Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Dinner


__ADS_3

Kirana yang baru saja pulang dari musholla resort langsung mencari keberadaan Zaidan. Ia celingukan saat suaminya tidak ada di kamar.


"Assalamualaikum by? Kamu dimana?" tanya Kirana dengan sedikit teriakan.


Ia mencari keberadaan Zaidan di balkon depan dan kamar mandi, tapi Zaidan sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.


Kirana langsung keluar kamar untuk memanggil staff hotel yang ia tugaskan untuk menjaga privasi kamarnya.


"Cari suami saya sekarang! Kalian dikasih tugas untuk menjaga suami saya saja tidak bisa! Bukankah sudah saya bilang, jangan pernah biarkan suami saya untuk pergi sendirian!" ucap Kirana tegas dengan wajah datarnya.


Bukan tanpa alasan Kirana protektif dengan keamanan Zaidan. Ia tau betul bagaimana gilanya Elsa, jika gadis itu sudah bertekad untuk balas dendam dan Kirana tidak ingin Elsa menyakiti suaminya.


Para security yang ditugaskan untuk menjaga kamar Kirana langsung berlari terbirit-birit. Mereka takut jika sang pemegang saham akan marah besar dan melaporkan mereka pada founder resort ini.


Kirana tengah sibuk mencari keberadaan Zaidan. Sementara yang dicari malah asik mengobrol dengan seorang balita berumur dua tahun.


"Abi" panggil balita tersebut pada Zaidan yang sedang asik melihat keindahan pantai dari taman resort.


Zaidan melihat ke bawah, karena merasa ada sesuatu yang menarik bajunya. Lalu, ia berjongkok di depan balita tersebut.


"Halo cantik" ucap Zaidan langsung menggendong balita perempuan cantik itu.


"Abi" panggilnya lagi dan membuat Zaidan terhenyak dan tersenyum. Ia memang suka dengan anak-anak, biasanya ia akan dipanggil kakak, tapi kali ini berbeda. Gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan 'abi' sebutan yang di impikan pria diseluruh dunia dan tak terkecuali Zaidan.


"Heum tapi aku bukan abi mu. Dimana orang tuamu sayang?" tanya Zaidan tersenyum. Walaupun ia tau bahwa anak sekecil itu mungkin belum bisa menunjukkan dimana kedua orang tuanya.


Zaidan membawa gadis kecil itu untuk duduk bersamanya di bangku taman. Ia celingukan sambil mencari dimana keberadaan orang tua balita ini.


'Dimana orang tuanya? Ceroboh banget ngurus anak' gumam Zaidan kesal. Sebagai pecinta anak-anak, Zaidan kesal karena orang tua balita ini sangat ceroboh dalam menjaga anaknya sendiri.


"Abi, atu au itu" ucapnya membuat Zaidan melihat ke arah mana balita ini menunjuk. Ternyata ke arah truk es krim, karena taman resort berada diluar, jadi penjual dari luar di izinkan untuk berjualan disekitarnya.


"Kamu mau es krim?" tanya Zaidan tersenyum dan dibalas anggukan kecil olehnya.


Zaidan melirik jam tangan digital miliknya, lalu ia menggendong gadis kecil tadi menuju truk es krim.


"Bu es krim coklatnya satu ya" ucap Zaidan ramah.


Penjual es krim tersebut membalas senyuman Zaidan dan langsung menyiapkan es krim pesanan Zaidan. Tak butuh waktu lama bagi penjual es krim tersebut untuk menyiapkan pesanan Zaidan.


"Ini pak" ucapnya menyerahkan es krim, Zaidan langsung membayar es krim tersebut.


"Anaknya cantik ya pak" puji penjual es krim tersebut.


Zaidan yang mendengar hal itu langsung salah tingkah, entah mengapa ia merasa senang saat penjual es krim memuji balita yang di gendongnya.


"Tapi, dia bukan anak saya bu. Heum kalau begitu saya permisi, terimakasih" ucap Zaidan sambil tertawa kecil dan berjalan menuju bangku taman dimana ia duduk tadi.


Zaidan membiarkan balita tersebut memakan es krim, sesekali Zaidan mengelap mulut balita tersebut menggunakan tisu yang selalu ada di dalam tas kecilnya.


"Raisa..." teriak seorang wanita cantik yang diperkirakan tingginya hampir sama dengan tinggi Kirana.


Zaidan sontak menoleh ke asal suara teriakan tersebut. Disaat yang bersamaan, Kirana juga berteriak memanggil Zaidan.

__ADS_1


"By" teriak Kirana berlari menghampiri suaminya.


