
Daniel dan juga Naura baru saja tiba di ruang inap putra mereka. Mereka berdua terkejut saat melihat besan mereka ada disana, karena Aarav tidak memberitahu Daniel akan datang ke Jakarta.
"Assalamualaikum" sapa Daniel dan Naura serentak.
"Waalaikumussalam warahmatullah" jawab semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Papa" ucap Zaidan sedikit berteriak dengan nada manjanya membuat Kirana semakin gemas padanya.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya. Ia bersyukur karena anaknya sudah mulai pulih. Setelah bersalaman dengan Aarav, Daniel menghampiri putranya.
"Kenapa nak?" tanya Daniel mengusap kepala Zaidan.
"Gak apa-apa pa, cuman manggil aja" ucap Zaidan santai.
Semua orang yang ada di ruangan itu, terkekeh melihat tingkah Zaidan yang menggemaskan.
Mereka semua bercengkrama ringan. Aarav dan Daniel tampak sedang serius berbicara empat mata di sofa. Sedangkan, para istrinya juga bercengkrama di sofa dekat jendela. Sementara Kirana, ia lebih memilih duduk di samping brankar Zaidan sambil mengamati kedua orang tua mereka yang sedang berbicara melepaskan rindu satu sama lain.
"Kamu gak ikutan rapat?" tanya Zaidan menoleh ke arah Kirana.
"Aku gak ke kantor sampai kamu sembuh total mas" jawab Kirana tersenyum. Lengkungan bibir Kirana tidak bisa ditahan saat ia berbicara dengan suaminya.
"Bukan rapat pekerjaan, tapi rapat itu" ucap Zaidan menunjuk ke arah papa dan juga ayah mertuanya dengan memanyunkan bibirnya membuat Kirana semakin gemas pada suaminya.
"Hehe, urusan orang tua mas. Yang muda rapat sendiri yuk" ucap Kirana terkekeh.
"Mau bahas apa bu?" tanya Zaidan seolah-olah menjadi klien Kirana. Tingkah Zaidan hari ini sangat random, tapi tetap saja ditanggapi oleh Kirana, karena ia tidak ingin jika suaminya merajuk lagi padanya.
"Bahas hmm... apa ya?" ucap Kirana mengerutkan dahinya, seolah-olah ia sedang berpikir.
Tak lama kemudian, Calvin datang karena sudah jadwalnya untuk mengecek keadaan Zaidan. Pandangannya menatap heran, karena semua orang sedang berkumpul disana termasuk orangtua Kirana.
Calvin melangkah masuk dan mendekati Kirana, setelah mengucapkan salam dan bersalam dengan papa dan Ayah Aarav.
"Udah mendingan dek?" tanya Calvin sambil mengatur posisi brankar Zaidan agar berbaring dan memudahkannya untuk memeriksa keadaan Zaidan.
"Udah dong, berarti udah boleh pulang kan mas?" tanya Zaidan antusias. Ia sangat ingin pulang ke rumah dan rawat jalan saja.
"Belum, harus di observasi 3 hari lagi" jawab Calvin melepaskan stetoskop dari telinganya. Ia juga sudah mengecek suhu tubuh Zaidan, walaupun sudah berada dikisaran angka 37 derajat, tapi tetap saja membuat Zaidan khawatir. Ia tidak akan membiarkan adiknya pulang sebelum pulih total.
Zaidan cemberut. Namun, dia juga tidak ingin membantah perintah abangnya.
Calvin memijat tengkuknya, seharusnya ia istirahat di rumah. Namun, karena harus mengecek keadaan Zaidan membuat Calvin harus kembali ke rumah sakit. Ia tidak mengizinkan siapapun untuk mengecek keadaan Zaidan selain dirinya sendiri.
Zaidan memandangi wajah Calvin, tampak guratan kelelahan di wajahnya.
