
Zaidan menyiapkan baju gamis dan baju Koko untuk Kirana dan dirinya buat pergi ke masjid. Tak lupa juga Zaidan menyiapkan baju serta celana yang akan Kirana kenakan untuk pergi ke kantor.
'Hari ini apakah jin baik atau jin jahat yang masuk ke dalam tubuh Kirana?' Zaidan melirik sekilas ke arah Kirana.
"Kenapa lirikin saya? Ada yang salah?" tanya Kirana yang peka jika dilirik oleh Zaidan.
"Gak!" ucap Zaidan dan berlalu membereskan sofa serta tempat tidur agar tidak berantakan.
Zaidan selesai membereskan semua, lalu mencari keberadaan Kirana yang tidak nampak batang hidungnya. Sedetik kemudian Kirana keluar dari dari kamar mandi dan menggunakan duk sepinggang dan membuat Zaidan kaget saat melihatnya.
"Astaghfirullah" ucap Zaidan menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Kirana dengan baju polos yang begitu banyak, padahal ia sengaja meninggalkan baju gamis yang disiapkan Zaidan untuk pergi ke masjid.
"Kebiasaan deh!" ucap Zaidan kesal.
"Kan di LA udah biasa lihat pemandangan seperti ini" seru Kirana sambil memakai baju gamisnya.
Ia sengaja berlama-lama mengancingkan bajunya untuk sekedar menjahili Zaidan.
"Gak! Aku gak pernah lihat selain kamu Kirana!" ucap Zaidan dengan ketus. Ia tak habis pikir dengan Kirana, padahal Zaidan sudah pernah bilang kalau ia tidak suka jika Kirana shirtless.
"Oh iya?" tanya Kirana dan tidak sengaja menarik kancing baju gamisnya dan membuat kancing itu terlepas.
Kirana melirik ke arah Zaidan, kali ini ia butuh bantuan pria itu untuk menjahit kancing baju gamis yang akan ia kenakan untuk pergi ke masjid.
"Zaidan..." panggil Kirana pelan.
"Hmm"
"Kancing baju beli saya lepas bisa tolong jahitkan?" tanya Kirana sambil menatap Zaidan.
"Yaudah lepas, biar aku jahit" jawab Zaidan dengan ragu. Ia ragu jika Kirana masih shirtless dan sengaja menggodanya.
"Kalau di lepas nanti gak keburu ke masjid, mas Zaidan" sambung Kirana.
Zaidan memicingkan matanya dan memastikan bahwa Kirana memang sudah memakai pakaian"Bagian mana yang lepas?" tanyanya lagi.
"Atas" jawab Kirana singkat.
"Yaudah gak usah dikancing" sambungnya lagi.
"Kalau gak dikancing, V neck nya terlalu turun Zaidan" kilah Kirana. Padahal ia sangat ingin memandangi wajah Zaidan tanpa sepengetahuan pria itu.
"Yaudah ganti baju aja, kan baju gamis kamu banyak!" ucap Zaidan menghindari Kirana. Ia yakin betul kalau ini hanya akal bulus Kirana aja.
Kirana menggelengkan kepalanya "Saya ingin memakai ini! Saya sudah menuruti keinginanmu dengan mengizinkan pergi ke Lombok jadi sekarang kamu harus menuruti keinginan saya!" sambung Kirana lagi.
Zaidan hanya menghela napas pasrah dan beranjak mengambil jarum serta benang untuk menjahit kancing baju Kirana. Dengan lihai Zaidan memainkan jarum jahit tersebut, ia memang sudah terbiasa dengan jarum jahit karena pekerjaannya mengharuskan Zaidan pintar menjahit apalagi menjahit kulit manusia sudah biasa ia kerjakan.
Tidak butuh waktu lama bagi Zaidan menyelesaikan jahitannya, waktu koas dan ada tugas hetting saja ia hanya membutuhkan waktu 15 menit apalagi hanya jahit kancing baju, ia hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk itu.
