Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Mulai Goyah


__ADS_3

Setelah amarahnya mereda, Kirana merasa tidak enak hati karena telah membentak Zaidan, mau bagaimana lagi hanya pria itu yang bisa menjadi tempat pelampiasan bagi dirinya untuk marah.


"Astaghfirullah Kirana" bibir Kirana terus beristighfar saat amarahnya mulai mereda.


Kirana duduk di ruang keluarga dengan memijat kepalanya pelan, disatu sisi ia merasa sangat bersalah karena telah membentak Zaidan, padahal Kirana tau bahwa Zaidan tidak pernah di bentak oleh keluarganya, namun disisi lain Kirana merasa puas karena telah melampiaskan semua amarahnya pada Zaidan.


Bunda Carissa datang menghampiri putri sulungnya itu, ia mendengar suara pintu yang dibanting dengan keras, namun ia memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah rumah tangga anaknya, tapi kali ini ia harus menasihati Kirana karena yang dilakukan Kirana itu salah.


“Nak” panggil Carissa pada Kirana yang tengah duduk sambil memijat kepalanya.


"Iya bunda ada apa?" tanya Kirana seperti tidak merasa bersalah.


"Kamu habis marah-marah sama Zaidan? Jangan terlalu kasar padanya, Zaidan itu suami mu nak, coba kamu pikir jika ayah atau Adrian yang ada di posisi Zaidan dan bunda mu atau Istri adikmu yang memarahi ayah mu dan Adrian, kamu pasti kesal kan? Lagian Zaidan tidak salah, Zaidan malah melakukan pekerjaan mulia dan kamu beruntung Zaidan tidak memberi tahu keluarganya, jika ia mengadu mau di taruh dimana wajah bunda dan ayah nak?" jelas Carissa nya pada Kirana sambil mengusap pelan kepala putri sulungnya itu.


"Bunda tau kan, Kirana menentang perjodohan ini tapi ayah tetap memaksa Kirana untuk menikah, Kirana gak akan mungkin bisa mencintai Zaidan, Kirana juga sakit saat melihat pria tidak bersalah itu menangis, tapi mau gimana lagi, Kirana belum mau menikah bunda, Kirana masih mau balapan" ucap Kirana lirih, namun ia mencoba untuk mengendalikan perasaannya.


"Kirana! Sudah berapa kali bunda bilang berhenti balapan itu, kamu ini anak seorang perempuan Kirana, Zaidan suami mu dan bunda ingin kamu menghormati suamimu. Coba terimalah Zaidan dengan sepenuh hati Kirana! Pria tidak bersalah itu pasti saat ini sedang menangis karena kamu bentak!" ucap Carissa dengan disertai gertakan membuat Kirana terhenyak karena sang bunda hampir tidak pernah memarahi Kirana.


"Bunda marah sama Kirana? Kalau iya Kirana minta maaf bun, Kirana gak bermaksud seperti itu" sambung Kirana mengelus punggung tangan bundanya.


"Minta maaf ke Zaidan, setelah Zaidan memaafkanmu maka bunda juga memaafkanmu, tapi jika Zaidan tidak memaafkanmu jangan harap bunda akan memaafkanmu!" Carissa sangat marah padanya, karena Kirana sudah berani membentak seorang pria yang tak lain adalah suami nya yang baru saja ia menikah tiga hari yang lalu.


"Tapi bunda" Kirana merasa gengsi karena di suruh minta maaf pada pria yang sudah ia bentak pada hal pria itu melakukan pekerjaan mulia, yaitu menyelamatkan nyawa orang tapi Kirana malah membentaknya.


"Tidak ada tapi-tapian Kirana! Minta maaf sekarang ke Zaidan!" perintah sang bunda membuat Kirana harus menurutinya.


Kirana berjalan menaiki satu per satu anak tangga menuju ke kamarnya, dimana Zaidan berada. Dengan perlahan Kirana membuka pintu, mencari keberadaan suaminya yang ternyata sedang menangis di pojokan. Kirana berjalan ke arahnya, menyentuh pundak Zaidan dengan lembut.


"Maaf" ucap Kirana ragu. Zaidan melirik sekilas Kirana, namun ia tetap menunduk dan tidak berani menatap wajah Kirana.

__ADS_1


"Maafkan saya, saya hanya tidak suka jika ada orang yang membantah perintah saya, setelah berbicara pada bunda, saya mengetahui bahwa saya salah dan kamu melakukan hal yang benar dengan datang ke rumah sakit, untuk itu saya minta maaf" sambung Kirana menunggu jawaban dari Zaidan, tapi pria itu tidak menjawabnya dan malah terisak.


Kirana semakin merasa bersalah saat Zaidan menangis "Jangan menangis, saya tidak bisa melihat seorang pria menangis" ucap Kirana dan perlahan tangannya bergerak mengelus kepala Zaidan.


"Menyingkir lah! Aku gak butuh belas kasih dari mu Kirana! Aku gak apa-apa kok" ucap Zaidan menepis tangan Kirana dan ia pun berlari menuju kamar mandi.


Kirana terhenyak, ia terus meminta maaf pada Zaidan.


"Zaidan, tolong maafkan saya, jika kamu tidak memaafkan saya maka bunda juga akan marah sama saya" Kirana terus membujuk Zaidan dengan membebankan pintu kamar mandi yang tidak terkunci dari dalam oleh Zaidan.


"Aku udah memaafkan mu Kirana, sekarang pergi lah! aku butuh waktu buat sendiri dan nanti aku izin mau ke rumah papa" jawab Zaidan masih dengan suara serak akibat menangis.


