tahan dengan kemesraan di depannya langsung berdehem untuk mengingatkan bahwa mereka saat ini Adrian ada diantara mereka berdua.


"Ekhem! Ternyata gini ya rasanya ngontrak di bumi!" celetuk Adrian asal.


Zaidan langsung menarik diri dari Kirana, namun dicegah oleh Kirana.


"Makanya cari pasangan" ucap Kirana santai disertai kekehan.


"Baru aja putus kemarin" jawab Adrian seolah-olah lemas karena dirinya baru saja putus dari pacarnya.


"Makanya, jangan pacaran! Pacarannya setelah menikah aja, udah halal" celoteh Kirana menasehati adiknya. Sebenarnya, Kirana sudah sering mengingatkan Adrian untuk tidak pacaran. Namun, Adrian tetap tidak menghiraukan dirinya dengan alasan belum siap untuk menikah.


"Lagian gue pacaran juga gak ngapa-ngapain!" ucap Adrian santai.


"Kalau gak ngapa-ngapain, terus ngapain pacaran?" kini giliran Zaidan yang bertanya dengan wajah polosnya.


'Damn! Nih anak manja, tapi sekalinya ngomong kayak disentil ginjal gue!' gerutu Adrian dalam hati.


Adrian menghela napas kasar. Niat awalnya untuk menjemput Kirana malah terkena nasehat plus ikut drama pertengkaran kecil suami istri di depannya ini.


"Iya, iya. Gua nyerah!" celetuk Adrian mengibarkan bendera putih. Berdebat dengan Kirana saja ia kalah, apalagi ditambah dengan Zaidan.


Kirana dan Zaidan saling tatap. Pandangan mata Kirana menyiratkan sesuatu dan Zaidan paham apa yang dimaksud oleh istrinya.


"Adrian, kami tinggal dulu ya. Kirana mau siap-siap" pamit Zaidan tersenyum.


Adrian mengangguk. Ia menarik napas lega setelah pasangan halal yang sudah membuat dirinya setengah frustasi pergi ke kamar mereka.


Di kamar, Kirana sudah rapi.


"Jangan cantik-cantik napa! Kan aku takut" celoteh Zaidan asal ketika sedang mengamati Kirana yang menyisir rambutnya.


"Takut kenapa mas?" tanya Kirana menghampiri suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Nanti kalau ada yang rebut kamu dari aku gimana? Kan aku gak mau ditinggal sendiri, huwaaa" rengek Zaidan manja dengan memajukan bibirnya.


"Dengerin aku ya mas, enggak ada yang bakal rebut aku dari kamu. Karena aku sepenuhnya milik Zaidan Brian Alvaro Assaba!" ucap Kirana mencibir hidung Zaidan. Ia sangat gemas dengan Zaidan ketika sedang dalam mode manja.


"Tapi kan"


Kirana menggigit bibir bawah Zaidan dengan lembut sebagai pertanda bahwa dirinya sepenuhnya milik pria tampan di depannya ini.


"Sekarang udah percaya mas?" tanya Kirana tersenyum manis setelah melakukan relaksasi pagi.


"Ish modus lagi kan! udah sana ke kantor, entar telat loh!" celetuk Zaidan dan dibalas gelak tawa oleh Kirana.


"Iya mas, ini juga mau berangkat. Kamu harus istirahat penuh, jangan kecapean! Jangan ngerjain pekerjaan rumah! Jangan-"


Shut.


Jari Zaidan menutup mulut Kirana yang tengah mengomelinya.


"Aku bakal istirahat kok" ucap Zaidan mengedipkan sebelah matanya.


"Udah ayok, kasihan Adrian udah nunggu lama" lanjut Zaidan menarik tangan Kirana untuk segera turun ke bawah.


Sesampainya di ruang tamu, Adrian sedang membaca beberapa berkas sambil memijat kepalanya. Ia heran pada Kirana yang dengan mudah memecahkan suatu masalah perusahaan, padahal Kirana santai dalam pengerjaan berkas.


"Sudah ayo" ucap Kirana kembali pada wajah datarnya.


Kirana yang mendapat lirikan maut dari Zaidan langsung mengubahnya menjadi tersenyum tipis. Ia tidak ingin jika suaminya kembali merajuk.


Adrian bangkit dari tempat duduknya. "Udah selesai pacarannya? Besok gua imbangi kalau gak hujan!" celetuk Adrian asal disertai gelak tawa.


"Menikah itu bukan ajang perlombaan! Pernikahan itu ibadah terpanjang selama hidup kita, jadi harus benar-benar siap" ucap Zaidan menanggapi candaan Adrian.


"Kakak ipar, jangan terlalu dekat kak Kirana ya. Nanti ketularan dingin plus seriusnya. Karena setau gua, lo dulu gak seserius ini" ucap Adrian mendapat tatapan tajam dari Kirana.


