Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Ragu


__ADS_3

Selesai bersiap-siap, mereka berdua keluar kamar dengan dua bodyguard dibelakang mereka yang membawa semua barang-barang Zaidan untuk dimasukkan kedalam mobil.


Pintu mobil langsung dibuka oleh pak Adi, setelah Kirana sampai. Kirana tersenyum tipis dan mempersilahkan Zaidan untuk masuk lebih dulu.


Kirana tersenyum dan terus menatap wajah indah milik Zaidan. Sepertinya, Kirana akan kehilangan gelar sebagai pemimpin dingin dan jarang senyum, karena saat ini lengkungan bibirnya tidak bisa dikendalikan untuk bersikap datar. Ia terus tersenyum saat berada di dekat Zaidan.


"Pak, ke desa Mangsit ya" ucap Kirana karena di desa itulah Zaidan akan melakukan kegiatan sukarelawan.


Di dalam mobil, Zaidan tidak banyak bicara. Ia sedang badmood untuk berbicara.


"Zaiyang, kenapa diem? Tumben banget" ucap Kirana melirik ke arah Zaidan.


"Badmood" ucap Zaidan datar. Moodnya mudah sekali berubah.


Kirana memiliki ide untuk membuat Zaidan goodmood lagi. "Pak berhenti" perintah Kirana.


Ciit...


Karena perintah Kirana mendadak, membuat pak Adi juga mengerem secara mendadak. Kirana keluar dari mobil untuk sekedar mampir ke toko es krim dan membelikan Zaidan es krim rasa coklat. Ia ingat perkataan Calvin tempo lalu, kalau Zaidan sedang badmood kasih aja es krim, maka moodnya akan kembali.


Setelah selesai membeli satu es krim rasa coklat, Kirana kembali masuk ke dalam mobil dan memberikan es krim tersebut ke Zaidan.


"Ini Zaiyang" ucap Kirana tersenyum.


Benar kata Calvin, kalau Zaidan sangat menyukai es krim. Buktinya saat ini senyuman kembali merekah diwajah tampannya itu.


"Makasih moyi" ucap Zaidan memeluk Kirana secara tiba-tiba karena senang.


Pak Adi hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sepasang kekasih itu.


"Kembali kasih Zaiyang" seru Kirana menatap wajah Zaidan yang sedang bersemangat memakan es krim coklat tersebut.


"Moyi mau?" tanya Zaidan karena melihat Kirana yang terus menatapnya.


"Enggak Mas" jawab Kirana mengelap sisa es krim di mulut Zaidan menggunakan tisu.


Zaidan termasuk pria yang pintar saat memakan es krim. Ia tidak seperti pria diluar sana yang belepotan saat memakan es krim dan itulah titik keunikan Zaidan. Ia bisa makan dengan rapi, dan juga berjiwa sosial tinggi.


Mobil hitam mewah tersebut sudah tiba di sebuah rumah yang dijadikan sebagai basecamp untuk para sukarelawan menginap selama dua bulan penuh.


Kirana mengernyitkan dahinya menatap bangunan di depannya yang jauh dari kata mewah. Ia takut jika Zaidan tidak betah tinggal disini, karena pasti pria itu sudah terbiasa hidup mewah.


"Moyi, turun kita udah sampai. Kata kak Calvin ini basecamp staff cowok" ucap Zaidan hendak turun. Namun dicegah oleh Kirana.


"Zaiyang, kamu yakin bisa tinggal disini?" tanya Kirana ragu.


"Yakin dong moyi, kan aku udah biasa ikut kegiatan sukarelawan. Lagian ini termasuk bagus, biasanya aku hanya tidur di tenda beralaskan tikar, hehe. Yang penting itu niat dari hati by, kalau urusan tempat tinggal bisa tidur dimana aja" jelas Zaidan tersenyum lembut ke Kirana yang tampak meragukannya.


"Tapi kan by" belum sempat Kirana melanjutkan ucapannya. Jari Zaidan sudah mendarat di bibir merah Kirana.


"Shut aku gak mau mas protes, ini kegiatan sukarelawan ku dan aku merasa bahagia bisa berguna untuk masyarakat" ucap Zaidan memberi pengertian pada Kirana bahwa dirinya sudah biasa tinggal di tempat seperti ini dan rumah ini termasuk bagus, karena biasanya mereka hanya tinggal di tenda kecuali jika melakukan kegiatan volunteer lewat organisasi resmi seperti unicef.


"Sekarang kita turun ya, pasti semua orang udah nungguin kita" ucap Zaidan menarik tangan Kirana untuk keluar.


Kirana melihat sekelilingnya. Ia masih ragu jika harus meninggalkan Zaidan di rumah yang tidak terlalu besar dan tampak biasa saja. Ia takut jika Zaidan akan sakit nantinya.


Zaidan menggenggam tangan Kirana dengan lembut dan mengajaknya untuk masuk bertemu dengan semua rekan sejawatnya.


"Assalamualaikum Zaidan sampai" teriak Zaidan dan langsung disambut oleh kak Calvin.


"Waalaikumussalam warahmatullah. Ciee pengantin baru ikut juga" goda Calvin membuat Kirana salah tingkah.


"Ini basecamp kita kan kak?" tanya Zaidan memastikan bahwa dirinya tidak salah rumah.


"Bukan hei! Basecamp lo yang sana" ucap Calvin menunjuk ke arah bangunan yang lebih besar dan tampak elegan.


"Lah kok beda?" tanya Zaidan heran mengapa bisa berbeda dengan yang lain.


"Para dokter tinggal di rumah itu dek, Kakak sudah mengatur semuanya" lanjut Calvin.


"Campur gitu?" Zaidan kembali bertanya. Ia tidak mengerti mengapa basecampnya di pisah-pisah.


"Bukan hei! Disana khusus dokter cowok. Disini perawat cowok dan rumah sebelah itu para perawat dan juga dokter cewek" jelas Calvin dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


"Oh" hanya satu kata yang keluar dari mulut Zaidan.


"Yaudah ayo gue anter kesana, btw lo katanya semalem udah sampai Lombok, kok gak langsung kesini? Hayo kalian kemana dulu?" goda Calvin. Sudah lama ia tidak menggoda adik kandungnya sendiri.


"Kepo ih!" ucap Zaidan kesal. Ia mengikuti langkah Calvin yang masuk dan menunjukkan kamar dengan dua ranjang single bed.


Semua barang-barang Zaidan di susun dengan rapi di kamar tersebut. Kirana melihat-lihat sekelilingnya. Rumah ini lumayan bagus untuk Zaidan.


"Apakah disini tidak ada nyamuk ?" tanya Kirana memperhatikan sekitarnya.


"Tenang aja dek. Sebelum kami sampai sudah dilakukan fogging terlebih dahulu, jadi insya Allah aman" jawab Calvin meyakinkan Kirana.


"Bagus kalau gitu. Apakah disini tidak ada Ac kak?" tanya Kirana yang tidak melihat Ac dan hanya melihat kipas yang tergantung di dinding masing-masing kamar.


