Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Sakit


__ADS_3

Usai sholat maghrib, Kirana duduk di sebelah Zaidan sambil memeluknya dengan erat. Ia juga bertadarus dengan mengelus lembut pelipis Zaidan.


Lantunan ayat suci al-quran yang keluar dari mulut Kirana sangat merdu, membuat Zaidan merasa tenang dan tentram. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kirana.


"Shadaqallahul-adzim" ucap Kirana mengakhiri lantunan ayat suci al-quran.


Kirana mengecup puncak kepala Zaidan dengan penuh kasih sayang. Ia tidak ingin berpisah satu detik pun dari sang suami.


"By, makan dulu ya" bujuk Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.


Zaidan menggelengkan kepalanya. Ia merasa mual jika harus makan nasi lagi.


"Biar cepet sembuh, kalau gak makan gimana mau sembuh?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


Kirana mengambil piring yang telah tersedia diatas nakas. Ia mulai menyendok nasi beserta ayam goreng dan juga sayur bayam kemudian ia menyuapi Zaidan.


Zaidan makan dengan perlahan. "Uhuk...uhuk..."


Mendengar suara batuk Zaidan, Kirana langsung meminum segelas air minum dan membantu Zaidan untuk minum.


"Pelan-pelan by" ucap Kirana. Ia kembali menyuapi Zaidan dengan lihai dan sampai di suapan ketiga Zaidan sudah merengek untuk tidak dipaksa makan.


"Udah" ucap Zaidan lirih.


"Yaudah yang penting kamu udah makan. Ini minum dulu by" ucap Kirana mengambil segelas air minum untuk Zaidan.


Kirana letakkan piring di atas nakas. Ia memijat kepala Zaidan dengan lembut.


"Kenapa kamu gak jaga kesehatanmu by? Aku kan udah bilang, aku gak mau kamu sakit" ucap Kirana di sela-sela memijat kepala Zaidan.


Zaidan menunduk. Karena kesibukan di pagi hari membuat Zaidan lupa untuk sarapan.


"Aku lupa sarapan, tapi di LA aku sering gak sarapan dan baik-baik aja kok. Mungkin culture shock aja" jelas Zaidan meyakinkan Kirana bahwa dirinya baik-baik aja.


"Lain kali jangan telat makan ya by, aku gak mau kamu sakit seperti ini" ucap Kirana tersenyum hangat.


Kirana mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh Zaidan. Ia meletakkan termometer tersebut di mulut Zaidan. Kirana menunggu beberapa saat untuk mendapatkan hasil yang akurat.


Kirana mengambil termometer dari mulut Zaidan dan melihat hasilnya.


"Kok makin tinggi suhu tubuhnya?" gumam Kirana setelah melihat hasil suhu tubuh Zaidan.


"Minum obat ya by" ucap Kirana membujuk bidadarinya untuk minum obat penurun panas.


"Gak mau, pahit" tolak Zaidan cemberut.


Zaidan menarik selimut tebalnya untuk menutupi seluruh tubuhnya agar tidak dipaksa Kirana untuk minum obat.


Kirana menghela napas kasar. Ia kembali mengambil piring bekas Zaidan dan memakannya. Zaidan mengintip dari balik selimut, lalu membuka selimutnya.


"By kenapa makan bekas aku? Kan disitu ada nasi lain" tanya Zaidan heran. Suaranya masih serak.


"Mubazir kalau dibuang by" ucap Kirana tersenyum ke arah Zaidan.


"Tapi kan, itu bekas aku" ucap Zaidan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kalau bekas kamu by? Justru enak lo" sambung Kirana santai.


"Ih kamu gak jijik?" tanya Zaidan memastikan bahwa Kirana tidak merasa jijik. Ia mengenal Kirana sebagai gadis pembersih dan ia heran ketika Kirana makan dan minum di bekas dirinya.


Kirana tersenyum lalu meletakkan piring di atas nakas. Ia menghampiri Zaidan yang sedang duduk di tepi pantai.


