Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Mesra


__ADS_3

Tangan Kirana seperti tidak ingin melepaskan Zaidan yang berada dalam pelukannya.


"Kirana, lepasin aku mau siap-siap buat ke Lombok" ucap Zaidan dengan lembut pada Kirana.


"Bentar lagi ya, by" pinta Kirana menyandarkan kepalanya pada kepala Zaidan.


Kirana menarik napas panjang. Ia sangat tidak ingin membiarkan Zaidan pergi, apa lagi dengan kemunculan Elsa. Ia takut jika Elsa sampai mengikuti dan menyakiti Zaidan ke Lombok.


Ponsel Kirana berdering dari sakunya. Ternyata Adrian yang menelponnya.


"...."


"Halo, waalaikumussalam. Ada apa dek?" tanya Kirana heran mendengar nada bicara Adrian yang khawatir.


[Kak lo udah tau Elsa ke rumah lo? Gue baru tau dari anak buah gue yang baru aja laporan]


"Udah, gerak saya lebih cepat dari kamu!" desis Kirana.


[Sorry kak, gue gedeg lihat tuh bocah! Dia lagi, dia lagi yang bakal gue urus! Entah kapan tuh bocah menghilang dari muka bumi ini!]


"Saya lebih gedeg lihat kamu yang tidak pernah benar menjaga rumah saya!" ucap Kirana meninggikan suaranya satu oktaf, membuat Zaidan terhenyak.


[Bukan gitu kak, lo tau sendirikan gimana Elsa? Mau sampai lebaran kinjeng pun, kalau Elsa yang gue urusin gak akan pernah selesai!]


"I don't care! Yang saya tau tugas kamu menjaga keselamatan keluarga saya, dan membantu saya untuk mengurus perusahaan" ucap Zaidan datar.


[Huft terserah lo deh kak! Btw dia udah tau Zaidan belum? Kalau dia tau wajah Zaidan, nambah lagi tugas gue]


Kirana berdesis. Kemudian ia melihat ke arah Zaidan yang mendengarkan pembicaraan Kirana.


"Nanti saya telpon lagi, cari tau saja bagaimana dia bisa masuk ke kompleks perumahan saya" perintah Kirana.


[Kalau itu gue gak perlu cari tau, karena gue udah tau jawabannya. Elsa itu hackers yang merangkap jadi CEO! Makanya mudah untuk dia masuk ke kompleks perumahan lo yang semuanya serba sistem! Gue akan cari perumahan yang lebih aman dari tempat lo sekarang. Dan ya, jaga istri lo kak baik-baik karena gue tau betul gimana sifat Elsa!]


"Kalau hal itu gak perlu kamu suruh, pasti sudah saya laksanakan" cicit Kirana.


[Kak, lo jadi ikut Zaidan ke Lombok? Terus rapat lo gimana? Gue juga yang urus?] tanya Adrian lemas.


"Mending kamu diem! Dan lakukan apa yang saya perintahkan! Untuk urusan rapat saya akan saya atur semuanya!" sambung Kirana masih dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


Zaidan yang tidak suka melihat ekspresi wajah datar Kirana langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Kirana dengan manja. Kirana terhenyak dan menjauhkan ponselnya sebentar untuk mengelus pipi Zaidan.


"Sebentar ya Zaiyang, aku selesaikan pekerjaan ini dulu" ucap Kirana tersenyum lembut ke arah Zaidan.


Zaidan mengangguk pelan. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kirana dan mencium aroma parfum Kirana yang segar dan tidak terlalu mencolok.


Kirana melanjutkan pembicaraan dengan Adrian. Ia menerima saran dari Adrian untuk tetap mengawasi Zaidan lewat benda aplikasi yang akan dimasukkan pada ponsel Zaidan, dengan begitu baik Adrian maupun Kirana akan mudah melacak keberadaan Zaidan jika terjadi sesuatu di Lombok nantinya. Tapi, Kirana berharap semoga semuanya baik-baik aja.


"Baiklah, kali ini saya terima saran dari kamu. Saya tutup dulu, assalamualaikum" ucap Kirana mengakhiri sambungan telponnya.


Kirana menyingkirkan rambut milik Zaidan yang menutupi seluruh wajahnya. Zaidan yang tidak nyaman langsung mendongakkan kepalanya.


"Kok bangkit by? Gak apa-apa disitu aja, atau posisinya kurang nyaman?" goda Kirana karena dari tadi pria itu malu-malu saat mengendus badannya.


"Apaan sih! Aku mau mandi!" ucap Zaidan cemberut.


"Kirana juga mau mandi nih, gerah. Gimana kalau berdua?" tanya Kirana memainkan rambut Zaidan.


"Yaudah kamu mandi duluan aja" jawab Zaidan.


