
Pada malam hari, Zaidan sudah merasa bosan dan merengek minta pulang. Padahal baru tadi pagi ia sadarkan diri.
"By, pulang yuk" ucap Zaidan mengedipkan matanya.
"Kata mas Calvin, kamu belum boleh pulang mas. Masih harus di observasi" ucap Kirana mengusap kepala Zaidan.
Zaidan melirik Kirana sinis. Ia sangat bosan karena tidak melakukan aktivitas apapun. Walaupun tubuhnya masih lemas, tapi tetap saja ia merasa bosan.
"Terserah!" ucap Zaidan kesal dan memejamkan matanya.
Kirana yang melihat suaminya kesal, hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Baru juga siuman, udah bosen aja" gumam Kirana terkekeh. Kemudian ia berjalan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Mata Kirana sudah mulai lelah, karena sudah hampir seminggu jam tidurnya tidak teratur dan sering bergadang. Ia mematikan laptop dan merebahkan tubuhnya di sofa, malam ini Calvin tidak tidur di ruang inap Zaidan karena ada operasi darurat.
Di rumah, Ayah dan bunda Kirana sedang berbicara, mereka ingin mengunjungi Kirana di Jakarta.
"Yah, besok kita ke Jakarta ya. Bunda mau jenguk Zaidan, kata Kirana dia sudah sadarkan diri" ucap Carissa.
"Nggih bun, Ayah juga mau bertemu Daniel, ada yang ingin Ayah tanyakan" ucap Aarav pada istrinya.
"Coba telpon Kirana dulu mi, tanya apakah Daniel tidak ada jadwal besok" ucap Aarav dan dibalas anggukan oleh istrinya.
Sambungan telpon terhubung. Namun tidak diangkat oleh Kirana.
"Enggak diangkat yah, mungkin Kirana sudah tidur" ucap Carissa melirik ke arah jam dinding yang terpasang di kamarnya.
"Mungkin, tapi biasanya Kirana jam segini belum tidur bun. Apa kecapean ya jaga Zaidan?" tanya Aarav menerka-nerka.
"Mungkin yah, yasudah kita tidur. Besok ba'da subuh langsung berangkat, biar enggak macet" ucap Carissa dan dibalas anggukan oleh Aarav.
Kedua orang tua Kirana sedang tertidur lelap. Mereka berdua ingin mengunjungi menantu kesayangan mereka.
Sementara di rumah Daniel, sepasang suami istri tersebut sedang khawatir, lantaran tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan telepon mereka. Dari Kirana sampai Calvin pun tidak mengangkat telpon mereka.
"Kok gak diangkat ya mas?" tanya Naura was-was. Ia takut jika terjadi sesuatu pada putranya.
"Mungkin Kirana udah tidur, besok pagi kita langsung ke rumah sakit sebelum mas berangkat ke kantor heum?" ucap Daniel menenangkan istrinya.
"Tapi mas" Naura ingin protes. Namun sudah dipotong duluan oleh Daniel.
"Sudah tidur. Udah malem, besok pagi kita ke rumah sakit. Atau tanya salah satu pegawaimu apakah Zaidan baik-baik aja" ucap Daniel berlalu untuk berganti pakaian. Sedangkan Naura, hanya mendengus kesal mendengar ucapan suaminya.
Daniel selesai berganti pakaian dan menuju tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan bagi Daniel karena harus menghadiri 4 rapat sekaligus.
Daniel memejamkan matanya. Ia tidak melihat ke arah sang istri yang sedang kesal padanya.
Keesokan paginya, setelah sholat subuh bersama. Zaidan masih merajuk pada Kirana karena tidak di izinkan untuk pulang ke rumah.
"By, masih ngambek?" tanya Kirana dan dibalas lengosan kesal oleh Zaidan.
Kirana menghela napas kasar. Ia membereskan perlengkapan sholat dan mendekati brankar Zaidan. Ia mengusap pelan kepala Zaidan dan mengecupnya.
"Jangan ngambek lagi heum? Aku, bukan gak izini kamu buat pulang mas, tapi kondisi kamu belum stabil. Kamu tau kan? Kalau trombosit kamu belum stabil, bisa aja kamu kritis lagi" jelas Kirana tidak bermaksud untuk menggurui. Ia hanya tidak ingin Zaidan kenapa-napa.
"Terserah!" ucap Zaidan kesal. Padahal ia hanya ingin dirawat di rumah aja.
"Udah pulang ke Jakarta, gak ada persetujuan dari aku! Padahal udah tandatangani surat persetujuan, aku ikut kegiatan sukarelawan!" sambung Zaidan mengerucutkan bibirnya. Ia sangat amat kesal pada Kirana.