"Tidak ada dek Kirana. Hanya kipas angin saja" jawab Calvin masih dengan sabar menghadapi sikap suami dari adiknya.


"Kalau begitu besok akan saya suruh orang untuk memasang Ac disini. Jangan pakai kipas, nanti Zaidan bisa masuk angin" ucap Kirana masih tidak percaya untuk meninggalkan suaminya disini.


Zaidan menghela napasnya kasar. Ia berpikir kalau Kirana terlalu protektif dengan tempat ini.


"By, tenang aja ih! Aku udah biasa, lagian gak bakal pakai kipas kok" ucap Zaidan meyakinkan Kirana bahwa dirinya akan baik-baik aja.


"Tapi tetap aja by. Kamu pasti gak terbiasa tinggal di tempat seperti ini, kalau gak gini aja. Kamu tinggal di resort dan setiap pagi akan diantarkan pak Adi untuk mengikuti kegiatan" ucap Kirana. Ia masih tidak yakin dengan tempat seperti ini.


Zaidan terkekeh lalu tersenyum lembut dan mengusap punggung tangan Kirana.


"By, kalau aku tinggal di resort berarti sama aja aku gak punya jiwa kekeluargaan yang tinggi. Sebagai tenaga kesehatan, aku harus punya jiwa kekeluargaan dan sikap peduli yang tinggi. Kamu tenang aja, aku udah biasa kok tinggal di tempat seperti ini. Bahkan dulu waktu perang palestina aku hanya tinggal di tenda, sebagai anggota dari organisasi sukarelawan pray for palestine" jelas Zaidan masih terus meyakinkan Kirana bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Kirana menghela napasnya gusar. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menolak keinginan Zaidan yang sangat ingin tinggal disini.


"Yaudah iya aku izini, tapi kamu harus janji, jangan sakit ya by dan semua makanan yang masuk ke dalam perut kamu harus di uji terlebih dahulu. Begitu perintah Papa sama Aku" ucap Kirana dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


Zaidan membereskan semua barang-barangnya dibantu dengan Calvin. Sementara Kirana, dia keluar karena mendapat telpon dari Adrian.


"Kayaknya Kirana bucin ke kamu ya dek?" goda Calvin dan sukses membuat pipi Zaidan merona.


"Iih!! Apaan sih kak" jawab Zaidan cemberut. Calvin hanya terkekeh melihat adiknya cemberut.


"Oh iya dimana Amel, kak?" tanya Zaidan karena daritadi ia tidak bertemu dengan Amel.


"Ada di basecamp nya, datengi aja sana" jawab Calvin sambil terkekeh dan tidak sengaja di dengar oleh Kirana.


Wajah Kirana memerah. Ia cemburu bahkan sangat cemburu ketika sang suami bertanya tentang Amel. Kirana sudah mengetahui beberapa informasi tentang Amel dan juga Zaidan dimasa lalu, hal itulah yang membuatnya cemburu.


Zaidan melirik ke belakang. Ia melihat wajah Kirana yang memerah dan langsung menghampiri istrinya. Zaidan langsung menghampiri dan memeluk Kirana dengan lembut, ia tidak bermaksud membuat Kirana cemburu.


"By, aku gak ada niatan seperti itu. Aku cuman bertanya tentang Amel karena aku tidak melihatnya dari tadi" ucap Zaidan tidak ingin Kirana salah paham dengan ucapan Calvin.


"Iya Zaiyang, aku percaya kok" ucap Kirana mengelus kepala Zaidan.


"Ekhem sepertinya gue jadi nyamuk disini" ucap Calvin membuat Zaidan langsung melepaskan pelukannya.


Kirana tersenyum malu. Ia lupa bahwa saat ini mereka sedang di tempat kegiatan Zaidan.


"Dek, saya tinggal dulu ya" lanjut Calvin pamit untuk keluar dan membiarkan Zaidan bersama dengan istrinya.


Zaidan mendongakkan kepalanya ke bawah untuk melihat wajah Kirana.


"By, gak marah kan sama aku?" tanya Zaidan takut jika Kirana salah paham dengannya.


"Enggak mas, buat apa aku marah? Kamu seutuhnya milik aku, dan akan tetap begitu sampai kapanpun" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan. Kirana mendisklaimer bahwa Zaidan adalah miliknya.


Kirana membantu Zaidan untuk membereskan barang-barangnya ke dalam lemari yang sudah disediakan. Ia memeriksa setiap sudut untuk memastikan bahwa tidak ada benda berbahaya yang bisa menyakiti Zaidan.


Kirana juga berkomunikasi lewat earphone dengan staffnya untuk membelikan bahan makanan dengan karbohidrat, vitamin, protein dan mineral yang tinggi agar Zaidan tidak mengalami kesulitan apapun. Kirana juga memeriksa apakah kasur yang akan di tiduri Zaidan empuk.


"By, kamu yakin mau tinggal disini? Apa gak sebaiknya kamu tinggal di resort aja?" tanya Kirana memastikan bahwa Zaidan memang benar ingin tinggal disini.


"Iya moyi, aku yakin" jawab Zaidan tersenyum.


Di ambang pintu, Amel yang melihat perhatian Kirana terhadap Zaidan sangat tulus membuat hatinya terenyuh. Ia menyesal mengapa dulu dia tidak datang ke rumah Zaidan lebih dulu. Dengan tenang, Amel mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok...tok...tok...


Kirana menoleh ke belakang. Ia melihat Zaidan tersenyum ke arah mereka berdua.


"Assalamualaikum" sapa Amel dengan senyum manisnya.


"Waalaikumussalam warahmatullah" jawab Kirana dan juga Zaidan serempak.


"Amel, sini masuk" ucap Zaidan mempersilahkan Amel masuk. Namun ditolaknya karena ini adalah kamar pria dan tidak sepantasnya ia masuk.


"Hem... gak perlu, saya disini aja" ucap Amel masih tersenyum walau hatinya teriris.


Kirana hanya tersenyum tipis. Setelah itu, dia sibuk merapikan barang-barang Zaidan.


"Udah lama sampai? Tadi saya briefing lokasi untuk kegiatan besok, jadi tidak bisa menyambut kalian" ucap Amel basa-basi karena suasana disana canggung.


"Kami baru aja sampai, dok!" jawab Kirana dingin. Ia tidak suka kalau Amel hanya bertanya pada suaminya saja.


Amel mengangguk pelan. Ia sadar bahwa Zaidan sudah dimiliki oleh orang lain. Namun, cintanya saja yang tidak bisa dikendalikan.


Amel yang tak ingin suasana semakin canggung, mengajak mereka berdua untuk keluar karena sudah waktunya makan siang.


"Ehm sebaiknya kita makan siang dulu. Selesai makan dan sholat baru dilanjut beres-beresnya" ucap Amel berhati-hati dengan kata-katanya.


"Iya kamu, duluan aja" jawab Zaidan tersenyum.


Kirana menatap Amel dengan tatapan cemburu. Bagaimana ia bisa meninggalkan Zaidan dengan Amel yang notebenenya adalah gadis yang pernah meminta dipinang oleh Zaidan.


