
Alarm di ponsel Zaidan berdering, membuat Zaidan terbangun dari tidurnya, dengan mata yang terkantuk-kantuk, ia bangkit dari sofa.
"Aw, punggungku" ringis Zaidan karena punggungnya sakit akibat tidur di sofa.
Zaidan menatap Kirana yang baru saja ia nikahi, Wanita itu masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Emang dia gak ke kantor? Tapi dia kan bosnya ah sudahlah" setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Zaidan beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan kebiasaannya sedari kecil, yaitu qiyamul lail.
Sebelum beribadah, Zaidan membangunkan Kirana yang masih tertidur dengan pulas, mungkin efek kecapean kemarin.
"Kirana bangun, kamu gak melaksanakan qiyamul lail? Bangun heh!" ucap Zaidan dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh Kirana yang di balut selimut dengan pelan.
Perlahan mata Kirana terbuka, Zaidan langsung bangkit dan menjauh dari kasur Kirana, ia segera menggelar sajadah tanpa menghiraukan Kirana yang masih mengantuk.
"Astaghfirullah jam berapa ini?" ucapnya dan tak dihiraukan oleh Zaidan.
"Zaidan apakah kamu tidak mendengar pertanyaan saya!?" sambung Kirana dan membuat Zaidan terhentak kaget karena istrinya itu meninggikan suaranya.
"Kamu tidak bertanya padaku, dan aku merasa tidak perlu menjawabnya" ucap Zaidan santai lalu menjalankan ibadah malamnya dengan khusyuk.
Sementara Kirana, ia beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah Zaidan selesai sholat malam, kini giliran Kirana yang melaksanakan sholat malam.
Pria tampan itu mengambil mushaf al-quran dan mengulang hafalannya, ia memang bukanlah lulusan pesantren, namun tekadnya ingin menjadi penghafal Alquran di tengah para teman-temannya sedang asik dengan duniawi patut di acungi jempol. Zaidan mengulang hafalannya dengan suara yang sangat pelan dan lembut, ia tidak ingin mengganggu Kirana yang tengah khusyuk dalam sholatnya.
Kirana selesai melaksanakan sholat malam, ia menatap suaminya yang tengah membaca al-quran ada decak kagum di dalam hatinya, namun Kirana segera menepis perasaan itu. Kirana mengalihkan pandangannya setelah ditatap balik oleh Zaidan, ia segera membereskan perlengkapan sholatnya dan duduk di sofa tempat Zaidan tidur tadi malam.
"Kamu mau sholat di sini atau di mesjid?" tanya Zaidan setelah menutup mushaf al-qur'an.
Kirana melirik sekilas dan berkata " Mesjid, Sebentar lagi! Lagian masih ada waktu bagi saya untuk duduk sebentar disini" ucap Kirana dingin.
Zaidan hanya menghela napasnya pelan, ia mempersiapkan pakaian untuk di pakai Kirana dan dirinya ke masjid. Zaidan mengambil baju koko berwarna navy dipadukan dengan warna abu-abu menambah kesan elegan di baju koko tersebut dan gamis berwarna navy dipadukan abu-abu serta mukena buat Kirana.
"Kenapa kamu mempersiapkan semua itu?" tanya Kirana pecahkan keheningan di antara keduanya.
"Jangan salah sangka! Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami" ucap Zaidan kesal.
Kirana tak menghiraukan kata Zaidan, ia beranjak mengambil baju gamis yang sudah disiapkan oleh Zaidan.
Zaidan hanya mengedikkan bahunya melihat Kirana yang terburu-buru mengambil baju gamis yang sudah ia siapkan, padahal beberapa menit yang lalu Kirana tampak santai memainkan ponselnya.
Kirana sudah berganti baju, ia sangat cantik mengenakan baju gamis berwarna navy itu, Zaidan tersenyum ke arah Kirana, namun senyumnya hilang saat mendapatkan perkataan ketus dari Kirana.
"Awas nanti kamu jatuh cinta! Dan saya tidak akan pernah membalas cinta itu!" ucap Kirana lalu pergi keluar kamar untuk ke masjid.
Setelah selesai sholat subuh Kirana kembali ke rumah dan langsung diterima oleh Zaidan yang lebih dulu sampai kerumah, Kirana menyerahkan tangannya dan tidak kunjung diterima oleh Zaidan, cowok itu hanya berdiri di halaman pintu setelah membukanya.
