Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Dicuekin


__ADS_3

Bukan melanjutkan ucapannya, Kirana malah melamun mengingat kejadian kemarin waktu di kantor. Terbesit ide nakal di benak Kirana, namun segera ia tepis. Kirana takut akan mudah jatuh cinta pada Zaidan.


Kemarin di kantor, Kirana sedang serius membaca semua berkas yang diberikan oleh Adrian untuk di tanda tangani olehnya.


"Btw kapan lo ngasih keponakan ke gue kak? Jangan lama-lama gue kan mau jadi rich uncle" ucap Adrian memecah keheningan dan membuat Kirana menatapnya dengan tajam.


"Kepo!" ucap Kirana dengan santainya dan kembali memperhatikan berkas tersebut.


"Hah? Wajar sih gue kepo, kan gue pengen jadi rich uncle" ucap Adrian tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya itu.


"Saya belum bisa menerima Zaidan dengan ikhlas dan saya tidak ingin melakukannya jika tidak ada keikhlasan dari hati" jawab Kirana menghela napasnya.


"Hem kalau lo gak suka sama Zaidan mending lo bebasin dia terus dia nikah deh dengan perempuan lain" ucap Adrian sengaja agar Kirana merasa cemburu.


"Apa! Saya baru menikah dengannya kemarin! Enak aja!" ucap Kirana dengan nada tinggi dan tidak terima jika suaminya mau di rebut oleh perempuan lain.


"Just kidding! Tapi kalau beneran ya pasti gak nolak" goda Adrian agar Kirana semakin merasa cemburu.


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu silahkan tinggalkan surat resign di meja saya!" ucap Kirana dengan ketus.


Kirana merasa ada hal yang membakar hatinya saat Adrian menyuruhnya melepaskan Zaidan sejujurnya ia juga tidak tau apa yang terjadi pada dirinya.


Di kamar, Zaidan yang sudah siap mendengarkan syarat dari Kirana merasa kesal, karena itu malah gadis itu malah bengong dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Heh tapi apa!? Kok malah bengong" tanya Zaidan mengejutkan Kirana yang sedang melamun.


"Gak boleh ketus sama istri sendiri Zaidan," ucap Kirana kelewat gemas pada suaminya itu.


"Cepetan ih! kepo tau!" ucap Zaidan cemberut.


Allahu Akbar...


Allahu Akbar...


"Udah adzan ashar mas, Kita pergi ke masjid dulu hem?" ucap Kirana berganti pakaian kemudian berangkat ke masjid.


"Iya" jawab Zaidan singkat.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Kirana langsung ke kamarnya tanpa memperhatikan sekitar, ia sangat ingin dekat-dekat dengan Zaidan terus.


Pandangan Kirana menangkap pria polos dan imut yang sedang membaca buku di balkon kamarnya, ia menyapa Zaidan namun pria itu tidak mendengarnya.


"Assalamualaikum mas Zaidan" sapa Kirana namun Zaidan tidak mendengar suara Kirana karena keasikan membaca buku.


Kirana melepas mukena, dan langsung menghampiri Zaidan yang sedang serius membaca buku.


"Assalamualaikum Zaidan" Kirana kembali menyapa Zaidan yang sedang asik membaca buku.


"Waalaikumussalam Kirana" ucap Zaidan memeluk Kirana tanpa melihat wajah istrinya.


"Lagi ngapain?" tanya Kirana sekedar basa-basi.


Zaidan hanya melirik malas, dia sedang tidak mood untuk berdebat dengan Kirana.


Zaidan mengabaikan pertanyaan Kirana, ia fokus membaca buku dengan tema kesehatan mental pada anak. Sementara Kirana merasa tidak suka saat di abaikan oleh Zaidan, biasanya pria itu punya banyak pertanyaan untuk Kirana.


"Udah sholat?" tanya Kirana mencoba untuk mengalihkan perhatian Zaidan.


"Udah kan kewajiban" jawab Zaidan malas. Selain ia sedang fokus membaca buku, ia juga merajuk pada Kirana yang tidak ingin mengizinkannya pergi.


Kirana keluar dari kamar, padahal Zaidan berharap Kirana akan bertanya kenapa ia diam? Tapi Zaidan lupa kalau istrinya itu sangat dingin dan dalam kondisi tertentu bisa berubah lembut.


"Ih bukan nanya kenapa diem aja? Eh malah ditinggal! Dasar istri yang sangat pengertian" gerutu Zaidan dengan kesal dan lanjut membaca buku, ia tidak peduli dengan Kirana yang ingin keluar kemana.


Kirana turun menghampiri bundanya yang sedang duduk sambil membaca kitab kuning milik Kirana dulu. Kirana langsung merebahkan kepalanya di paha sang bunda.


"Kenapa nak?" tanya Carissa pada Kirana dan menutup kitab tersebut.