'Astaghfirullah, hamba cemburu ya Allah' ucap Kirana terus beristighfar agar hatinya tenang dan tidak cemburu.


"By, kita makan siang dulu ya" ucap Zaidan menggandeng tangan Kirana dengan lembut dan membawanya ke tikar yang sudah disiapkan diluar.


Saat sampai diluar, ia tidak melihat satu kursi pun dan yang terlihat hanya lah sebuah tikar sudah digelar. yang


"By, kenapa gak ada meja makan ?" tanya Kirana melirik ke arah Zaidan. Ia sudah terbiasa makan di meja dan ia tidak pernah duduk sekalipun di tikar seperti ini.


"Iya by, kami udah biasa makan sambil duduk di tikar seperti ini" ucap Zaidan mempersilahkan Kirana untuk duduk.


Zaidan berjalan untuk mengambil makanan dan tidak sengaja Amel juga berada di tempat yang sama dengan Zaidan. Amel mempersilahkan Zaidan untuk mengambil duluan makanan yang telah dibuat.


"Ambil duluan dok" ucap Amel tersenyum dan dibalas anggukan oleh Zaidan.


Kirana yang tengah memperhatikan keduanya, lalu bangkit dan menghampiri Zaidan. Ia berdiri tepat disamping Zaidan agar teman sejawatnya itu tau batasan mereka hanya sebagai rekan kerja.


"Biar aku aja yang bawa, mas" ucap Kirana mengambil dua piring yang sudah terisi oleh nasi dan juga lauknya.


Mereka berdua sampai di tempat dimana Kirana duduk tadi. Kirana ingin makan lebih dulu untuk memeriksa apakah makanan ini aman. Namun, dicegah oleh Zaidan.


"Ini udah aman dan teruji klinis by, jadi gak perlu kamu uji lagi" ledek Zaidan dan membuat Kirana menekuk wajahnya.


Kirana mengambil alih piring Zaidan. Ia ingin menyuapi pangerannya, sebelum ia kembali ke Jakarta. Zaidan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Kirana yang sangat protektif padanya.


Amel yang mengamati keduanya semakin sedih. Hatinya terenyuh saat Kirana memanggil Zaidan dengan sebutan mas, Zaiyang. Benih cinta yang yang selama ini Amel tanam harus ia kubur dalam-dalam. Semua rencana yang sudah ia buat jauh sebelum Kirana datang ke kehidupan Zaidan harus sirna begitu saja. Saat ini, sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menjadikan Zaidan sebagai raja dihatinya.


"Jangan dilihat kalau enggak kuat" ucap prof. Ridwan tepat di sebelah Amel. Ia mengamati tatapan mata Amel yang sendu mengarah kepada sepasang pengantin yang masih baru.


Amel menoleh ke arah prof. Ridwan dan berkata. "Insya Allah, Amel udah ikhlas kok prof" ucap Amel berbohong. Ia tidak ingin orang lain tau bahwa hatinya masih tertuju pada satu orang yaitu Zaidan.


Zaidan mengenalkan Kirana sebagai istrinya di depan para seniornya. Karena waktu acara pernikahannya tidak semua orang bisa masuk, hanya yang mendapat undangan saja yang bisa menyaksikan acara sakral tersebut.


Selesai makan siang dan sholat, Kirana bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Namun, hatinya ternyata belum siap meninggalkan Zaidan disini.


'Kenapa rasanya berat, Ya Allah' batin Kirana merasa sangat berat untuk meninggalkan Zaidan.


"By hati-hati ya di jalan, kalau udah sampai Jakarta telpon aku" ucap Zaidan memeluk Kirana dengan erat. Berpisah dari papa dan abangnya saja ia tidak sesedih ini.


Tak terasa bulir putih itu membasahi pipi Zaidan yang menggemaskan, membuat Kirana tersenyum. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedih harus berpisah.


"Iya Zaiyang, kamu jaga diri baik-baik disini ya. Aku pasti bakal rindu berat sama kamu" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan. Saat ini ia tidak peduli jika menjadi pusat perhatian.


"Beruntung banget Zaidan bisa mendapatkan nona Kirana" bisik salah satu dari staff rumah sakit.


"Iya kan, gue iri. Dulu gue pikir dia bakal sama dokter Amel, tapi ternyata dia mendapatkan nona Tiara yang jauh lebih baik dari dokter Amel. Tapi, dokter Amel tetap yang terbaik sih dihati gue" celetuk yang lain.


"Kalian berdua bisa diem gak!? Gue cemburu!" ucap perawat kepala ruangan dan membuat dua orang yang sedang berceloteh langsung diam.


Dengan langkah berat, Kirana harus menuju ke mobilnya. Sebelum berangkat, ia sudah mewanti-wanti kepada pengawalnya untuk tetap mengawasi Zaidan dalan radius 1 meter.


"By" panggil Zaidan lirih dan membuat Kirana langsung menoleh.


"Kenapa Zaiyang?" tanya Kirana khawatir menatap suaminya.


"Kamu jangan dekat-dekat sama Kai ya, waktu di Jakarta nanti. Aku cemburu" ucap Zaidan manja dan membuat Kirana tersenyum gemas padanya.


"Iya Zaiyang, kamu tenang aja karena Zaidan Brian Alvaro Assaba hanya milik Kirana Aasfa Anantari Fernanda Zamira" ucap Kirana meyakinkan Zaidan bahwa dirinya hanya milik Zaidan seorang.

__ADS_1


Kirana kembali melepaskan pelukannya karena waktu semakin cepat berlalu, jika ia tidak pergi sekarang. Maka, ia tidak akan sempat untuk mampir ke panti asuhan keluarganya.


Genggaman tangan mereka terlepas. Zaidan hanya menatap mobil hitam Kirana yang sudah pergi menjauh dari tempat kegiatan.


Di dalam mobil, Kirana hanya menampilkan ekspresi wajah datar. Hatinya sangat sedih karena harus berpisah dari sang suami.


'Baru sebentar kamu pergi mas. Aku udah rindu sama kamu, by' gumam Kirana melihat foto Zaidan yang menjadi lockscreen ponselnya.


Kirana sedang menatap keluar jendela. Tatapannya dingin, membuat suasana di dalam mobil menjadi canggung. Berbeda jika ada Zaidan, pasti suasana di dalam mobil menjadi lebih berwarna.


Kirana menyenderkan kepalanya sambil melihat foto-foto Zaidan yang ia tangkap diam-diam.


"Kenapa aku udah kangen sama kamu By?" gumam Kirana menatap sendu foto Zaidan ketika pria itu sedang tertidur.


"Sekarang kamu sedang apa By?" tanya Kirana pada foto Zaidan yang jelas saja tidak bisa menjawab.


Mobil hitam Kirana melesat dengan kecepatan tinggi menuju kota Mataram untuk mampir ke panti asuhan keluarganya. Tidak ada satu orang pun yang bercengkrama di dalam mobil, mereka segan dengan tatapan Kirana yang dingin.