"Udah Kirana" ucap Zaidan membereskan benang dan jarum jahit tersebut.
Kirana mengerutkan dahinya, ia pikir akan lama dan ia bisa memandangi wajah tampan Zaidan tapi ternyata pria itu menyelesaikannya dengan cepat.
"Terima kasih" ucap Kirana mengecup pipi Zaidan membuat pria itu terhentak kaget.
Pipi Zaidan merah merona seperti kepiting rebus, pria itu memang mudah sekali merona.
"Ih batal loh wudhunya!" kata Zaidan memukul bidang pelan dada Kirana.
"Nanti bisa wudhu lagi" ucap Kirana dan ia pun mengambil wudhu kembali.
Kirana dan Zaidan pergi ke masjid seperti biasa.
......................
Setelah selesai sholat subuh, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum mulai memasak sarapan pagi.
Setelah berganti pakaian, Zaidan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan pagi. Hari ini ia ingin membuat sandwich telur spesial. Zaidan sudah terbiasa hanya makan roti jika di pagi hari, makanya ia ingin membuat sandwich selain enak, sandwich juga menyehatkan.
Saat Zaidan sedang asik membuat sandwich, suara bel berbunyi. Ia mengira itu adalah Kirana.
"Kirana kok tumben bunyiin bel? Kan bisa langsung masuk" gumam Zaidan mengangkat bahunya dan berjalan menuju pintu utama untuk membukanya.
Zaidan mengintip dari layar kecil yang terpasang di pintu dan ternyata Calvin yang datang. Zaidan tersenyum lebar saat mengetahui abang kesayangannya itu datang, dengan sigap Zaidan membuka pintu besar tersebut.
"Assalamualaikum mas Calvin" sapa Zaidan memeluk Calvin dengan sangat antusias. Ia sudah sangat kangen dengan kejahilan abangnya.
"Waalaikumussalam warahmatullah Zaidan, apa kabar dek?" tanya Calvin mengacak-acak rambut Zaidan dan membuat pria itu berdecak kesal.
"Alhamdulillah Zaidan baik mas, masuk dulu yuk mas. Zaidan lagi buat sarapan, mas tunggu disini dulu ya" ucap Zaidan mempersilahkan Calvin masuk ke dalam rumahnya.
Calvin mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah Kirana dan Zaidan. Konsep rumah Kirana tidak terlalu berbeda dengan konsep rumah papa Zaidan.
Perbedaannya hanya terletak pada keamanan rumah ini yang sangat ketat, bahkan Calvin harus melalui tiga kali pemeriksaan sebelum berhasil masuk untuk menemui adik satu-satunya itu.
Zaidan meninggalkan Calvin di ruang tamu, sementara dirinya melanjutkan membuat sarapan pagi untuk seluruh orang yang ada di rumah ini. Setelah selesai, Zaidan langsung mendatangi sang abang.
Zaidan langsung memeluk Calvin dengan manja, ia sangat suka bermanja-manja dengan Calvin.
"Ih! Udah punya istri juga, masih aja manja sama mas!" ledek Calvin membuat Zaidan merengut dan menekuk wajahnya.
"Biarin! Selagi masih bisa manja sama mas, kenapa enggak?" kilah Zaidan masih memeluk Calvin melepaskan segala kerinduannya.
Kirana yang baru pulang dari masjid terkejut saat melihat Zaidan sedang berduaan dengan seorang pria yang tidak nampak wajahnya. Rahang Kirana mengeras saat Zaidan mengelus pipi pria tersebut, namun ia mencoba untuk tenang dan tidak gegabah.
Zaidan melihat Kirana yang baru saja keluar dari masjid, dan langsung menghampirinya dan seperti biasa memeluk Kirana.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa Kirana dingin
"Waalaikumsalam Kirana" ucap Zaidan mencium pipi Kirana.
Kirana dan Zaidan jalan berdampingan membuat Calvin senang melihatnya.