“By, seorang Rasulullah pernah minum dan makan dengan piring serta gelas yang sama dari Sayyidah Aisyah?” tanya Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.


“Bahkan Rasulullah pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah RA” sambung Kirana tersenyum lembut.


"Ada hadist nya?" tanya Zaidan. Ia memang hafidz tapi ia tidak terlalu mempelajari tentang hadist hanya beberapa saja yang ia tau.


"Ada by" ucap Kirana.


"Mau denger?" lanjut Kirana dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


“Rasulullah saw pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah. (HR Muslim: 300). Nah, mulai sekarang jangan tanya apakah aku jijik makan bekas kamu, aku sama sekali gak jijik. Justru aku senang makan dan minum dari bekas bibir ini" ucap Kirana menyentuh bibir Zaidan.


Zaidan tersipu malu mendengar ucapan Kirana.


“By” panggil Zaidan membuat Kirana menoleh ke arahnya.


"Kenapa by? Ada yang sakit?" tanya Kirana khawatir.


"Bukan itu. Kamu kapan ke pondok? Aku mau jadi santri boleh?" tanya Zaidan menatap wajah Kirana.


Kirana menggelengkan kepalanya. Disaat sakit seperti ini saja, Zaidan masih ambis bagaimana jika sehat.


"Kamu jadi santri pribadi aku aja, gak boleh belajar di kelas" ucap Kirana mengelus kepala Zaidan.


"Lagian kamu harus ppds kan by? Nanti kalau kamu udah libur, kita ke pondok. Tapi, kamu gak boleh belajar di kelas" lanjut Kirana membuat Zaidan berdecak kesal.


Kirana melanjutkan aktivitas makannya sambil menatap Zaidan yang sedang kesal padanya.


Tak terasa adzan isya telah berkumandang, Kirana tidak pergi ke masjid karena ia khawatir dengan kondisi Zaidan.


"Mau sholat by?" tanya Kirana sengaja. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Zaidan ketika ditanya demikian.


"Iya by, kenapa nanya kayak gitu? Emang biasanya aku gak sholat ya?" tanya Zaidan cemberut.


"Bukan gitu by, kamu kan lagi sakit ya mana tau kan" ucap Kirana sengaja memancing reaksi Zaidan.


"Selama aku masih bernapas, sholat itu kewajiban bagiku by" ucap Zaidan membuat Kirana berdecak kagum.


"Masya Allah, suami aku benar-benar sholeh" lanjut Kirana mengecup puncak kepala Zaidan.


Ia membantu Zaidan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu setelah itu mereka sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, Kirana masih membujuk Zaidan agar mau minum obat karena suhu tubuhnya masih sangat tinggi.


"Minum obat ya by" bujuk Kirana mengelus punggung tangan Zaidan.


"Gak mau" tolak Zaidan cemberut.


Kirana mengerutkan dahinya, cara apalagi yang bisa membuat Zaidan agar mau minum obat.


"Kalau gak mau minum obat, mas gak boleh dekat-dekat sama aku" putus Kirana dingin. Terkadang ia memang harus tegas pada suaminya itu. Bukan tanpa alasan, melainkan untuk kesehatan Zaidan sendiri.


Mau tidak mau, Zaidan harus menuruti perintah Kirana. Ia meminum obat penurun panas yang sudah digerus kemudian berbaring dengan menutupi tubuhnya dengan selimut yang tebal.

__ADS_1


Setelah memberikan obat pada Zaidan, Kirana ikut berbaring disamping Zaidan sambil bersholawat dan mengelus pelipis Zaidan.


"By, kamu tau gak kalau aku kangen banget sama kamu" ucap Kirana setelah bersholawat dan tidak mendapatkan jawaban dari Zaidan. Ia melirik ke arah Zaidan yang sudah tertidur pulas di dalam dekapannya.


Kirana ikut memejamkan matanya, ia sedang berdoa semoga hari esok lebih baik dari hari ini yang penuh dengan kejutan.


