
Kirana melirik jam tangannya. Pundak Kirana mulai terasa pegal karena dipakai sebagai tumpuan Zaidan yang tertidur pulas. Walaupun begitu, ia tidak ada niatan untuk membangunkan pangerannya atau merubah posisinya.
"Pak, bagaimana perkembangan panti asuhan?" tanya Kirana serius.
"Karena sudah dua bulan saya tidak memantau pengeluaran uang yang saya berikan kepada pengelola, apakah digunakan dengan baik atau tidak" sambung Kirana masih dengan nada serius.
"Perkembangan panti asuhan sejauh ini berkembang baik gus, anak-anak disana merasa senang karena setiap bulan mereka mempunyai mainan baru" jawab pak Adi selaku manager Kirana ketika sedang di Lombok.
"Bagus" ucap Kirana serius.
'Saya akan buktikan besok' batin Kirana ragu.
Mereka tiba di sebuah resort mewah dengan pemandangan alam yang asri. Sebuah resort yang terkenal jika ingin mengunjungi senggigi beach.
Mobil mewah yang di naiki Kirana tiba di depan lobby dan langsung disambut oleh para pelayan disana. Pintu mobil dibuka menampilkan sepasang kekasih dengan paras cantik dan juga tampan.
Hanya kata 'sempurna' yang cocok untuk menggambarkan sepasang kekasih yang tengah dilanda kebucinan.
Kirana mengelus dan menepuk pipi Zaidan dengan penuh kasih sayang. "By, bangun yuk. Kita udah sampai"
Zaidan mengerjapkan matanya. Ia terhentak saat melihat ada beberapa orang yang menatap ke arahnya.
Kirana mengulas senyum saat melihat pangerannya yang tampak kebingungan melihat petugas hotel.
"By, kita udah sampai di resort. Turun yuk" ucap Kirana.
Sebenarnya Kirana ingin menggendong Zaidan untuk masuk ke dalam resort, tapi karena badannya terasa letih. Jadi, dia terpaksa membangun pangerannya itu.
Zaidan melihat penampilannya lewat kaca kecil yang terpasang di dasbord mobil mewah tersebut. Ia mengerutkan dahinya saat melihat penampilannya yang lusuh dan kusut.
"Aaaa, penampilan ku gak bagus" ucap Zaidan cemberut dan manja.
Kirana terkikik pelan. "Gak bagus gimana? Kamu tampan loh By" ucap Kirana meyakinkan Zaidan bahwa dirinya sangat tampan walaupun baru bangun tidur.
"Jangan gombal deh! Gak rapi gini dibilang tampan, mana wajahku kusut lagi. Aaargh" ucap Zaidan kesal.
"Siapa yang gombal, By? Kamu memang tampan. You're my angel" ucap Kirana tersenyum penuh kasih sayang dan mengelus lembut tangan Zaidan.
Entah sejak kapan pria itu merasa insecure melihat penampilannya. Padahal selama ini menurut Kirana, Zaidan adalah pria yang tidak terlalu memperhatikan penampilan dan yang dia perhatikan hanyalah orang-orang disekitarnya. Tapi, kali ini pria itu mengeluh tentang penampilannya yang kurang rapi karena baru bangun dari tidurnya.
"Sejak kapan kamu insecure gini, By? Setau Kirana kamu gak pernah kayak gini sebelumnya" tanya Kirana heran.
"Sejak tadi!" jawab Zaidan.
"Udah ah ayok masuk, kasian mereka nungguin kamu lama banget. Pekerjaan mereka juga banyak Zaiyang. Kamu itu tampan dimata orang yang tepat, dan orang yang tepat itu Kirana. Kalau aku bilang kamu tampan berarti kamu memang tampan, By" jelas Kirana membujuk suaminya agar mau masuk ke dalam resort.
"Bukan masalah tampan atau gak Kirana, tapi masalah kerapian. Aku paling gak suka berantakan gini" ucap Zaidan masih cemberut.
"Yaudah bentar ya, By" ucap Kirana mengalah pada suaminya atau kalau tidak pria itu akan merajuk.
