Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Bermain di Pantai


__ADS_3

Kirana memakai kemeja hitam miliknya. Padahal hari ini ia berniat untuk memakai kaos oblong dan celana training saja. Namun, owner resort ini menghancurkan rencananya.


"Huft. Niat liburan malah harus kerja" gumam Kirana mengeluh karena hanya tinggal beberapa jam lagi ia harus pulang ke Jakarta dan berpisah dengan suaminya.


Zaidan menggelengkan kepalanya. Ia membantu Kirana untuk mengancing kemejanya.


"Gak boleh ngeluh gitu by! Nanti aku gigit loh!" ucap Zaidan asal. Tangannya dengan lihai memasangkan kancing kemeja Kirana.


"Saran bagus tuh By. Mau gigit bagian mana?" tanya Kirana sambil menunjuk ke arah bibir, dada bidangnya serta lehernya.


"Disini masih banyak lahan kosong By" lanjut Kirana tersenyum jahil menunjuk ke arah lehernya.


Zaidan mendengus kesal. Ia menarik badan Kirana dan membuat Zaidan meringis.


"Aw, aku salah apa By? Sampai kamu tarik begini" tanya Kirana berpura-pura tidak tau apa kesalahannya.


"Au ah kesel. Udah sana rapat, nanti terlambat! Dan aku gak mau tanggung jawab kalau kamu sampai terlambat" ucap Zaidan kesal. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi.


"Iya By. Oh iya, kamu sarapan aja dulu. Nanti aku suruh orang biar anterin makanan ke kamar kita" ucap Kirana mencium bibir Zaidan dan menggigitnya.


Zaidan sangat kesal pada Kirana. Wanita itu selalu saja memanfaatkan keadaan untuk mencium bibirnya. "Ih! Kebiasaan deh!"


"Hehe, sarapan dulu sebelum rapat By" ucap Kirana menyengir menunjukkan susunan gigi rapi dan putih miliknya.


"Sarapan itu makanan! Bukan bibir aku by!!" celetuk Zaidan yang sudah kelewat kesal pada Kirana.


Semakin Zaidan kesal maka semakin gemas Kirana dia. Bukannya langsung pergi rapat, Kirana malah kembali mendekat ke arah Zaidan.


"Bibir kamu lebih menggoda dari pada makanan, By. Jadi, aku lebih milih ini dari pada makanan" bisik Kirana tepat di telinga Zaidan. Setelah itu ia mencium pipi kanan dan puncak kepala Zaidan.


Kemudian Kirana melenggang keluar kamar begitu saja, membiarkan Zaidan yang kesal padanya.


'Gemes banget kalau lagi kesal' gumam Kirana mengingat bagaimana ekspresi wajah suaminya ketika kesal.


Zaidan duduk manis di balkon. Ia harus menunggu Kirana untuk sekedar jalan-jalan karena bodyguard Kirana tidak membiarkannya pergi. Kirana takut jika Zaidan menghilang seperti kemarin malam, padahal ia sedang jalan-jalan di taman resort.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuat Zaidan harus beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu tersebut.


"Permisi tuan Assaba, saya diminta nona Assaba untuk mengantarkan sarapan ke kamar anda" ucap staff hotel tersebut menundukkan badannya.


Zaidan yang merasa aneh dipanggil 'tuan Assaba' hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan staff tersebut masuk dan menata makanannya di atas meja.


"Sudah saya siapkan semuanya di atas meja nyonya. Jika anda butuh sesuatu, anda bisa menghubungi saya atau penjaga yang sedang bertugas di depan kamar anda" ucapnya sopan dan tersenyum ramah.


Zaidan membalas senyuman tersebut. "Terimakasih, bisa tolong panggil saya Zaidan saja? Sebenarnya saya tidak terbiasa dipanggil tuan" jelas Zaidan tersenyum canggung.


"Maaf tuan, tidak sopan bagi saya untuk memanggil nama tuan saja" lanjutnya sopan dan ramah.


Zaidan mengernyitkan dahinya. Kalau begitu panggil saya tuan" lanjut Aisyah dengan lembut. Ia terbiasa dipanggil 'tuan' dibanding' Tuan Assaba'.