Di tengah malam, Zaidan kedinginan membuat Kirana terjaga dari tidurnya. Ia mengecek kembali suhu tubuh Zaidan.


"39 derajat? Tinggi banget panasnya, besok pagi bakal ku bawa ke rumah sakit" ucap Kirana setelah melihat angka di termometer.


Kirana mengambil air hangat dan juga handuk kecil untuk mengompres Zaidan. Ia terjaga sepanjang malam untuk menjaga suaminya itu. Rasa kantuknya seolah-olah hilang dan digantikan rasa khawatir tentang kesehatan Zaidan.


Kirana sedikit membuka selimut yang menutupi tubuh Zaidan. Saat seseorang demam tinggi, tidak dianjurkan untuk menyelimuti seluruh tubuhnya karena akan menimbulkan kejang, begitulah ilmu yang didapat Kirana di tahun pertama saat ia kuliah di kedokteran.


Kirana melihat ada ruam merah di tangan Zaidan. Ia langsung menghubungi Adrian untuk segera memanggil Ilham karena kondisi Zaidan semakin parah.


"Adrian, panggil dokter Ilham sekarang! Mas Zaidan sedang tidak sadarkan diri!" ucap Kirana dengan nada khawatir.


Adrian langsung menjemput Ilham untuk dibawa ke resort agar segera memeriksa keadaan Zaidan.


Adrian sampai di basecamp dan langsung menelpon Ilham.


"Halo, dokter Ilham. Gue udah di depan basecamp, cepat keluar atau gue bisa diamuk kak Kirana" ucap Adrian tanpa memberi salam.


"Waalaikumussalam, lain kali salam dulu kalau nelpon orang! Saya udah di depan kamu" ucap Ilham sok cuek. Padahal jika bersama Zaidan mereka berdua sama-sama bar-bar.


Adrian langsung mematikan sambungan telponnya. "Cepat masuk atau gue bakal diamuk kak Kirana karena lama" ucap Adrian tanpa ekspresi.


"Hanya berdua?" tanya Ilham melihat ke arah mobil mewah berwarna hitam tersebut.


"Ya iyalah, masa mau sekampung?" ledek Adrian dengan smirk.


"Terserah" ucap Ilham dan berlalu masuk ke dalam mobil tersebut. Jika bukan karena Zaidan, dirinya tidak mau satu mobil dengan pria tengil di sebelahnya ini.


"Kenapa lirikin gue? Gue tau gue ganteng, gak usah dilirik juga jangan-jangan lo homo ya" ucap Adrian yang merasa dilirik oleh Zaidan.


"Dih kepedean! Siapa juga yang melirik kamu!, pakai bilang gue homo lagi, gue masih suka tempe" celetuk Ilham menatap keluar jendela.


Suasana di dalam mobil hening. Selang beberapa menit mereka pun tiba di resort di mana Kirana dan Zaidan menginap. Adrian langsung membawa Ilham ke kamar vvip tempat Zaidan berada.


Sebelum masuk, Adrian mengetuk pintu terlebih dahulu dan Ilham diperiksa untuk memastikan bahwa tidak ada bahan berbahaya yang bisa mengancam keselamatan suami dari nona muda Fernanda.


"Silahkan masuk" ucap Kirana dari dalam.


Adrian membuka pintu dan langsung berbalik. Ia menyuruh Ilham untuk masuk sendirian karena ia tau kalau Zaidan sedang tidak memakai baju. Kirana yang memberitahunya melalui pesan singkat.


Ilham melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi sahabatnya. Ia berdecak kagum dengan interior ruangan itu.


"Maaf mengganggu waktu malam-malam begini dok" ucap Kirana merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa, sebagai tenaga kesehatan kami sudah biasa dipanggil tengah malam begini" ucap Ilham tersenyum dan langsung mengambil stetoskop dari tasnya untuk memeriksa keadaan Zaidan.


