Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Kritis


__ADS_3

Sudah tiga hari Zaidan dirawat di rumah sakit. Namun, kondisinya belum juga membaik. Suhu tubuh Zaidan masih sangat tinggi dan badannya juga lemas.


"By" panggil Zaidan lirih.


Kirana yang berada disana langsung menghampiri sang suami dan meninggalkan laptopnya di meja begitu saja.


"Ada apa mas?" tanya Kirana mengusap kepala Zaidan.


"Tangan ku gatel" rengek Zaidan sepeti anak kecil membuat Kirana terkekeh.


Kirana mengelus pelan tangan Zaidan. Ia tau kalau terkena demam berdarah pasti rasanya gatel semua.


"Aku ganggu ya?" tanya Zaidan melirik laptop Kirana yang menyala diatas meja.


Kirana tersenyum lembut ke arah nya. "Gak kok by, kamu sama sekali gak ganggu" ucap Kirana masih mengelus tangan Zaidan.


"By" panggil Zaidan lagi.


"Heum?" ucap Kirana menaikkan sebelah alis tebalnya.


"Kalau aku pergi, kamu bakal sedih gak?" tanya Zaidan membuat Kirana mengerutkan dahinya.


"Pergi ke mana? Masih sakit mau balik ke Lombok?" tanya Kirana datar.


Kirana tidak mengerti kemana jalan pikiran Zaidan. Ia tau jiwa sosial Zaidan tinggi, tapi tetap saja Zaidan masih sakit.


"Bukan itu. Kan umur gak ada yang tau" celetuk Zaidan asal.


Raut wajah Kirana berubah menjadi datar. Ia tidak suka Zaidan berbicara yang tidak-tidak.


"Jangan bicara seperti itu by, aku gak suka" ucap Kirana pergi meninggalkan Zaidan dan kembali pada pekerjaannya.


Zaidan mendengus kesal karena ditinggal begitu saja oleh Kirana. Ia menarik selimutnya karena kesal pada Kirana.


Tiba-tiba napas Zaidan terasa sesak. Sampai ia tidak bisa memanggil Kirana dan meraih gelas disampingnya untuk memberitahu Kirana bahwa napasnya sesak.


Prang


Kirana terkejut mendengar pecahan gelas. Ia langsung menoleh ke arah Zaidan dan mendapatkan suaminya sesak napas. Kirana langsung berlari mendekati Zaidan dan menggenggam tangan Zaidan.


"By, kamu kenapa?" tanya Kirana panik. Ia langsung menekan tombol yang berada diatas brankar Zaidan untuk memanggil dokter.


Calvin yang bertugas menjaga Zaidan langsung berlari dengan dua orang perawat.


"Ada apa?" tanya Calvin khawatir.

__ADS_1


"Mas Zaidan sesak mas" jawab Kirana tak kalah khawatir.


Calvin lalu menyuruh Kirana keluar sebentar dari ruangan karena ia akan melakukan pemeriksaan pada adiknya. Calvin mengecek trombosit Zaidan yang semakin menurun dan detak jantungnya lemah.


Calvin memasangkan ekg ke tubuh Zaidan untuk mengetahui detak jantung dari adiknya. Ia juga mengecek suhu tubuh Kirana yang tidak berubah sedikit pun.


"Pasien kritis, tolong awasi dengan saksama. Saya harus memeriksa pasien lain" ucap Calvin pada suster di sebelahnya.


Calvin meraih tangan Zaidan. Ia sangat sedih melihat adiknya kembali dalam masa kritis. Ingatan Calvin berputar pada delapan tahun lalu, ketika Zaidan mengalami kecelakaan tunggal ketika pulang dari boston ke Los Angeles.


Ia takut jika kondisi kritis Zaidan akan berlangsung lama seperti waktu itu. "Kenapa kamu kembali kritis dek?" tanya Calvin sendu.


Kedua perawat yang bersama dengan Calvin saling menatap satu sama lain. Mereka mengerti bagaimana perasaan Calvin sekarang. Mereka yang bukan siapa-siapa Zaidan saja merasa sedih.


"Bagaimana cara mas bilang ke Kirana kalau kamu kritis?" Calvin kembali bertanya dengan menggenggam erat tangan Zaidan.


Diluar ruangan, Kirana mondar-mandir seperti orang yang kebingungan. Ia menunggu Calvin keluar untuk bertanya bagaimana keadaan suaminya saat ini.


Selang beberapa menit, Calvin keluar dengan wajah sendu membuat Kirana semakin khawatir.


"Bagaimana keadaan mas Zaidan, mas ?" tanya Kirana khawatir.


Calvin menunduk. "Zaidan kritis" ucap Calvin membuat Kirana terkejut.


"Mas gak bercanda" ucap Calvin memejamkan matanya sejenak.


Kirana tidak percaya dengan ucapan Calvin. Ia langsung berlalu masuk ke ruangan Zaidan dan mengelus kepalanya.


"By, bangun yuk. Kamu mau ke pondok kan? Mau jadi santri kan? Ayo bangun kita ke pondok terus kita balik ke Lombok. Ayo by, bangun" ucap Kirana dengan suara serak dan mata yang berkaca-kaca.