Kirana mengibas-kibaskan tangannya untuk segera dicium oleh Zaidan, namun Zaidan tidak segera menciumnya, ia malah pergi meninggalkan Kirana.
"Hei mau kemana!?" ucap Kirana di ambang pintu yang sedari tadi menunggu Zaidan untuk mencium tangan Zaidan.
Zaidan tak menghiraukan panggilan Kirana, ia terus berjalan menuju dapur
"Suruh siapa tadi malem nyuruh aku tidur di sofa!" ucap Zaidan merengut kesal.
Kirana mengikuti langkah Zaidan menuju dapur, hening diantara keduanya tak ada yang membuka suara satu pun. Zaidan yang tak tahan dengan suasana hening langsung bertanya bagaimana masakannya.
"Gimana makanannya Kirana? Enak? Sorry buat yang tadi, nanti aku cium deh" ucap Zaidan dengan tersenyum dan membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh.
"Hm" Kirana hanya berdehem dan tidak menghiraukan ucapan suaminya, sebenarnya ketika di masjid tadi Kirana sudah berniat ingin menerima Zaidan sebagai suami sahnya, walaupun setelah setahun ia akan meminta di bebaskan Zaidan tapi setidaknya, ia tidak akan disalahkan karena tidak bersikap baik pada pria itu. Namun, Kirana merasa kesal karena tidak disambut baik oleh sang suami dan membuatnya untuk berubah pikiran dan kembali ke rencana awal.
Ding dong
Suara bel membuat kaget mereka berdua yang sedang asik makan, tanpa mengobrol apapun. Zaidan ingin membuka pintu dan melihat siapa yang datang namun langsung di cegah oleh Kirana.
"Duduklah biar saya yang buka!" ucap Kirana datar dan langsung beranjak pergi untuk melihat siapa yang datang.
Zaidan yang kepo mengikuti langkah istrinya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti langkah istrinya.
Zaidan tiba di ruang tamu menampilkan sesosok yang ia ikuti dan dengan dua orang paruh baya berjalan di depannya.
"Siapa yang datang?" tanya Zaidan basa-basi dengan tersenyum manis.
Kirana yang mengetahui isyarat mata Zaidan untuk berpura-pura bahwa pernikahan mereka berjalan dengan baik langsung mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Ayah dan Bunda, Mas" ucap Kirana tersenyum dan berada di samping Zaidan membuat kedua orang tua Kirana ikut tersenyum.
"Ayah, Bunda" Zaidan langsung mendatangi mertuanya dan mencium punggung tangan mertuanya, sebagai menantu yang baik sudah sepantasnya Zaidan melakukan hal itu.
"Gimana kabarmu, nak? Kirana tidak kasar dengan mu kan?" tanya Carissa pada Zaidan dan Zaidan menggeleng pelan sambil tersenyum.
Zaidan ingin sekali berkata bahwa Kirana sangat kasar dengannya karena menyuruh Zaidan untuk tidur di sofa, sebenarnya bukan disuruh sih, lebih tepatnya Zaidan yang bersikeras.
"Zaidan baik bunda, bunda sama ayah apa kabar? Oh iya bunda dan ayah udah sarapan belum? Kalau belum, kebetulan kita berdua sedang sarapan, ikut sarapan bareng yuk bun, yah" ucap Zaidan dengan tersenyum ramah, ia tidak ingin membuat mertuanya tau bagaimana sikap dingin Kirana padanya, dan sudah sepatutnya Zaidan menutup aib istrinya, itulah yang diajarkan mama Naura pada dirinya.
"Wah kebetulan banget ayah belum sarapan nak dan ini kesempatan ayah untuk mencicipi masakan mu yang kata papa mu enak" ucap Aarav itu dengan tertawa renyah.
Mereka semua tiba di meja makan, Zaidan melayani kedua mertuanya sebelum ditarik oleh Kirana ke kamar.
"Ayah, Bunda, Kirana pinjem mas Zaidan bentar ya" ucap Kirana dan langsung menarik kasar tangan Zaidan, membuat orang tuanya geleng-geleng kepala.