Ilham melihat terdapat ruam merah di tangan serta leher Zaidan. Diagnosa sementara darinya, Zaidan terkena demam berdarah. Namun, ia tidak bisa memberitahu Kirana karena belum ada bukti kalau Zaidan terkena DBD.


"Saya sarankan untuk melakukan tes darah. Sepertinya demam Zaidan, bukanlah demam biasa. Tapi, saya tidak bisa asal diagnosa sebelum ada bukti dan tes yang akurat karena itu melawan kode etik kami" ucap Ilham menyarankan agar dilakukan tes darah untuk memastikan bahwa Zaidan terkena demam berdarah atau tidak.


"Baiklah. Sekarang juga saya akan membawa Zaidan ke Jakarta" ucap Kirana yang sudah yakin untuk membawa Zaidan kembali ke Jakarta. Walaupun nantinya Zaidan akan merajuk padanya.


Kirana keluar dan langsung menyuruh Adrian untuk mempersiapkan semuanya. Malam ini ia akan membawa Zaidan pulang ke Jakarta.


"Kita berpisah lagi dek. Cepat sembuh dan kembali lagi kesini, kami akan sangat membutuhkan bantuan darimu" ucap Ilham mengamati wajah Zaidan yang seperti raja.


Setelah mengurus semuanya, Kirana kembali masuk ke dalam kamar untuk segera membawa Zaidan ke Jakarta dan melakukan tes darah seperti kata Ilham barusan.


"Dokter Ilham, terimakasih atas bantuannya. Saya akan membawa Zaidan untuk pulang ke Jakarta dan saya juga titip salam serta permintaan maaf karena tidak bisa izin dengan teman-teman dari Kirana" ucap Kirana tersenyum tipis.


"Hati-hati di perjalanan. Saya titip Zaidan, semoga dugaan saya salah dan Zaidan baik-baik saja" balas Ilham tersenyum simpul.


Kirana menggendong Zaidan dengan perlahan. Sebelum itu, ia sudah memakai hijab instan karena ia tidak ingin ada orang lain yang melihat rambut indah miliknya selain keluarga dan suaminya.


Kirana langsung membawa Zaidan masuk ke dalam helikopter pribadinya. Kali ini Adrian tidak ikut dengan Kirana karena harus mengantar Ilham kembali ke basecamp.


Kabar tentang Zaidan sakit sudah terdengar di telinga Calvin dan juga Papa Daniel. Mereka menunggu kedatangan Zaidan untuk segera dilakukan pemeriksaan.


Helikopter pribadi Kirana mendarat di helipad Assaba Hospital tempat dimana Zaidan dan juga Kirana bekerja. Sesampainya disana, mereka langsung disambut oleh staff rumah sakit.


Zaidan langsung dibawa untuk pengambilan sampel darah untuk di uji. Sementara Kirana menunggu di depan ruangan pengambilan sampel.


Kirana menunggu sambil mondar-mandir. Ia sangat khawatir dengan keadaan Zaidan. Calvin yang melihat Kirana tengah mondar-mandir langsung menghampiri istri dari adiknya itu.


"Assalamualaikum" sapa Calvin menepuk pundak Kirana sontak Kirana terkejut.


"Waalaikumussalam mas" ucap Kirana mencium punggung tangan Calvin. Ia juga menyapa Papa Daniel yang berada tak jauh darinya.


"Bagaimana bisa Zaidan sakit?" tanya Calvin heran.


"Kirana juga gak tau mas. Kata Zaidan ia hanya telat makan, tapi kata dokter Ilham demam Zaidan bukanlah demam biasa dan harus dilakukan tes darah untuk memastikan kondisi Zaidan" jelas Kirana mengulangi ucapan Ilham tadi.


Calvin mengangguk. Diagnosa sementara darinya adalah adik kesayangannya itu terkena demam berdarah.