"Mas, aku pergi dulu ya. Kamu jangan nakal di rumah, jangan kerjain pekerjaan rumah. Kalau mau belajar, inget waktu dan jangan lupa makan terus minum obat" ucap Kirana lembut sambil mengusap kepala Zaidan.


'Emang aku pernah nakal?' tanya Zaidan pada dirinya sendiri.


"Iya, aku ini dokter loh" ucap Zaidan tertawa kecil. Kirana langsung mencium punggung tangan Zaidan seperti biasanya.


“Assalamualaikum” pamit Kirana dan Adrian secara bersamaan.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Zaidan melihat mobil Kirana yang sudah melesat keluar dari pagar. Setelah Kirana pergi, ia menutup pintu dan pergi ke dapur.


Di dapur, Zaidan sama sekali tidak diizinkan untuk memasak sama Bi Inem.


"Aduh, jangan masak tuan. Nanti bibi dimarahin nona" cegah Bi Inem yang melihat Zaidan ingin memasak.


"Gak apa-apa kok bi lagian Zaidan bosen kalau gak ngelakuin apapun" ucap Zaidan bersikeras ingin memasak.


"Tuan bisa belajar untuk persiapan sekolah spesialis atau menonton tv. Tapi, jangan memasak"


Bi Inem sama sekali tidak mengizinkan Zaidan untuk memasak ataupun melakukan pekerjaan rumah yang lain. Jika Kirana tau suaminya bekerja, bisa terkena surat peringatan seluruh staff yang bekerja di Mansion mewah tersebut.


Zaidan menghela napas kasar. Ia mengalah kali ini atau Kirana akan mengamuk pada staf di rumah mereka.


Zaidan berjalan dengan malas menuju ruang keluarga dan menyalakan tv berukuran besar. Ia mencari siaran yang seru, namun tidak menemukannya. Ia memilih untuk rebahan di sofa dan bermain ponsel. Saat Zaidan menyalakan wifi, notifikasi dari aplikasi chatnya masuk dengan bejibun.


"Astaghfirullah, baru juga gak aktif seminggu. Gimana kalau setahun?" tanya Zaidan bermonolog.


Ia mengecek seluruh pesan yang masuk dan pesan terbanyak di pegang oleh grup Webers Hospital. Ia membuka grup tersebut untuk sekedar membaca ada informasi penting apa sampai pesan grup tersebut sangat ramai.


Rumah Sakit Weber


Kak Arka (Rs): @/you cepet sembuh dokter kecil kami


Amel (Rs): @/you Makanya nurut sama orang tua!


Sumber Uang: @/Amel (Rs) Lo juga udah gua bilang jagain adek gua baik-baik eh malah sakit dia


Dan masih banyak lagi perdebatan yang menurutnya sama sekali tidak penting. Zaidan menutup aplikasi pesannya dan ia lebih memilih untuk muroja'ah untuk mengisi kebosanannya.


Zaidan terlalu larut dalam mengulang hafalannya sampai ia tidak tau bahwa sudah waktunya sholat dzuhur. Zaidan menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju kamarnya untuk melaksanakan kewajibannya.


Sebelum itu, ia melihat ada notifikasi dari kak Bisma salah satu senior yang akrab dengannya. Namun, Zaidan hanya melirik sekilas dan berniat untuk membacanya nanti setelah selesai sholat dzuhur.


Dengan sedikit berlari, Zaidan menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga. Dimana kamar mereka berada. Sebelum masuk ke dalam kamar, Zaidan mengamati sekitarnya. Mansion mewah tersebut benar-benar smart home dimana semua pintu dan jendela otomatis. Tapi, kata Kirana walaupun rumah mereka dirancang serba otomatis, tetap saja ada pintu emergency yang bisa dibuka secara manual jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Zaidan masuk ke dalam kamarnya. Ia bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya. Selang beberapa menit, Zaidan sudah selesai dengan kewajibannya dan memberikan semua perlengkapan sholat. Lalu, ia pun membuka pesan dari Bisma yang hanya ia lirik tadi.


Kak Bisma (obgyn): kirim gambar


Kak Bisma (obgyn): Coba lo tebak siapa itu


Zaidan mengerutkan dahinya. Di foto tersebut memperlihatkan pria dan wanita seperti sepasang kekasih.


Jantungnya berdetak kencang.'Bukan Kirana kan?' batin Zaidan menggigit bibir bawahnya.


Zaidan: Siapa ini?

__ADS_1


Sayangnya Bisma sedang tidak aktif dan Zaidan semakin overthingking dengan foto yang terlihat buram tersebut.