"Sesuai perintah dari anda tua- ehm... maksud saya Tuan. Saya permisi dahalu, selamat menikmati sarapan pagi tuan" ucapnya menunduk sebelum pergi meninggalkan kamar Kirana dan Zaidan.


Zaidan berjalan menuju meja yang sudah dipenuhi sarapan pagi dengan menu roti isi dan juga segelas susu coklat.


'By kamu tau aja apa yang ku mau' gumam Zaidan tersenyum melihat menu sarapan favoritnya berjejer rapi di meja makan dengan dua kursi tersebut.


Zaidan langsung memakan makanannya dengan anggun. Waktu kecil, Zaidan memang sudah diajari attitude saat makan, seperti tidak boleh berbicara di meja makan, tidak boleh bermain ponsel dan tidak boleh berantakan saat makan. Didikan itulah yang membuat Zaidan terbiasa makan dengan rapi.


Sementara di ruang rapat, Kirana tengah diam. Ia tidak berminat untuk menambah sahamnya di resort ini dan ia berniat untuk mengambil sahamnya kembali. Bukan tanpa alasan Kirana melakukan hal itu, ia sudah kecewa saat pengamanan di resort ini tidak ketat dan juga ada alat penyadap yang terpasang di ruangan khusus miliknya.


"Bu, saya mohon jangan cabut saham anda. Jika anda melakukan hal itu, maka resort ini akan hancur, seperti perusahaan-perusahaan diluar sana yang sahamnya anda cabut" ucap Rahmat yang sedang bernegosiasi dengan Kirana.


Kirana diam. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Jika Kirana sudah mengambil keputusan akan sulit bagi siapapun untuk membujuknya.


"Bu saya mohon" lanjut Rahmat memelas. Ia tidak ingin resort yang selama ini ia rawat akan hancur begitu saja.


"Ehm" Kirana berdehem, namun ia tetap membisu.


Rahmat terus mencari cara agar pimpinan tertinggi sekaligus pemilik perusahaan Fernanda Group ini luluh. Ia tau kalau ada kelalaian kemarin malam dan itu merupakan kesalahan yang fatal dimata Kirana.


"Saya tetap akan mencabut saham saya dari resort anda" putus Kirana dengan wajah datarnya. Bahkan lebih datar wajah Kirana dibandingkan tripleks.


"Saya mohon jangan bu, saya akan melakukan apapun yang anda minta" ucap Rahmat masih memelas di hadapan Kirana. Ia hampir bertekuk lutut untuk meminta agar Kirana menarik keputusannya.


Sedingin dan setegas apapun manusia pasti memiliki hati nurani begitu juga dengan Kirana. Ia tidak tega melihat pria seusia ayahnya hampir berjongkok untuk memohon padanya.


"Eh, apa yang anda lakukan? Jangan seperti ini, pak" ucap Kirana membantu pria tersebut untuk berdiri.


"Saya akan melakukan apapun untuk anda. Tapi saya mohon jangan tarik saham anda, pak" lanjut Rahmat.


"Kesalahan dari pihak anda yang membuat saya terpaksa akan menarik saham saya. Bukankah di kontrak sudah jelas tertera bahwa saya tidak menerima kesalahan sekecil apapun. Dan jika terdapat kesalahan maka anda siap menerima konsekuensinya!" jelas Kirana dingin. Ia mengingatkan kembali apa yang tertera di surat perjanjian.


"Saya tau kesalahan tersebut fatal bu. Akan tetapi, dari pihak saya juga tidak tau mengapa ada alat penyadap di ruangan ini" kilah Rahmat. Karena ia sama sekali tidak tau menahu tentang alat penyadap tersebut.


"Saya tidak peduli anda tau atau tidak tentang alat itu. Yang saya tau staff resort anda tidak mematuhi perintah saya! Padahal niat saya datang kemari untuk meninjau secara langsung perkembangan resort ini dan menambah saham saya, tapi ternyata saya kecewa dengan kinerja staff anda! Saya permisi dulu, selamat pagi" ucap Kirana dingin dan langsung keluar dari ruangan rapat begitu saja.


Kirana memanggil Adrian melalui earphone yang sejak tadi sudah terhubung ke ponsel pintar Adrian.