Kirana memijat kepalanya. Ia pusing karena Zaidan masih merajuk padanya. Kirana berpikir bagaimana caranya membujuk suaminya yang tengah merajuk. Setelah berpikir cukup lama, Kirana menemukan ide untuk membujuk Zaidan.
"Aku, belikan bubur ayam heum? Tapi janji jangan merajuk lagi, aku pusing kalau kamu merajuk aku" ucap Kirana karena ia ingat Zaidan sangat menyukai bubur ayam. Namun, pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari Zaidan.
Kirana meraih tangan Zaidan dengan lembut. Namun segera ditepis oleh Zaidan, dia masih kesal pada Kirana.
"Gak usah pegang-pegang aku" ucap Zaidan cemberut. Kirana masih meraih tangan suaminya dengan lembut, ia sama sekali tidak marah ataupun kesal pada Zaidan. Ia tidak ingin kondisi Zaidan kembali memburuk karena suasana hatinya yang tidak stabil.
"Mas, kamu kesel karena aku bawa kamu pulang ke Jakarta? Aku lakuin hal itu, karena kamu sakit by. Aku gak mau kamu kenapa-napa disana, makanya mas bawa kamu pulang" jelas Kirana mengusap lembut tangan Zaidan.
"Maafin aku ya, aku cuman gak mau kehilangan kamu. Dulu, aku pernah kehilangan orang yang aku sayang dan aku gak mau hal itu terjadi lagi sama kamu by" sambung Kirana sendu. Beberapa tahun lalu, Kirana kehilangan sahabat masa kecilnya. Sahabat yang menemani Kirana disaat susah maupun duka. Sahabat yang tau perjuangan Kirana merintis karir selain Adrian. Ia kehilangan sahabatnya karena Elsa dan ia tidak ingin kehilangan suaminya karena Elsa juga.
Zaidan menggelengkan kepalanya cepat. Walaupun ia kesal, tapi saat melihat ekspresi sendu Kirana membuatnya merasa bersalah karena telah merajuk pada Kirana.
"Maaf" ucap Zaidan menangis. Sontak Kirana langsung menyerka air mata Zaidan, karena Calvin berpesan untuk tidak membuat Zaidan menangis. Hal itu bisa mempengaruhi kondisi Zaidan yang belum stabil.
"Jangan nangis by, jangan minta maaf juga, kamu gak salah mas" ucap Kirana memeluk tubuh Zaidan.
__ADS_1
"Udah jangan nangis, aku gak mau kondisi kamu kembali memburuk" sambung Kirana menyerka air mata Zaidan.
Zaidan langsung memeluk Kirana dengan erat. Ia sangat merasa bersalah karena telah merajuk dengan alasan yang tidak jelas pada istrinya dan Kirana hanya tersenyum tanpa marah ataupun kesal padanya.
"Udah, udah jangan nangis. Sekarang mau sarapan apa hm? Biar aku belikan" ucap Kirana sambil mengusap punggung Zaidan untuk menenangkannya.
"Gak mau sarapan apa-apa, perutku masih gak enak rasanya" ucap Zaidan yang sudah kembali menyender pada dipan brankar.
"Kalau kamu gak makan, gimana mau minum obat hm? Bilang sama aku, mau makan apa, biar aku carikan" ujar Kirana menatap intens manik hazel Zaidan. Sudah hampir seminggu ia tidak bisa menatap manik mata indah milik Zaidan.
"Pasti kerjaan kamu tertunda karena aku kan?" tanya Zaidan mengalihkan pembicaraan. Ia memang melihat ada beberapa berkas yang menumpuk di meja sofa lengkap dengan laptop berwarna hitam tersebut.
Kirana tau jika Zaidan sedang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Enggak kok by, memang belum aku beresin aja. Sekarang kamu mau makan apa heum?" ucap Kirana masih membujuk Zaidan untuk makan.
'Gak ada pertanyaan lain apa, selain makan?' gerutu Zaidan dalam hati.
Zaidan menutupi wajahnya dengan selimut. Namun, segera ditarik oleh Kirana karena terakhir kali Zaidan melakukan hal itu, membuatnya sesak napas dan berujung koma.
“Tidak bisa ditutupi seperti itu” kata Kirana sambil menarik selimut rumah sakit yang menutupi wajah Zaidan.
"Terserah!" ucap Zaidan ketus. Padahal baru saja ia meminta maaf pada Kirana karena telah merajuk dengan alasan yang tidak jelas.
'Sabar Kirana, punya suami moodyan emang begitu!' batin Kirana tersenyum miris.
Kirana berjalan keluar ruangan untuk mencari sarapan pagi untuk Zaidan. Walaupun sudah disediakan sarapan dari rumah sakit, tapi tetap saja Kirana mencari makanan yang sehat untuk istrinya. Zaidan yang melihat kepergian Kirana mendengus kesal.
"Lihat! Bukan dibujuk malah ditinggal pergi!" ucap Zaidan kesal.