'Ternyata adik kecil ku udah dewasa' batin Calvin tersenyum melihat pengantin baru yang berjalan berdampingan itu.
"Baru pulang bos?" tanya Calvin dengan tersenyum ramah.
"Iya pak dokter" jawab Kirana canggung.
"Ih kalian ini! Yang satu manggilnya bos, yang satu lagi pak dokter lah, Zaidan kalian anggap apa hah!" ucap Zaidan kesal karena Kirana dan Calvin berbicara layaknya orang asing, padahal mereka berdua kerabat dekat.
"Kamu adik mas yang paling bawel!" jawab Calvin mencubit gemas pipi Zaidan.
"Kamu suami saya" sambung Kirana tersenyum samar. Ia canggung jika harus mencubit pipi Zaidan di depan Calvin, padahal hatinya ingin sekali mencubit pipi Zaidan.
"Yaudah kalau gitu berarti Kirana manggil mas Calvin dengan sebutan mas juga, kan kalian punya hubungan, masa saudara manggilnya formal!" jelas Zaidan dengan manja, membuat Kirana menggigit bibir bawahnya menahan diri agar tidak khilaf.
"Iya bawel!" jawab mereka berdua kompak.
"Ih! Sok kompak!" umpat Zaidan kesal karena di bilang bawel.
"Btw aku udah buat sandwich untuk sarapan, kalian berdua sarapan dulu gih nanti keburu dingin sandwhich nya" perintah Zaidan dan dituruti oleh Calvin serta Kirana
"Aku mau panggil bunda ke atas dulu, kalian duluan aja ke meja makan ya mas, Kirana" sambung Zaidan lagi. Ia berlari di tangga seperti biasa, padahal baru kemarin kakinya terkilir. Tapi pria itu masih saja tetap berlari.
Kirana dan Calvin berbincang ringan di meja makan. Calvin sedikit mengintimidasi adik iparnya itu, ia masih sedikit ragu menyerahkan Zaidan pada Kirana.
"Zaidan enggak merepotkan kamu kan?" tanya Calvin di sela-sela makannya.
"Sama sekali enggak kok mas, Zaidan pria yang mandiri walau terkadang suka bosan" jawab Kirana terkekeh.
'Malah saya yang merepotkan dia' batin Kirana canggung.
Calvin mengangguk paham "Zaidan itu mudah sekali bosan, karena dari kecil pria itu selalu ambisius dalam belajar dan selalu mengerjakan sesuatu untuk mengisi waktu luang. Bahkan disaat teman-temannya liburan musim panas, Zaidan ikut kegiatan volunteering atau ambil kelas tambahan" jelas Calvin.
"Oh gitu, pantes aja suka bosen oh iya mas, Zaidan kan hafiz terus bagaimana Zaidan bisa menghafal al-qur'an?" kini Kirana semakin penasaran dengan kehidupan pria itu. Wajar saja mereka baru bertemu lima kali, pertama di rumahnya, kedua di rumah Zaidan, ketiga di acara tunangan, keempat fitting buju, kelima pernikahan mereka.
Calvin mengerutkan dahinya, ia sedikit bingung dengan pertanyaan Kirana yang ambigu. Kirana langsung paham dengan ekspresi abang iparnya itu langsung mengulangi pertanyaannya.
"Ehm maksud Kirana, lingkungan disana kan berbeda dengan Indonesia, terus bagaimana Zaidan bisa menghafal al-qur'an di lingkungan yang seperti itu, mas?" tanya Kirana mengulangi pertanyaanya.
"Dulu papa..." ucapan Calvin terhenti karena melihat seorang pangeran yang sangat ia sayangi tiba di meja makan bersama bunda Carissa.
Kirana yang sudah antusias untuk mendengarkan kisah Zaidan harus menahan diri dan sabar untuk mengetahui keseluruhan kisah dari pria itu karena Zaidan sudah tiba di meja makan.