Kirana tertawa puas melihat suaminya yang cemberut dan kesal padanya. Bagi Kirana, Zaidan seperti obat penenang saat hatinya sedang dilanda kekhawatiran. Sikap polos dan manja Zaidan membuat Kirana merasa lebih baik.


"Aku gak kayak kamu yang mandi aja butuh waktu satu jam lebih" ucap Zaidan kesal.


"Oh iya? Setau aku, kamu deh yang mandinya lama, mau kita buktikan?" Kirana terus saja menggoda Zaidan. Ia sangat suka melihat pipi Zaidan yang memerah seperti kepiting rebus, jika digoda.


"Au ah gak mood buat mandi!" ucap Zaidan ingin beranjak dari tempat duduknya. Lagi dan lagi langkahnya kalah cepat dibanding tangan Kirana yang sudah menarik Zaidan untuk berada dalam pangkuannya.


"Dasar bayi! Moodnya suka berubah" ucap Kirana mencibir hidung Zaidan.


"Lepasin ih Kirana! Aku malu!!!" ucap Zaidan manja.


"Malu kenapa by? Malu karena aku pangku?" ucap Kirana melingkarkan tangannya di pinggang Zaidan.


'Ternyata gini rasanya bermesraan dengan suami. Tau gitu dari awal aku terima pangeran satu ini' batin Kirana menghirup aroma parfum yang melekat di tubuh Zaidan.


"Ih Kirana lepasin! Geli tau!" ucap Zaidan kesal.


"Kalau disitu geli, yaudah disini aja" tangan Kirana mulai nakal dan membuat Zaidan berdecak kesal.

__ADS_1


"Iih! Genit deh!" ucap Zaidan cemberut karena tangan Kirana meraba tubuhnya.


"Genit sama suami sendiri kan gak apa-apa" balas Kirana menenggelamkan wajahnya di punggung Zaidan dan menghirup aroma tubuhnya.


"Kirana!!!" ucap Zaidan kesal.


Kirana tertawa terbahak. Kemudian dia mencium pipi Zaidan.


"Dulu kamu pernah godain aku kan? Sekarang impas dong" ucap Kirana terus menciumi badan dan pipi Zaidan. Kirana sangat gemas pada pangerannya itu.


"Mana ada!" ucap Zaidan tak mau mengaku.


"Ada, waktu kamu ngebet minta izin ikut kegiatan sukarelawan ke Lombok itu" ucap Kirana mengingatkan Zaidan.


"T-tapi kan gak kayak kamu Kirana, omes!" jawab Zaidan mencubit tangan Kirana.


"Aw, sakit by. Oh iya kamu pakai parfum apa Zaiyang? Wangi banget" ucap Kirana candu pada wangi yang melekat di tubuh Zaidan.


"Parfum merk Chanel, tapi gak tau namanya apa. Soalnya mas Calvin yang selalu beliin" jawab Zaidan berusaha melepaskan tangan Kirana dari tubuhnya. Namun tenaganya kalah kuat dibanding tenaga Kirana.


"Pantes wangi banget, kamu cuman boleh pakai parfum kalau dekat aku ya" pinta Kirana.


"Gak bisa dong, kan aku kerjanya harus dekat pasien. Masa bersosialisasi sama orang bau badan, kan gak lucu! Lagian kami juga dulu dididik untuk selalu wangi sebagai etika dalam profesi kami" jelas Zaidan mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah pakainya dikit aja, biar gak ada yang kepincut sama kamu by" balas Kirana tersenyum.


"Kirana cemburu?" tanya Zaidan penasaran.


"Jelas dong aku cemburu. Kamu itu cuman pangeran Kirana seorang, gak ada yang boleh rebut kamu dari aku!" jawab Kirana mulai protektif pada Zaidan.


"Kamu, tau gak kenapa aku selalu di izini ikut kegiatan volunteer sampai ke luar negeri sama papa? Karena papa percaya sama aku kalau aku bisa jaga diri, dan papa juga gak pernah ngekang ataupun melarang aku ikut kegiatan apapun, selama aku bisa jaga diri dan gak jauh dari agama, papa selalu dukung aku dan aku harap kamu gak terlalu protektif sama aku, aku suka kamu protektif tapi jangan over ya" jelas Zaidan lembut dan tangannya mulai berani mengusap pipi Kirana.


Kirana tersenyum senang karena sikap protektif yang baru saja ia tunjukkan membawa pangerannya lebih dekat dengannya.


"Kirana gak protektif by, aku cuman gak mau kehilangan kamu aja" jawab Kirana mengelus pipi Zaidan.


Mereka berdua bermesraan layaknya muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Karena kamar mereka masih tertutup rapat, sehingga suasana di dalamnya seperti malam hari, pada hal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Zaidan dan Kirana menikmati setiap momen mereka, sebelum akhirnya mereka akan bersiap-siap untuk pergi ke Lombok.

__ADS_1


__ADS_2