
Suasana di dalam kamar begitu tenang, semilir angin berhembus menambah indah pagi itu. Setelah sarapan, dua insan yang saling mencintai itu masih betah berada di dalam kamar mereka.
"Kirana" panggil Zaidan yang masih berada dalam dekapan Kirana.
"Dalem sayang" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan.
"Kirana ikut ke Lombok?" tanya Zaidan mendongakkan kepalanya.
"Iya by, aku gak akan biarin kamu untuk pergi sendirian, apalagi kamu masih baru disini. Entar kalau kamu hilang gimana? Mau cari dimana lagi pangeran sebaik kamu" jawab Kirana mencibir hidung Zaidan.
"Kirana, aku boleh nanya sesuatu gak?" Zaidan kembali bertanya dengan ragu.
"Boleh sayang, tapi jangan nanya yang aneh-aneh ya" jawab Kirana terkekeh.
"Kirana pernah pacaran?" Zaidan menautkan jarinya. Ia canggung dengan pertanyaannya itu.
"Alhamdulillah gak pernah sayang. Tapi, kalau suka sama seseorang pernah. Kenapa?" jawab Kirana.
"Sekarang Kirana masih suka sama orang itu gak?" tanya Zaidan kembali.
Kirana melihat ekspresi wajah Zaidan yang tampak kesal. Ia memiliki ide untuk menggoda pria tampan itu.
"Maybe" jawab Kirana ingin menjahili suaminya itu.
Zaidan mencebik kesal dan ingin pergi meninggalkan Kirana. Namun, tangannya kembali dicegah oleh Kirana dan membuat Zaidan jatuh dalam pelukannya. Lebih parahnya lagi, bibir Zaidan tidak sengaja bersentuhan dengan bibir Kirana.
Kirana tertawa kecil melihat suaminya itu cemberut karena ditarik olehnya.
"Kirana cuman bercanda sayang. Lagian aku udah punya kamu, sang pangeran yang dikirim Allah khusus untuk Kirana. Apalagi yang Kirana inginkan? Anggap aja itu sebagai masa lalu Kirana, sama seperti dokter Amel yang menjadi masa lalu kamu" jelas Zaidan agar suaminya tidak cemburu.
"Kok kamu tau tentang Amel? Kan aku belum ada cerita" tanya Zaidan heran.
"Kirana tau dari gerak gerik dokter Amel saat bersama kamu, Kirana juga nanya ke mas Calvin" jawab Kirana.
"Oh" ucap Zaidan membentuk huruf O pada mulutnya.
Pagi itu dihabiskan untuk bercengkrama dan mengenal satu sama lain. Kirana yang tidak terlalu banyak omong, mulai merasa capek menanggapi pertanyaan dari pangerannya itu.
"Kamu gak capek by?" tanya Kirana menggelengkan kepalanya melihat Zaidan yang sejak tadi bertanya padanya terus.
"Gak" ucap Zaidan singkat.
Kirana hanya bisa tersenyum melihat Zaidan yang berbicara terus-terusan.
"Kirana, aku punya satu pertanyaan lagi. Boleh ya" ucap Zaidan manja.
"Boleh Zaiyang" ucap Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.
"Zaiyang?" Zaidan mengulang kata terakhir yang terucap dari mulut Kirana.
"Zaidan sayang" ucap Kirana tersenyum dan membuat pipi Zaidan kembali memerah.
"Kirana gak kesambet kan? Kok bisa berubah secepat ini" tanya Zaidan masih penasaran dengan perubahan sikap Kirana yang menurutnya terlalu cepat.
"Kamu ini ada-ada aja by, mana mungkin aku kesambet. Sebenarnya aku udah mulai ada perasaan sama kamu ketika pertama kali mendengar lantunan ayat suci al-quran keluar dari bibir ini" jawab Kirana menyentuh bibir Zaidan.
__ADS_1
Zaidan yang mendengar hal itu merasa bahagia sekaligus kesal pada Zaidan. "Terus kenapa masih cuek? Udah gitu dingin lagi!" ucap Zaidan cemberut.
"Kirana gengsi, karena udah nolak kamu di awal pernikahan kita, eh sekarang Kirana malah jatuh cinta sama kamu" jelas Kirana terkekeh mengingat bagaimana ia menolak mentah-mentah Zaidan di malam pertama mereka.