Setelah pengambilan sampel darah, Zaidan dibawa ke ruangan rawat inap vvip yang sudah disiapkan sebelumnya. Tangan Zaidan sudah terpasang selang infus.


"Biasanya hasil lab berapa lama mas?" tanya Kirana dengan nada khawatir.


"Tenang. Insya Allah besok pagi sudah keluar" ucap Calvin menenangkan Kirana. Padahal dirinya juga tengah mengkhawatirkan adik satu-satunya itu.


Kirana duduk di sofa sambil memijat kepalanya. Sesekali ia melihat ke arah Zaidan yang sedang tertidur.


Kirana ditemani oleh Calvin dan juga Daniel, sementara Naura tidak ikut karena saat ini sudah dini hari.


"Papa sebaiknya pulang aja, biar Calvin dan Kirana yang menjaga Zaidan" ucap Calvin menyuruh papanya untuk pulang.


"Gak apa-apa Vin. Papa disini aja, menjaga Zaidan" tolak Daniel bersikeras untuk menjaga putra bungsunya itu.


"Besok papa kan ada rapat pagi. Sebaiknya papa pulang dan istirahat aja lagian disini ada Calvin dan juga Kirana yang menjaga Zaidan" ucap Calvin karena ia tidak ingin sang papa ikutan sakit jika harus menjaga Zaidan disini.


Daniel akhirnya menuruti permintaan putra sulungnya. "Papa pulang, tapi kalau terjadi sesuatu langsung hubungi papa ya Vin" ucap Daniel dan dibalas anggukan oleh Calvin.


Daniel mendekat ke arah Zaidan dan mengecup puncak kepala putra bungsunya. Ia menatap sendu Zaidan, ini pertama kali Zaidan sakit sejak tiba di Indonesia tiga tahun lalu.


Daniel pamit pada anak dan menantunya untuk pulang. Ia kembali ke Mansion dengan diantar supir pribadinya.


Kirana yang melihat wajah lelah Calvin, ia menyuruh Calvin untuk istirahat saja dan biar dirinya yang mengurus Zaidan.

__ADS_1


"Mas pasti capek kan? Sebaiknya mas Calvin istirahat aja, biar Kirana yang menjaga mas Zaidan" ucap Kirana dengan lembut pada abang iparnya.


"Kamu juga capek kan? Kita berdua sama-sama capek, jadi kita berdua akan menjaga Zaidan secara bersamaan" ucap Calvin yang tidak membiarkan Kirana untuk menyuruhnya tidur.


Kirana mengangguk dan tidak membantah ucapan abang iparnya. Jika ia membantah bisa habis dirinya diamuk Zaidan ketika pria itu sudah pulih. Mereka berdua duduk di sofa, sambil sesekali memejamkan matanya.


"By" panggil Zaidan lirih. Kirana dan Calvin secara bersamaan mendatangi Zaidan.


"Ada apa by?" tanya Kirana mengusap kepala Zaidan.


"Ada apa dek?" tanya Calvin menggenggam erat tangan Zaidan.


"Dingin" lirih Zaidan dan langsung dipeluk oleh Kirana.


Kirana lupa bahwa saat ini dirinya sedang bersama dengan Calvin.


Calvin tersenyum melihat Kirana sangat menyayangi Zaidan. Dulu dia pikir Zaidan tidak akan bertahan lama dengan Kirana karena Kirana terkenal dingin. Tapi berbeda dengan sekarang, Kirana sangat menyayangi Zaidan.


Calvin melangkah mundur dan kembali duduk di sofa. Ia membiarkan Kirana untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Kirana mengelus pelan kepala Zaidan setelah suaminya tertidur dengan tenang. Kirana perlahan melepaskan pelukannya, lalu menyalakan penghangat ruangan. Ia menoleh ke belakang dan tersadar bahwa dirinya sedang bersama dengan Calvin.


"Ehmm... maaf mas" ucap Kirana menunduk karena malu.