Kirana mencari kontak Adrian untuk mengetahui apakah jadwalnya besok padat atau tidak. Jika tidak padat, maka Kirana masih bisa untuk tinggal satu malam lagi di Lombok.


"Assalamualaikum Adrian" sapa Kirana setelah sambungan telponnya tersambung.


"Waalaikumussalam kak, ada apa? Jangan bilang lo minta lowongan jadwal besok" ucap Adrian menerka. Karena hanya ada dua alasan jika kakaknya Kirana menelponnya lebih dulu.


Pertama ingin meminta bantuan dan kedua kosong kan jadwalnya.


"Saya hanya ingin bertanya, apakah jadwal saya besok padat?" tanya Kirana dingin.


"Padat kak. Pagi hari lo ada jadwal rapat dengan CEO perusahaan Wijaya. Siang hari lo ada jadwal rapat dengan pimpinan perusahaan Mathiew untuk membahas pasar Eropa. Sore hari lo ada jadwal rapat untuk membahas proyek hotel Alexander dan" belum selesai Adrian berbicara, Kirana sudah memotongnya.


"Stop! Kamu tidak membiarkan saya istirahat?" tanya Kirana kesal mendengar jadwalnya yang begitu padat.


"Tenang aja kak, malam hari lo free" jawab Adrian dengan santainya.


Kirana menghela napas kasar." Jadwal saya tidak bisa diundur lusa?" tanya Kirana. Ia masih ingin disini memantau keadaan suami tercintanya.


"Lusa lo ada janji bertemu dengan Elsa dan CEO Marcel melalui sambungan video internasional. Sebenarnya lo disuruh datang ke Aussie, tapi setelah gue bernegosiasi Ceo Marcel memutuskan untuk melakukan pertemuan melalui sambungan video" lanjut Adrian menjelaskan jadwal Kirana kedepannya.


"Sudah berapa kali saya bilang? Tidak ada kata bernegosiasi dalam kamus saya!" ucap Kirana datar. Ia tidak pernah sekalipun bernegosiasi dengan lawan bisnisnya, tapi kali ini Adrian membatalkan perintahnya.


"Maaf Kak, kalau sama CEO Marcel kita harus melakukan negosiasi, karena perusahaan dia dan perusahaan kita mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin merebut pasar Eropa. Jadi, kita harus bekerja sama dengan dia" jelas Adrian.


"Btw gue ada kabar tentang orang yang lo kirim fotonya tadi pagi" lanjut Adrian membuat Kirana tertarik dengan penjelasannya.


"Katakan!" ucap Kirana ketus.


"Di dalam mobil ada siapa aja kak? Mobil lo berteknologi tinggi kan? Tutup pembatas antara kursi penumpang dengan supir, karena ini bersifat sangat pribadi" ucap Adrian.


Kirana menatap kaca depan mobil dan mengisyaratkan untuk menutup pembatas antara supir dan penumpang. Pak Adi yang mengerti tatapan Kirana langsung menutupnya dan menyisakan ruang tersendiri bagi Kirana di belakang sana.


"Sudah katakanlah!" seru Kirana masih dengan nada bicara yang sangat dingin. Perubahan suasana hatinya tergantung pada Zaidan, jika ia dekat dengan pria itu maka dirinya akan sering tertawa.


"Gadis yang mengikuti lo dan kak ipar Zaidan itu mata-mata bayaran. Sampai sekarang gue belum tau apa motifnya mengikuti kalian berdua" ucap Adrian membuat Kirana semakin murka.


"Cari tau tentang orang itu secepatnya! Perketat keamanan di lokasi tempat Zaidan melakukan kegiatan sukarelawan! Saya tidak ingin suami saya terluka sekecil apapun !" ucap Kirana meninggikan suaranya dan mematikan telpon secara sepihak.


Di seberang sana, Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar perintah dari Zaidan.


"Ternyata lo emang belum berubah kak, masih aja keras kepala" gumamnya terkekeh.


Dilokasi sukarelawan, pikiran Zaidan melayang entah kemana sampai ia tidak fokus saat mereka sedang melakukan briefing.


"Zaidan, coba ulangi apa yang barusan saya katakan" ucap Amel membuat Zaidan terbelalak. Sejak tadi ia tidak fokus pada apa yang dikatakan Amel, melainkan fokus pada Kirana dan bertanya sendiri dalam hati sedang apa istrinya saat ini.


Zaidan meremas ujung jasnya, baru kali ini fokusnya hilang saat melakukan kegiatan. Lidahnya keluh dan ia juga tidak tau apa yang dikatakan Amel barusan.


Amel hanya menghela napas panjang dan tersenyum. "Sepertinya dokter Zaidan sedang kecapean, sehingga fokusnya hilang, hehe" ucap Amel terkekeh untuk mencairkan suasana dan dibalas senyum miris oleh Zaidan.


Setelah memberikan arahan, Amel menghampiri Zaidan yang sedang duduk di bawah pohon besar di dekat basecamp mereka.


"Tumben enggak fokus, ada apa?" tanya Amel duduk di samping Zaidan. Refleks Zaidan menggeser dan memberikan jarak yang sangat jauh diantara mereka.


"Gak apa-apa" jawab Zaidan menunduk. Ia tidak ingin terjadi fitnah diantara keduanya, apalagi hubungannya dengan Kirana sudah membaik.


"Heum. Besok kamu satu tim dengan saya, dokter Calvin, dan Ilham dibantu dengan beberapa orang perawat. Kita besok akan ke sekolah dasar untuk melakukan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat" lanjut Amel memberitahu Zaidan tentang apa yang ia katakan waktu pengarahan tadi.


"Iya, heum aku permisi dulu ya. Assalamualaikum" pamit Zaidan pergi menuju basecamp nya dan meninggalkan Amel sendirian di bawah pohon.


Amel hanya menatap lirih punggung Zaidan yang sudah menjauh pergi dari hadapannya.


"Apakah kita tidak bisa seperti dulu lagi? Kamu yang selalu manja padaku disaat kegiatan sukarelawan, sekarang kamu malah menjaga jarak diantara kita" gumam Amel lirih.


"Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu Zaidan. Tapi aku sadar bahwa kamu milik orang lain dan cinta tak harus memiliki bukan? Itulah yang kurasakan saat ini" lanjut Smel sendu. Cinta pertamanya harus kandas begitu saja, cinta yang ia rawat harus dikubur secepatnya agar cinta itu tidak tumbuh terus-menerus.


"Jika kamu ingin ada jarak diantara kita, baiklah akan aku lakukan. Tapi ketahuilah, cintaku ke kamu tidak akan berubah sampai kapanpun Zaidan Brian Alvaro Assaba" Amel terus bermonolog dan berharap Zaidan bisa mendengar curahan hatinya.


Diam-diam Zaidan memperhatikan Amel yang tengah duduk dibawah pohon besar. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum bergumam.


"Kita harus menjaga jarak, aku gak mau Kirana salah paham dan aku yakin kamu berhak bahagia bersama dengan orang lain dan kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari aku" gumam Zaidan sendu dan menatap Amel dari balik jendela basecamp.