"Mas, Kirana" panggil Zaidan membuat Calvin dan Kirana menoleh ke arahnya.
" Hehehe gak jadi" ucap Zaidan tersenyum manja
"Calvin, bagaimana kabarmu?" Tanya Carissa sedang makan bersama.
"Alhamdulillah Calvin baik bun. Bunda sendiri apa kabar?" jawab Calvin masih sedikit canggung dengan mertuanya Zaidan.
"Alhamdulillah, bunda baik-baik saja" kata Carissa lembut dan tersenyum.
Mereka semua tampak menikmati sandwich yang dibuat oleh Zaidan. Pasangan yang baru saja menikah itu hanya curi-curi pandang, lebih tepatnya Kirana yang mencuri pandang pada Zaidan.
Setelah selesai sarapan, mereka semua berbicara di kamar kami.
"Mas Calvin enggak kesulitan masuk ke rumah ini kan?" tanya Kirana mencoba untuk akrab pada Kevin, karena mereka hanya berbicara beberapa kali sebelum pernikahan, itu pun hanya membahas tentang pernikahan.
"Sulit sih, saya diperiksa tiga kali. Di gerbang utama, gerbang mau masuk ke kompleks kalian, dan di pagar depan rumah kalian" jawab Calvin dengan terkekeh.
"Maaf ya mas, lain kali saya akan bilang ke security yang bertugas kalau mas kerabat kami, dan plat nomor mobil abi sama mobil mas biar saya daftarkan di gerbang utama. Biar mudah untuk masuk kesini" ucap Kirana canggung.
Calvin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Kirana. Ia paham jika di perumahan elite keamanannya lebih ketat dibanding cluster.
"Tenang aja, enggak apa-apa kok" sambung Calvin menepuk pundak Kirana.
"Tapi kan mas, kemarin itu kok bisa ada gerombolan orang masuk kesini? Terus juga kak Amel mudah masuk sini. Sedangkan Zaidan yang udah jelas-jelas pakai mobil mas Kirana aja harus diperiksa dulu" ucap Zaidan bersandar di pundak Calvin.
Calvin merasa tidak nyaman jika Zaidan menyandar padanya karena Kirana ada di sini, dan Zaidan juga sudah menikah dia seharusnya menyandar pada Kirana.
"Ih! Kebiasaan deh! Sandaran sama istri mu sana! Jangan sama mas lagi!" ucap Calvin menyingkirkan kepala Zaidan, namun pria itu tetap bersikeras bersandar pada Calvin.
"Udah gak apa-apa mas, mungkin Zaidan lagi kangen sama mas" ucap Kirana lembut. Ia hanya tidak ingin jika Zaidan mengoceh pada keluarganya kalau Kirana bersikap dingin pada pria itu.
"Gerombolan orang yang pernah datang kesini itu teman-teman dari organisasi Kirana, kenapa Kirana gak suruh masuk ke dalam rumah? Karena Kirana takut kamu terganggu, jadinya mas suruh pak Yanto buat menjamu mereka di luar rumah. Kalau dokter Amel, Kirana juga gak tau kenapa bisa masuk" jelas Kirana terpaksa berbohong karena ia tidak ingin Calvin merasa khawatir tentang keselamatan Zaidan.
'Eh wait, cara bicara gunung es kok beda? Kesambet jin baik nih orang!' gumam Zaidan heran.
Zaidan mengangguk paham. Ia memang tidak terlalu suka keramaian tapi ia suka penasaran dengan lingkungan sekitar.
Zaidan beralih menatap Calvin dan meminta kartu debit miliknya, lebih tepatnya milik Calvin.
"Black card Zaidan mana mas?" tanya Zaidan meminta black cardnya pada Calvin.
"Iya sabar dulu dek" jawab Calvin. Ia pun membuka dompet dan mengambil kartu debit miliknya yang ia serahkan pada Zaidan sejak pria itu kembali ke Indonesia.