Sesampainya di kamar, Zaidan berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang sudah merah akibat di cengkram oleh Kirana.
"Lepasin! Sakit tanganku loh!" ucap Zaidan dengan ketus dan akhirnya pergelangan tangannya dilepaskan oleh Kirana.
__ADS_1
"Ayah akan tinggal disini selama seminggu! Jadi, saya butuh bantuan darimu" ucap Kirana masih dengan ekspresi datarnya.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Zaidan heran.
"Hem saya ingin ketika di depan bunda nanti, bersikaplah seolah-olah saya sangat mencintai mu, hanya di depan bunda!" ucap Kirana menekankan kalimat terakhirnya.
"Kalau aku gak mau gimana?" tanya Zaidan menaikkan sebelah alisnya dan menambah aura hot dari Zaidan.
"Kamu harus melakukan itu! Ini perintah! Bukankah seorang suami harus menuruti perintah istrinya!?" sambung Kirana mencengkeram erat lengan Zaidan dan membuat Zaidan meringis, sepertinya ia salah bicara dengan Kirana.
"Iya, iya! Lepasin dulu, sakit" ucap Zaidan lirih dan mengusap-usap lengan yang di cengkram oleh Kirana.
Setelah berbicara dengan Zaidan, Kirana pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian karena ia masih menggunakan baju gamis untuk ke masjid tadi.
Zaidan masih setia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, bukan tanpa alasan, Zaidan juga ingin ke kamar mandi. Kirana gemar sekali berlama-lama di kamar mandi, berbanding terbalik dengan Zaidan yang hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk mandi.
Ketika Kirana keluar dari kamar mandi, pandangan pertama yang ia lihat adalah Zaidan, karena cowok itu berada di depannya untuk masuk ke dalam kamar mandi, dengan segera Kirana menyingkir dan membiarkan cowok itu masuk.
Kirana berusaha menaikkan resleting baju dulu sewaktu Kirana belum menikah ada Adrian membantunya tapi sekarang dia sudah menikah jadi Adrian tidak mungkin membantunya.
Zaidan yang melihat istrinya itu tengah kesulitan untuk menaikkan resleting baju tersebut, Zaidan berinisiatif untuk membantunya.
"Kenapa Kirana" ucap Zaidan
"Tolong naikkan resleting bajuku tadi macet" ucap Kirana
Zaidan menaikkan resleting baju Kirana, ia juga menjahili Kirana dengan mengusap punggung Kirana dan membuat Kirana meringis.
"Aw, jangan Mas" ringis Kirana dan membuat Zaidan tertawa kecil.
Zaidan menatap wajah Kirana dan membuat Kirana salah tingkah, Kirana berdehem kemudian menjauh dari Zaidan.
" Terima kasih " ucap Kirana sambil menyisir rambutnya.
" Hm sama-sama cantik " ucap Zaidan
Setelah menyisir rambutnya, Kirana turun untuk pamit berangkat ke kantor pada orang tuanya dan juga Zaidan. Pandangan Kirana menangkap sesosok pria yang sudah menikahinya tengah bercengkrama ringan dengan kedua orang tuanya. Kirana pun langsung menghampiri mereka.
"Loh mau kemana?" tanya Carissa heran saat melihat putri sulungnya itu berpakaian rapi.
"Ke kantor bun, ada rapat yang enggak bisa Kirana tunda" jawab Kirana merapikan rambut dan memakai sepatu heels.
"Kalian ini masih pengantin baru, enggak bisa ditunda lusa atau besok, nak? Kasian loh Zaidan, baru nikah udah ditinggal kerja" ucap Carissa sambil mengelus punggung tangan Zaidan.
Zaidan menatap raut wajah Kirana yang kesal, karena disuruh tetap di rumah. Akhirnya Zaidan berinisiatif untuk mendukung istrinya pergi ke kantor.
"Zaidan gak apa-apa kok bunda, Kirana ada rapat yang gak bisa diganggu" ucap Zaidan sambil tersenyum ke arah Carissa.
"Nah kan, Zaidan juga enggak keberatan kok, bun kalau gitu Kirana pergi dulu ya, assalamu'alaikum" ucap Kirana beranjak dari tempat duduknya dan mencium punggung tangan bunda dan ayahnya, tak lupa Kirana juga mencium tangan Zaidan
Kirana berjalan menuju pintu disusul Zaidan di belakangnya, Kirana berbalik ke arah Zaidan dan mencium pipi Zaidan secara tiba-tiba membuat Zaidan terhentak.
