Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Terkesima


__ADS_3

Kirana terbangun lebih dulu dibandingkan Zaidan, biasanya pria itu yang terbangun lebih dulu tapi pagi ini Kirana lah yang terbangun lebih dulu.


Kirana memandangi wajah polos dan tampan milik Zaidan. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zaidan.


"Kenapa kamu harus pergi sih by?" tanya Kirana mengusap kepala Zaidan dengan lembut.


Kirana mengambil ponselnya dan memotret wajah polos Zaidan saat sedang tidur, yang ditutupi dengan selimut dibagian rambutnya. Ia menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper khusus chatnya dengan Zaidan.


"Gemes banget sih" ucap Kirana menggigit bibir bawahnya.


"Ish, sakit banget" ucap Kirana


Kirana berlalu ke kamar mandi untuk mandi wajib dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam. Ia tidak membangunkan Zaidan, karena pria itu tampak kelelahan akibat perbuatan Kirana tadi malam.


Setelah membersihkan diri, Kirana memakai baju gamisnya dan membentangkan sajadah untuk sholat malam. Tapi sebelum itu, ponsel Zaidan berdering dan membuat Kirana harus menerima telpon itu terlebih dahulu.


Tertera nama kontak Kak Calvin di layar ponsel Zaidan. Kirana langsung menggeser layar ponsel Zaidan dan menerima panggilan tersebut.


"Halo, assalamualaikum" ucap Kirana setelah sambungan telpon tersebut tersambung.


"Waalaikumussalam adik Kirana. Apakah Zaidan ada? Seharusnya dia sudah sampai di bandara" ucap Calvin dengan nada khawatir karena Zaidan bilang ke Calvin kalau dia akan datang 2 jam sebelum keberangkatan, namun Zaidan belum juga tiba di bandara.


"Zaidan masih di rumah, dan saya sendiri yang akan mengantarkannya ke Lombok. Pergilah lebih dulu kakak ipar" jawab Kirana.


"Baiklah, terimakasih dek Kirana. Kami akan terbang lebih dulu, assalamualaikum" jawab Calvin menghela lega.


"Waalaikumussalam, safe flight kak Calvin" sambung Kirana mematikan sambungan telpon tersebut.


Kirana meletakkan ponsel Zaidan kembali ke atas nakas, kemudian ia melaksanakan sholat malam tanpa Zaidan. Setelah selesai, Zaidan berganti pakaian memakai kaos oblong dan merebahkan dirinya di samping tubuh Zaidan. Ia mengelus pipi Zaidan kemudian mengecupnya.


Zaidan merasa tidak nyaman karena ada sesuatu yang menyentuh bagian wajahnya. Namun karena kelelahan ia kembali terlelap hanya dengan elusan lembut di kepalanya.


"Beauty sleep" ucap Kirana membawa Zaidan ke dalam dekapannya. Ia semakin tidak rela membiarkan pria itu untuk pergi meninggalkannya selama dua bulan.


Kirana melantunkan sholawat sambil mengelus rambut Zaidan. Ia bersholawat agar dirinya tidak mengantuk sembari menunggu adzan subuh.


Setelah bersholawat, Kirana kembali melantunkan ayat suci al-quran. Ia memilih surah Ar-Rahman untuk dilantunkan sambil mengusap pelipis Zaidan.


"Ar-Rahman" perlahan suara Kirana mendayu-dayu melantunkan surah tersebut. Suara Kirana yang lembut saat melantunkan kalamallah membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tenang dan damai.


Tidak terasa adzan subuh telah berkumandang tepat setelah Kirana membaca ayat terakhir dalam surah Ar-Rahman. Ia membangunkan Zaidan untuk melaksanakan sholat subuh bersama dengannya. Kali ini Kirana tidak pergi ke masjid karena ia ingin menikmati setiap detik bersama sang suami, sebelum Zaidan pergi ke Lombok.


"Assalamualaikum ya Zaujat. Bangun dulu yuk, kita sholat subuh" ucap Kirana dengan lembut tepat di telinga Zaidan.


Zaidan menggeliat. Pandangan matanya menangkap wajah cantik Kirana yang berada tepat di depannya. Sayup-sayup Zaidan mendengar suara adzan, lalu ia pun terhenyak.


Zaidan langsung duduk dan mengambil ponselnya, benar dugaannya jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan itu artinya ia terlambat melaksanakan sholat malam.