...****************...
Kirana sedang duduk di lobby rumah sakit karena tukang bubur langganannya belum buka. Ia memijat kepalanya yang sedikit pusing.
"Bagaimana cara membujuknya?" tanya Kirana pada dirinya sendiri.
Calvin yang baru saja menyelesaikan operasinya, tidak sengaja melihat Kirana yang duduk di lobby dengan wajah kelelahan. Ia pun menghampiri adik iparnya itu.
"Dek, ngapain disini?" tanya Calvin heran.
"Oh, kenapa gak nunggu di ruang inap Zaidan aja? Kan lebih enak, dari pada di lobby" ucap Calvin.
Kirana tersenyum miris mengingat bagaimana ia pusing melihat tingkah laku suaminya.
"Zaidan merajuk mas" ucap Kirana tersenyum getir.
Calvin menggelengkan kepalanya. Ia bisa menebak apa alasan Zaidan merajuk, pasti karena disuruh sarapan.
"Hem, udah jadi dokter juga masih aja suka merajuk" gumam Calvin tak habis pikir dengan jalan pikiran adik satu-satunya itu.
Mereka berdua bercengkrama ringan. Sampai akhirnya Calvin harus operan dengan dokter yang bertugas di shift pagi dan Kirana pergi untuk membeli sarapan pagi untuk suaminya.
Selang beberapa menit, Kirana kembali masuk ke dalam ruang inap Zaidan dengan membawa beberapa bungkus bubur ayam serta dengan buah-buahan.
Ia terkejut saat melihat Zaidan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah menaruh semua belanjaannya diatas nakas, langkah Kirana dengan cepat menghampiri Zaidan. Ia membuka selimut tebal tersebut, agar Zaidan bisa bernapas dengan mudah.
Saat selimut tersebut dibuka, Zaidan langsung memeluk Kirana sambil menangis. Sedangkan Kirana hanya menatap dengan heran.
"Kenapa nangis mas?" tanya Kirana mengelus pelan kepala Zaidan.
"Maaf, mas udah egois ya" ucap Zaidan menenggelamkan wajahnya di perut Kirana.
Kirana mengangkat kepala Zaidan dengan lembut dan hati-hati.
"Lihat aku by" ucap Kirana sedikit menunduk agar posisinya dengan Zaidan seimbang.
Zaidan menatap mata Kirana yang indah seperti manik-manik. Dan ditatap bahkan tersenyum membuat Kirana bertingkah nakal.
"Mas, kamu gak egois kok. Siapa yang bilang kamu egois? Gak ada kan? Kamu gak egois by, cuman manja aja dan aku suka kalau kamu manja sama aku. Udah ya sekarang jangan merajuk lagi" sambung Kirana mengacak-acak rambut Zaidan.
"Kamu gak marah sama mas?" tanya Zaidan memastikan bahwa Kirana tidak marah padanya.
"Tidak, bye, kenapa kamu marah?" tanya Kirana balik.
"Serius?" tanya Zaidan ragu.
"Iya mas" ucap Kirana mengangguk pasti. Dirinya memang sama sekali tidak marah dengan Zaidan, ia paham kenapa Zaidan sering merajuk. Karena saat di keluarga Daniel, semua orang selalu memanjakannya dan Zaidan akan mendapat apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Kirana memeluk tubuh Zaidan dengan erat. "Jangan pernah tinggalin aku ya mas, dan jangan sakit lagi. Aku gak mau lihat kamu sakit seperti ini" ucap Kirana lembut sambil mengusap kepala Zaidan.
"Saya tidak janji" kata Zaidan sengaja mencari gara-gara dengan Kirana. Sudah lama sejak dia bertengkar kecil dengan istrinya, setelah Kirana luluh.
"Mulai deh" ucap Kirana mengacak-acak rambut Zaidan.
Kirana melepaskan pelukannya dan mengambil sebungkus bubur ayam spesial untuk Zaidan. Kirana hendak mengaduk bubur tersebut. Namun dihentikan oleh Zaidan.
"No!" pekik Zaidan dengan suara lembutnya.
"Kenapa by?" tanya Kirana langsung menghentikan aktivitasnya.
"Aku gak suka makan bubur diaduk by" ucap Zaidan santai. Padahal Kirana sudah khawatir karena takut terjadi sesuatu pada Zaidan.
Kirana menghela napas lega. Ia kira Zaidan merasa ada yang sakit di tubuhnya, ternyata hanya perkara bubur yang tidak ingin diaduk.
"Aaaa" ucap Kirana layaknya menyuapi anak kecil dan Zaidan membuka mulut kecilnya dengan lebar sambil menggigit ujung sendok.
"Makan yang banyak bayi! Biar cepet besar" ucap Kirana gemas pada suaminya sendiri.