Zaidan kini sadar bahwa perasaannya terhadap Amel hanya sekedar rasa kagum dan bukan cinta. Karena cintanya sudah dimiliki oleh Kirana istrinya. Zaidan kagum akan kepribadian Amel yang suka menolong orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri, ia kagum Amel selalu meluangkan waktu untuk ikut serta dalam kegiatan unicef yang mempunyai misi membantu kesejahteraan anak-anak.


“Kamu berhak bahagia” gumam Zaidan.


Dibawah pohon Amel juga bergumam hal yang sama. "Kamu berhak bahagia"


......................


Malam hari, Kirana sudah tiba di Jakarta karena sudah terlalu larut, ia tidak menelpon Zaidan takut jika suaminya sudah tertidur dan ia tidak ingin mengganggu tidurnya.


Kirana langsung membersihkan diri kemudian tidur karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Sementara di Lombok, Zaidan tidak bisa tidur. Sepertinya kebiasaan Kirana yang selalu bersholawat dan mengelus kepalanya sebelum tidur, membuat Zaidan tidak bisa tidur seperti sekarang.


"By, aku kangen" gumam Zaidan lirih sambil menatap langit-langit.


Zaidan mengerjapkan matanya dan tak terasa ia pun tertidur. Tepat pukul 3 pagi, Zaidan terbangun dari tidurnya. Ia beranjak dan melaksanakan kebiasaannya untuk sholat malam.


Karena kamar mandi di basecampnya terletak diluar kamar, Zaidan sedikit merinding. Suasana yang sunyi dan semilir angin malam membuat suasana semakin mencekam.


"Semangat, lagian udah biasa juga kok" gumam Zaidan melihat sekitarnya yang sepi karena semua orang masih tertidur pulas termasuk Calvin.


Setelah mengambil wudhu, Zaidan kembali ke kamar untuk sholat malam. Dilanjutkan dengan murojaah untuk mengalihkan pikirannya yang menunggu kabar dari Koran.


Jakarta, pukul 03.00


Kirana terbangun dari tidurnya, ia melirik ke samping dan langsung terkejut karena ia tidak melihat Zaidan. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mencari Zaidan.


Kirana mencari ke kamar mandi. Namun tidak menemukan sang suami. Pikiran Kirana berputar mengingat kemana Zaidan pergi.


"Astaghfirullah aku lupa kalau dia sedang di Lombok" gumam Kirana lirih. Setelah itu ia mengambil wudhu dan melaksanakan kebiasaannya.


***


Kirana tidak sarapan pagi ini, ia langsung bergegas menuju kantor dengan ditemani Adrian dan juga Rio supir pribadinya.


"Selamat pagi nona Kirana" sapa Rio membungkukkan badannya dan membuka pintu mobil untuk Kirana.


Kirana hanya tersenyum membalas sapaan Rio. Lalu ia masuk ke dalam mobil disusul dengan Adrian.


"Muka lo kenapa ditekuk gitu kak? Baru juga beberapa jam pisah dari Zaidan udah murung aja lo, haha" ledek Adrian tertawa melihat wajah Kirana yang murung.


Kirana hanya menatap sinis Adrian. Ia tidak berminat menanggapi ucapan Adrian yang tidak berbobot.


Adrian yang hanya mendapatkan tatapan sinis dari Kirana hanya tersenyum miris. "Gini amat ya, punya kakak dan bos yang bucin akut" ucap Adrian tersenyum miris


30 menit kemudian. Kirana sudah tiba di kantor dan langsung disambut oleh manajer beserta sekretarisnya. Kirana berjalan dengan langkah tegap tapi tenang.


"Selamat pagi bu" sapa manajer tersebut menunduk lalu mengikuti langkah Kirana menuju ruang rapat.


Lombok, pukul 08.00


Zaidan sudah rapi dengan celana dan kemejanya ditambah dengan jas dokter serta id card volunteernya. Ia menenteng tas berisi mainan yang akan dibagikan pada anak-anak yang bisa menjawab beberapa pertanyaan tentang hidup bersih dan sehat dari mereka.


Amel yang melihat Zaidan menenteng tas langsung berinisiatif untuk membawakan tas tersebut.


"Sini biar saya aja yang bawa" ucap Amel membuat Zaidan terhenyak karena ia tidak melihat keberadaan Amel sebelumnya.


"Biar aku aja, gak apa-apa kok" ucap Zaidan menolak lembut tawaran Amel.


"Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Amel tiba-tiba.


"Aku gak mau ada fitnah diantara kita. Kamu orang baik dan kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari aku" ucap Zaidan menunduk. Saat ini mereka hanya berdua dan Zaidan cepat-cepat ingin pergi dari hadapan Amel.


"Baiklah jika itu mau mu, maka akan ku lakukan. Tapi, biarkan aku yang membawa tas itu" ucap Amel mengambil paksa tas yang ditenteng Zaidan. Ia tidak akan membiarkan Zaidan membawa untuk barang-barang berat.


Zaidan menyusul di belakangnya. Ia tau perasaan Amel saat ini pasti sedang kacau.


Zaidan berhenti di sebuah pohon besar tak jauh dari basecamp sambil menunggu mobil yang akan mengantarkan mereka ke sekolah dimana kegiatan hari ini dilaksanakan. Sembari menunggu, Zaidan mengambil ponselnya dari saku snelli ( jas dokter) dan melihat apakah Kirana ada menelponnya atau tidak.


"Apa Kirana belum sampai Jakarta ya?" gumam Zaidan melihat layar ponselnya dan ternyata belum ada satu pun telpon dari Kirana.


Zaidan langsung memutuskan untuk menelpon lebih dulu agar perasaannya tenang.


Di kantor, Kirana yang sedang rapat harus menghentikan aktivitasnya karena mendapat telpon dari suami tercintanya.


"Tunggu! Saya ada telpon, permisi" ucap Kirana berdiri dari kursinya membuat semua orang ikut berdiri dikala pemilik perusahaan Fernanda Group ini pergi.


Kirana langsung menggeser layar ponselnya. Ia sudah tidak sabar mendengar suara Zaidan.


"Halo, assalamualaikum Zaiyang" sapa Kirana tersenyum sumringah. Walaupun Zaidan tidak bisa melihat senyuman itu.


"Waalaikumussalam, by udah sampai Jakarta? Kok gak ada kabarin aku sih!" ucap Zaidan kesal. Kirana terkekeh ia sudah bisa membayangkan betapa gemasnya wajah Zaidan saat ini.


"Maaf By, tadi malem aku sampai Jakarta udah larut banget dan tadi pagi aku lupa kabarin kamu Zaiyang" ucap Kirana tersenyum.


"Seharusnya kamu tetap telpon aku! Kamu gak tau gimana khawatirnya aku waktu lihat gak ada satu pun telpon dari kamu. Kamu tau kan aku gak mau kamu kenapa-napa!" lanjut Zaidan sangat kesal pada Kirana. Menurutnya alasan Kirana tidak masuk akal sama sekali.