"Astaghfirullah" ucap Zaidan lemas. Lalu tiba-tiba ia meneteskan air mata karena kesal pada Kirana yang tidak membangunkannya untuk sholat malam.


"By, kamu kenapa?" tanya Kirana khawatir jika suaminya kenapa-napa.


"Ada yang sakit? Atau bagian itu sakit karena ulah Kirana semalam?" tanya Kirana semakin khawatir ketika Zaidan bungkam dan menangis tersedu-sedu.


Kirana membawa Zaidan ke dalam dekapannya. Ia mencoba untuk menenangkan Zaidan agar tidak menangis.


"Kirana jahat hiks..." lirih Zaidan memukul pelan dada bidang Kirana.


Kirana menghela napasnya gusar. Ia tidak mengerti mengapa Zaidan berkata bahwa dirinya jahat. Apakah memberikan sesuatu yang sudah menjadi milik suaminya adalah suatu kejahatan? seharusnya kan dia yang merasakan sakit.


"Maaf, sakit ya?" tanya Kirana sambil memberikan segelas air putih untuk Zaidan agar pria itu jauh lebih tenang.


"Kirana tega hiks, kenapa kamu gak banguni aku buat sholat malam? Kenapa Kirana? Kenapa? Hiks..." Zaidan meraung kesal pada Kirana dan terus memukul pelan dada bidang Kirana.


'Masya Allah, terlambat sholat sunnah saja dia menangis tersedu-sedu seperti ini. Bagaimana jika dia terlambat melaksanakan sholat wajib?' batin Kirana berdecak kagum dengan pribadi Zaidan yang sangat agamis namun tetap modis.


"Sayang, bukan Kirana gak mau banguni kamu, tapi kamunya kelelahan jadi aku sengaja gak banguni. Maaf, lain kali bakal Kirana banguni, kamu jangan nangis gitu ya" bujuk Kirana mengelus kepala Zaidan.


"Tapi tetep aja aku kesel sama kamu Kirana!" ucap Zaidan cemberut.


"Yaudah iya maaf, lagian kamu juga pasti capek kan? Karena itu aku gak banguni kamu, yaudah sekarang mandi terus kita sholat subuh bareng, mau Kirana mandiin? Atau mandi bareng? Walaupun Kirana udah mandi, gak apa-apa deh mandi lagi" goda Kirana membuat pipi Zaidan merona.


Zaidan mencubit kecil lengan Kirana, karena Kirana senang sekali menggodanya. Padahal dulu, ia mengira kalau Kirana tidak suka menggodanya sama seperti yang lain.


"Aku bisa mandi sendiri!" ucap Zaidan kesal dan berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang terbungkus rapi dengan selimut.


“By” panggil Kirana membuat Zaidan kembali menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Zaidan yang sudah hampir masuk ke dalam kamar mandi.


"Kenapa pakai selimut? Kan mau mandi" tanya Kirana sambil tertawa kecil. Padahal ia sudah tau apa alasan dibalik Zaidan masuk ke dalam kamar mandi dengan menggunakan selimut.


"Au ah" jawab Zaidan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia sangat malu pada Kirana karena kejadian tadi malam. Ingin sekali rasanya Zaidan menghilang dari bumi sekejap saja dan menetralkan rasa malunya.

__ADS_1


Kirana membereskan tempat tidur yang menjadi saksi bisu bagaimana panasnya kejadian tadi malam. Kirana mengganti seprai yang terdapat bercak merahnya, ia tidak ingin Zaidan semakin malu jika pria itu tau.


Ia mengambil seprai baru dari lemari dan menggantinya. Kirana terkejut saat mendengar suara teriakan Zaidan dari dalam kamar mandi.


"Argh" teriak Zaidan kencang dan membuat Kirana segera mengetuk pintu kamar mandi.


"By, kamu kenapa?" tanya Kirana khawatir, namun tidak ada jawaban dari dalam. Pikiran Kirana mengingat kembali kejadian saat ia menemukan Zaidan pingsan di dekat bathup. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Sayang, jawab. Kamu kenapa? Jangan bikin aku khawatir" ucap Kirana terus mengetuk-ngetukkan pintu kamar mandi.


"Aku gak apa-apa kok Kirana, tenang aja" jawab Zaidan menetralkan suaranya.


"Yakin By? Coba buka dulu, aku mau lihat kalau kamu baik-baik aja" ucap Kirana tidak yakin dengan perkataan kata Zaidan.


'Duh mampus gue! Lagian ngapain pakai teriak sih!' batin Zaidan was-was.