"Kamu kenapa gak bilang kalau mau ke taman heum? aku cariin kamu sampai keliling resort, kamu tau kan kalau aku khawatir?" Kirana langsung mencerca Zaidan dengan berbagai pertanyaan. Zaidan tersenyum sambil mendengarkan.


"By, aku cuman cari angin doang. Aku kira kamu bakal lama di musholla, karena kalau di rumah, kamu kan sampai isya di masjid baru pulang. Maaf, karena keluar tanpa izin dari kamu" ucap Zaidan menunduk. Ia tau kalau keluar dari rumah tanpa izin dari istri adalah dosa besar. Tapi apalah daya Zaidan yang terkadang lupa kalau dirinya sudah mempunyai istri, jika melihat hal yang menarik rasa penasarannya.


"Kirana maafin. Tapi, lain kali jangan di ulangi ya by. Aku bener-bener khawatir sama kamu" ucap Kirana menghembuskan napas lega. Ternyata dugaan Kirana salah, ia mengira bahwa Elsa mengikuti dirinya dan menyakiti Zaidan.


"Ini siapa By? Cantik banget" ucap Kirana mengelus lembut pipi balita yang menempel pada Zaidan.


"Aku juga gak tau, tadi waktu aku lagi asik lihat pemandangan. Gadis kecil ini menarik bajuku dan kamu tau gak dia manggil aku apa?" jelas Zaidan dengan mata berbinar.


"Apa By?" tanya Kirana penasaran.


"Abi" lanjut Zaidan dengan tersenyum.


Kirana ikut mengulas senyum." Kalau dia manggil kamu Abi, berarti aku uminya dong" ucap Kirana terkekeh.


Wanita cantik yang sedari tadi memperhatikan sepasang kekasih itu langsung mendekat, karena putri kecilnya berada dalam gendongan Zaidan.


"Maaf mengganggu mas, mbak. Tapi ini putri saya" ucap wanita tadi menghampiri Zaidan dan Kirana yang tengah asik mengelus pelan kepala balita cantik itu.


Zaidan tidak langsung mempercayai hal itu, sebagai anggota dari organisasi yang berkaitan dengan anak-anak membuat Zaidan tidak mudah percaya begitu saja. Apalagi balita yang berada di dekapannya, sejak tadi sendirian di taman.


"Bisa tunjukkan bukti kalau anda benar-benar orang tuanya?" tanya Zaidan dengan mode serius.


Kirana yang baru pertama kali melihat ekspresi wajah Zaidan yang seserius itu terhenyak.


"Bisa mas. Ini foto saya dan suami saya bersama putri saya dan ini identitas saya dan suami saya" ucapnya memperlihatkan identitas serta foto yang berada di ponselnya.


"By, bisa cek identitasnya di resort ini kan? Aku cuman gak mau balita cantik ini, jatuh ke tangan yang salah" ucap Zaidan menatap intens Kirana.


Kirana langsung menghubungi receptionis melalui hate dan menanyakan apakah benar ada tamu yang menginap dengan nama Jordan dan Mita.


Setelah menghubungi receptionis dan memastikan benar ada tamu bernama Jordan dan Mita membawa seorang putri kecil. Kirana langsung berbisik kepada Zaidan.


"Benar, itu anak mereka By" bisik Kirana pada Zaidan.


Zaidan langsung tersenyum simpul dan menyerahkan balita yang entah kapan tertidur dalam dekapannya. Padahal beberapa menit yang lalu, gadis kecil itu masih menggeliat.


"Maaf atas sikap saya mas, mbak ini anaknya. Saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" ucap Zaidan menyerahkan gadis kecil itu dan menghindari agar tidak skinship.


"Iya gak apa-apa mbak. Saya senang putri saya bisa bertemu orang sebaik mbak, yang tidak langsung menyerahkan begitu saja tanpa mencari tau kebenarannya" ucap Jordan ayah dari balita yang sejak tadi bersama Zaidan.


"Terimakasih sudah menjaga putri saya mbak, saya sudah mencarinya kemana-mana karena saya dan istri saya tadi sedang rapat dengan klien" lanjutnya dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


"Kembali kasih mbak, mas tapi lain kali dijaga anaknya ya. Karena balita secantik dan se imut dia pasti ada saja orang yang tidak suka. Apalagi latar belakang masnya dan mbaknya pebisnis" ucap Zaidan memperingatkan sepasang suami istri tersebut agar menjaga sang anak.


"Oh iya, nama saya Mita. Kalau nama mas siapa?" tanya Mita mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kirana.