"Selesai jam berapa operasi tadi malam mas?" tanya Zaidan menatap wajah Calvin. Ia tau dari Kirana bahwa Calvin sedang ada operasi darurat tadi malam.
"Sampai pagi dek, mas kesini tadi pagi itu lah baru selesai dan keluar dari ruang operasi" ujar Calvin menyugar rambutnya. Mata Calvin sudah sangat ingin tertidur, tapi ia harus mengurungkan niatnya karena memeriksa keadaan Zaidan.
Calvin melangkahkan kakinya ke sofa dimana abinya berada. Ia yang tengah terkantuk malah mendapatkan pertanyaan yang selama ini ia hindari.
"Nak Calvin kapan nyusul adeknya?" tanya Aarav membuat lidah Calvin keluh.
Rasa kantuk Calvin tiba-tiba hilang begitu saja, ia selalu menghindari pertanyaan itu. Sebenarnya, Calvin sudah siap secara materi ataupun finansial. Umurnya juga sudah cukup matang, tapi ia belum berpikir untuk menikah. Ia masih ingin fokus membahagiakan adik satu-satunya dan memastikan bahwa Zaidan memang bahagia hidup bersama Kirana. Calvin juga mempunyai standar seorang istri, misalnya istri Calvin nantinya harus akur dan akrab pada Zaidan. Jika tidak, maka Calvin akan memilih Zaidan dan membela adiknya.
Jangan tanya kenapa Calvin seegois itu. Dulu ia merupakan anak tunggal dan ia merengek ingin memiliki satu adik dan qadarullah ia mendapatkan adik setampan Zaidan. Makanya Calvin sangat berhati-hati jika menyangkut Zaidan.
"Calonnya belum ada om" ucap Calvin disertai candaan agar suasana tidak terlalu tegang.
"Calonnya yang belum ada atau nak Calvin punya standar yang tinggi?" tanya Aarav sambil tertawa kecil.
"Calon itu dicari Vin, atau mau papa carikan?" tanya Daniel yang ikutan memojokkan sang putra. Sudah lama ia membujuk Calvin untuk segera menikah. Namun, jawaban Calvin tetap sama yaitu ia ingin memastikan bahwa Zaidan bahagia menjalani kehidupannya.
Calvin hanya tersenyum masam. Beban pikirannya bertambah lagi, padahal ia masih ingin sendiri.
"Nanti juga datang sendiri pa" jawab Calvin santai. Membuat Daniel dan Aarav terkekeh dengan jawaban Calvin.
Zaidan ikutan memojokkan abangnya. Kapan lagi ia mendapat kesempatan untuk jahil pada Calvin.
"Kalau cewek baru nunggu jodohnya dateng ke rumah! Kalau mas Calvin ya harus dicari, masa cewek harus dateng ke rumah cowok? Kan gak mungkin!" ledek Zaidan tertawa puas. Namun, ia mendapat tatapan mata dari Kirana yang mengisyaratkan untuk tidak ikut memojokkan Calvin.
__ADS_1
Zaidan menunduk lalu meminta maaf. Ia menyuruh Kirana untuk duduk di sebelahnya dengan alasan kepalanya pusing, padahal ia hanya ingin bersandar di dada bidang Kirana.
"Masih pusing?" tanya Kirana menatap manik mata indah milik Zaidan.
Zaidan mengangguk pelan dan mengarahkan tangan Kirana ke kepalanya.
Daniel menyenggol lengan Calvin dan berbisik pada putra sulungnya. "Lihat, Zaidan sudah bahagia bersama Kirana. Sekarang carilah tulang rusukmu nak, bukankah menikah merupakan sunnah Rasul?" bisik Daniel membuat raut wajah Calvin berubah menjadi datar.
Zaidan yang melihat perubahan wajah Calvin, langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Mas" panggil Zaidan lirih. Ia sedang berpura-pura saja agar Calvin tidak dipojokkan dengan masalah pernikahan.
"Kenapa dek?" tanya Calvin khawatir.