"Makasih ya udah bantu saya naikin resleting baju dan juga belain saya di depan bunda" ucap Kirana tersenyum tipis bahkan Zaidan tidak bisa melihat senyum itu.
"Iya Kirana, tapi kenapa kamu mencium ku?" tanya Zaidan yang penasaran dan berujung sakit hati.
"Jangan baper! Bunda tadi melihat ke arah kita!" sambung Kirana dengan wajah dingin dan datar.
Zaidan kesal karena ia berpikir bahwa Kirana sudah mulai berubah, tapi faktanya tidak, Kirana masih dingin seperti tadi malam.
Zaidan menghela napasnya panjang, dan ia pun masuk setelah Kirana pergi meninggalkan halaman rumah besar tersebut menggunakan mobil sedan berwarna hitam miliknya.
"Ayah juga pamit ya nak, ada rapat pagi ini, bunda mu biar disini selama seminggu untuk menemani kamu, nak Zaidan enggak keberatan kan?" tanya Aarav pada Zaidan yang dari tadi tersipu akibat di cium oleh Kirana.
"Gak apa-apa kok yah, malah Zaidan seneng ada temennya" ucap Zaidan tersenyum riang.
Aarav pun pamit untuk pergi ke kantor meninggalkan sang istri selama seminggu untuk memata-matai bagaimana pernikahan putri sulung mereka.
Zaidan hanya berdua di rumah dengan bunda Carissa, dia masih ragu walaupun tadi sempat bercengkrama.
"Zaidan, sini duduk dekat bunda nak" panggil Carissa pada Zaidan yang tengah memotong sayuran untuk makan siang, Zaidan pun langsung menuruti perintahnya dan menghentikan aktivitas memotong sayuran.
Zaidan duduk di sebelah mertuanya "Ada apa bun? Bunda butuh sesuatu?' tanya Zaidan dengan tersenyum canggung.
"Bunda enggak butuh apa-apa kok nak, sikap Kirana ke kamu bagaimana nak?" tanya Carissa dan membuat Zaidan terhenyak, ia bingung harus menjawab apa.
"Kirana baik kok bun" jawab Zaidan dengan ragu.
"Jangan bohong nak, bunda tau sikap Kirana bagaimana Kirana pasti bersikap acuh padamu kan?" tanya Carissa dengan tatapan mengintimidasi, Zaidan yang di tatap begitu terhenyak kaget, namun segera mengubah raut wajahnya agar bunda mertuanya tidak merasa khawatir.
"Mungkin Kirana masih canggung ke Zaidan, bunda" sambung Zaidan tertawa kecil setelah menemukan apa yang akan ia katakan.
"Kamu yang sabar menghadapi sikap Kirana ya nak. Kirana itu seperti ayahnya, dulu waktu awal pernikahan ayah Aarav tidak pernah tersenyum ke bunda, bahkan kita sempat pisah" jelas Carissa, Zaidan yang mendengarnya hanya diam dan bingung ingin mengatakan apa.
"Dulu bunda sama ayah juga tidak pernah mengobrol berdua, kita terlihat akrab kalau ada kakek dan nenek Kirana aja" sambung Carissa mengelus puncak kepala Zaidan.
Zaidan menatap mertuanya dengan lembut dan penuh kasih sayang "Tapi sepertinya sekarang ayah sangat sayang sama bunda?" tanya Zaidan heran.
"Iya, setelah setahun pernikahan bunda bisa mengubah sikap cuek dan dingin ayah Aarav dengan penuh perhatian, mana ada sih lelaki yang nolak di perhatiin sama wanita? Bahkan gunung es seperti ayah Aarav aja luluh..." jawab Carissa tersipu saat mengingat kejadian masa lalu.
' Oh berarti sikap dinginnya turunan, apa bisa aku sesabar bunda Carissa dalam menghadapi sikap Kirana? Ya Allah kuatkan lah hati hamba ' gumam Zaidan dalam hati setelah mendengar cerita mertuanya.