"Pak, bisa tolong tinggalkan kami berdua? Suami saya ingin merapikan bajunya terlebih dahulu" lanjut Kirana dan langsung dituruti oleh supir serta pilot pribadinya.
Pintu mobil kembali ditutup oleh Kirana. Tirai yang ada di mobil tersebut juga ditarik untuk menutupi kaca mobil. Kirana juga menghidupkan lampu LED yang terdapat di kabin mobil agar terdapat pencahayaan di dalam mobil.
__ADS_1
"Udah By, rapikan dulu. Setelah itu, kita masuk hm?" ucap Kirana masih dengan senyum manisnya yang hanya ia tunjukkan pada Zaidan.
Zaidan mengangguk pelan. Ia pun merapikan bajunya dan tidak sengaja jarum pentul Kirana menusuk jarinya membuat jari Zaidan terluka.
Kirana yang melihat ada darah di jari Zaidan langsung menekannya dengan kemejanya yang kebetulan bahan dari kemejanya lembut.
"Lain kali hati-hati, By. Lihat sampai berdarah gini, kamu tau gak darah kamu itu sangat berharga!" ucap Kirana meniup jari Zaidan.
Zaidan melihat sikap Kirana yang sudah berubah 100 persen terkekeh geli. Padahal ia hanya terluka kecil.
"Gak apa-apa Kirana, cuman luka kecil kok. Lagian udah biasa juga" ucap Zaidan meyakinkan Kirana.
Namun, namanya juga orang yang tengah jatuh cinta, melihat pasangannya terluka membuat Kirana merasa khawatir.
"Tapi tetap aja, By" ucap Kirana terus meniup jari Zaidan.
"Udah ih, aku mau pakai bajunya lagi. Terus masuk ke resort, kamu pasti capek kan?" tanya Zaidan mengalihkan pembicaraan.
Kirana melepaskan jari Zaidan dan membiarkan pria itu untuk merapikan bajunya.
Setelah selesai berbenah. Kirana kembali membuka pintu mobil dan menggandeng tangan Zaidan untuk turun dan masuk ke dalam resort.
"Selamat datang di resort kami tuan dan nona. Mari kami antar ke kamar anda" ajak salah satu staff hotel dengan tersenyum ramah.
Kirana hanya mengangguk pertanda ia mengiyakan ajakan staff tersebut. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Zaidan melihat sekelilingnya. Pria itu berdecak kagum saat melihat lautan yang tidak terlalu jauh dari resort tempat mereka menginap.
Pintu kamar VVIP terbuka menampilkan sofa dan ranjang dengan ukuran king size dengan kelopak mawar berbentuk hati diatasnya beserta hiasan angsa putih yang juga berbentuk hati, membuat Zaidan berdecak kagum.
"Masya Allah, cantik banget Kirana" ucap Zaidan berdecak kagum.
"Hatcii!" Zaidan tidak sengaja bersin. Padahal, dia sudah menahannya agar tidak bersin.
"Kenapa By?" tanya Kirana yang melihat suaminya bersin terus-terusan.
Wajah Zaidan memerah karena menahan untuk tidak bersin. "Alergi Kirana, hatciii" jawab Zaidan meletakkan jari telunjuknya dibawah lubang hidungnya agar tidak bersin.
"Alergi bunga mawar juga, By?" tanya Kirana khawatir melihat keadaan Zaidan yang semakin parah.
Zaidan hanya mengangguk kecil. Sepertinya alerginya akan semakin parah kalau ia tetap berada disini.
"Kita pindah kamar" putus Kirana yang tidak ingin melihat suaminya sakit.
"Pak, tolong siapkan kamar VVIP untuk kami. Tidak perlu dihias, suami saya alergi bunga mawar" ucap Kirana dan langsung dituruti oleh staff tersebut.
Bagaimana tidak langsung dituruti, Kirana memiliki saham di resort ini. Bahkan sebagian dari resort ini adalah saham dari Kirana. Namun tidak banyak orang yang tau tentang hal itu.
Dalam hitungan menit kamar yang dipesan Kirana sudah siap dan mereka berdua sudah berada di dalam kamar.
Alergi Zaidan sudah agak mendingan. Pria tampan nan seksi itu merasa bersalah pada Kirana karena ia tau bahwa Kirana mempersiapkan kamar tersebut khusus untuknya.