Calvin terkekeh melihat ekspresi wajah Kirana. "Kenapa minta maaf? Zaidan kan suami kamu dan sudah menjadi kewajiban kamu untuk menjaga Zaidan" ucap Calvin menepuk pundak Kirana pelan.


Mereka berdua duduk sambil bercengkrama ringan. Calvin sesekali memeriksa keadaan Zaidan. Suhu tubuhnya sudah mulai turun walaupun masih tinggi.


Adzan subuh berkumandang, Kirana dan Calvin sholat secara bergantian karena harus ada orang yang menjaga Zaidan. Mereka berdua tidak percaya pada siapapun kecuali keluarga inti. Terlebih lagi Calvin, ia sulit untuk percaya pada orang lain.


Setelah selesai sholat, Calvin pamit untuk pulang terlebih dahulu karena ia ada shift pagi dan belum mandi.


"Kirana, Mas pulang dulu ya, mas ada shift pagi ini" ucap Calvin pada Kirana.


"Iya mas, maaf merepotkan mas" ucap Kirana.


"Sama sekali gak merepotkan, sudah menjadi tugas mas untuk menjaga Zaidan. Yaudah mas pamit pulang ya, kalau ada apa-apa langsung telpon mas. Assalamualaikum" pamit Calvin tersenyum ke arah Kirana.


"Waalaikumsalam warahmatullah mas, fii amanillah mas" ucap Kirana tersenyum hangat.


Calvin berjalan mendekati Zaidan yang sedang tertidur. Ia berpamitan pada adek kesayangan nya lalu pergi meninggalkan ruang rawat inap vvip tersebut.


Kirana berjalan mendekati suaminya. Ia membangunkan Zaidan untuk sholat subuh.


"By, bangun sholat subuh dulu yuk" ucap Kirana dengan lembut sambil mengusap kepala Zaidan.


Zaidan menggeliat kemudian membuka matanya dengan perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah dinding putih khas rumah sakit.


"Aku dimana?" tanya Zaidan lirih.


"Kamu ada di rumah sakit by" ucap Kirana dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kenapa bawa aku ke rumah sakit?" tanya Zaidan balik.


"Karena kondisi kamu semakin parah bahkan tadi malam kamu gak sadarkan diri by, aku takut kamu kenapa-napa dan aku langsung bawa kamu ke rumah sakit" jelas Kirana pelan.


Zaidan hanya menatap Kirana dengan tatapan kosong membuat Kirana semakin khawatir melihatnya.


"Sholat dulu yuk" ajak Kirana dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


Karena tangan Zaidan sedang di infus. Jadi Zaidan sholat dengan posisi duduk. Setelah selesai sholat subuh, Kirana duduk di kursi sebelah brankar Kirana. Ia melantunkan ayat suci al-quran sambil mengelus pelipis Zaidan dengan lembut. Ia berharap Zaidan segera pulih dan semoga hasil tes darahnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Tepat pukul delapan pagi, hasil tes darah Zaidan sudah keluar dan Zaidan dinyatakan positif terkena demam berdarah. Melihat hasil tersebut di secarik kertas, membuat Kirana langsung terduduk lemas, ia menyalahkan dirinya sendiri karena benar-benar lalai dalam menjaga Zaidan.


"Kenapa aku lalai menjaganya?" tanya Kirana menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah operan, Calvin kembali masuk ke dalam ruangan rawat inap Zaidan. Ia melihat Kirana yang duduk dengan lemas sambil menunduk.


"Assalamualaikum Kirana, ada apa ?" tanya Calvin menepuk pundak Kirana.


Kirana mendongakkan kepalanya. Matanya merah karena menangis. Ia tidak menjawab pertanyaan Calvin melainkan langsung menyerahkan secarik kertas berisi hasil tes darah Zaidan.