"Nama saya Kirana. Kalau sudah selesai, bisakah kami berdua pergi? Karena saya sudah lapar" ucap Kirana yang cemburu karena dari tadi wanita tersebut hanya berbicara dengan Zaidan.


"Heum maaf mbak. Silahkan dan sekali lagi terimakasih karena telah menjaga anak kami" ucap Mita dan dibalas anggukan oleh Kirana dan Zaidan.

__ADS_1


Kirana menggandeng tangan Zaidan menuju restoran yang berada di dalam resort dengan konsep outdoor.


Zaidan menatap wajah Kirana dengan lembut. Ia terus memperhatikan ke arah mana mata Kirana memandang. Zaidan tau kalau saat ini Kirana sedang cemburu, tapi dia tidak ingin memperlihatkannya.


"Kenapa lihatin aku terus?" tanya Kirana dengan nada kesal.


"Gemes aja. Ternyata beruang kutub ku udah cair dan sekarang sedang cemburu. Uuh manisnya" ucap Zaidan dengan wajah menggemaskan.


"Siapa yang cemburu By?" tanya Kirana menatap intens Zaidan.


"Kamu dong, masa aku" lanjut Zaidan menggigit bibir bawahnya.


"Aku gak cemburu By" ucap Kirana menatap ke arah lain. Ia menghindari kontak mata dengan Zaidan atau dirinya akan kelewat gemas dengan ekspresi wajah polos suaminya.


"Kalau gak cemburu, kenapa kamu diem aja? Terus mengalihkan pandangan dari aku?" tanya Zaidan masih terus mengikuti arah pandang Kirana.


"Iya aku cemburu. Lagian dia udah tau ada aku, malah asik ngajakin kamu ngobrol. Terus, kalau aku gak mengalihkan pandangan, nanti aku kelewat gemas sama kamu. Emang kamu mau tanggung jawab By ?" tanya Kirana langsung menatap wajah Zaidan.


"Oh iya, kamu punya janji sama aku untuk praktek kan By?" sambung Kirana yang tidak mendapat respon dari Zaidan tentang pertanyaan pertamanya.


"Praktek apa by?" tanya Zaidan seolah-olah lupa.


"Perlu aku perjelas, by?" tanya Kirana sekali lagi dan membuat Zaidan mencubit kecil lengan Kirana.


Saat ini mereka berdua sudah duduk di restoran resort dengan pemandangan pantai. Semilir angin malam berhembus membuat hijab Kirana beterbangan dan menambah aura kecantikan gadis itu.


Makanan mereka tiba. Kirana memesan udang asam manis dan Zaidan memesan ayam bakar madu. Zaidan melirik udang besar milik Kirana, ia sangat ingin memakan udang tersebut. Tapi, alerginya tidak bisa diajak kompromi.


"By, mau itu" ucap Zaidan, manja dan menunjuk ke arah udang yang sudah berada di piring Kirana.


"Tapi kamu alergi seafood" ucap Kirana dengan lembut.


"Dikit aja boleh ya?" tanya Zaidan dengan mata berbinar membuat siapapun yang menatap matanya akan luluh.


"Kamu alergi By. Aku gak mau ambil resiko" ucap Kirana menghentikan aktivitas makannya. Ia beralih mengambil piring Zaidan dan menyuapi bidadarinya.


"Sekarang ayo makan, aku suapin heum?" lanjut Kirana.


"Gak mau. Lagi gak mood" ucap Zaidan cemberut.


'Begini ternyata punya suami yang moodyan, salah bicara dikit udah beda mood' batin Kirana merasa serba salah.


Kirana menghembuskan napas kasar. Ia berpikir bagaimana caranya agar Zaidan mau makan, karena tidak mungkin bagi Kirana untuk melakukan hubungan itu tanpa makan terlebih dahulu.


"Yaudah kalau kamu gak mau makan, Ipad nya aku sita" putus Kirana setelah berpikir apa kelemahan Zaidan.


Zaidan menatap sinis ke arah Kirana. "Gak bisa gitu dong" ucap Zaidan cemberut.


"Bisa. Sekarang makan atau Ipad nya aku sita?" tanya Kirana yang selalu bertanya dua pilihan pada Zaidan. Jika tidak begitu maka Zaidan akan sangat manja.


"Iya, aku mau makan" jawab Zaidan.


"Nah gitu dong, dasar bayi!" ucap Kirana menguyel-uyel pipi Zaidan.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati makan malam. Walaupun Zaidan sempat merajuk, tapi Kirana punya kartu AS agar pangerannya mau menuruti perintahnya.


__ADS_2