"Pusing" ucap Zaidan manja. Calvin langsung memeriksa keadaan Zaidan.
Calvin mengerutkan dahinya. Suhu tubuh Zaidan masih sama dengan tadi, lantas mengapa Zaidan pusing? Ia melirik ke arah Zaidan yang sedang tersenyum, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik aja dan ia hanya berpura-pura agar Calvin tidak dipojokkan.
"Lebih enak di LA dek, gak ada yang bertanya kapan nikah" bisik Calvin membuat Zaidan tersenyum tipis.
Tinggal di lingkungan individualisme selama bertahun-tahun membuat Calvin tidak terlalu suka bersosialisasi. Ia hanya bersosialisasi dengan pasien, keluarga pasiennya, atau klein perusahaannya. Hal itu juga yang menjadi faktor Calvin belum menemukan pujaan hatinya.
"Zaidan tidak apa-apa, hanya efek habis demam tinggi kemarin" ucap Calvin menenangkan semua orang yang berada disana karena mereka juga tampak khawatir sama seperti Kirana.
...---------------...
Sore hari, kedua orang tua Kirana pamit untuk pulang ke Bogor karena tidak ada yang mengurus pondok. Padahal Carissa masih ingin bersama dengan menantunya.
"Ayah sama bunda pulang ya nak. Kirana, jaga Zaidan baik-baik" merangkap Carissa jepitan pundak Kirana.
"Nggih bun" jawab Kirana.
Zaidan mencium punggung tangan mertuanya sambil tersenyum.
"Syafakillah nak, biar cepat main ke pondok dan kerumah" ucap Carissa mengelus pelan kepala Zaidan.
"Nggih bun" ucap Zaidan lembut.
"Le, jangan kelamaan sendiri gak baik" ucap Aarav dan dibalas senyum miris oleh Calvin.
Setelah berpamitan, kedua orang tua Kirana keluar dengan diantar oleh Kirana.
Di dalam ruang inap, Daniel sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan Aarav sahabatnya. Ia juga menginginkan seorang menantu, tapi ia juga tidak bisa memaksa Calvin untuk segera menikah. Karena keluarga mereka tidak pernah memaksa seorang anak untuk menjalani kehidupannya. Hanya Zaidan yang dipaksa, bukan tanpa alasan melainkan Daniel terikat janji dengan Aarav sahabatnya untuk menjodohkan anak mereka.
Zaidan memeluk mamanya, dari kecil Zaidan sering ditinggal orang tuanya bekerja. Sewaktu di LA, Zaidan tinggal bersama Ilham abang sulung papanya yang ia panggil papa. Karena papa dan mamanya kembali ke Indonesia sejak Zaidan berumur 15 tahun.
"Kamu kangen sama mama, nak?" tanya Naura mengelus pelan pipi Zaidan.
Zaidan mengangguk kecil. Padahal ia sering bertemu mamanya karena mereka bekerja di rumah sakit dan departemen yang sama. Tapi entah mengapa Zaidan sangat kangen dengan sang mama, mungkin karena setelah menikah ia jarang bertemu dengan mamanya.
Kirana kembali masuk ke ruang inap Zaidan. Ia melihat suaminya yang sedang manja memeluk mama mertuanya. Kirana berjalan mendekati Calvin yang tengah memijat kepalanya di sofa tak jauh dari Daniel.
Calvin melirik sekilas ke arah Kirana yang baru saja duduk di dekatnya.
'Kalau gak terikat kontrak di rumah sakit ini, sekarang aku ingin pulang ke LA!' batin Calvin kesal.
Kirana menyandarkan kepalanya di sofa. Ia mendapat pesan singkat dari Adrian. Namun, hanya dibaca tanpa dibalas oleh Kirana.
"By" panggil Zaidan manja.
"Kenapa mas?" tanya Kirana tersenyum lembut.
