
Kirana membuka tirai dan membiarkan udara segar menguasai sirkulasi udara di dalam ruang inap Zaidan. Setelah membuka tirai, Kirana berjalan mendekati Zaidan yang masih belum membuka matanya sejak tiga hari lalu.
Setelah bertengkar dengan Elsa tiga hari lalu, Elsa tidak berani mengganggu Kirana lagi. Kirana juga tidak mendapatkan kabar apapun dari Elsa. Walaupun begitu, ia tetap waspada karena ia tau bahwa ini bisa saja sebagai akal bulus Elsa untuk menjebak Kirana.
Kirana mendekati brankar Zaidan dengan langkah berat. Ia mengusap kepala Zaidan sembari bersholawat. Sesekali ia juga menepuk pelan pipi Zaidan agar suaminya cepat pulih dan sadarkan diri.
"Mas, bangun yuk. Jangan tidur mulu, aku kangen" ucap Kirana memeluk tubuh Zaidan dengan erat. Tak terasa air mata Kirana menetes begitu saja membasahi pipi Zaidan.
Calvin masuk untuk mengecek keadaan adik kesayangannya yang membuat semua orang khawatir. Tak lama kemudian Daniel dan istrinya juga masuk ke dalam ruang inap Zaidan. Pandangan mereka menatap ke arah Kirana yang sedang memeluk tubuh Zaidan dengan erat sambil menangis.
Daniel menghampiri Kirana dengan menepuk pundaknya, sontak Kirana langsung menyerka air matanya. Ia tidak ingin ada orang yang tau jika dirinya sedang menangis.
"Assalamualaikum" sapa Daniel jepit pundak Kirana.
"Waalaikumussalam papa" jawab Kirana mencium punggung tangan mertuanya.
Daniel mengajak Kirana untuk duduk di sofa dan membiarkan Calvin untuk memeriksa keadaan Zaidan.
"Kamu udah makan nak?" tanya Daniel pada Kirana.
Kirana menggelengkan kepalanya. Ia memang belum makan sejak kemarin sore.
"Makan Kirana, kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga Zaidan?" tanya Daniel pada Kirana. Ia tahu bagaimana perasaan Kirana saat ini.
"Iya pa, Kirana belum lapar" ucap Kirana memaksa untuk tersenyum.
Calvin menemui orang tuanya dan juga Kirana. Ia ingin bilang kalau keadaan Zaidan saat ini sudah mulai membaik.
"Alhamdulillah keadaan dek Zaidan udah mulai membaik pa, ma" ucap Calvin duduk di sofa. Ia memijat tengkuknya karena terasa sangat lelah. Bagaimana tidak, Calvin melakukan 3 operasi tadi malam.
"Alhamdulillah" ucap Kirana menghela napas lega. Setidaknya kondisi Zaidan sudah mulai stabil.
Daniel dan Naura mendekati putra bungsunya itu. Mereka sangat sedih melihat kondisi Zaidan yang terbaring lemah.
"Zaidan sayang, bangun yuk nak. Kita semua kangen sama sikap kamu yang periang" ucap Naura mengelus pelan pipi Zaidan.
__ADS_1
"Iya bangun yuk sayang, nanti papa bakal turuti semua permintaan kamu" ucap Daniel sendu. Orang tua mana yang tak sedih jika melihat anaknya sakit.
Orang tua Zaidan mengelus pelipisnya dengan penuh kasih sayang. Mereka berharap semoga putranya cepat pulih.
Daniel dan juga Naura sangat ingin menemani putra bungsunya itu. Namun, Naura harus kembali bertugas karena saat ini di ugd dirinya lah yang berjaga. Sedangkan, Daniel ia harus menghadiri rapat penting untuk mewakili perusahaannya dan juga perusahaan Zaidan.
"Mama sama Papa pamit dulu ya, Mama ada di ugd kalau terjadi sesuatu dan jangan lupa untuk makan Kirana, setelah Zaidan pulih nanti kamu pula yang sakit" ucap Naura menepuk pundak Kirana dengan lembut.
Kirana mengangguk. "Iya ma, nanti Kirana makan kok" ucap Kirana mencium punggung tangan mertuanya.
Daniel dan Naura sudah pergi setelah mengucapkan salam dan tinggal Calvin serta Kirana yang berada di ruang inap Zaidan.
Ponsel Calvin berdering dan ternyata panghilan darurat. Dengan segera, ia mengangkatnya.
"Halo, baiklah saya segera kesana" ucap Calvin setelah mendengar informasi dari suster yang menjadi asistennya.