Calvin membacanya dengan saksama. Ia sudah menduga sebelumnya bahwa Zaidan memang terkena demam berdarah.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, sudah gak apa-apa kita berdoa untuk kesembuhan Zaidan. Mas juga akan berusaha untuk membuat Zaidan untuk cepat pulih" ucap Calvin menenangkan Kirana. Ia tau bahwa Kirana sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Tapi mas"


"Sudah gak apa-apa, lagian mas yang bertugas menjaga Zaidan" ucap Calvin merangkul Kirana dan menenangkannya. Padahal hatinya juga sedang khawatir memikirkan keadaan Zaidan.


Calvin berjalan mendekati Zaidan. Ia melihat adik kesayangannya sedang tertidur pulas. Ia mengusap kepala Zaidan dengan lembut, tak terasa air mata Calvin turun membasahi pipi Zaidan. Dengan segera Calvin menyerka air matanya agar tidak turun semakin banyak. Calvin paling tidak bisa melihat adiknya terbaring lemas di brankar rumah sakit.


"Kenapa kamu sakit dek? Kamu udah janji sama mas buat gak sakit, cukup di LA aja kamu kritis disini jangan ya" ucap Calvin mengusap kepala Zaidan dengan penuh kasih sayang.


Calvin menyugar rambutnya. Kemudian ia memeriksa Zaidan dengan stetoskopnya dan juga mengecek suhu tubuh Zaidan. Ternyata suhu tubuhnya masih sangat tinggi.


"Dek, sarapan dulu yuk. Kamu mau makan apa heum?" tanya Calvin mengusap pipi Zaidan.


Zaidan membuka matanya. Ia melihat mata Calvin berkaca-kaca. Zaidan mengerutkan dahinya, pandangannya beralih menatap seorang wanita yang tak lain adalah Kirana sedang terduduk lemas.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Zaidan lirih.


"Gak apa-apa dek, sekarang kamu mau sarapan apa heum?" tanya Calvin lagi.


"Jawab dulu pertanyaan Zaidan. Kalian berdua kenapa? Kalau gak apa-apa kenapa mata mas Calvin berkaca-kaca dan kamu by terduduk lemas?" tanya Zaidan mengerutkan dahinya.


"Mas bilang gak apa-apa berarti gak apa-apa dek. Udah jangan dipikirin, sekarang kamu sarapan dulu. Mau mas belikan bubur?" tanya Calvin lagi.


Zaidan menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin makan apapun.


"Jadi mau makan apa?" tanya Calvin karena belum mendapatkan jawaban dari sang adek.


"Roti" ucap Zaidan singkat. Calvin langsung menghampiri Kirana untuk menyuruhnya membelikan roti untuk Zaidan.


"Kirana, mas bisa minta tolong belikan Zaidan roti?" tanya Calvin pada Kirana.


"Bisa mas, hanya roti aja mas?" tanya Kirana dengan suara serak.


"Beli roti, sari kurma, air mineral. Udah itu saja dek Kirana" ucap Calvin dan langsung dituruti oleh Kirana.


Kirana pamit untuk keluar sebentar pada Zaidan. Ia juga mengecup puncak kepala Zaidan lalu ia keluar menuju supermarket.


Sesampainya di supermarket, Kirana langsung mengambil beberapa bungkus roti dari merk yang berbeda, ia juga mengambil sari kurma seperti yang dibilang Calvin. Kirana juga membeli buah-buahan untuk Zaidan terlebih lagi ia membeli jambu biji merah.

__ADS_1


Setelah membeli semuanya, Kirana kembali ke rumah sakit. Ia ingin dibantu oleh supirnya membawa semua barang-barangnya. Namun, ditolak oleh Kirana dengan alasan ia bisa membawanya sendiri. Padahal ia tidak percaya dengan siapapun.


Kirana membuka pintu ruangan Zaidan dan meletakkan semua barang yang ia beli diatas nakas. Calvin tersenyum saat Kirana membeli buah-buahan padahal tidak disuruh olehnya. Bukan karena lupa, tapi Calvin memang sengaja untuk menguji Kirana bagaimana cara Kirana merawat adiknya.


__ADS_2