"Adrian, kamu dengar apa hasil final keputusan saya? Tolong segera realisasikan atau kamu akan tau apa akibatnya!" ucap Kirana dingin dan berjalan dengan langkah tegap.


"Iya, gue denger. Lo, masih aja sama kayak dulu! Gue pikir setelah lo nikah, lo akan berubah ternyata masih sama kak" ledek Adrian dan langsung menghubungi anak buahnya melalui telpon kantor.


Setelah mengucapkan salam, Kirana mematikan sambungan telpon secara sepihak. Ia menuju kamarnya untuk menemui sang suami.


Clek.


Pintu kamar terbuka menampilkan pria tampan tengah duduk di balkon sambil memegang mushaf al-quran yang bisa ditebak bahwa pria itu tengah murojaah (mengulang hafalan).


Zaidan mengulang hafalannya dengan mata tertutup untuk memfokuskan konsentrasinya, sehingga ia tidak mengetahui bahwa Kirana sudah berada di sebelahnya.


Ada satu ayat yang lompat dan langsung di perbaiki oleh Kirana. Zaidan menghentikan aktivitasnya, ia langsung menoleh ke samping ternyata wanita cantik bak seorang putri sedang duduk menatap wajahnya sambil tersenyum.


"Lanjutkan By" ucap Kirana karena Zaidan menghentikan lantunan ayat suci al-quran setelah mendengar suara Kirana.


"Shadaqallahul-adzim" bukan melanjutkan lantunan ayat suci al-quran nya. Zaidan justru menyudahinya.


Kirana menatap intens manik mata hazel milik Zaidan. Ia juga mengerutkan dahinya seperti bertanya mengapa Zaidan menghentikan lantunan ayat suci al-quran nya.


"Aku udah selesai murojaah by. Sekarang aku mau jalan-jalan seperti yang kamu bilang" ucap Zaidan menagih janji Kirana semalam sebelum mereka praktek.


Kirana berjanji akan membawa Zaidan berkeliling resort dan mampir ke pantai senggigi. Sebagai penikmat pantai, Zaidan merasa senang akan dibawa kesana.


"Iya by, aku ganti baju dulu ya" ucap Kirana mencibir pipi Zaidan. Ia pun berganti pakaian dengan menggunakan hodie mint dan celana training saja. Tak lupa Kirana memakai masker agar tidak ada yang mengenalinya.


Setelah bersiap-siap dan hendak keluar kamar. Mereka berdua dikejutkan oleh pak Rahmat yang datang sambil memohon kepada Zaidan untuk membujuk Kirana agar merubah keputusannya.

__ADS_1


"Tuan Assaba saya mohon, tolong bujuk istri anda untuk merubah keputusan beliau dan tetap berinvestasi pada resort saya" ucap pak Rahmat dan membuat Zaidan kebingungan. Ia tidak tau tentang bisnis diantara keduanya.


"Saya mohon, tolong jangan cabut saham anda dari resort ini pak. Tuan saya mohon untuk membujuk istri anda. Coba bayangkan jika resort ini hancur, ada berapa orang yang akan kehilangan pekerjaan mereka pak, bu" lanjut Rahmat memelas.


Zaidan yang memiliki rasa simpati yang tinggi langsung tersenyum lembut ke arah pak Rahmat. Ia datang kesini untuk mensejahterakan masyarakat dan bukan menutup lowongan pekerjaan.


"Bapak tenang saja. Saham dari Fernada Group untuk resort anda tidak akan dicabut" putus Zaidan setelah mengobservasi apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi By" ucap Kirana ingin protes. Namun tatapan sinis Zaidan membuat Kirana harus mengurungkan niatnya atau suami tampan ini akan merajuk padanya. Lebih sulit membujuk Zaidan dari pada harus bersaing untuk memenangkan pasar Asia.


...----------------...


Setelah membereskan permasalahan saham, Zaidan mengajak Kirana untuk jalan-jalan pagi di pantai. Walaupun wajah Kirana ditekuk, baru kali ini ia mengubah keputusannya yang sudah final.