Zaidan tengah melamun, ia berpikir apakah ia akan bisa memenangkan hati Kirana atau pernikahan ini akan berakhir setelah setahun? Ah entahlah Zaidan pusing memikirkan hal itu.
__ADS_1
“Nak” panggil Carissa pada Zaidan yang tengah melamun.
Zaidan pun terkejut dan segera menoleh ke arah ibu mertuanya "Iya bunda"
"Kamu kenapa melamun? Udah jangan di pikirin, nanti bunda bantu supaya Kirana sayang sama kamu" goda Carissa dan Zaidan hanya tersipu malu.
"Oh iya bun, Kirana suka masakan apa? Biar Zaidan buatin untuk makan siang" tanya Zaidan dengan penuh semangat, karena Zaidan sangat suka memasak, jadi kali ini ia ingin memasak makan siang untuk istrinya.
"Kirana suka ayam bakar madu dan tumis brokoli, tapi Kirana jarang makan siang di rumah, Kirana itu berangkat pagi pulang larut malam" jawab Carissa membuat Zaidan kecewa, padahal dia sudah bersemangat ingin memasak.
"Hem yaudah deh, kalau gitu bun mau makan siang apa? Biar Zaidan buatin" ucap Zaidan menepis rasa kecewanya.
"Kita masak ikan goreng sama tumis kangkung aja nak" jawab Carissa dan membuat Zaidan tersenyum, pria itu dengan bersemangat untuk masuk ke dapur, tapi langkahnya harus terhenti karena ada orang yang membunyikan bel.
Zaidan berjalan menuju pintu utama, sebelum membuka pintu tersebut Zaidan melihat terlebih dahulu dari kamera kecil yang dipasang di pintu. Zaidan diperingatkan oleh Kirana untuk selalu waspada dan melihat siapa yang datang sebelum membukanya.
Setelah melihat dari kamera kecil, Zaidan membuka pintunya dan muncul sesosok wanita paruh baya yang jika ditebak umurnya sama dengan umur bunda Carissa.
"Maaf ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Zaidan dengan sopan dan tersenyum.
"Tuan pasti suaminya nona Kirana kan? Perkenalkan saya bi Inem asisten rumah tangga disini" ucapnya memperkenalkan diri.
Zaidan hanya tersenyum dan mempersilahkan perempuan paruh baya tersebut untuk masuk.
'Kenapa Kirana gak ngasih tau aku? Sebegitu gak pentingnya ya aku bagi kamu Kirana?' Zaidan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Oh iya tuan. Kata nona, tuan enggak boleh ngerjain pekerjaan rumah, biar bibi aja yang ngerjain" sambung bi Inem, Zaidan mengangguk dan berpikir bagaimana bisa perempuan yang sudah paruh baya itu membersihkan rumah sebesar ini, ada-ada aja Kirana.
Zaidan tersipu malu mendengar ucapan asisten rumah tangganya.
'Ternyata Kirana perhatian juga ' gumam Zaidan tersipu.
"Gak apa-apa kok bi, nanti Zaidan bantu, oh iya panggil Zaidan aja jangan tuan" ucap Zaidan tertawa kecil dan ia memperkenalkan bi Inem pada mertuanya.
"Bun, ini bi Inem kata Kirana bi Inem asisten rumah tangga disini, bi Inem ini bunda Carissa" ucap Zaidan memperkenalkan keduanya, mereka berdua berbicara sebentar sebelum bi Inem melaksanakan pekerjaannya.
Sementara Zaidan, ia mempersiapkan bahan makanan untuk masak makan siang seperti yang diminta mertuanya. Bi Inem yang melihat Zaidan akan memasak langsung melarangnya, karena perintah dari Kirana yang tidak mengizinkan Zaidan melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Aduh tuan, kok masak? Udah tuan temeni bunda nona Carissa aja, biar bibi yang masak" ucap bi Inem dan ditolak dengan lembut oleh Zaidan.
"Gak apa-apa kok bi, Zaidan emang suka masak kalau gak sibuk, lagian Zaidan bosen biasa kalau di rs jam segini lagi sibuk-sibuknya" ucap Zaidan tertawa kecil dan melanjutkan aktivitas memotong kangkung, niat Zaidan tadi, ia ingin masak capcay namun mertuanya ingin dimasakin tumis kangkung dan Zaidan menuruti perintah mertuanya.