Kirana menyuapi Zaidan dengan lihai dan Zaidan juga makan dengan lahap. Namun, karena kondisinya belum stabil, Zaidan hanya makan beberapa suapan saja.
"Udah by" ucap Zaidan menolak suapan yang hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Kok dikit banget mas? Satu lagi ya" ucap Kirana membujuk Zaidan agar mau menambah makannya.
"Udah kenyang, nanti kalau banyak-banyak takutnya muntah" jelas Zaidan yang memang sudah tidak sanggup jika harus makan lagi.
Kirana menaruh kembali sendok yang sudah berisikan bubur. Ia mengambil segelas air mineral dan memberikannya pada Zaidan.
Kirana menghabiskan sisa bubur Zaidan, padahal masih ada bubur segar. Tapi, dia tetap memilih menghabiskan bubur bidadarinya.
Setelah sarapan, Kirana memijat pelan kepala Zaidan karena suaminya mengeluh pusing.
"Aku beneran gak egois?" tanya Zaidan menatap wajah Kirana.
"Enggak mas, bagi aku kamu sama sekali enggak egois" ucap Kirana masih memijat dengan lembut kepala Zaidan.
"Aku pasti ngerepotin kan?" tanya Zaidan lagi.
Kirana menghentikan aktivitasnya dan menangkupkan wajah Zaidan. Ia mengambil selimut dan memakaikannya pada Zaidan. Setelah itu, ia mengusap pelan pipi Zaidan.
"Udah berapa kali aku bilang, kalau kamu sama sekali gak merepotkan aku by. Kamu dapat pikiran dari mana, kok bisa berpikir bahwa kamu merepotkan aku?" tanya Kirana lembut. Ia sama sekali tidak merasa direpotkan oleh Zaidan.
"Tadi mas Calvin kesini dan cerita semuanya, kalau kamu merawat aku sampai lupa makan terus juga jam tidur kamu berantakan. Jadi, aku merasa kalau aku udah buat kamu kerepotan" jelas Zaidan dengan wajah polosnya dan terlihat sangat menggemaskan dimata Kirana.
"Kamu sama sekali gak merepotkan aku dan maksud mas Calvin itu baik, agar kamu gak merajuk lagi sama aku. Jadi, itu alasan kamu nangis waktu aku masuk tadi?" tanya Kirana dan dibalas anggukan oleh Zaidan.
Kirana tersenyum. 'Gemes banget sih, gitu aja nangis' batin Kirana yang melihat Zaidan bertingkah sangat menggemaskan.
Kirana duduk di sebelah brankar Zaidan. Ia mendengarkan Zaidan yang sedang berceloteh dengannya. Zaidan memang bawel dan Kirana suka dengan kebawelan suaminya. Kirana sangat tergoda dengan bibir Zaidan. Namun, ia sadar bahwa "By, nanti kalau aku udah sembuh kita ke rumah Ayah ya. Aku kangen sama Maclo" ucap Zaidan sambil merengek pada Kirana.
Kirana mengerutkan dahinya karena mendengar kata asing yang keluar dari bibir Zaidan.
"Maclo? Siapa by?" tanya Kirana cemburu dan belum sempat dijawab oleh Zaidan. Karena kedua orang tua Kirana sudah tiba di ruang inap Zaidan.
"Assalamualaikum nak" sapa orang tua Kirana kepada mereka berdua.
Kirana segera menghampiri kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka. Sementara Zaidan, ia hanya melihat dari brankar karena dirinya belum bisa berjalan dengan benar, ke kamar mandi saja ia harus ditemani Kirana.
Zaidan ingin bangkit dari brankarnya. Namun, dicegah oleh Carissa, ia langsung menghampiri menantu yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Sudah disitu aja, bagaimana kabarmu nak?" tanya Carissa pada Zaidan yang masih kelihatan pucat.
Zaidan meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya.
"Alhamdulillah Zaidan udah agak mendingan bun" ucap Zaidan tersenyum sumringah dan langsung memeluk bunda mertuanya. Ia sudah sangat kangen dengan bunda Carissa.
Carissa mengelus pelan pipi Zaidan. Sementara sang suami tengah berbicara ringan dengan putri sulung mereka.
"Zaidan udah sarapan nak?" tanya Carissa memastikan bahwa Kirana mengurus menantu kesayangannya dengan baik.
"Udah bun, tadi disuapin sama Kirana" ucap Zaidan tersipu malu.
Mereka berempat bercengkrama ringan. Ayah Kirana memberikan nasihatnya untuk selalu melengkapi satu sama lain dan menjaga satu sama lain. Zaidan dan Kirana mengangguk, mereka juga disuruh untuk main ke rumah dan pondok pesantren.
"Nggih Yah. Setelah mas Zaidan pulih, nanti kita berdua main kesana" ucap Kirana sopan.
__ADS_1