Bukan Zaidan namanya, jika tidak bisa mengendalikan Kirana. Jangankan Kirana, Calvin sebagai mas nya saja akan nurut padanya.


"By" panggil Zaidan dengan nada manja. Ia sengaja melakukan hal tersebut untuk melihat sejauh mana Kirana bisa tahan dengan sikap dinginnya.


Kirana hanya melirik dan memutar bola matanya malas. Ia kesal pada prianya, karena Zaidan dengan mudah mengendalikan perasaannya.


"By, maaf" ucap Zaidan berada di depan Kirana dengan memegang kedua telinganya.


Ekspresi wajah Zaidan yang sangat menggemaskan membuat Kirana goyah dan langsung mencubit pipi Zaidan.


"Gak perlu minta maaf, kamu gak salah kok. Aku cuman kesel aja" ucap Kirana tersenyum sambil menguyel-uyel pipi Zaidan.


'Sekali lagi dia bisa mengendalikan perasaanku' batin Kirana frustasi dengan hatinya yang sudah dicuri oleh Zaidan sepenuhnya.


"Kenapa kesel?" tanya Zaidan menggandeng lengan Kirana.


"Gak apa-apa By. Selesai jalan-jalan kita langsung ke tempat kegiatan ya" ucap Kirana tersenyum sambil mengacak-acak rambut Zaidan.


Zaidan bermain di pantai layaknya anak kecil dan Kirana siap dengan kameranya untuk mengabadikan momen tersebut.


Tak jauh dari tempat mereka berada, ada seorang gadis yang mengamati setiap pergerakan pasangan baru tersebut. Mata pria tersebut tak luput dari Zaidan karena ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah tampan pria tersebut.


Kirana melirik ke belakang. Ia melihat dari pantulan jam tangan digital nya, ada seseorang yang sengaja mengamati mereka.


"By, lihat apa?" tanya Zaidan mengikuti kemana arah pandang Kirana.


Kirana membalikkan badannya dan tersenyum pada Zaidan. "Gak ada by. Mau lihat foto tadi gak?" tanya Kirana mengalihkan pembicaraan.


"By fotoin aku?" tanya Zaidan yang tidak tau kalau dirinya sedang di foto.


"Iya, buat pengobat rindu kalau aku lagi kangen" goda Kirana. Namun ia masih menjaga sikapnya karena saat ini mereka sedang berada di tempat umum.


"Ish gombal!" celetuk Zaidan mencubit kecil lengan Kirana.


Kirana hanya meringis lalu tertawa kecil. Ia menunjukkan hasil jepretannya kepada sang suami. Zaidan terhenyak melihat foto-foto dirinya yang bergaya apa adanya. Namun malah terlihat aesthetic dan sempurna.


"Wah, kok bisa aesthetic sih" gumam Zaidan dengan antusias. Wajahnya tersenyum lebar membuat ketampanan Zaidan semakin terpancar. Ditambah dengan sinar matahari pagi, menambah indah wajah Zaidan.


"Bisa dong, siapa dulu fotografer nya" jawab Kirana percaya diri dan menaikkan kaca mata yang bertengger di hidungnya.


Mereka berdua berlarian diatas pasir putih. Saling menyipratkan air laut layaknya anak kecil. Kirana tertawa begitu lepas, sudah lama ia tidak sebahagia ini. Jangankan tertawa lepas, tersenyum saja Kirana jarang.


Dalam dua minggu, Zaidan bisa menaklukkan hati Kirana yang dingin hanya dengan perhatian kecil dan sikap manjanya. Hati Kirana seperti di porak-porandakan ketika Zaidan memberikan perhatian dengan penuh cinta. Sekarang, tidak ada lagi Kirana yang dingin. Yang ada hanyalah Kirana yang sedang jatuh cinta dengan sang suami. Semua kemauan Zaidan akan dituruti olehnya termasuk merubah keputusan tentang saham resort.


Hati Kirana sangat damai dan tentram jika berada di dekat Zaidan. Sekesal dan semarah apapun dia, jika menatap wajah sang suami maka luluh sudah hatinya.


Disaat ia sedang jatuh cinta, kenapa takdir harus memisahkannya? Walaupun hanya sebentar dan dia bisa saja datang kapan pun, tapi tetap saja ini tidak adil baginya.