"Nih btw itu black card mas lo dek, urus sendiri sana!" ucap Calvin menyerahkan black card tersebut pada Zaidan.
"Dih! Ngapain susah-susah urus black card, kan punya mas Calvin ada. Lagian kalau Zaidan urus sendiri nanti yang ngisi juga mas Calvin kan?" ucap Zaidan dengan santai.
"Gini amat punya adek!" sambung Calvin menjauhkan kepala Zaidan dari pundaknya.
Zaidan menatap Calvin dengan tajam seperti ingin menerkam sebuah mangsa.
__ADS_1
"Yaudah nih, Zaidan balikin! Gak butuh juga black card kayak gini!" ucap Zaidan ketus.
"Yah, ngambek" ucap Calvin sambil tertawa kecil.
Zaidan menekuk wajahnya kesal, moodnya berubah karena Calvin terus menjahilinya.
"Udah jangan ditekuk gitu mukanya. Nanti tampannya hilang loh, Kirana gak suka lagi sama kamu" Calvin membujuk Zaidan, namun pria itu sudah terlanjur kesal dan sulit untuk di bujuk.
Kirana mengelus pelan puncak kepala Zaidan sembari tersenyum lembut ke arahnya.
"Jangan gitu sama mas Calvin, gak baik. Nanti Kirana kasih kartu debit punya Kirana ya, heum?" ucap Kirana membujuk Zaidan agar tidak merajuk kepada abangnya.
'Fiks sih ini, kesambet jin baik!' gumam Zaidan melihat lengkungan tipis di bibir Kirana.
"Tapi kan itu kartu aku! Kata papa itu punyaku, dan ingat ya mas Calvin, harta mas harta Zaidan. Harta Zaidan ya harta Zaidan!" seru Zaidan ketus.
Calvin dan Kirana tersenyum melihat tingkah Zaidan yang kekanak-kanakan.
Calvin beralih mengelus puncak kepala Zaidan dengan lembut.
"Sayang, kamu mau ambil seluruh harta mas, bakal mas kasih kok. Di dunia ini selain papa dan bunda, ambillah harta yang paling berharga untuk kami. Udah ih, jangan mayun gitu, sini peluk mas, katanya kangen" ucap Calvin lirih.
Zaidan berhambur memeluk Calvin dan menangis dalam pelukan masnya. Ia kira Calvin tidak akan sayang lagi padanya, karena ia sudah menikah.
"Mas, masih sayang kan sama Zaidan?" tanya Zaidan dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bersalah sudah ketus pada masnya itu.
"Dek, ingat ini ya, sampai kapanpun kamu tetap adek kesayangan mas, kamu tetap adek kecil mas" ucap Calvin masih mengusap kepala Zaidan dengan lembut.
"Jadi, jangan pernah berpikir kalau mas enggak sayang lagi sama kamu. Tadi mas cuman bercanda, kayaknya mood kamu lagi jelek ya, heum?" sambung Calvin dengan nada lembut.
Zaidan mendongakkan kepalanya, dan menatap ke arah Calvin.
"Maafin Zaidan ya mas, Zaidan tadi ketus sama mas" ucap Zaidan merasa bersalah pada Calvin.
"Iya, udah jangan di pikirin lagi, mas tetap sayang sama kamu sampai kapanpun, kamu tetap prioritas mas" ucap Calvin menyerka air mata Zaidan.
Kirana terharu melihat persaudaraan Calvin dan juga Zaidan. Rasa sayang Calvin ke Zaidan sangatlah besar, membuat Kirana berpikir dua kali untuk melepaskan pria itu.
"Oh iya, mas denger Zaidan mau ikut kegiatan sukarelawan ya? Kirana ikut ?" tanya Calvin melihat ke arah Kirana.
"Kirana gak bisa ikut mas, kan khusus tenaga medis" jawab Kirana.
"Iya, mas lupa" ucap Calvin mengangguk.