"Nanti saya yang dimarahi nona,tuan" sambung bi Inem dengan raut wajah khawatir.
"Gak bakal dimarahi Kirana kok bi, nanti Zaidan yang bilang ke Kirana" sambung Zaidan menenangkan bi Inem yang tengah khawatir, takut jika dimarahi oleh Kirana.
Sebelum mulai memasak, Zaidan mengetikkan pesan ke Kirana. Zaidan mencari nama kontak Zaidan yang dinamai 'Istriku💖'
[Kirana, tadi bi Inem udah dateng ke rumah kita]
Selang beberapa menit Zaidan langsung mendapat balasan pesan singkat dari Kirana.
Istriku 💖: Iya
Zaidan yang membaca pesan singkat tersebut langsung merengut kesal, ia mengira bahwa Kirana akan mengatakan seperti yang dikatakan oleh bi Inem.
"Kenapa dia kek gunung es sih? Dasar gunung everest!" umpat Zaidan dan ia pun melanjutkan memotong cabai.
Zaidan asik memotong cabai dan tangannya tidak sengaja ikut teriris membuat Zaidan meringis kesakitan.
"Aw" ringis Zaidan yang melihat tangannya sudah teriris oleh pisau, dengan sigap Zaidan menyiram tangannya dengan air mengalir walaupun terasa pedih.
Bi Inem yang melihat darah di jari Zaidan panik, karena ia takut akan dimarahi Kirana padahal Kirana sudah memperingatkannya untuk tidak membiarkan Zaidan bekerja.
"Tuan enggak apa-apa?" tanya bi Inem panik dan langsung mengambil kotak p3k.
Zaidan menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil "Zaidan gak apa-apa kok bi, cuman luka kecil biasalah kalau masak, gak ke iris ada yang kurang, hehe..."
"Ini tuan di pakaiin plester biar enggak infeksi" sambung bi Inem memakaikan plester pada jari Zaidan.
"Makasih bi" ucap Zaidan dan melanjutkan aktivitas masaknya.
Setelah beberapa menit berkutat di dapur, akhirnya masakan Zaidan selesai, ia pun melepas celemek dan membersihkan semua peralatan dapur.
Zaidan ke ruang keluarga untuk menemui bunda mertuanya dan memberitahu bahwa masakannya sudah selesai.
"Bun, masakan Zaidan udah siap, bunda mau makan sekarang?" tanya Zaidan mengingat jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Bunda masih kenyang nak, kamu makan duluan aja nggih" jawab Carissa yang tengah membaca kitab.
"Zaidan juga masih kenyang, bun" jawab Zaidan sambil mengeluarkan ponselnya mengecek apakah ada pesan masuk dari Kirana, ternyata tidak ada.
Zaidan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas nakas.
Zaidan cemberut, ia merasa bosan disuruh seharian di rumah aja karena Zaidan sudah terbiasa dengan suasana riuh di rumah sakit.
Carissa yang mengetahui menantunya sedang cemberut, lalu menutup kitab yang ia baca dan mengelus kepala Zaidan.
"Zaidan kenapa?" tanya Carissa membuat Zaidan terhenyak.
"Zaidan gak apa-apa kok bun, cuma agak bosen aja karena biasanya jam segini, jam-jam sibuk di rumah sakit, hehe" jawab Zaidan tertawa kecil.
"Enggak apa-apa nanti juga terbiasa, kamu juga harus terbiasa hidup mandiri tanpa Kirana karena Kirana itu sering pulang larut, jadi kalau enggak bisa apa-apa sendiri, susah nak" ucap Carissa menasihati Zaidan dan Zaidan pun hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya.
__ADS_1
"Iya bunda Zaidan ke kamar dulu ya bun, mau mandi terus siap-siap buat sholat dzuhur" pamit Zaidan dan mendapatkan anggukan dari mertuanya.
Zaidan berdiam diri di dalam kamar, karena tidak banyak yang ia bisa lakukan selain memasak dan membereskan kamar. Zaidan mengambil mushaf al-quran dan mengulang hafalannya, pria itu senang sekali murojaah dan ini kesempatan emas baginya untuk murojaah. Setelah mengulang hafalannya, Zaidan melaksanakan sholat dzuhur di kamarnya.