
Drtt drtt
Ponsel Zaidan berdering, ternyata telpon dari rumah sakit, dengan segera Zaidan mengangkatnya.
"Selamat malam dokter Zaidan, maaf mengganggu waktu anda malam-malam begini, ada kecelakaan di sekitar rumah sakit dan dokter yang berjaga malam ini sedang tidak ada di rumah sakit dok, dokter Calvin sedang melaksanakan operasi darurat. Apakah dokter Zaidan bisa ke rumah sakit sekarang?" ucap perawat yang merupakan salah satu staff di departemen gawat darurat.
"Selamat malam, saya usahakan segera kesana, tolong periksa ttv serta pemeriksaan penunjang lainnya, saya akan izin terlebih dahulu, lalu saya akan segera ke rumah sakit." jawab Zaidan dengan pasti, ia pun segera berganti pakaian untuk ke rumah sakit.
Setelah selesai berganti pakaian, Zaidan meminta izin kepada Kirana untuk pergi ke rumah sakit, karena saat Kirana bangun pasti mencarinya
Dengan lembut Zaidan meminta izin kepada Kirana yang tengah tertidur pulas "Kirana aku izin ke rumah sakit ya, ada kasus darurat" Zaidan mencoba membangunkan Kirana, namun Kirana tak kunjung bangun. Zaidan menuliskan surat kecil dan meletakkannya di atas nakas.
Zaidan berlari ke arah nakas tempat biasa Kirana meletakkan kunci mobilnya, setelah menemukan kunci mobil, dengan segera Zaidan pergi ke rumah sakit.
Jalanan menuju rumah sakit lumayan sepi, membuat bulu-bulu tipis yang ada di tangannya berdiri, Zaidan segera beristighfar dan menepis rasa takutnya. Zaidan langsung menambah kecepatannya, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi dan Zaidan hampir saja mengalami kecelakaan dengan truk beruntung Zaidan bisa menghindar dan sampai di rumah sakit dengan selamat.
Setelah memarkirkan mobil, Zaidan segera turun dan berlari ke ugd, ia melirik sekilas jam tangannya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat dokter." ucap salah satu perawat yang membantu Zaidan, ia hanya tersenyum dan menggeleng pelan menandakan bahwa ia tidak masalah jika diganggu tengah malam begini.
"Gak kok sus, oh iya ttv dan rekam medis pasien bagaimana?" tanya Zaidan sembari memasang stetoskop di telinganya.
Zaidan menjalankan tugas nya dengan baik, setelah selesai melakukan tindakan perawatan, Zaidan keluar untuk beristirahat sebentar di lobby. Calvin yang melihat Zaidan duduk sendirian lalu menghampirinya.
"Ciee pengantin baru udah masuk kerja aja," goda Calvin dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Calvin memang senang menggoda Zaidan, karena adiknya itu mudah sekali untuk tersipu malu seperti sekarang.
"Apaan sih kak!" ucap Zaidan dengan raut wajah kesal, beruntung di lobby ramai para perawat yang sedang berlalu lalang dan ada juga keluarga pasien yang duduk dekat mereka. Jadi, aman bagi mereka untuk sekedar berbincang.
"Kok udah kerja aja, emang istri mu gak keberatan dek?" Calvin terus saja menggoda Zaidan sampai merengut kesal.
"Iih! Apaan sih! Kirana gak kek kak Calvin yang suka menggoda ku!" sambung Zaidan dengan wajah kesal.
"Oh iya? kamu pantes sih digoda" ucap Calvin tertawa puas melihat ekspresi wajah Zaidan yang sudah seperti kepiting rebus, Calvin memang senang bercanda, pribadinya yang riang membuat Calvin banyak disukai pasien wanitanya dan juga staff di rumah sakit ini
Ada beberapa anak koas yang menghampiri Zaidan dan Calvin, walaupun Zaidan bukan dokter konsulen tapi ia dekat dengan koas-koas di rumah sakit ini, tak jarang ia juga membantu mereka jika mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas.
"Kak Zaidan, selamat ya atas pernikahan kakak" ucap salah satu dari mereka sambil menyerahkan bingkisan pada Zaidan.
Zaidan menerima bingkisan tersebut dengan senang hati "Makasih ya seharusnya kalian gak perlu repot-repot gini" ucap Zaidan terkekeh melihat mereka menyerahkan satu per satu bingkisan pada Zaidan sebagai hadiah pernikahan Zaidan.
"Mungkin sudah dari lahir" bantah Zaidan dengan lembut.
Mereka semua tertawa dengan riang, rasanya beban Zaidan yang selama seharian penuh semenjak menikah bebas begitu saja saat bercengkrama dengan Calvin dan juga para koas.
