Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
:)


__ADS_3

Kirana sengaja memberi jeda waktu agar Zaidan semakin penasaran dengan keputusan darinya.


"Apa keputusanmu? Cepetan ih!" ucap Zaidan kesal.


"Setelah saya pikir-pikir, saya memutuskan untuk" Kirana sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tau kalau Zaidan mudah merasa penasaran dan ia suka dengan sifat penasaran Zaidan.


"Untuk apa?" tanya Zaidan serius mendengarkan keputusan Kirana.


Cup.


Satu kecupan mendarat manis di bibir Zaidan, membuat tubuh Zaidan menegang seketika. Pipi Zaidan memerah dan panas karena Kirana tidak memberikan aba-aba dan langsung menyerangnya.


Zaidan mengibaskan tangannya, ia merasa gerah padahal Ac di kamar mereka menyala. Kirana mengetahui perubahan raut wajah Zaidan dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Ehm, maaf saya khilaf" ucap Kirana menetralkan suaranya agar tidak kelihatan seperti orang yang sedang gugup.


Zaidan hanya mengangguk pelan, ia masih tegang dan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


"Jangan terlalu serius! Kamu sudah seperti orang yang di interview kerja. Kita lanjut keputusan apa yang akan saya ambil dan yang tadi anggap saja iklan" sambung Kirana dingin dan masih menetralkan suaranya.


"Heum? Ah iya Kirana apa keputusan mu?" ucap Zaidan canggung.


"Sebelum saya memberi tau keputusan saya, kamu ingin tau satu rahasia saya atau gak?" tanya Kirana dengan sengaja mempermainkan rasa penasaran Zaidan.


"Kamu punya rahasia?" tanya Zaidan dengan raut wajah semakin penasaran dengan semua ucapan Kirana.


'Benar dugaan ku, pria ini sangat mudah penasaran' batin Kirana tertawa gemas.


"Iya, mau tau?" sambung Kirana menjahili Zaidan.


Zaidan mengangguk pelan, ia ragu kalau rahasia Kirana malah akan menyakitinya.


"Tadi saya digigit kucing pembohong" seru Kirana memperlihatkan bekas gigitan Zaidan.


"Oh iya? Tapi aku gak lihat tuh ada kucing di rumah ini, Kirana sembunyikan dimana?" tanya Zaidan dengan semua rasa penasarannya. Ia masih tidak peka kalau sedang dipermainkan oleh Kirana.


"Ada, coba kamu cari kucingnya ada disini" Kirana terus membuat Zaidan agar merasa penasaran.


Zaidan menurut Kirana, ia pun dengan polos mencari keberadaan kucing yang dikatakan Kirana.


"Mpus where are you? Kata Kirana ada mpus disini" Zaidan memanggil kucing dengan antusias dan wajah polosnya. Kirana tertawa renyah saat melihat wajah polos Zaidan.


Zaidan melirik ke arah Kirana " Kamu tertawa?" tanya Zaidan heran.


"Habisnya kamu lucu" ucap Kirana mencubit pipi Zaidan dengan gemas.


Deg.


'Ternyata kamu bisa tertawa juga' batin Zaidan tersenyum ke arah Kirana.


Kirana merasa ada yang salah pada dirinya, sejak pagi, ia sangat gemas pada Zaidan dan ingin terus menjahili pria itu.

__ADS_1


"Kucing nya dimana?" Zaidan masih terus penasaran dengan kucing yang dikatakan Kirana.


"Disini" jawab Kirana terus menguyel-uyel pipi chubby Zaidan.


Zaidan berdecak kesal karena dari tadi dirinya lah yang dimaksud Kirana sebagai kucing liar, tapi ia tidak ingat kapan menggigit tangan Kirana hingga terluka.


"Lah kok aku?" Zaidan masih merasa bahwa bukan dirinya yang menggigit tangan Kirana hingga terluka.


"Kalau bukan kamu siapa lagi Zaidan?" tanya Kirana.


"Ya mana aku tau, kan kamu punya banyak rahasia!" ucap Zaidan kesal.


Kirana menggelengkan kepalanya melihat pria ini, ternyata Zaidan sangat polos dengan begitu banyak rasa penasaran dengan sesuatu yang terjadi di sekitarnya.


"Terus keputusan mu apa?" Zaidan masih penasaran apakah dirinya bisa pergi ke Lombok atau tidak.


"Saya belum mengambil keputusan apa-apa" ucap Kirana dengan santai tanpa merasa bersalah telah mempermainkan rasa penasaran Zaidan.


Zaidan merasa kesal karena dirinya dipermainkan oleh Kirana.


"Kalau kamu gak izini, aku bakal laporin loh" ancam Zaidan dengan merengut kesal.


"Oh ya? Saya juga bisa laporin kamu, bahkan lebih parah" ucap Kirana miris.


Zaidan menarik nafas panjang, ia sangat kesal pada Kirana. Zaidan beralih membuka bingkisan dari kolega Kirana untuk mengembalikan mood nya yang hancur karena kesal pada Kirana.


Senyum Zaidan merekah saat ia melihat permainan uno stacko kayu, ia pun memiliki ide agar Kirana mengizinkannya pergi. Zaidan mendatangi Kirana dan memeluknya. Kirana yang mendapat serangan tiba-tiba dari Zaidan merasa terkejut.


"Kirana, main yuk" ucap Zaidan bergelayut manja pada Kirana.


"Main? Udah mau ashar Zaidan" tolak Kirana dengan lembut dan membiarkan Zaidan bermanja ria dengannya. Tubuh nya pun merespon pelukan Zaidan.