"Sekarang masih gengsi gak?" tanya Zaidan dengan raut wajah yang menggemaskan.
Bukan menjawab pertanyaan Zaidan, Kirana langsung menyerang bibir milik Zaidan. Pria itu terhenyak kaget karena Kirana langsung menyerangnya tanpa aba-aba terlebih dahulu.
"Ih! Kirana omes deh!" ucap Zaidan kesal setelah berhasil lepas dari Kirana.
"Suruh siapa godain terus?" tanya Kirana yang tidak merasa bersalah telah menyerang pria itu.
"Mana ada aku godain" jawab Zaidan mengerucutkan bibirnya.
"Nah itu godain, mau lagi?" tanya Kirana yang melihat bibir Zaidan.
Zaidan menghela napas kasar. Pandangan matanya tidak sengaja menangkap bekas merah di dada bidang Kirana dan juga lehernya.
"Kirana ini kenapa?" tanya Zaidan mendekat ke arah Kirana dan melihat lebih jelas tanda merah di dada bidang Kirana.
"Coba kamu ingat sendiri" jawab Kirana tersenyum.
"Kan kamu yang punya badan! Mana tau aku itu kenapa" ucap Zaidan masih mengamati tanda merah kebiruan di dada dan leher Kirana.
"Oh ya? Emang Kirana yang punya badan, tapi kamu yang melakukannya" goda Kirana.
Zaidan mencerna ucapan Kirana. Jika menyangkut hal ini, Zaidan akan seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.
"Kok aku sih?" tanya Zaidan mengerutkan dahinya karena ia sama sekali tidak bisa mencerna ucapan Kirana.
"Dih! Palingan cuman alibi kamu aja! Bilang aja pengen lagi!" ucap Zaidan kesal karena tadi malam Kirana seperti predator yang menyerang mangsanya tanpa ampun.
"Ternyata suami Kirana udah pinter sekarang, gimana mau?" tanya Kirana yang sudah siap melakukan hal itu kembali.
"Gak ih! Masih sakit tau" tolak Zaidan membuat Kirana terkekeh.
"Kirain mau. Ya hitung-hitung salam perpisahan" ucap Kirana menunjukkan smirknya.
"Mana ada salam perpisahan begituan" kilah Zaidan.
"Ada dong. Baru juga ngerasain untuk pertama kalinya eh udah disuruh libur aja" Kirana terus membujuk Zaidan agar mau mengulangi kejadian tadi malam. Namun, pria itu tetap tidak ingin karena masih shock.
"Ih! Kirana ngeselin!" ucap Zaidan mencubit kecil lengan Kirana.
"By, kamu tau enggak..." belum sempat Kirana selesai bicara, ucapannya sudah dipotong oleh Zaidan.
"Gak!" jawab Zaidan spontan.
"Makanya dengerin dulu kalau orang ngomong, jangan main potong aja" seru Kirana semakin gemas pada Zaidan.
"Yaudah apa?" tanya Zaidan.
“Di leher kamu juga ada tanda merah sama seperti ini” ucap Kirana menunjukkan tanda merah kebiruan yang ada di dadanya.
"Masa sih? Emang itu kenapa? Kok bisa ada di leher aku juga?" tanya Zaidan dengan pertanyaan retoris membuat Kirana geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kirana gigit" jawab Kirana singkat.
Zaidan yang mendengar hal itu langsung terbelalak. "Dasar vampir!" umpat Zaidan kesal.
"Vampir untuk suami sendiri halalan thayyiban" sambung Kirana mendekatkan wajahnya ke arah Zaidan.
"Kalau yang ada di leher aku kan karena ulah kamu. Terus yang ada di leher Kirana, ulah siapa?" tanya Zaidan menatap wajah Kirana.
"Ulah kamulah by, siapa lagi kalau bukan kamu, hm?" ucap Kirana menatap balik ke arah Zaidan.
Manik mata milik Kirana dan mata elang milik Zaidan bertemu. Keduanya terdiam menatap satu sama lain.
Ingatan Kirana berputar pada kejadian tadi malam, dimana pria polos di depannya ini tidaklah sepolos itu. Awalnya Zaidan hanya menggigit Kirana dan mencengkeramnya akibat menahan sakit, kemudian gigitan tersebut berubah menjadi nafsu. Sehingga timbul lah tanda merah kebiruan di dada dan leher Kirana.