Sementara di rumah, Kirana bangun untuk melaksanakan qiyamul lail, ia celingukan mencari keberadaan suaminya, namun Kirana tidak menemukan keberadaan Zaidan, Kirana melirik sekilas ke arah nakas dan mendapatkan surat yang di tulis oleh Zaidan.
"Kirana, aku izin ke rumah sakit ya, aku ada kasus darurat yang mengharuskan ku untuk pergi, maaf aku pergi tanpa izin langsung dari mu tidak enak bangun kan kamu tadi kamu tidurnya nyenyak, aku izin minjem mobil ya Kirana, besok siang aku bakal ambil mobil ku sendiri di rumah papa" begitulah surat yang ditulis oleh Zaidan, Kirana meremas surat itu dengan kasar.
"Kamu melakukan hal yang salah dengan membantah perintah saya!" umpat Kirana dengan wajah geram dan mengeraskan atapnya.
__ADS_1
Kirana mengambil wudhu untuk sholat malam, setelah melaksanakan sholat malam, Kirana duduk sambil mengepalkan tangannya dan menunggu Zaidan pulang. Sampai subuh tiba suaminya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya, Kirana membuang napas kasar.
Kirana mengganti pakaiannya dengan baju gamis dan pergi ke masjid, ia berharap suaminya itu sudah pulang ketika Kirana pulang dari masjid. Kirana melangkah keluar dan melihat mobil kesayangannya tidak ada, ia menebak bahwa mobilnya dibawa oleh Zaidan ke rumah sakit.
Setelah melaksanakan sholat subuh berjama'ah Kirana pulang ke rumah, ia melihat kondisi rumah yang sepi dan ternyata suaminya belum juga kembali dari rumah sakit.
Kirana ingin masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti saat mendengar seseorang mengucapkan salam dan ternyata Zaidan. Pandangan Kirana menatap tajam ke arah Zaidan yang sedang tersenyum di ambang pintu.
Kirana langsung menarik kasar tangan Zaidan, membuat Zaidan meringis karena pergelangan tangannya di cengkram dengan erat oleh Kirana.
"Kirana lepasin, sakit!" ringis Zaidan dan tak di hiraukan oleh Kirana.
Pintu kamar mereka dibanting dengan kasar oleh Kirana dan membuat Zaidan terkejut setengah mati, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti ini dari keluarganya.
"Siapa yang mengizinkan kamu untuk pergi!? Sudah berani membantah saya! Bukan kah sudah saya bilang untuk pergi bersama saya kalau mau pergi kerja! Sepertinya kamu tidak menghiraukan perintah saya!" ucap Kirana menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi dan menatap tajam ke arah Zaidan.
Zaidan hanya menunduk, ia terkejut karena Kirana memarahinya, memang Zaidan salah tapi tidak bisakah Kirana berkata dengan lembut kepadanya? Hati pria mana yang tak sakit saat dibentak oleh istrinya sendiri.
"Ma-maaf Kirana" ucap Zaidan dengan suara terguncang menahan tangis.
"Saya tidak butuh maaf mu! Jangan pernah memakai mobil tanpa seizin saya dan pergi tanpa izin! Saya tidak suka jika ada orang yang membantah perintah saya!" sambung Kirana masih dengan nada tinggi.
"Ma-maaf, aku janji gak bakal ulangi kesalahan ini, tapi bisakah kamu berbicara dengan sedikit lembut? Jujur aku kaget jika harus dibentak, Kirana hiks..." sambung Zaidan menunduk dalam, ia tidak berani menatap wajah Kirana yang sedang marah.
Kirana tidak mendengarkan ucapan Zaidan, ia pun keluar dari kamar setelah memarahi Kirana habis-habisan, ia juga membanting kasar pintu kamar membuat Zaidan semakin terisak dalam tangis nya, ia tidak pernah mengira kalau ia akan menikah dengan wanita dingin dan kasar seperti Kirana.
__ADS_1
Zaidan duduk di pojokan sambil menangis dan berdoa agar suatu saat nanti Kirana bisa berubah walaupun itu adalah sesuatu yang sulit.
"Ya Allah maafin Kirana ya, Zaidan tau Kirana itu baik, tapi masih canggung sama Zaidan. Ya Allah, Zaidan tau pasti ada hikmah dibalik semua ini, tapi Zaidan mohon rubah Kirana untuk tidak terlalu kasar sama Zaidan, Ya Allah... " gumam Zaidan duduk meringkuk memegangi kedua pergelangan tangannya yang sakit akibat di cengkram paksa oleh Kirana.