Zaidan membangun sebuah istana dari pasir. Jika di LA, ia tidak diperbolehkan memegang pasir ataupun bermain di air. Papanya sangat ketat mengawasi Zaidan dan Calvin, jadi jika mereka ke pantai, mereka hanya bisa mengabadikan pemandangan pantai dari jauh tanpa bermain di tepinya. Berbeda dengan ini, ia bisa bermain sepuasnya. Ia bisa berlari di air, ia bisa bermain pasir dan membuat bangunan yang ingin ia buat.


Kirana mendekati Zaidan yang sedang asik membangun sebuah istana. Kirana hanya diam dan mengamati Zaidan saja, ia semakin jatuh cinta saat Zaidan melakukan selebrasi karena telah menyelesaikan istananya.


"Ternyata pria seperti ini yang aku butuhkan. Baik, manja, polos, dan seperti anak-anak. Dialah yang selama ini aku cari, bukan Kai" gumam Kirana tersenyum melihat tingkah aneh Zaidan yang mengapresiasi dirinya sendiri. Padahal hanya menyelesaikan sebuah istana pasir.


Zaidan malu sendiri saat Kirana memperhatikannya. 'Zaidan kenapa harus kayak anak-anak di depan Kirana sih? Lihat dia menertawakanmu!' batin Zaidan merutuki dirinya sendiri.


Kirana menghampiri Zaidan dan mengusap puncak kepalanya.


"Masya Allah, istana siapa ini by? Bagus banget" tanya Kirana antusias. Ia juga ingin mengapresiasi Zaidan yang sudah menyelesaikan sebuah istana pasir yang indah.


"Udah deh jangan ngeledek, by" jawab Zaidan kesal. Karena ia tau Kirana hanya berpura-pura antusias saja. Padahal di dalam hati wanita itu sedang tertawa melihat tingkah konyol Zaidan.


"Loh siapa yang ngeledek by? Aku kan nanya" kilah Kirana memeluk tubuh Zaidan.


"Ih! Lepasin by, ini tempat umum loh!" ucap Zaidan mendorong pelan tubuh Kirana.


Sebelum memeluk Zaidan. Kirana sudah memastikan bahwa di sekitarnya sepi, karena ia tidak ingin mengumbar kemesraannya di depan umum dan dijadikan konsumsi publik. Begitulah seharusnya pasangan muslim, yang terlihat biasa saja di depan publik, tapi mesra di belakang layar.


"Disini sunyi Zaiyang" seru Kirana semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi tetep aja by. Ini tempat umum, lepasin ih!" ucap Zaidan meronta.


"Iya, iya" lanjut Kirana mengalah dan melepaskan pelukannya. Selain ini tempat umum, Kirana juga tidak ingin ada yang mengenali Zaidan sebagai suaminya, paling tidak selama Zaidan berada di Lombok.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku by. Itu istana siapa heum?" tanya Kirana sekali lagi menunjuk ke istana pasir yang baru saja dibuat oleh Zaidan.


"Istana Arendelle" jawab Zaidan sambil memperbaiki bagian menaranya.


"Arendelle?" ucap Kirana memastikan pendengarannya tidak salah.


"Iya by, ini istana yang ada di film disney favorit aku, hehe" lanjut Zaidan terkekeh. Kirana yang mendengar hal itu kaget karena suaminya masih suka menonton film animasi padahal usianya sudah cukup dewasa.


"Kamu masih suka film animasi by?" tanya Kirana tidak percaya.


"Iya by" jawab Zaidan dengan singkat dan cepat.


'Pantes aja sikapnya terkadang kekanak-kanakan ternyata masih menonton film animasi' gumam Kirana terkekeh. Kirana berpikir karena Zaidan suka drama Korea, dia hanya menonton drama saja. Ternyata tidak, suaminya malah suka film animasi.


Kirana masih setia menunggu Zaidan sampai selesai memperbaiki menara yang jatuh karena sapuan ombak. Kirana menuliskan sesuatu di atas pasir putih dan membawa Zaidan untuk melihatnya.


"By, sini deh" panggil Kirana setelah selesai menulis.