"Biar saya antar" sambung Kirana. Zaidan tidak bisa menolak perintah dari istrinya padahal niat Zaidan ingin mengambil mobil miliknya agar jika terjadi keadaan darurat ia tidak perlu memakai mobil kesayangan Kirana.


Setelah hati Zaidan tenang, ia pun keluar dari kamar mandi. Zaidan menyerka sisa air matanya agar tidak kembali jatuh dari pelupuk matanya.


Kirana masih tetap menunggu sampai Zaidan keluar dari kamar mandi, dia mendatangi Zaidan dan menyuruhnya untuk duduk di pinggir tepian. Mata Zaidan yang sembab sempat membuat Kirana ingin mempertimbangkan apa yang dikatakan bundanya tadi.


Kirana meraih pergelangan tangan Zaidan dengan lembut, berbeda saat Zaidan baru pulang dari rumah sakit tadi. Kirana meringis saat melihat goresan di pergelangan tangan Zaidan.


"Sakit?" tanya Kirana datar, namun Zaidan tau bahwa wanita itu sedang mengkhawatirkan dirinya, walaupun ia disuruh sama bunda tetap saja Zaidan tersipu saat mendapatkan perhatian kecil dari Kirana.


"Sedikit Kirana" jawab Zaidan ragu.


"Maaf, karena saya kamu harus terluka tunggu disini saya akan mengambil kotak p3k" perintah Kirana, dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


Tak lama kemudian Kirana datang dengan membawa kotak p3k, perlahan Kirana menenangkan obat luka ke pergelangan tangan Zaidan sambil meniupnya, Kirana berharap rasa sakitnya akan berkurang jika di tiup.


Kirana bingung bagaimana pria itu bisa terluka, atau karena arloji yang digunakannya? Karena Kirana menarik tangan Zaidan tepat di pergelangan tangan yang dipakaikan arloji.

__ADS_1


Pria itu hanya terdiam dan membiarkan Kirana merawat luka yang disebabkan olehnya.


"Udah selesai" ucap Kirana membereskan kotak p3k, namun aktivitasnya terhenti saat melihat jari Zaidan yang di plester.


"Jari mu kenapa?" Kirana mendekatkan jari Zaidan agar ia bisa melihat dengan jelas kalau jari Kirana tidak apa-apa.


"Gak apa-apa kok Kirana, biasalah ke iris waktu motong cabai" jawab Zaidan tersenyum.


"Gak apa-apa gimana!? Luka nya dalam, sebelum kamu mengobati seseorang setidaknya perhatikan diri mu sendiri!" omel Kirana membuat Zaidan tersenyum, inilah interaksi yang ingin Zaidan dapatkan.


"Kenapa senyum-senyum sendiri ?" Kirana melirik ke arah Zaidan yang tersipu saat di perhatikan oleh Kirana.


Zaidan mendekat ke arah Kirana dan memeluk Kirana entah dorongan dari mana yang membuat Zaidan berani memeluk Kirana


"Gak apa-apa kok Kirana, cuman luka kecil, nanti juga sembuh" jawab Zaidan meyakinkan Kirana bahwa dirinya baik-baik aja.


"Boleh aku seperti ini sebentar, Kirana? Aku anggap ini sebagai hukuman dari ku untuk mu Kirana" ucap Zaidan semakin memeluk Kirana dalam dekapannya. Tubuh Kirana tegang saat Zaidan tiba-tiba memeluknya, ada perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya seperti ingin keluar namun Kirana berusaha menahan perasaan itu.


Kirana hanya diam seperti patung saat Zaidan memeluknya, ia tidak memberontak karena sudah terlanjur merasa bersalah pada pria yang ia bentak tadi. Cukup lama Zaidan memeluk Kirana, Zaidan merasakan detak jantung Kirana yang berdegup kencang.


"Kirana kenapa gak bisa menerima ku? Apa salah ku?" tanya Zaidan dengan lembut, sebenarnya Zaidan juga tidak ingin secepat ini menikah tapi karena sudah terlanjur mau bagaimana lagi.


Kirana terdiam. Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Zaidan, karena hatinya mulai goyah untuk menerima Zaidan sebagai suaminya.


"Aku ingin jawaban Kirana! Jangan hanya diam seperti patung, aku juga butuh kejelasan hubungan ini, kamu tau kan disaat dua insan menjalin hubungan halal maka pernikahan mereka dihadiri langsung oleh malaikat, apalagi kita menjalin hubungan ini tanpa pacaran, aku mohon kasih aku titik terang Kirana, agar kelak aku bisa menahan perasaan yang muncul begitu saja tanpa di undang" sambung Zaidan melepaskan pelukannya


"Maaf, saya hanya bisa bilang setelah setahun maka saya akan membebaskan mu seperti di surat perjanjian yang kamu tanda tangani di awal pernikahan kita!" ucap Kirana dingin dan sedikit menjauh dari Zaidan.


"Kenapa kamu selalu bicara seperti itu Kirana? Kamu tetap keukeuh pada pendirian mu Kirana? Oke kita lihat siapa yang akan menang dalam pertempuran ini! Pendirian mu atau perhatian ku" sambung Zaidan memejamkan matanya sejenak, Zaidan beranjak menuju sofa dan mengecek ponselnya.

__ADS_1


Kirana merasa bimbang, hatinya mulai goyah, di satu sisi ada Zaidan sebagai suami sah yang menikahinya, tapi di sisi lain dia belum mau berhenti dari dunia balapannya


__ADS_2