"By? Kirana dobrak ya" ucap Kirana semakin tidak tenang karena respon Zaidan yang lama.


"Jangan! Aku bakal keluar kok, tapi sebentar" jawab Zaidan memakai handuk kimono miliknya. Ia terpaksa keluar hanya memakai handuk karena ia lupa untuk membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi.


"Aku keluar, tapi jangan diledek ya Kirana" ucap Zaidan was-was.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pria tampan hanya dengan menggunakan handuk selutut dan juga rambut hitam, membuat Kirana tidak bisa mengedipkan matanya.


"Masya Allah, pangeran ku" ucap Kirana terkesima melihat ketampanan Zaidan.


"Ih Kirana kok bengong sih!" ucap Zaidan cemberut karena tadi Kirana lah yang memaksanya untuk keluar, tapi wanita itu malah bengong menatapnya.


Kirana kehilangan kata-kata, padahal tadi ia sudah menyiapkan pertanyaan mengapa Zaidan berteriak. Namun pertanyaan yang ada di benaknya buyar seketika melihat keindahan salah satu hamba Allah yang ditakdirkan untuknya.


"Kalau kamu seperti ini, bagaimana Kirana bisa jauh dari kamu by?" tanya Kirana masih terkesima melihat Zaidan.


Zaidan pergi dari hadapan Kirana dan mengambil pakaiannya. Ia segera berganti pakaian untuk melaksanakan kewajibannya.


"Kirana, katanya mau sholat bareng? Cepetan ih!" ucap Zaidan menarik lengan Kirana yang masih saja berdiri pada posisinya saat melihat Zaidan keluar dari kamar mandi.


Kirana tersadar dari lamunannya, dengan segera ia mengambil wudhu dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh bersama.


Mereka berdua melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk. Lantunan ayat suci al quran yang dibawakan Zaidan sangat merdu, membuat Kirana merasa tenang dan tentram.


"Assalamualaikum warahmatullah" Zaidan mengucapkan salam dari kanan ke kiri disusul dengan Kirana.


Zaidan menengadahkan tangannya. Ia berdoa agar pernikahan mereka langgeng dan semoga mereka bukan hanya berjodoh di dunia tetapi di akhirat juga.


Tangan Zaidan beralih ke perut Kirana, ia mengelus perut Kirana yang belum terisi apapun sembari berdoa.


"Robbi Habli Minassholihin, yang berarti Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh" ucap Zaidan mengelus perut Kirana dengan lembut, membuat Kirana merasa geli.


"By, kenapa elus-elus perut ku? Kan belum ada isinya" tanya Kirana heran. Karena setaunya orang yang sedang mengandung lah yang perutnya di elus-elus, sedangkan Kirana kan tidak sedang hamil.


"Sayang, kita tidak tau yang tadi malam itu jadi atau tidak. Karena itu mas akan sering-sering mengelus perut kamu sambil berdoa agar kelak jika sudah ada kehidupan di dalamnya, ia akan tumbuh menjadi seseorang yang taat akan perintahnya dan menjauhi larangannya. Doa yang barusan mas bacakan adalah doa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim lantaran sempat mendapatkan ujian dari Allah SWT yaitu sulit mendapatkan keturunan dari istri beliau yang bernama Siti Sarah. Walaupun kita baru melakukannya sekali, tapi mas tetap ingin membacakan doa tersebut, agar kita cepat mendapatkan malaikat kecil seperti kamu" jelas Zaidan tersenyum ke arah Kirana.


Zaidan memeluk Kirana. Ia semakin tidak ingin berpisah dari Kirana, padahal jauh hari sebelumnya, Zaidan yang sangat ingin pergi ke Lombok.


Zaidan mengusap kepala Kirana yang masih terbalut mukena.


"By, kamu tadi kenapa teriak?" tanya Kirana terus mengusap kepala Zaidan.


Wajah Zaidan memanas. Padahal ia sudah mencoba untuk melupakan hal itu, namun malah di ingatkan kembali oleh Kirana.


"Ehm... anu..." Zaidan malu mengatakan mengapa ia berteriak di kamar mandi.


"Kenapa sayang? Apa aku menyakitimu semalam?" tanya Kirana. Tangan Kirana mengelus pelan tangan Zaidan.


"Kaget aja si, lihat bercak kecupan dileher ku begitu banyak, dan aku sudah tidak perjaka" jelas Zaidan menutupi wajahnya dengan mukena. Ia sangat malu harus mengatakan hal itu pada Kirana.