"By" panggil Zaidan lirih.
Kirana yang sedang membereskan tasnya langsung menoleh ke arah Zaidan.
__ADS_1
"Kenapa? Masih gatel hidungnya? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Kirana dengan lembut.
"Ish! Aku kan dokter, ngapain panggil dokter lain?" tanya Zaidan.
Kirana tertawa pelan. "Iya, iya. Terus kenapa?" tanya Kirana sambil melepaskan selai tangannya.
"Maafin aku ya, karena aku alergi jadinya kita harus pindah kamar. Padahal view dikamar tadi udah bagus banget" ucap Zaidan lirih.
Kirana melangkah cepat ke arah Zaidan. Ia mengalungkan tangannya di leher Zaidan dan berkata. "Gak apa-apa By. Lagian bukan salah kamu juga kok"
"Tapi teta-" bibir Zaidan langsung dibungkam dengan bibir merah milik Kirana.
Pipi Zaidan langsung memerah seperti kepiting rebus saat Kirana tiba-tiba menciumnya. Padahal Kirana sudah sering menyerang pria itu secara tiba-tiba, tapi tetap saja pipi Zaidan akan memerah jika dicium atau digoda Kirana.
Setelah puas mencium bibir Zaidan yang sejak tadi merayunya, Kirana melepaskan ciuman panas mereka dan membiarkan Zaidan menghirup oksigen.
"Kirana ke-bi-as-aan de-h" ucap Zaidan dengan napas yang tersengal.
"Bukan kebiasaan By, tapi udah jadi habbit Kirana" kilah Kirana memeluk tubuh Zaidan dan menghapus jarak diantara mereka.
"Sama aja!" ucap Zaidan cemberut.
"Jangan dimajukan gitu bibirnya, mau lagi heum?" goda Kirana membuat Zaidan berdecak kesal.
"Gak ih!" jawab Zaidan berusaha melepaskan tangan Kirana yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa mau dilepas By?" tanya Kirana dengan lembut saat melihat Zaidan yang tampak ingin sekali lepas darinya.
"Mau mandi! Gerah disini" jawab Zaidan ketus.
"Mandi bareng?" lagi dan lagi Kirana terus menggoda suami polosnya itu.
"Ih apaan sih!" ucap Zaidan berlari kecil setelah berhasil lepas dari pelukan Kirana. Ia berlari sambil menyambar kimono yang berada tak jauh dari pintu kamar mandi.
Kirana hanya terkikik melihat suaminya yang begitu polos. Bukan hanya polos, tapi sangat polos.
'Aku jadi ragu dia benar-benar lulusan terbaik dari fakultas kedokteran' gumam Kirana terkekeh melihat tingkah Zaidan yang sangat polos.
30 menit kemudian, Zaidan keluar dengan memakai kimono diatas lutut dan memperlihatkan kaki jenjangnya, ditambah dengan rambut yang basah serta memperlihatkan leher jenjang dan putih miliknya.
Kirana yang melihat hal itu, menahan diri untuk tidak mengeksekusi suaminya karena sebentar lagi maghrib. Kirana meremas seprai untuk menahan dirinya.
'Sabar Kirana! Sebentar lagi maghrib, gak bagus melakukan hal seperti itu. Orang sabar disayang Allah' gumam Kirana masih menahan diri agar tidak khilaf.
Zaidan yang melihat istrinya seperti orang yang sedang menahan sesuatu mendekat ke arah Kirana.
"Kamu kenapa?" tanya Zaidan dengan polosnya.
'Kenapa harus mendekat disaat seperti ini, By?' batin Kirana menatap ke arah lain.
"Gak apa-apa By, cepat pakai pakaianmu, takut ada orang yang masuk" ucap Kirana membuat Zaidan tersadar bahwa dirinya belum memakai pakai.
"Astaghfirullah" ucap Kirana langsung berlari menuju kopernya dan menarik asal baju yang berada didalamnya. Setelah itu, ia berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
'Pria itu benar-benar membuatku hampir khilaf' gumam Kirana merasa lega karena dirinya masih bisa menahan hawa nafsu dan mengendalikannya.