"Maaf by, aku baik-baik aja kok. Aku gak ada niatan untuk membuat mu khawatir Zaiyang, udah dong jangan kesel gitu. Pasti saat ini wajah kamu sedang dalam mode yang sangat menggemaskan" goda Kirana yang sudah bisa membayangkan bagaimana wajah cemberut Zaidan yang sangat gemas.


"Au ah kesel sama kamu!" ucap Zaidan kesal.


"Perlu aku dateng ke Lombok lagi By? Untuk menghilangkan rasa kesal Kamu?" tanya Kirana terkekeh.


"Iih! Apaan sih, yaudah aku mau siap-siap untuk ke lokasi kegiatan sukarelawan. Kamu jangan dekat-dekat sama pria lain, nanti aku cemburu!" celetuk Zaidan mengingatkan Kirana untuk tidak dekat dengan pria lain.


"Haha, iya by. Kamu tenang aja, hati-hati disana ya, jangan terluka sekecil apapun oke" ucap Kirana tertawa gemas pada suaminya. Jika Zaidan berada dihadapannya pasti saat ini pipi Zaidan sudah habis digigit Kirana.


"Oke, aku pamit ya assalamualaikum" ucap Zaidan menutup sambungan telponnya setelah mendapat balasan salam dari Kirana.


Kirana memandangi foto Zaidan di lockscreen ponselnya sejenak sebelum kembali masuk ke ruang rapat.


"Kalau jadwal aku gak padet, pasti aku akan tetap bersama kamu Zaiyang" gumam Kirana gemas.


Kirana melangkahkan kakinya masuk kembali ke ruang rapat untuk membahas presentasi yang belum selesai tadi.


"Lanjutkan!" perintah Kirana dingin. Berbeda saat berbicara dengan Zaidan tadi, ia tersenyum hangat.


Mereka langsung melanjutkan presentasinya, jika tidak segera dilanjutkan maka pemilik perusahaan Malik Group itu akan marah dan meninggalkan begitu saja rapat ini.


Kirana mengamati dengan saksama. Begitulah sifat Kirana saat rapat, ia sangat teliti dan jeli untuk mengamati setiap inci dari powerpoint rekan bisnisnya.


Adrian baru saja mendapatkan sebuah informasi. Karena ia berada tepat di belakang Kirana, jadi Adrian langsung membisikkan informasi tersebut padanya dan membuat Kirana kesal dan murka.


Rahang Kirana mengeras, sorot matanya tajam. Ia menggebrak meja dengan tidak sengaja karena menahan amarah.


Bruak!


"Kita lanjutkan besok!" ucap Kirana langsung pergi meninggalkan ruang rapat.


"Mohon maaf semuanya, rapat kita tunda sampai besok karena Bu Kirana sedang ada urusan lain. Semoga anda semua tidak keberatan, terimakasih" ucap Adrian menunduk lalu menyusul Kirana. Ia takut emosi Kirana tidak terkendali.


Kirana melangkah dengan tegap dan sorot mata yang tajam membuat siapapun yang bertemu Kirana akan bergidik ngeri. Ia berjalan menuju ruangan tersembunyi yang dikatakan Zaidan tadi. Ia langsung mendobrak pintu tersebut dengan kasar.


BRUAK!


Kirana masuk dengan tatapan tajam. Wajahnya merah padam menahan amarah, napas Kirana memburu dengan cepat karena amarah di dalam dirinya.


Ia mencengkeram kerah baju mata-mata bayaran yang menguntitnya.


"SIAPA YANG MEMBAYARMU HAH!" tanya Kirana dengan nada tinggi dan semakin mengeratkan cengkramannya. Adrian yang melihat hal itu tidak tinggal diam, ia menarik Kirana untuk tetap tenang dan tidak gegabah.


"Tenang kak! Istighfar heh!" ucap Adrian menarik Kirana untuk menjauh dari mata- mata tersebut.


Kirana memejamkan matanya sejenak sambil beristighfar. " Astaghfirullah saya khilaf" ucap Kirana menghela napasnya panjang. Setelah itu ia duduk dengan tenang, tapi sorot matanya masih tajam menatap mata-mata tersebut.


"Dia disuruh Elsa. Tapi sejak tadi gue tanya apa motifnya, dia diam membisu" bisik Adrian pelan pada Kirana.


Kirana tersenyum smirk. Ia tau apa yang harus ia lakukan agar gadis tersebut mau mengaku apa motifnya mengikuti Kirana di Lombok.


Kirana mengambil ponsel yang dikhususkan untuk mencari tau bukti-bukti orang yang mengganggu dirinya. Ia menunjukkan satu foto pada gadis yang membisu walaupun sudah babak belur dipukul oleh Adrian.

__ADS_1


"Anda tidak kasihan dengan adik anda?" tanya Kirana tersenyum smirk. Sebenarnya ini hanya sebagai ancaman saja agar gadis tersebut mau membuka mulutnya.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan adik saya?" akhirnya ia membuka mulutnya setelah Kirana menunjukkan foto adiknya.


"Saya tidak akan melakukan apapun, selama kamu mengikuti dan menjawab ucapan saya" lanjut Kirana menjentikkan jarinya.


Kirana bisa berubah menjadi sangat kejam, jika keluarganya di usik. Namun, ia juga masih memiliki sisi kemanusiaan sehingga adik gadis tersebut hanya sebagai ancaman saja.


"Apa yang ingin anda ketahui pak? Saya akan memberikan semua informasi yang saya punya, tapi tolong jangan libatkan adik saya" ucapnya memelas pada Kirana.


"Bagus. Dari tadi seperti ini kan enak, saya tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk mencengkeram mu. Apa motif anda mengikuti saya?" tanya Kirana tepat di telinga gadis tersebut.


"Saya tidak bisa memberitahu anda, pak. Nona Elsa tidak akan membiarkan saya hidup dengan tenang jika rencananya terbongkar" jawabnya bertele-tele dan Kirana tidak suka dengan hal itu.


"Sepertinya anda tidak sayang dengan adik lelaki anda" lanjut Kirana membuat mata-mata tersebut merubah pikirannya. Ia tidak ingin kehilangan adik satu-satunya itu.


"Saya akan memberitahu anda bahwa nona Elsa meminta saya untuk mencari tau siapa suami anda sebenarnya" ucapnya dengan napas memburu.


"Ah begitu rupanya. Apakah ada alasan lain?" tanya Kirana dengan tatapan mengintimidasi.


"Saya bersumpah tidak ada alasan lain selain mencari tau siapa suami anda nona. Tolong jangan sakiti adik saya" lanjutnya dengan memohon pada Kirana.


"Hei tenanglah! Saya ini masih waras, tidak mungkin bagi saya untuk melibatkan anak-anak hanya karena bisnis" celetuk Kirana menyugar rambutnya.


Kirana kembali mendekat ke arah mata-mata tersebut. "Mulai sekarang kamu bekerja untuk saya, dan cari tau tentang rencana Elsa selanjutnya!" putus Kirana sepihak.


Adrian menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan keputusan Kirana yang tampak gegabah.


Adrian mendekati Kirana dan berbisik padanya. "Kak, lo yakin mau mempekerjakan dia? Dia aja bisa mengkhianati Elsa apalagi lo! Gak gue gak setuju!" bisik Adrian protes.