Naura melepaskan pelukannya dan membiarkan sepasang kekasih halal tersebut untuk berbicara hanya berdua saja. Ia hanya ingin melihat putra bungsunya merasa bahagia.
"Gak apa-apa, mas cuman manggil aja" jawab Zaidan tanpa dosa.
Kirana menarik kursi yang berada di dekat brankar Zaidan dan ia pun duduk di samping brankar Zaidan sambil mengusap punggung tangan suaminya yang masih terpasang selang infus.
Kirana sedang membujuk Zaidan untuk minum obat. Sementara Calvin, dibujuk untuk segera menikah.
"Lihat adikmu Vin, dia udah bahagia sama istrinya. Kamu kapan nak? Mama juga mau melihat kamu bahagia dengan istrimu" ucap Naura mengelus kepala Calvin dengan lembut.
__ADS_1
Calvin hanya menghela napas panjang. Ia melirik ke arah jam tangannya dan pamit untuk pergi karena harus operan.
"Calvin izin keluar dulu ya ma, pa. Calvin harus operan" pamit Calvin dan langsung keluar dari ruang inap Zaidan.
Calvin menghela napas lega. Akhirnya ia bisa bebas dari pertanyaan yang tidak bermutu sama sekali.
"Huft. Akhirnya bisa bernapas juga" gumam Calvin terkekeh dan tidak sengaja ia menabrak seorang gadis yang bisa ditaksir lebih tua setahun dari Kirana.
"Sorry" ucap Calvin membantu membereskan barang-barang gadis itu yang tercecer karenanya.
"Enggak apa-apa, saya permisi dan terimakasih" ucapnya sopan sambil menundukkan pandangannya.
Calvin hanya mengedikkan bahunya dan terus berjalan menuju ruang Fellowship. Ia tidak ambil pusing dengan kejadian tadi.
***
Tiga hari berlalu, Zaidan sudah di ijinkan untuk pulang. Tapi, harus tetap minum obat dan tidak boleh kelelahan.
"Yeay pulang" ucap Zaidan dengan antusias. Sementara Kirana hanya menggelengkan kepalanya saja dan membereskan semua barang-barangnya.
Rio yang menunggu di ambang pintu hanya tersenyum dan menunggu perintah dari Kirana untuk membawa semua barang-barang bosnya.
Calvin datang dengan menggunakan jas putih kebanggaannya. Ia menghampiri adik kesayangannya dan mengingatkan untuk tidak minum es krim terlebih dahulu.
"Inget jangan minum es krim, kelelahan dan jangan lupa obatnya diminum ya dek" ucap Calvin mengingatkan Zaidan.
"Iya" jawab Zaidan singkat.
"Kalau Zaidan ngeyel, jewer aja telinganya" lanjut Calvin bercanda. Ia tau bagaimana rasanya mengurus Zaidan ketika sedang sakit, lebih sulit mengurusnya dibanding mengurus bayi.
Kirana hanya terkekeh mendengar ucapan abang iparnya. Sementara Zaidan? Ia sedang duduk sambil cemberut.
"Kalian hati-hati ya, mas lagi ada pasien gak bisa lama-lama. Oh iya dek, tadi mas gak sengaja ketemu Rafi, katanya dia kangen sama kamu" ucap Calvin memberitahukan bahwa salah satu pasien Zaidan sedang kangen padanya.
"Terus sekarang Rafi dimana mas?" tanya Zaidan penasaran. Sudah hampir sebulan sejak pernikahannya, ia tidak pernah bertemu dengan Rafi, salah satu pasiennya.
"Lagi dirawat sama dokter Rayhan. Mas permisi dulu ya, assalamualaikum" pamit Calvin dengan segera, karena pasiennya pasti sudah menunggunya.
"Waalaikumussalam" jawab Kirana dan juga Zaidan serempak.
Kirana sudah selesai membereskan barang-barang Zaidan dan ia juga sudah meminta Rio untuk membantunya membawa barang-barang tersebut ke dalam mobil mewah miliknya.