"By, aku minta kamu bangun sekarang! Atau aku gak bakal izinin kamu untuk ikut kegiatan sukarelawan lagi!" lanjut Kirana menggenggam tangan Zaidan dengan lembut.


Calvin yang melihat Kirana sedang menangis langsung menghampirinya. Baru kali ini ia melihat seorang gadis menangis hanya karena suaminya sedang sakit. Terlebih lagi gadis tersebut adalah adik iparnya.


"Kamu tenang, Zaidan bakal baik-baik aja" ucap Calvin menepuk pundak Kirana.


"Semua ini salah Kirana mas. Coba kemarin itu Kirana gak izini Zaidan buat ikut kegiatan tersebut" ucap Kirana sendu.


"Gak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, itu bukan kesalahan kamu. Mas yakin, Zaidan pasti yang memaksamu juga kan?" tanya Calvin dengan lembut.


"Mas, Kirana titip mas Zaidan sebentar ya. Kirana ada urusan" ucap Kirana langsung pergi meninggalkan ruang inap Zaidan.


Kirana mengambil ponselnya dan menelpon Adrian. Ia memberitahu bahwa dirinya akan menemui Elsa karena gadis itu Zaidan sampai kritis seperti sekarang.


"Saya akan menemui Elsa!" ucap Kirana dingin.

__ADS_1


"Oh ****! Tunggu gue, jangan kesana sendirian!" ucap Adrian langsung menghubungi semua anak buahnya agar mengawal Kirana. Padahal dirinya baru saja kembali dari Lombok.


Kirana tidak mendengarkan ucapan Adrian. Ia mengambil kunci mobil dari Rio dan langsung mengemudikan mobil mewah miliknya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Elsa. Rahang Kirana mengeras, ia sudah terlalu diam untuk menghadapi gadis seperti Elsa.


Tak butuh waktu lama bagi Kirana untuk tiba di kantor Elsa. Ia membanting pintu mobilnya dengan kasar dan berlalu menuju ruangan ceo perusahaan The One tersebut.


Semua pandangan mengarah pada Kirana. Mereka heran dan bertanya-tanya mengapa pemilik perusahaan terbesar di Asia tiba-tiba datang ke perusahaan mereka dengan wajah datarnya.


Kirana membuka pintu ruangan Elsa dengan kasar. Para karyawan Elsa tidak berani menghentikan Kirana karena mereka tidak ingin mencari masalah dengan pemilik perusahaan Fernanda Group itu.


Kirana mengepalkan tangannya dan memukul Elsa dengan kasar.


Bug.


Elsa menatap tajam ke arah Kirana. Ia ingin membalas pukulan Kirana. Namun langsung di tepis oleh Adrian yang baru saja tiba disana.


"JAGA TANGAN ANDA DARI KAKAK SAYA!" teriak Adrian menepis tangan Elsa untuk menjauh dari Kirana.


"Heh tikus kecil! Kakak lu yang tiba-tiba masuk ke ruangan gue dan mukul gue gitu aja!" pekik Elsa kesal.


Kirana masih mengepalkan tangannya. Namun dicegah oleh Andrian dan menenangkan Kirana.


"Gara-gara anda suami saya kritis!" teriak Kirana yang sudah tidak bisa menahan emosi.


Adrian meletakkan pundak Kirana sambil berbisik. "Istighfar kak, biar gue yang urus" bisik Adrian.


"Heh! Bukan salah gue dong, orang suami lo yang ngikutin gue!" celetuk Elsa sengaja memancing emosi Kirana.


Kirana langsung mencengkram kerah baju Elsa. Namun, detik berikutnya ia lepaskan dan Kirana menarik napas untuk mengatur emosinya.


"Kenapa lo lepasin? Gak berani lo sama gue hah!" bentak Elsa dibalas pukulan oleh Adrian.


"Jaga bicaramu!" pekik Adrian ikutan geram.


Elsa menggerakkan rahangnya, sedangkan Kirana mengepalkan tangannya untuk menahan emosi.


"Sebenarnya apa mau anda? Kalau hanya perkara kontrak yang turun ditangan saya dua tahun lalu, oke fine akan saya berikan kontrak tersebut pada anda! Tapi stop ganggu saya dan keluarga saya!" ucap Kirana dengan emosi.


"Haha kontrak kata lo! Urusan kita lebih dari sekedar kontrak bisnis!" ucap Elsa tertawa iblis.


"Saya tidak mengerti mengapa kamu memiliki dendam pada saya!" lanjut Kirana dengan napas yang mulai tenang.


"Lo pikir aja sendiri kenapa gue begitu benci sama lo! Denger ya Kirana Aasfa Anantari Fernanda Zamira, sampai kapanpun gue akan tetap ganggu lo dan keluarga lo, terlebih lagi suami lo yang tampan itu!" ucap Elsa memainkan lidahnya membuat Kirana kembali merasa geram.


Kirana yang sudah siap untuk membalas celotehan Elsa harus mengurungkan niatnya karena ia mendapatkan telpon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa Zaidan kembali tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2