"Bersahabatlah dengan musuhmu, maka kau akan tau siapa temanmu dan siapa musuh mu yang sebenarnya" ucap Kirana nyengir sambil berjalan menuju ruangannya dan meninggalkan mata-mata tersebut sendiri.


Adrian masih protes dengan keputusan Kirana. Bukan tanpa alasan, dua tahun lalu ia sudah ceroboh sampai membuat Kirana celaka dan ia tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali.


"Lo gak bisa mengambil keputusan sepihak! Kita harus berdiskusi dulu! Lo gak biasanya kayak gini kak, ada apa dengan lo hah!?" tanya Adrian serius.


"Jadwal saya selanjutnya?" bukan menjawab perkataan Adrian, Kirana malah bertanya apa jadwal selanjutnya.


"Rapat dengan pimpinan perusahaan Mathiew" jawab Adrian yang melihat tingkah aneh Kirana.


"Oke siapkan semuanya, saya ingin berbicara dengan suami saya dan jangan ada yang masuk ke ruangan saya, termasuk kamu!" ucap Kirana dingin lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Kirana duduk di kursi kebesarannya dan menatap ke luar jendela besar yang ada di ruangannya.


"Terkadang kita harus mencari tau semuanya sendiri, tanpa bantuan orang lain walaupun dia adik kita sendiri" gumam Kirana penuh dengan teka-teki.


Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya untuk menelpon Zaidan. Ia sudah kelewat kangen dengan suami tampan itu.


Panggilan pertama tidak dijawab oleh Zaidan sampai ke panggilan kelima akhirnya Zaidan menjawab telpon tersebut.


"Waalaikumussalam, masih inget punya istri by?" tanya Kirana kesal karena telponnya baru dijawab oleh Zaidan.


"Maaf by, aku baru selesai melakukan penyuluhan" ucap Zaidan


Dengan nada pelan. Saat ini tubuhnya terasa lemas, mungkin efek belum makan sejak pagi.


"By, nada bicara kamu kok lemas? Kamu kenapa?" tanya Kirana khawatir. Ia ingin melakukan panggilan video. Namun jaringan internet di tempat Zaidan berada sangat buruk.


"Aku gak apa-apa kok. Mungkin culture shock aja karena baru pertama kali aku ikut kegiatan volunteer di Indonesia" kilah Zaidan. Matanya seperti berkunang-kunang. Namun langsung dialihkan olehnya.


"Kamu yakin gak apa-apa, By?" tanya Kirana memastikan bahwa suaminya benar-benar baik.


"Iya, aku gak apa-apa kok" ucap Zaidan semakin pelan.Tenaganya benar-benar habis, bahkan untuk berbicara saja ia malas.


Zaidan berpamitan pada Kirana dengan alasan mau melanjutkan kegiatannya dan Kirana mengiyakan ucapan Zaidan. Namun, ia masih tidak yakin dengan ucapan Kirana bahwa dirinya baik-baik aja.


Kirana menelpon Adrian untuk mengubah seluruh jadwalnya menjadi hari ini. Ia ingin jadwalnya selama seminggu dipadatkan pada hari ini.


"Dek, padatkan jadwal saya!" ucap Kirana datar.


"Lo, kesambet apa kak? Kemarin lo bilang gue gak ada ngasih lo waktu istirahat, sekarang lo minta pasarkan jadwal lo! Kesambet jin?" tanya Adrian bercanda.


"Jangan banyak protes! Laksanakan apa yang saya perintahkan, padatkan jadwal saya!" ucap Kirana kesal.


"Iya, terserah lo deh!" ucap Adrian langsung mengubah jadwal Kirana dan memadatkannya.


Adrian menelpon bawahannya untuk segera menghubungi rekan bisnis mereka karena Kirana meminta jadwalnya selama satu minggu dipadatkan pada hari ini.


Kirana hendak keluar dari ruangannya. Namun, dicegah oleh Adrian.


"Eit tunggu dulu, lo mau kemana?" tanya Adrian yang baru saja muncul di depan Kirana.


"Bertemu Elsa" jawab Kirana singkat.


"Baiklah. Tapi gue ikut dengan pengamanan siaga satu" ucap Adrian yang tidak ingin terjadi sesuatu pada kakaknya itu.


"Saya bisa sendiri" ucap Kirana yang tidak ingin dikawal. Kirana tipikal orang yang sangat risih jika harus dikawal, tapi jika menyangkut Zaidan maka semuanya harus ketat.


"No! Gue gak mau kejadian dua tahun lalu terulang lagi!" protes Kirana. Disini peran sebagai seorang adik harus ditunjukkan olehnya atau Kirana akan kembali terluka.


"Terserah" lanjut Kirana singkat.


Adrian mengikuti langkah Kirana yang sudah keluar dari ruangannya. Ia menelpon semua bodyguard yang sudah dilatih khusus untuk mengawal mereka.


"Lakukan seperti perintah saya!" ucap Adrian tegas melalui ponselnya.


Mereka berdua sampai di lobby. Rio langsung membukakan pintu mobil untuk pemilik perusahaan Malik Group itu.


Kirana duduk di belakang, sedangkan Adrian duduk disamping supir.


"Cari tau tentang keadaan Zaidan, tadi waktu saya telpon nada bicaranya lemas" ucap Kirana pada Adrian yang kebetulan sedang memegang ponsel.


"Oke" jawab Adrian singkat dan langsung menghubungi bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Zaidan.


Adrian mengangguk dan langsung menghubungi bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Zaidan.


"APA! MELAKUKAN TUGAS SEPERTI ITU SAJA KALIAN TIDAK BECUS!" amuk Adrian sontak membuat Kirana kaget.


"Ada apa? Kenapa kamu marah-marah Adrian? JAWAB!" tanya Kirana khawatir.


Adrian mematikan sambungan telponnya dan menatap Kirana dengan tatapan sendu. Ia bingung harus memulainya dari mana.


"Berhenti!" celetuk Kirana yang melihat perubahan ekspresi wajah Adrian.


"Ada apa Adrian? Jawab saya!" tanya Kirana dengan sorot mata yang tajam.


Adrian menunduk. Ia bingung bagaimana harus memberitahu Kirana yang sebenarnya.


"Tolong jawab saya! Ada apa?" tanya Kirana meninggikan suaranya.


"Gue bakal jawab, tapi lo harus janji. Lo gak akan lepas kendali" ucap Adrian masih menunduk. Ia tau betul sikap Kirana bagaimana. Jika orang yang ia cintai diusik maka Kirana akan berubah menjadi buas dan tidak memikirkan statusnya yang anak pengusaha terkenal.


"Apa maksudmu! CERITAKAN CEPAT!" ucap Kirana yang sudah tidak sabar mendengar informasi tentang suaminya.


Adrian menoleh ke belakang dan menatap tajam Kirana.


"Kakak Ipar Zaidan hilang" ucap Adrian membuat Kirana terhenyak.


Deg.