Calvin meraih tangan Kirana dan juga Zaidan sambil berucap "Kirana, mas titip adik kecil mas ya, sikapnya masih kurang dewasa, kamu harus sabar menghadapinya" ucap Calvin tersenyum kecil.
'Kurang dewasa? Selama ini Zaidan lah yang lebih dewasa dariku' gumam Kirana heran dengan ucapan Calvin.
"Jaga Kirana baik-baik, jangan pernah membuatnya meneteskan air mata! Jika kamu berani menyakiti hati Kirana, kita lihat apa yang akan terjadi!" ancam Calvin serius walaupun dengan nada bicara santai.
"Insya Allah Zaidan akan menjaga Kirana sebaik mungkin kak" kata Zaidan.
Calvin mengangguk pelan, dan ia pamit untuk ke rumah sakit karena sudah ada temu janji dengan pasiennya.
"Yaudah kalau gitu, mas berangkat ke rumah sakit dulu ya, Kirana, Zaidan" pamit Calvin beranjak dari tempat duduknya.
"Oh iya, mas hampir lupa. Ini id card kamu dek, kalau enggak ada ini, kamu enggak bisa masuk ke ruangan mu" sambung Calvin menyerahkan id card milik Zaidan.
"Makasih ya mas" ucap Zaidan mengambil id card miliknya.
"Iya sama-sama, assalamualaikum" jawab Calvin mengelus kepala Zaidan.
Setelah Calvin pamit pergi, Kirana ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Seperti biasa, Kirana selalu meminta bantuan Zaidan untuk mengancingkan bajunya.
"Zaidan" panggil Kirana sambil menatap Zaidan yang sedang memegang tasnya.
"Iya Kirana" jawab Zaidan, melirik sekilas ke arah Kirana.
"Bisa tolong naikkan kancing kan baju belakang saya ?" tanya Kirana canggung. Ia tidak biasa meminta tolong pada orang lain, tapi kali ini ia benar-benar butuh bantu Aisyah.
Zaidan mengangguk dan berjalan ke arah Kirana. Ia menaikkan resleting Kirana.
Setelah selesai, Kirana mencium puncak kepala Zaidan dengan lembut, membuat Zaidan terhenyak.
"Makasih" ucap Kirana tersenyum manis ke arah Zaidan.
'Fiks kesambet jin baik di Masjid tadi' batin Zaidan heran melihat perubahan Kirana.
Zaidan mengangguk dan tersenyum ke arah Kirana.
"Nanti bakalan ada orang yang datang untuk mengantarkan lemari, minta pak Yanto untuk memasukkan ke kamar kita ya" ucap Kirana sambil memakai sepatunya.
Zaidan mengangguk dan tersenyum pada Kirana.
"Kenapa diem aja, heum? Ada siapa yang sakit? Oh ya, tidur nanti dulu, saya akan pulang larut karena jadwal hari ini benar-benar padat" sambung Kirana heran, karena biasanya Zaidan lah yang paling bawel.
"Gak apa-apa" jawab Zaidan malas.
Kirana hanya mengedikkan bahunya, dan beralih ke cermin untuk merapikan rambutnya. Setelah itu, ia membereskan semua berkas dan laptop untuk presentasi hari ini.
Pandangan Kirana tertuju pada Zaidan yang sedang menekuk wajahnya, dan duduk di sofa. Mood Zaidan suka berubah-ubah selama dua hari terakhir.
Saat ia melangkah mendekati Zaidan yang sedang galau, tangannya perlahan memegang puncak kepala Zaidan dengan pasti, meski sempat menyentuh kepala Zaidan.
"Kenapa heum?" tanya Kirana duduk di samping Zaidan dan mengelus kepalanya.
"Gak apa-apa!" sahut Zaidan ketus.
'Kenapa dengannya? Atau karena di jahili mas Calvin? Tapi tadikan udah baikan' batin Kirana heran.
__ADS_1