Zaidan mengangguk, lalu berjalan ke arah Kirana yang berada tidak jauh darinya. Kirana menyuruh Zaidan untuk membaca tulisan tersebut.


"I Love U Bayi" begitulah tulisan tersebut. Kirana mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa tulisan tersebut ada kata 'Bayi' siapa yang bayi?


"Bayi siapa by?" tanya Zaidan menatap intens Kirana.


"Kamu lah, siapa lagi. Kamu kan bayi nya aku, by" ucap Kirana tersenyum dan ingin mencium bibir Zaidan. Namun ia sadar, saat ini mereka tengah di pantai.


"Ih! Kok bayi sih?" ucap Zaidan mendengus kesal karena dipanggil bayi.


"Yakan kamu memang bayi, Zaiyang. Lihat wajahmu yang sangat menggemaskan ini" ucap Kirana tersenyum gemas dan mengusap kepala Zaidan dengan gerakan lembut.

__ADS_1


"Aku gak bayi!" rengek Zaidan semakin membuat Kirana gemas. Ingin sekali rasanya ia menarik tangan Zaidan dan membawanya ke resort.


"Kamu bayi yang udah bisa mempunyai bayi" ledek Kirana sengaja agar Zaidan semakin kesal dan wajahnya akan memerah.


Zaidan diam dan tidak menanggapi ucapan Kirana. Ia memilih untuk melanjutkan istana nya yang belum sepenuhnya jadi.


"Bayi mau kemana? Gak ada niatan mau balas kata-kata aku tadi?" tanya Kirana mengejar Zaidan yang sudah berjalan meninggalkannya.


Zaidan diam dan tidak menjawab apapun. Ia sedang merajuk pada Kirana yang meledeknya dengan sebutan 'bayi'.


Zaidan memiliki ide untuk membalas tingkah jahil Kirana. Jangan panggil dia putra keluarga Assaba, jika tidak bisa membalas kejahilan Kirana.


Zaidan tiba-tiba berbalik dan menatap Kirana dengan wajah penuh teka-teki. Ia melangkah maju untuk mendekati Kirana.


"I Love U too moyi," ucap Zaidan tepat saat sampai di depan Kirana.


Kirana mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa Zaidan memanggilnya 'moyi'.


"Kenapa moyi by?" tanya Kirana heran.


"Karena tadi kamu manggil aku bayi dan sekarang aku manggil kamu moyi! Maminya bayi!" ucap Zaidan kesal.


"Ide bagus by. Jadi mulai sekarang aku manggil kamu bayi dan kamu manggil aku moyi, deal?" ucap Kirana menunggu kesepakatan dari Zaidan.


Zaidan ternganga. Ia kira Kirana akan kesal padanya dan menarik kata bayi. Namun dugaannya ternyata salah.


...----------------...


Selesai jalan-jalan, Zaidan ingin membeli udang goreng yang berjejer disana. Namun, Kirana mencegahnya karena ia tau kalau Zaidan alergi seafood dan ia tidak ingin alergi Zaidan kambuh.


"By, aku beli udang ya" bujuk Zaidan menarik lengan Kirana agar mau melepaskan genggamannya.


"Gak boleh bayi. Kamu itu alergi seafood!" ucap Kirana melarang suami tampan ini untuk membeli seafood. "Dan panggil aku moyi aja, kan kamu yang ngasih julukan itu" sambung Kirana.


Zaidan mendengus kesal. Ternyata hidupnya masih saja diatur, jika soal makanan. Dulu di keluarganya, setiap makanan yang akan masuk ke perut Zaidan maka harus di coba terlebih dahulu oleh juru masak. Ia tidak diperbolehkan makan, jika makanannya belum dinyatakan aman. Bukan tanpa alasan orang tuanya melakukan hal itu, karena sewaktu Zaidan masih kecil. Ia pernah keracunan makanan yang diberikan oleh teman bisnis papanya. Sejak kejadian itu, semua makanan yang masuk ke dalam mulut Zaidan harus diperiksa terlebih dahulu.


'Lihat aja nanti, kalau moyi pulang ke Jakarta. Aku bakal makan udang itu banyak-banyak. Hahaha...' batin Zaidan tertawa jahat.