Bagai disambar petir di siang bolong, Kirana langsung lemas mendengar kabar bahwa suaminya menghilang. Hatinya langsung terasa hampa dan sorot matanya berubah sendu.


"Gak pasti lo salah info kan? Ini semua gak mungkin terjadi, saya sudah menyuruh bodyguard untuk menjaga Zaidan dengan ketat. LO BERCANDA KAN!" ucap Kirana mencengkeram kerah Adrian.


Adrian terkejut melihat Kirana memakai kata 'lo' dan bukan 'kamu'.


Ini pertama kalinya Kirana memanggil seseorang dengan 'lo'.


"Gue gak bercanda kak. Maaf" ucap Adrian menunduk. Sekali lagi ia gagal menjaga keluarganya.


"Gak, lo pasti bercanda! 30 menit lalu, saya baru menelpon Zaidan dan dia bilang baik-baik aja. Saya akan buktikan kalau Zaidan memang baik" ucap Kirana melepaskan cengkeramannya dan menelpon Zaidan.


Sambungan telponnya tidak terhubung. Semakin membuat Kirana khawatir.


"By, angkat please" gumam Kirana khawatir.


Kirana terus mencoba menghubungi Zaidan sampai dua puluh kali. Namun, tak satu pun panggilan Kirana tersambung ke ponsel Zaidan.


"Saya akan ke Lombok untuk memastikan bahwa Zaidan baik-baik aja!" putus Kirana karena telponnya tak kunjung tersambung ke ponsel Zaidan.


"Hubungi pak Rafli sekarang juga untuk menyiapkan helikopter!" perintah Kirana dingin.


"Kita kembali ke rumah!" lanjutnya dengan ekspresi wajah datar.


Adrian dan Rio mengangguk dan melaksanakan perintah dari atasannya.


Mobil hitam mewah tersebut sudah tiba di halaman rumah Kirana yang sudah terparkir satu helikopter.


Tanpa basa-basi, ia langsung masuk ke dalam helikopter yang sudah disiapkan. Disusul oleh Adrian di belakangnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Helikopter yang dikendarai Kirana sudah tiba di resort tempat Kirana dan Zaidan menginap kemarin. Kirana langsung turun dan kembali masuk ke dalam mobil mewah miliknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Perasaannya saat ini sedang khawatir memikirkan kemana perginya Zaidan. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju basecamp dimana suaminya menginap.


Kirana turun dengan tegap dan berwibawa. Setiba disana ia disambut dengan bodyguard yang tidak bisa menjaga Zaidan dengan benar. Langkahnya tegas membuat siapapun takut melihat Kirana.


"Dimana suami saya?" tanya Kirana masih dengan nada pelan.


Kelima bodyguard tersebut menunduk dan meminta maaf pada Kirana karena mereka tidak tau kemana suaminya pergi.


"Maaf bu" ucap kelimanya membuat Kirana kesal.


"Maaf? Untuk apa? Saya bertanya dimana suami saya!" ucap Kirana mulai meninggikan suaranya dan mengepalkan tangannya.


"Terakhir kali kami melihat Tuan Zaidan berada di sekolah dasar dan ketika kami kembali kesana, Tuan Zaidan sudah menghilang, bu" ucap salah satu bodyguard membuat Kirana semakin kesal.


"Adrian!" panggil Kirana dengan suara baritonnya.


Adrian yang mengerti kode dari Kirana langsung menampar kelima bodyguard tersebut dengan keras.


PLAK!


"Menjaga satu orang saja kalian tidak bisa! Plak!" pekik Adrian masih menampar kelima bodyguard tersebut.


"Sudah cukup!" ucap Kirana menghentikan Adrian. Lalu ia berjalan masuk ke lingkungan basecamp Zaidan.


Di dalam basecamp, Kirana mencari keberadaan Zaidan dan bertanya pada teman-temannya.


"Permisi, dimana Zaidan?" tanya Kirana ke salah satu dokter yang kemarin bersama dengan Zaidan. Dokter tersebut adalah Bisma salah satu sahabat dan juga kakak angkat Zaidan.


"Eh dek Kirana. Saya kurang tau, karena kami tidak satu tim" ucap Bisma heran dengan kedatangan Kirana secara tiba-tiba seperti ini.


"Siapa tim Zaidan?" tanya Kirana kembali. Ia sudah terlanjur khawatir karena kabar menghilangnya Zaidan.


"Dokter Calvin, dokter Amel dan dokter Ilham, dek" jawab Bisma tersenyum ramah.


"Dimana lokasi kegiatannya?" Kirana kembali bertanya untuk memastikan bahwa Zaidan memang baik-baik aja.


Belum sempat Bisma menjawab, Calvin beberapa perawat yang bersama mereka dan juga Ilham tiba di basecamp dan langsung dipanggil oleh Bisma.


"Bro" panggil Bisma membuat Calvin menoleh dan langsung menghampirinya.


"Iya ada apa?" tanya Calvin yang tidak mengetahui bahwa gadis yang di dekatnya adalah Kirana.


Kirana langsung menoleh dan bertanya dimana Zaidan. "Kak Calvin dimana mas Zaidan?" tanya Kirana membuat Calvin terhenyak.


Calvin heran kenapa Kirana tiba-tiba datang dan Zaidan tidak memberitahunya.


"Lo bukannya tadi Zaidan pulang ke basecamp duluan ya? Karena tadi wajahnya pucat, jadi kami minta untuk pulang duluan" ucap Calvin menjelaskan.


"Zaidan gak ada di basecamp karena timku pulang duluan dan gak ada orang disini" bantah Bisma. Mereka berdua saling menatap heran.


Kirana semakin khawatir dengan penjelasan Bisma dan juga Calvin.


"Zaidan pulang sama siapa?" tanya Kirana khawatir.


"Zaidan pulang dengan diantar dokter Amel. Sekarang dokter Amel dimana, bis?" tanya Calvin pada Bisma.


Bisma mengedikkan bahunya. Ia tidak tau dimana Zaidan dan Amel berada.


Kirana mengepalkan tangannya. Namun, ia masih menjaga sikap di depan teman-teman Zaidan dan kakak iparnya.


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya, saya akan mencari tau dimana keberadaan suami saya" ucap Kirana langsung berpamitan. Ia kesal karena baik Amel ataupun Zaidan tidak ada yang bisa dihubungi.


"Sebaiknya dek Kirana tunggu saja disini. Mungkin mereka ada kasus darurat dan ponselnya mati" ucap Calvin menenangkan Kirana. Ia tidak ingin perasaan Zaidan kembali terluka hanya karena masalah sepele seperti ini.


Kirana menolaknya dan tetap bersikeras untuk mencari keberadaan Zaidan.


Calvin dan Bisma menatap satu sama lain. Mereka heran mengapa Amel dan Zaidan menghilang secara bersamaan.


Sedangkan Kirana. Ia meminta Adrian untuk mencari Zaidan di sekolah tempat kegiatannya berlangsung.

__ADS_1


"By, kamu dimana?" gumam Kirana sambil menatap foto Zaidan di ponselnya. Kemudian ia mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2