"Kirana, mas pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas" ucap Calvin yang tiada henti untuk mengingatkan Kirana.
Kirana mengangguk pelan. "Iya mas" ucap Kirana tersenyum tipis.
Calvin keluar meninggalkan ruang inap Zaidan. Karena ia harus kembali bertugas dan ia harus bersikap profesional.
Tangan Zaidan mulai bergerak dan matanya perlahan-lahan terbuka. Ia melihat Kirana yang tidur dengan wajah kelelahan. Ia merasa bersalah karena telah membuat Kirana kelelahan.
Tangan Zaidan bergerak mengusap kepala Kirana dengan lembut.
Kirana merasa ada yang bergerak di rambutnya, dia membuka matanya dan terkejut melihat Zaidan sudah sadar. Ia langsung memeluk Zaidan dengan erat.
"Alhamdulillah kamu udah sadar, by" ucap Kirana memeluk tubuh Zaidan dengan erat.
Air mata Kirana menetes begitu saja, ia terharu sekaligus bersyukur karena suaminya sudah sadar dan berhasil melewati masa kritis. Padahal dua malam terakhir ini, trombosit Zaidan semakin menurun.
Zaidan mengusap kepala Kirana dengan lembut. "By, maafin mas ya karena udah bikin kamu khawatir" ucap Zaidan menangis.
Kirana melepaskan pelukannya dan menyerka air mata Zaidan. Karena kata Calvin, Zaidan tidak boleh terlalu banyak bicara jika ia sadar.
__ADS_1
"No, kenapa kamu minta maaf by? Kamu gak salah, kan kamu sakit" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan.
Ia sangat-sangat bersyukur karena Zaidan sudah melewati masa kritisnya. Mereka saling berpelukan dengan erat. Tatapan Kirana mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar merindukan Zaidan.
"By lepasin, nafasku agak sesak" ucap Zaidan mendorong pelan tubuh Kirana.
Kirana langsung melepaskan pelukannya. "Maaf by" ucap Kirana tersenyum.
"By" panggil Zaidan lirih.
"Kenapa mas?" tanya Kirana dengan wajah khawatir.
"By, bisa tolong atur posisi brankarku jadi setengah duduk?" tanya Zaidan dan langsung dilaksanakan oleh Kirana.
Kirana meraih tangan Zaidan dengan lembut dan mengecupnya. "Aku kangen banget sama kamu mas, jangan sakit lagi ya" ucap Kirana sendu.
"Aku juga kangen banget sama kamu" ucap Zaidan tersenyum.
Zaidan menatap ke arah Kirana yang sedang tersenyum sambil memandangi wajah Zaidan.
"Kirana mau denger cerita aku gak?" tanya Zaidan antusias ingin menceritakan sesuatu pada Kirana. Padahal dirinya baru saja sadarkan diri.
"Kamu tau gak, waktu aku gak sadarkan diri. Aku ngelihat ada suara samar-samar gitu terus juga ada cahaya putih dan aku hampir masuk ke dalam cahaya itu. Tapi, tiba-tiba aku denger suara kamu yang serak dan buat aku balik arah" ucap Zaidan.
Kirana hanya tersenyum melihat Zaidan yang sudah mulai pulih. Ia mendengar celotehan Zaidan tanpa menjawabnya, saat ini ia hanya ingin mendengar suara suami tampannya itu.
"Ih by! Kenapa senyum-senyum sendiri sambil lihat aku!" ucap Zaidan kesal.
"Aku cuman mau denger suara kamu by, aku kangen celotehan kamu" ucap Kirana tersenyum. Kirana terus memandangi wajah Zaidan yang sedang kesal.
"Jadi, kamu cuman kangen sama omelan aku?" ucap Zaidan cemberut membuat Kirana ingin sekali mengigit bibirnya.
"Jangan cemberut gitu by, sekarang kamu jangan banyak bicara dulu. Aku mau panggil mas Calvin untuk meriksa keadaan kamu" ucap Kirana lalu menekan tombol yang berada di atas brankar Zaidan.
Calvin datang dengan berlari. Ia takut terjadi sesuatu dengan Zaidan. Namun saat ia sampai di depan ruang inap Zaidan, dirinya dikagetkan dengan Zaidan yang sudah sadarkan diri dan tengah bercengkrama dengan istrinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kamu udah sadar dek, mas kangen sama kamu" ucap Calvin mendekat ke arah Zaidan dan memeluknya.
Setelah puas memeluk adik kesayangannya, Calvin memeriksa keadaan Zaidan dan dengan perlahan trombosit Zaidan mulai stabil.