Kirana yang melihat Zaidan senyum-senyum sendiri hanya mengedikkan bahunya.


"Bayi, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


"Gak apa-apa moyi. Aku mau ke resort sekarang" ucap Zaidan dan dibalas anggukan oleh Kirana.


Mereka berjalan berdampingan. Orang-orang mengira mereka adalah abang adik karena tinggi badan mereka sangat berbeda dan wajah Zaidan yang imut membuat orang di sekitar mereka berpikir demikian.


Mereka berdua tiba di lobby dan disambut oleh staff resort tersebut membungkukkan badan selama 5 detik.


"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak ada" jawab Kirana singkat dan langsung menggandeng tangan Zaidan untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Zaidan masuk lebih dulu ke dalam kamar VVIP yang hanya bisa diakses oleh Kirana. Jika tidak ada izin darinya, maka dua kamar VVIP di resort ini tidak akan disewakan.


Sementara Zaidan masuk, Kirana memberikan arahan untuk tetap berada di depan kamar mereka.


"Sesuai perintah dari anda bu" ucap pria berbadan tinggi dan besar. Jika dilihat dari penampilannya, maka bisa dipastikan bahwa dia adalah pemimpin bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga kamar Kirana.


Kirana tersenyum tipis. Lalu masuk ke dalam kamar. Ia duduk dan mengirimkan foto orang yang tadi mengikutinya dan juga Zaidan sewaktu mereka di pantai ke Adrian untuk diselidiki.


[Dek, cari tau tentang orang ini dan kirimkan data dirinya ke saya 20 menit lagi]


Adrian langsung mengetik. [Iya kak. Lo tenang aja. Btw jangan betah lo di Lombok ya! Bisa mati mendadak gue harus mengurus semuanya]


Kirana memilih untuk membiarkan pesan dari Adrian. Setelah itu ia menelpon pak Adi untuk menyiapkan mobil karena mereka akan pergi mengantarkan Zaidan ke tempat kegiatan sukarelawannya.


Zaidan keluar dari kamar mandi. Zaidan keluar dengan menggunakan kemeja berwarna putih dipadukan dengan celana polos berwarna navy. Kirana yang melihat penampilan casual Zaidan menatap nya dengan kagum. Karena selama mereka menikah, belum pernah sekalipun Kirana melihat Zaidan memakai pakaian selain koko dan juga kaos.


Pandangan Kirana menangkap kancing atas kemeja Zaidan belum terkancing. Ia melangkah dengan cepat, membuat jantung Zaidan berdetak lebih kencang. Kirana melangkah maju, sedangkan Zaidan terus mundur sampai menabrak tembok. Dengan cepat, Kirana mengunci Zaidan.


"Maksud ini apa bayi? Kamu sengaja mau memperlihatkan aset moyi ke orang lain, heum?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


Pandangan Zaidan mengikuti kemana arah pandang Kirana. Ternyata ke arah kancing baju bagian atasnya. Wajah Zaidan langsung memerah, ia sangat malu ketika ditegur oleh Kirana. Dengan cepat Zaidan mengancing bajunya.


'Zaidan, kenapa lo ceroboh? Mampus ditegur kan!' impat Zaidan dalam hati.


"Maaf moyi, aku gak ada niat buat" ucap Zaidan menunduk. Selain malu, ia juga tidak tau harus berbuat apa.


Kirana menggelengkan kepalanya. "Iya, moyi tau kok. Lain kali jangan ceroboh ya Zaiyang, untung moyi yang lihat. Kalau orang lain gimana?" tanya Kirana menangkupkan wajah Zaidan.


Zaidan memeluk tubuh atletis Kirana. Ia langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kirana. Entah mengapa setiap kali ia menenggelamkan wajahnya di dada Kirana, terasa sangat tenang dan tentram. Kirana membalas pelukan Zaidan dengan mengusap kepala Zaidan lembut dan penuh kasih sayang.


"Nanti kalau moyi pulang ke Jakarta, bayi jangan nakal ya. Kalau butuh sesuatu langsung telpon moyi, dan nanti bakal ada bodyguard yang menjaga bayi disini dan mengawasi setiap orang yang akan mendekati bayi nya moyi" jelas Kirana masih mengusap lembut kepala Zaidan.