"Terus kenapa?" ucap Zaidan cemberut masih memeluk manja tubuh atletis Kirana dari belakang.


"Gak keburu sholat ashar, nanti malam aja ya" ucap Kirana mengelus pelan pipi Zaidan, ia tidak mengira bahwa Zaidan yang mengajaknya main lebih dulu.


"Bantaran doang, ayo ih!" Zaidan masih memeluk manja tubuh atletis Kirana dari belakang.


Sebagai manusia biasa pasti tubuh Kirana merespon pelukan dari Zaidan dan ia tidak merasa keberatan saat Zaidan memeluknya dengan sangat manja.


"Saya mau ke masjid mas, nanti gak keburu" Kirana masih menolak ajakan Zaidan untuk bermain.


"Tunggu kayaknya kamu salah paham deh! Maksud aku tuh main itu! Hayo pikiran kamu travelling kemana?" ucap Zaidan menunjuk ke arah uno stacko yang baru saja ia dapatkan dari salah satu bingkisan hadiah pernikahan mereka.


'Astaghfirullah, bisa-bisanya aku travelling' batin Kirana, ia merasa kecewa saat Zaidan melepaskan pelukannya.


"Hah?" tanya Kirana terkejut.


"Ayo ih! Aku gabut, buruan!" Zaidan menarik Kirana untuk duduk di karpet, ia mengambil permainan uno stacko tersebut dan menyusunnya.


"Saya tidak ingin main itu mas" ucap Kirana dingin.

__ADS_1


"Harus mau! Nanti aku laporin bunda kalau Kirana gak mau diajak main!" ancam Zaidan sambil terus menyusun uno stacko sampai berbentuk menara.


"Jangan! Nanti bunda salah paham dengan kata-kata kamu" Kirana terpaksa mengikuti keinginan Zaidan yang ingin bermain permainan uno stacko.


"Peraturannya harus ambil bagian tengah menara, gak boleh bagian atas! Terus susun lagi ke atas, siapa yang hancurin menaranya dia yang kalah dan harus menuruti satu keinginan pemenang!" ucap Zaidan dengan percaya diri. Ia sudah mengatur rencana agar Kirana mau menandatangi surat persetujuan sukarelawan.


Kirana menghela napas kasar, dan menyetujui ajakan Zaidan atau bisa-bisa pria itu melapor pada bunda nya dan berkata yang tidak-tidak.


'Hih! Kita lihat siapa yang akan menang' batin Kirana tersenyum jahat.


"Oke tidak buruk" jawab Kirana menerima tawaran Zaidan.


Mereka berdua bermain dengan serius, Zaidan tidak mau kalah dari Kirana. Ia pun mencari cara agar Kirana kalah namun malah dirinya lah yang hampir kalah.


"No!!" teriak Zaidan memicingkan matanya.


"Kenapa? Takut kalah?" ledek Kirana membuat Zaidan berdecak kesal.


Kirana ingin mengambil balok di bagian tengah, ia sangat berhati-hati dan memperhatikan keseimbangan dari menara tersebut, namun sial menara itu malah hancur dan membuat Zaidan tertawa lepas.


"Haha, Kirana kalah yeay aku menang, mwleee" ledek Zaidan, kemudian pria itu melakukan celebration seperti telah memenangkan kejuaraan dunia padahal hanya menang dalam permainan uno stacko.


Zaidan mengambil surat persetujuan sukarelawan yang berada di atas nakas, beruntung kakinya sudah sembuh karena di urut oleh Kirana.


"Nih aku mau kamu tandatangi surat ini" ucap Zaidan dengan tersenyum menyerahkan surat persetujuan tersebut.


"Gak!" jawab Kirana singkat.


"Ih! Gak asik dong, kan perjanjian sebelum main tadi siapa yang kalah nuruti satu permintaan pemenang" ucap Zaidan mengerucutkan bibirnya.


"Yang buat kesepakatan siapa? Yang maksa saya buat ikut andil dalam permainan ini siapa?" tanya Kirana dingin.


"Hih! Gak gitu! Tanda tangani cepat!!" Zaidan terus meminta Kirana untuk menandatangi surat persetujuan tersebut.


"Gak!" Kirana berlalu meninggalkan Zaidan yang sedang memelas untuk meminta persetujuan darinya.


"Kirana jahat!" ucap Zaidan ketus.


"Terus kenapa?" tanya Kirana berbalik ke arah Zaidan.


"Aku mau pergi ke kegiatan sukarelawan itu kamu izini napa!" bukan minta dengan baik-baik Zaidan malah ketus pada Kirana.


"Kenapa kamu sangat ingin pergi ?" tanya Kirana dengan mengintimidasi.


"Karena aku kan baru tiga tahun di Indonesia, terus aku mau ketemu anak-anak disana, anggap aja ini liburan buatku" ucap Zaidan dengan kesal.


"Enak ya liburan ke Lombok sendirian" ucap Kirana datar.


"Gak! Gak bisa!" sambungnya lagi. Kirana masih tetap teguh pada pendiriannya.


"Iih! Bisa dong!" ucap Zaidan ketus.

__ADS_1


Mereka berdua kembali berdebat tentang keputusan apakah Zaidan akan pergi ke Lombok atau tidak dan sampai sekarang pun Kirana belum menentukan keputusannya.


"Oke silahkan pergi, tapi..." Kirana kembali menggantungkan kalimatnya agar Zaidan merasa penasaran. Kirana sangat suka melihat wajah Zaidan ketika sedang merasa penasaran.


__ADS_2