Zaidan yang tidak sabar menunggu balasan pesan dari Bisma, langsung menelpon Kirana dan bertanya dimana istrinya berada. Ia sangat tidak ingin jika harus ditinggal sendiri oleh Kirana.


Di kantor, Kirana yang sedang rapat mendapat telpon dari suaminya dan menghentikan rapatnya sejenak.


"Permisi, saya ada telpon" ucap Kirana beranjak dari tempat duduknya dan membuat anggota rapat ikutan berdiri kala pemimpin serta pemilik perusahaan Fernando Group beranjak.


Kirana langsung menekan tombol hijau dan menerima panggilan dari suaminya.


"Assalamualaikum" ucap Zaidan cepat, membuat Kirana mengerutkan dahinya.


"Waalaikumussalam mas, ada apa ?" tanya Kirana khawatir. Ia takut jika suaminya kembali sakit, karena Zaidan belum benar-benar pulih.


"Kamu dimana?"


"Di kantor mas, kenapa?" tanya Kirana lagi.


"Sebelum ke kantor ada kemana lagi?" tanya Zaidan semakin mengintimidasi istrinya.


'Kenapa nih anak?' gumam Kirana heran. Karena tidak biasanya Zaidan bertanya sedetail ini mengenai jadwalnya.


"Gak ada kemana-mana mas. Dari rumah, aku langsung ke kantor dan langsung rapat. Ini aja belum selesai, baru dimulai lagi setelah ishoma tadi" jelas Kirana dengan penuh pengertian.


"Beneran?" Zaidan masih bertanya untuk memastikan bahwa foto tersebut bukanlah Kirana istrinya.


"Iya mas, mau aku kirimkan rekam jejak lokasi aku hari ini?" tanya Kirana menggoda suaminya. Kirana baru paham ternyata suaminya bisa cemburu juga.


"Gak perlu, aku percaya kok. Maaf ya aku udah ganggu pekerjaan kamu" ucap Zaidan merasa bersalah karena telah gegabah untuk langsung menelpon Kirana. Tidak biasanya ia bertindak segegabah itu.


"Gak apa-apa. Kamu udah makan? Udah minum obat?" tanya Kirana melirik sekilas ke arah jam tangannya. Sudah waktunya Zaidan meminum obat.


"Belum, bentar lagi" jawab Zaidan menghela napas kasar dan terdengar di telinga Kirana.


"Minum obat dong mas, biar cepet sembuh" ujar Kirana memelas.


"Iya nanti!"


"Sekarang!" perintah Kirana.


"Atau aku pulang? Terus suapin kamu?" lanjut Kirana yang selalu memberikan dua pilihan pada Zaidan.


"Iya ini mau minum obat" ucap Zaidan tersenyum getir. Walaupun tidak dilihat oleh Kirana.


"Awas aja nanti kalau aku pulang, obatnya masih utuh!" ancam Kirana.


"Iya! Bawel banget sih jadi istri!" celoteh Zaidan kesal.


Kirana yang mendengar nada kesal suaminya, sudah bisa menebak betapa gemasnya wajah Zaidan saat ini.


"Harus bawel! Karena suami aku ngeyel kalau di bilangin!" lanjut Kirana tegas.


"Iih! Padahal dulu kamu dingin banget! Terus kenapa jadi bucin sih!" ledek Zaidan.


"Ooh jadi mau aku dingin lagi kayak dulu?" tanya Kirana sengaja menanggapi apa yang dikatakan suaminya. Setidaknya dengan menggoda Zaidan sejenak, bisa meringankan beban pekerjaannya.


"Ya gak gitu juga!" celetuk Zaidan semakin kesal pada Kirana.


"Ada yang mau ditanya lagi mas? Aku mau lanjut rapat terus cepat pulang biar ketemu kamu" goda Kirana dengan deep voice nya.


'Sejak kapan Kirana punya deep voice? Kok aku gak tau sih!' Zaidan mengumpat dirinya. Bisa-bisanya ia tidak tau kalau Kirana memiliki suara yang deep voice padahal selama ini, ia sering mendengar lantunan sholawat dari Kirana.


"Halo mas? Masih disana kan?" tanya Kirana was-was.


"Eh, iya. Udah gak ada lagi kok" ucap Zaidan cepat.


"Yaudah aku tutup telponnya ya, assalamualaikum ya Zaujat" ucap Kirana dengan lembut membuat Zaidan semakin melayang.


"Waalaikumussalam" jawab Zaidan tersenyum bahagia.


"Eh tunggu dulu mas, nanti malam mau makan apa by? Biar aku beliin sepulang kantor" tanya Kirana yang sangat ingin memanjakan suaminya yang sering merajuk padanya.


"Terserah kamu aja" jawab Zaidan singkat. Kirana pun langsung mematikan sambungan telpon mereka.