"Kenapa harus ada bodyguard moyi?" tanya Zaidan yang sepertinya tidak suka di awasi. Ia pikir setelah menikah, maka Zaidan akan dengan leluasa melakukan kegiatan sukarelawan. Namun nyatanya tidak, Kirana lebih berhati-hati menjaga dan mengawasinya.


"Mereka gak akan ganggu kamu Zaiyang. Mereka moyi tugaskan untuk menjaga dan mengawasi kamu dalam radius 1 meter, jadi tugas mereka hanya mengawasi tanpa mengusik kegiatan kamu" jelas Kirana. Ia harus lebih berhati-hati menjaga Zaidan. Selain dia putra keluarga Assaba, Zaidan juga suaminya. Kirana tidak akan tinggal diam saat Elsa bisa saja menyakiti Zaidan.


"Tapi aku bisa jaga diri sendiri moyi. Gak perlu ada bodyguard" lanjut Zaidan dengan percaya diri dan malah mendapat kekehan dari Kirana.


"Hanya untuk berjaga-jaga aja Zaiyang, yaudah sekarang moyi mau mandi dulu ya. Tapi sebelum itu" ucap Kirana sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Zaidan yang penasaran dengan lanjutannya.


"Kenapa moyi? Moyi butuh sesuatu?" tanya Zaidan dengan nada yang sangat menggemaskan membuat Kirana tidak bisa menahan diri lagi untuk mencium bibir suaminya.


Setelah melakukan adegan panas itu, Kirana tersenyum lembut ke Zaidan sambil berbisik. "Sebenarnya moyi ingin yang lebih dari ini, tapi jadwal kamu gak keburu Zaiyang. Moyi juga harus ke panti asuhan dulu, kita lakukan lain kali ya" bisik Kirana membuat Zaidan bergidik ngeri.


"Panti?" tanya Zaidan memastikan bahwa Kirana memang ingin pergi ke panti asuhan.


"Iya bayi, moyi harus melihat bagaimana keadaan panti asuhan yang dibangun abah beberapa tahun yang lalu. Moyi juga harus memastikan bahwa anak-anak disana terawat dengan baik" jelas Kirana dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


"Berarti moyi sering dong ke Lombok?" Zaidan kembali bertanya membuat Kirana harus mengulur waktu untuk mandi.


"Sini moyi ceritain" ucap Kirana menarik tangan Zaidan dengan lembut dan menyuruhnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Moyi sering ke Lombok Zaiyang. Jadwal moyi ke Lombok itu sebulan sekali, tapi karena satu tahun belakangan ini moyi sibuk. Jadi moyi jarang mengunjungi panti dan hanya memantaunya lewat monitor. Karena sekarang moyi lagi di Lombok, yaudah sekalian aja lihat keadaan panti" jelas Kirana mengusap kepala Zaidan. Rasanya candu sekali mengusap kepala pangerannya itu.


"Moyi, aku boleh ikut ke panti?" tanya Zaidan dengan antusias.


"Jangan sekarang ya bayi. Kamu kan harus mempersiapkan perlengkapan untuk kegiatan besok" jawab Kirana dengan lembut membuat Zaidan kecewa. Jelas terlihat diwajah Zaidan, bahwa pria itu sedang kecewa.


'Sebenarnya poyi juga ingin mengenalkanmu ke semua kolega serta bawahan poyi. Tapi, poyi gak mau ambil resiko lebih jauh lagi' batin Kirana. Hatinya seperti tergores siluet tajam saat melihat Zaidan kecewa.


Zaidan tersenyum. Ia tidak ingin Kirana merasa bersalah hanya karena dirinya kecewa tidak dikasih untuk ikut ke panti asuhan keluarganya.


"Yaudah moyi gak apa-apa kok. Lain kali kan bisa ikut moyi ke panti" ucap Zaidan masih dengan antusiasme yang tinggi. Jika menyangkut anak-anak, maka sikap antusias Zaidan akan tetap tinggi.


Kirana tersenyum lembut dan mencium pipi kanan Zaidan. Setelah itu ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2