Kirana menggendong Zaidan dan membantunya untuk turun dari brankar. Padahal, Zaidan bisa sendiri. Tapi tetap saja digendong oleh Kirana.
"Aku gendong sampai mobil ya?" tanya Kirana yang tidak ingin Zaidan kembali sakit.
Zaidan menggelengkan kepalanya. Bisa dibully seumur hidup dia kalau sampai di gendong Kirana ke mobil. Apalagi para staff di rumah sakit ini, sangat senang menggodanya.
Bagaimana tidak, Zaidan sangat mudah tersipu malu. Ia juga dokter yang sangat cerdas, bahkan ia pernah mendampingi dokter kepala departemen bedah untuk operasi besar. Hanya ia satu-satunya dokter umum yang pernah melakukan tugas tersebut dengan cekatan. Makanya, ia pernah diminta untuk menjadi residen di departemen bedah. Namun, Zaidan lebih memilih untuk mengambil spesialis anak.
"Gak perlu, mas bisa jalan sendiri kok" ucap Zaidan meyakinkan Kirana.
"Yakin mas?" tanya Kirana ragu.
Zaidan mengangguk pasti.
"Yakin, kamu jangan jauh-jauh dari mas, kamu harus dekat dengan mas selalu, jaga pandangan awas aja kalau kamu lirik cowok lain" ucap Zaidan
Zaidan memeluk pinggang ramping Kirana. Ia tidak membiarkan Kirana berjalan tanpa dirinya.
Disaat mereka berjalan di lorong, tak jarang banyak dari staff rumah sakit yang menyapa Zaidan. Mereka iri dengan putra keluarga Daniel tersebut, selain tampan ia juga cerdas dan dirinya mendapat istri seperti Kirana. Pengusaha yang sukses di usia muda. Bahkan nama perusahaannya terkenal di Asia. Siapa sih orang yang tidak mengenal Kirana. Pemilik serta pendiri perusahaan Fernando Group yang dalam 5 tahun bisa menguasai pasar Asia dan sekarang sedang mengembangkan bisnis untuk menguasai pasar Eropa.
Zaidan dan Kirana masuk ke dalam mobil. Mereka dikawal dengan dua mobil berwarna hitam yang berada di depan dan belakang mobil mereka.
Kirana terkejut saat mereka berhenti di sebuah bangunan mewah. Namun terlihat elegan jika dilihat dari luar pagar. Kirana mengira rumah tersebut adalah rumah saudara Zaidan.
Pagar Mansion tersebut terbuka saat Zaidan memberikan perintah dari ponselnya. Pandangan mata Kirana dimanjakan dengan halaman yang luas dengan pohon bonsai yang dirawat dengan teratur. Mata Kirana menangkap satu taman dengan ayunan yang dihiasi dengan bunga dan juga air mancur yang berada di dekatnya. Bangunan rumah tersebut sangat mewah dengan cat tembok berwarna putih menambah kesan elegan rumah tersebut.
"Masya Allah indah banget, ini rumah siapa mas?" tanya Kirana tersenyum lebar.
"Coba tebak, rumah siapa by?"ucap Zaidan menatap intens manik hazel Kirana. Ia sangat suka setiap inci dari Kirana.
__ADS_1
Zaidan menjentikkan jarinya dan seketika sekat mobil tertutup. Hanya meninggalkan ruang tertutup bagi Zaidan dan Kirana di bangku belakang. Zaidan mendekatkan wajahnya ke arah Kirana. Napas hangat Kirana menyapu wajah Zaidan dengan lembut. Kirana menunduk, tapi di cegah oleh Zaidan. Wajah Kirana sudah merah seperti kepiting rebus membuat Zaidan semakin gemas padanya. Pada saat ia ingin menyerang bibir tipis Kirana, ada orang yang mengetuk kaca mobilnya dan membuat Zaidan menghela napas kesal.