"Sekarang masih sakit by?" tanya Zaidan seketika tersadar bahwa istrinya pasti mengalami kesakitan, perlahan membuka mukena yang menutupi wajah Kirana.


Kirana mengangguk pelan " Sedikit mas"


"Kirana jadi ragu kalau kamu itu seorang dokter. Mana ada dokter sepolos kamu by" Ucap Kirana mencibir hidung Zaidan.


"Ih! Aku dokter asli ya" ucap Zaidan kesal karena diragukan oleh Kirana.


"Tapi kenapa bisa polos banget by? Di tahun pertama kuliah kedokteran kalian kan ada belajar anatomi, nah di anatomi itu kan menggambar kerangka tubuh manusia termasuk bagian itu kan?" ledek Kirana sengaja agar ia bisa melihat wajah Zaidan yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Ada sih, tapi kan, ah udah ih, jangan diledekin terus!" ucap Zaidan mencebik kesal karena diledekin terus oleh Kirana.


"Berarti dulu kamu bolos ya, waktu mata kuliah anatomi bagian itu? Terus waktu koas di stase obgyn kan belajar juga by, jangan-jangan" Kirana masih terus meledek Zaidan karena pria itu terlalu naif padahal latar belakangnya adalah dokter.


"Kalau di stase obgyn, iya aku keseringan kabur ke pediatric atau bedah. Terus waktu kuliah anatomi aku gak pernah bolos ya, enak aja bilangin aku bolos!" Zaidan ingin berdiri namun dicegah oleh Kirana dan membuat wajahnya hanya berjarak 5 cm dari wajah Kirana.


"Iya, Kirana percaya kok. Tapi jangan terlalu polos ya by, Kirana suka bingung harus jawab apa kalau kamu nanya hal yang aneh" ucap Kirana menghapus jarak diantara mereka dan

__ADS_1


mencium bibir Zaidan.


Adegan panas itu berlangsung cukup lama dan berhenti saat napas Zaidan mulai tersengal. Zaidan menarik napas dalam-dalam dan menetralkan napasnya yang mulai terasa sesak akibat ulah Kirana.


Kirana menggendong Zaidan untuk duduk di tepi ranjang dan membuka mukena yang masih ia kenakan. Ia juga berganti pakaian memakai kaos oblong.


Setelah membereskan semuanya, Kirana kembali menghampiri Zaidan yang tampak masih mencoba untuk menetralkan napas dan detak jantungnya.


"Kirana" panggil Zaidan lirih.


"Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Kirana yang sudah siap siaga jika Zaidan meminta sesuatu padanya.


"Aku berangkat jam berapa? Karena para dokter rumah sakit pasti udah berangkat duluan" tanya Zaidan.


"Nanti Kirana yang anterin kamu ke Lombok. Jangan khawatir ya, lagian kegiatannya juga dimulai besok kan?" jawab Kirana membuat Zaidan merasa tenang.


Zaidan kembali menyandar pada Kirana. Tubuhnya masih sangat lelah dan lemas membuat Zaidan sangat ingin bermanja pada Kirana.


Dengan senang hati Kirana membiarkan sang suami menyandar padanya. Ia tau saat ini Zaidan pasti sedang merasakan hal yang aneh terjadi pada dirinya. Kirana bisa mengetahui hal itu karena ia pernah membaca buku tentang edukasi berhubungan suami istri sewaktu dirinya masih berkuliah di pendidikan dokter sebelum akhirnya Kirana memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis dari pada menjadi dokter.


"Kamu mau sarapan apa by? Biar Kirana buatin" tanya Kirana menatap wajah Zaidan yang masih menyandar padanya.


Zaidan mendongakkan kepalanya. Ia tertegun saat Kirana berkata bahwa dirinya yang akan masak sarapan pagi untuk Zaidan.


"Aku gak salah denger kan Kirana? Kamu mau masak?" tanya Zaidan heran.


"Ya gak lah! Kirana dulu sering masak waktu jauh dari bunda, jadi udah terbiasa" jawab Kirana dengan santai dan menggigit pipi Zaidan.


Sepertinya kebiasaan Kirana akan berubah. Dia yang dulu suka gym, sekarang ia malah lebih suka menggendong Zaidan, mengelus kepala Zaidan dan juga menggigit pipi Zaidan.


"Gigit aja terus! Gigit!" ucap Zaidan ketus.