"Zaidan ngambek bun" ucap Kirana datar.


Carissa menggelengkan kepalanya, ternyata dia sedang kesal karena Zaidan sedang merajuk padanya. Bundanya mengelus kepala Kirana dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ngambek kenapa, hem?" tanya Carissa pada Kirana, ia merasa lega karena Kirana perlahan-lahan sudah memperhatikan Zaidan.


"Gak tau mi, tadi waktu Kirana ke masjid baik-baik aja eh sekarang malah ngambek" jawab Kirana menghela napas kasar.

__ADS_1


Sementara Zaidan telah selesai membaca bukunya, ia turun untuk mengambil air mineral karena air mineral di kamarnya telah habis.


Zaidan melihat Kirana sedang berbincang ringan dengan ibu mertuanya, ia tidak menghampiri mereka karena Zaidan pikir mereka sedang berbicara secara pribadi.


"Nak Zaidan sini" panggil Carissa saat melihat Zaidan turun dan membuat Zaidan berjalan menghampiri mereka.


"Iya bun ada apa?" tanya Zaidan dengan wajah ditekuk saat melihat wajah Kirana.


"Sini duduk nak" perintah Carissa. Zaidan pun menuruti perintah mertuanya itu.


"Bunda ingin menasihati kalian berdua, pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup kita, walaupun kalian menikah karena di jodohkan. Bunda yakin kalian bisa menerima satu sama lain" ucap Carissa menyatukan tangan Zaidan dan Kirana.


"Bunda selalu berdoa semoga pernikahan kalian bertahan lama dan semoga kalian berjodoh dunia akhirat, jika ada masalah jangan ragu untuk cerita satu sama lain dan jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, jangan ragu untuk cerita ke bunda, hem, dasar sebuah hubungan itu kepercayaan. Jika kalian sudah saling percaya maka hubungan kalian akan baik. Bunda percaya sama kalian berdua" sambungnya memeluk putri dan menantunya itu.


"Iya bun" jawab Kirana dan Zaidan serempak.


"Bunda harus pulang besok pagi, kalian jangan berantem" ucap Carissa pada mereka berdua.


"Loh tapi kata ayah, bunda seminggu disini? Zaidan enggak mau ditinggal sama bun" ucap Zaidan memeluk mertuanya manja dan menyingkirkan tangan Kirana dengan paksa.


'Disini yang anaknya bunda aku atau dia!?' batin Kirana saat melihat bundanya lebih memperhatikan Zaidan dari pada dirinya.


"Ada pekerjaan di perusahaan, lagian bunda juga harus mengurus Adrian. Bunda rasa kalian harus belajar mandiri" ucap bunda Carissa mengelus pelan pipi Zaidan.


Zaidan berpikir sejenak, yang dikatakan mertuanya ada benarnya juga. Kalau terus di rumah mereka bagaimana dengan adik Kirana.


"Zaidan ikut bunda ya?" tanya Zaidan antusias, ia masih belum mengerti wilayah di Indonesia karena ia dibesarkan di LA dan baru menjadi warga Indonesia selama 3 tahun lalu langsung menikah dengan Kirana.


Kirana mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zaidan, ia merasa keberatan dengan ucapan Zaidan yang ingin ikut ke rumah Ayah bareng sang bunda.


"Enggak bisa sayang, kalau kamu ikut bunda nanti Kirana sama siapa hem? Lihat ekspresi wajahnya yang keberatan" goda Carissa pada Kirana dan membuat telinga Kirana memerah akibat malu.


"Tapi Zaidan pengen ngerasain jadi santri, bun" sambung Zaidan dengan wajah memelas.


"Kenapa Zaidan pengen jadi santri? Zaidan kan lebih dari sekedar santri. Zaidan bisa hafal quran dengan kondisi lingkungan yang menganut budaya barat. Zaidan tetap menutup aurat dan menjaga pandangan padahal lingkungan Zaidan mendukung jika Zaidan ingin membuka aurat dan bebas memandang dari apapun. Zaidan tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang bahkan seorang santri pun belum tentu bisa seperti Zaidan" ucap Carissa dengan lembut mengelus kepala Zaidan.


Kirana yang mendengar sedikit informasi tentang Zaidan berdecak kagum. Ia tidak menyangka bahwa pria itu seorang penghafal al-quran.

__ADS_1


Kirana mengira Zaidan adalah pria liar yang sering berpacaran dan terjebak dalam pergaulan bebas karena pria itu tinggal di lingkungan yang menganut budaya barat. Tapi ternyata tidak, Zaidan berusaha sebaik mungkin mempertahankan agamanya.


'Pantas aja waktu itu, dia mengaji tanpa melihat mushaf al-quran' batin Kirana berdecak kagum.


__ADS_2