Setelah selesai menelpon suaminya, Kirana masuk kembali ke meeting room dengan senyum bahagia dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut merasa heran. Mereka semua belum pernah melihat gadis muda dengan segudang prestasi itu tersenyum bahagia. Jangankan tersenyum, Kirana hanya sering menampilkan wajah datar.


"Silahkan dilanjut" perintah Kirana dan langsung dilanjutkan oleh kliennya. Pada rapat kali ini, perusahaan Kirana berkontribusi sebagai investor untuk pembangunan hotel dan resort di Surabaya. Jadi, para kliennya harus benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik. Jika terdapat kesalahan sedikit saja, mereka pasti akan langsung ditolak oleh Kirana.


...----------------...


Zaidan dengan susah payah menelan obatnya. Walaupun seorang dokter, dirinya paling anti jika harus disuntik dan meminum obat.


Beruntung ketika praktikum dulu, dirinya selalu menjadi asisten dokter. Jadi, ia bebas dari praktek suntik menyuntik sesama teman.


Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini dirinya tidak di izinkan untuk memasak ataupun melakukan pekerjaan rumah dan ia juga sedang malas untuk belajar.


"Ayolah jiwa ambis ku hilang kemana?" tanya Zaidan memelas. Darictadi ia mencoba untuk membuka buku dan mempelajarinya. Namun sayang, otaknya tidak merespon apa yang ia baca.


Zaidan lebih tertarik pada notifikasi dari Bisma.


Kak Bisma (obgyn): Tebak dulu dek


Zaidan: lih! siapa sih kak?


Kak Bisma (obgyn): Hayo siapa?


Zaidan kembali memperbesar foto tersebut. Ia sangat penasaran dengan orang yang ada di foto tersebut.


Zaidan: Gak kenal kak, emang siapa sih?


Kak Bisma (obgyn): Gua juga gak tau dek, tadi nemu di beranda media sosial gue. Fotonya aesthetic yaudah gue kirim ke lo, siapa tau butuh referensi buat photoshoot.


Zaidan: <_>


Kak Bisma (obgyn): Napa lo?


Zaidan: Maaf ini siapa ya? Emang kita kenal?


Zaidan sangat kesal karena ternyata dirinya dikerjain oleh kakak seniornya satu itu.


Bisma: Kenal dong, lo kan adek gue yang paling tampan seantero Jakarta


Zaidan memilih untuk mengabaikan pesan dari Bisma. Ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri.


"Zaidan pabo! Bisa-bisanya suudzon ke Kirana!" Zaidan terus mengumpati dirinya.


"Bisma juga bikin kesel! Kalau emang referensi buat photoshoot ngapain pakai acara tebak-tebakan! Aaargh kesel!" celoteh Zaidan sambil memukul guling yang berada di dekatnya.


“Pasti Kirana mikir macem-macem! Zaidan kenapa ceroboh banget? Kenapa gegabah juga !" lanjutnya terus memukul guling yang tidak berdosa itu.


Sementara di rumah sakit, Bisma sedang tertawa puas. Ia sangat yakin bahwa dokter muda yang sangat menggemaskan itu sedang kesal padanya. Terbukti dari pesan yang ia kirimkan dan hanya dibaca saja oleh Zaidan.


"Pasti wajah lo sedang merah, haha" ucap Bisma tertawa. Ia memang sengaja membuat Zaidan kesal karena baginya Zaidan sebagai hiburan di kala pekerjaan mereka sebagai seorang dokter yang sangat padat dan melelahkan.


Semua staff di Weber's Hospital memang suka menjahili Zaidan. Dokter muda dengan segudang prestasi dan juga jiwa sukarelawan yang tinggi, dokter yang baru saja bergabung dengan mereka kurang dari setahun. Pribadinya sangat periang dan juga wajahnya yang sangat menggemaskan ketika sedang kesal membuat semua orang sangat menyayangi dan suka menjahili Zaidan.


Bagi para dokter senior dan juga para staff. Menjahili Zaidan adalah hiburan tersendiri bagi mereka. Walaupun ada beberapa yang kena teguran dari Calvin karena sering sekali menjahili adik satu-satunya itu. Tak jarang ada dokter residen ataupun dokter yang sudah bekerja tetap di rumah sakit itu menyukai Zaidan. Bagaimana tidak, pria berusia 28 tahun itu selalu tulus jika dimintai bantuan ataupun melakukan sesuatu.


Bahkan Amel dan putri pernah bertengkar karena memperebutkan Zaidan dan sayangnya mereka dikalahkan oleh Kirana yang sekarang telah menjadi istri Zaidan.


"Dekatnya sama siapa nikahnya sama siapa" gumam Bisma mengingat kejadian lucu beberapa bulan lalu, sebelum pernikahan Zaidan.

__ADS_1


__ADS_2