"Habisnya kenyal, mirip marshmello" ucap Kirana semakin gemas pada Zaidan.


Mereka berdua memeluk erat satu sama lain, seperti tidak ingin berpisah.


"By, turun yuk. Kirana mau siapin sarapan pagi untuk kamu" ucap Kirana serius dengan ucapannya yang ingin masak khusus untuk Zaidan.


"Itu mu gak sakit, mas aja yang pria masih terasah sakitnya" ucap Zaidan manja.


"Sudah tidak terlalu sakit, Yaudah istirahat aja dulu" ucap Kirana.


"Alhamdulillah kalau gitu" ucap Kirana membantu Zaidan untuk merebahkan dirinya.


"Yaudah kamu istirahat aja kalau masih lemas by, kita berangkat agak siangan aja" lanjutnya


Setelah itu, Kirana beranjak pergi ke dapur untuk merealisasikan ucapannya yang akan memasak khusus untuk Zaidan. Ia ingin membuatkan roti bakar khusus untuk Zaidan, Kirana tau kalau pria itu sangat menyukai roti bakar dari Calvin.


Cukup lama Kirana berkutat di dapur dan menyiapkan sarapan pagi untuk Zaidan. Sementara pria itu sedang terlelap dalam tidurnya, mungkin efek kelelahan akibat ulah Kirana.


Setelah selesai membuat roti panggang, Kirana membereskan peralatan dapur yang tadi ia gunakan. Kemudian dia membawa roti tersebut ke dalam kamar dan memberikannya pada Zaidan.


"By, sarapan dulu yuk. Biar gak lemas banget" ucap Kirana mengelus kepala Zaidan dan membangunkannya.


"Gak mood" jawab Zaidan menarik selimutnya.


"Bangun dan sarapan atau Kirana ulangi kejadian tadi malam? Hm?" tanya Kirana memakai strategi psikologi dimana ia memberikan dua pilihan pada Zaidan.


Zaidan yang mendengar hal itu langsung terbangun dan rasa kantuknya hilang begitu saja.


"Iya, ini bangun kok" jawab Zaidan terduduk dan membuat Kirana tersenyum ke arahnya.


Kirana mengambil sepotong roti yang baru saja ia buat dan merebaknya menjadi potongan kecil agar Zaidan mudah mencerna makanan tersebut.


"Gimana by? Enak?" tanya Kirana dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


"Aku baru tau kalau kamu pinter masak. Bisalah nanti collab masak" ucap Zaidan antusias setelah mencoba gigitan pertama dari roti bakar tersebut.


"Bisa dong by, jangankan collab masak. Collab yang lain juga Kirana turuti, apalagi collab yang tadi malam" goda Kirana dengan terkekeh.


"Dih! Omes!" ucap Zaidan kesal karena pembahasan Kirana terus mengarah kesana.


Zaidan memakan roti tersebut langsung dari tangan Kirana, karena wanita itu tidak membiarkan Zaidan untuk makan sendiri. Setelah roti bakar tersebut digigit oleh Zaidan, maka Kirana akan makan bekas dari gigitan Zaidan membuat Zaidan merasa tidak nyaman dengan hal itu.


"Kirana kok makan bekas aku sih? Kan masih banyak roti bakarnya" tanya Zaidan merasa tidak nyaman.


"Loh emangnya gak boleh ya? Kalau makan roti bakar yang baru, rasanya pasti udah berubah, by. Karena yang spesial ada disini" jawab Kirana menyentuh bibir Zaidan dengan jarinya.


"Emang Kirana gak jijik ya, makan bekas gigitan aku?" tanya Zaidan masih tidak percaya jika yang ada di depannya ini adalah Kirana yang sama seperti awal pernikahan mereka.


"Kenapa aku harus jijik? Justru Kirana seneng, lagian aku juga udah sering merasakan bibir kamu, jadi ya udah biasa buat Kirana" sambung Kirana dengan santai.


Zaidan tertegun mendengar ucapan Kirana. Ia juga merasa senang, karena pernikahan yang awalnya karena paksaan kini berbuah manis dengan Kirana yang sudah merubah sikapnya. Kirana yang awalnya sangat dingin dan cuek, kini wanita itu berubah menjadi lembut dan perhatian.

__ADS_1


Tak henti-hentinya Zaidan mengucapkan rasa syukur pada Allah karena telah mengabulkan doa nya dengan membalikkan hati Kirana yang dingin menjadi lembut.


__ADS_2