Kirana yang tersenyum sendiri membuat Zaidan menatapnya heran.
"Kirana kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Zaidan mengibaskan tangannya di depan wajah Kirana.
"Gak apa-apa sayang. Oh iya, kita berangkat bada dzuhur ya" jawab Kirana dengan santai.
Zaidan mengangguk. Ia hendak mengecek kembali barang-barangnya, tapi langkahnya kalah cepat dibanding Kirana. Sekarang Zaidan sudah berada di dalam pelukan Kirana kembali.
"Kamu udah pesan tiket?" Zaidan kembali bertanya.
"Buat apa tiket oleh?" tanya Kirana balik.
"Lo emang kita ke Lombok naik apa? Naik pesawat kan? Kalau gak pesan tiket sekarang, nanti gak keburu" ucap Zaidan heran.
"Tenang aja by. Pasti keburu kok, sekarang kamu tinggal duduk manis, diem biar Kirana yang siapin semuanya" ucap Kirana memerintahkan Zaidan untuk duduk dan membiarkan Kirana mengatur segalanya.
"Oh iya by, kamu mau bawa uang tunai berapa? Karena lokasi kegiatan sukarelawan jauh dari pusat kota dan susah jika harus pakai debit. Jadi, kamu harus bawa uang tunai" sambung Kirana menunggu jawaban dari Zaidan.
"Aku gak tau mau bawa uang berapa, palingan kalau kurang nanti ke kota, buat ambil uang" jawab Zaidan bingung.
"Jarak dari lokasi sukarelawan ke kota itu kurang lebih 1 jam setengah by, jangan ke kota sendirian! Kalau 20 juta cukup? Atau kurang?" tanya Kirana ragu. Ia takut jika uang segitu kurang bagi Zaidan yang notebene nya adalah anak pengusaha internasional.
"Hah? Untuk apa uang sebanyak itu mas bawah?" tanya Zaidan bingung.
Kirana tertegun. Ia kira uang segitu adalah nominal yang kecil bagi Zaidan. Namun nyatanya pria itu malah bertanya untuk apa uang segitu.
"Untuk beli semua kebutuhan kamu biar gak ke kota buat ambil uang lagi. Terus juga untuk beli semua perlengkapan sukarelawan pasti membutuhkan banyak dana. Yaudah sekarang mau bawa 20 juta atau 40 juta by? Biar Kirana sediakan uangnya" jelas Kirana membuat Zaidan menggelengkan kepalanya.
"Kalau untuk kegiatan sukarelawan lebih baik Kirana salurkan langsung ke kak Bisma karena kak Bisma bendahara dalam kegiatan kali ini. Kalau untuk kebutuhan ku gak perlu banyak-banyak" seru Zaidan yang tidak ingin repot dengan membawa banyak uang.
"Anggap aja dana untuk kegiatan sukarelawan udah Kirana salurkan. Sekarang tinggal uang untuk suami Kirana yang paling tampan ini, mau bawah uang berapa by? Bilang aja" ucap Kirana yang sudah siap mendengar jawaban dari Zaidan.
"Berapa ya, aku juga gak tau. Biasanya kalau papa selalu ngasih aku 1 000 usd, tapi selalu lebih banyak. Makanya, aku gak mau bawa uang banyak-banyak untuk kegiatan kali ini" jawab Zaidan yang bingung harus membawa uang berapa.
"Sama aja by, itu juga banyak. Seribu Usd sama dengan kurang lebih 14 juta, jika di convert ke rupiah" ucap Kirana dengan lembut.
"Tapi, itu gak aku habisin. Biasanya juga cuman kepake sekitar 3 Usd doang" kilah Zaidan.
"Yaudah bawa 40 juta aja ya, nanti kalau kurang telpon Kirana atau minta kak Calvin. Biar nanti Kirana anterin uang nya ke kamu, yang penting jangan pernah ke pusat kota sendirian" ucap Kirana memperingatkan Zaidan.
"Oke" sambung Zaidan.
__ADS_1
Kirana mengelus puncak kepala Zaidan. Lalu melepaskan pelukannya untuk menyiapkan uang yang akan dibawa oleh Zaidan. Ia juga menyiapkan satu tas ransel yang akan ia bawah untuk mengantarkan Zaidan ke Lombok.