
Zaidan menurunkan kaca mobilnya dan melihat siapa yang berani mengganggunya. Ternyata Adrian yang menganggunya, wajah Zaidan masih kesal karena diganggu saat ingin menyentuh bibir tipis Kirana.
Rio yang sudah keluar lebih dulu dari mobil, langsung membuka pintu untuk big bosnya. Setelah Zaidan keluar, ia beralih ke pintu mobil dimana Kirana duduk dan membukanya agar sang istri bisa turun dan masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Ayo by" ucap Zaidan menggandeng tangan Kirana.
Wajah kesal Zaidan berubah menjadi senyuman saat berbicara dengan istrinya.
Mereka berdua disambut dengan para anak buahnya. Bi Inem menyambut tuan dan nyonya muda keluarga Malik.
"Assalamualaikum tuan" sapa bi Inem menyambut kedatangan mereka berdua.
"Waalaikumussalam bi'" jawab mereka berdua serempak.
Zaidan dan Kirana melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Mas, kenapa kita pindah rumah ?" tanya Kirana menatap wajah Zaidan sebelum masuk ke dalam Mansion mewah tersebut.
"Sebenarnya, Mansion ini udah lama dibangun by. Tapi, baru selesai empat hari lalu. Padahal mas punya rencana untuk mengajak kamu tinggal di Mansion ini setelah menikah. Ternyata, Allah punya rencana lain" jelas Zaidan mengelus pelan pipi Kirana.
"Terus rumahku yang disana, bagaimana?" tanya Kirana tentang rumah lama yang ia tempati bersama Zaidan.
"Kita biarkan aja" ucap Zaidan dengan lembut.
"Kok dibiarkan aja mas? Kan sayang rumah bagus, tapi malah ditinggal" ucap Kirana kecewa dengan jawaban Zaidan.
Adrian ingin meminta Kirana untuk menandatangani beberapa berkas yang harus disetujui oleh Kirana.
Adrian mendatangi Kirana yang tengah melihat Zaidan yang sedang menyusuri setiap inci dari ruang tamu Mansion baru mereka.
"Kak, lo harus tandatangani dokumen ini secepatnya" ucap Adrian menyerahkan dokumen tersebut pada Kirana.
"Apa tidak ada hari lain adik ipar?" tanya Zaidan kesal. Karena Adrian lah dirinya tidak bisa mencium bibir tipis Kirana.
"Gini kak ipar, klien kita meminta persetujuan ini secepatnya dan lo kak gak balik-balik ke kantor dan dengan terpaksa, gue harus ke rumah" ucap Adrian terkekeh. Ia tau Zaidan sedang kesal sekarang. Terlihat dari wajah tampan Zaidan yang menunjukkan ekspresi kesal. Padahal biasanya Zaidan hanya menunjukkan ekspresi gembira.
"Letakkan di meja kerja saya, nanti Kirana akan kesana" perintah Zaidan dan dibalas anggukan oleh Adrian.
Adrian memang tau letak semua ruangan di Mansion tersebut, karena dirinya lah yang mengawasi proses pembangunannya.
Zaidan menghampiri Kirana dan memeluk tubuh Kirana dari belakang dengan lembut, membuat Kirana merasa geli.
"Lepasin mas, geli tau" ucap Kirana mencoba melepaskan tangan Zaidan dari pinggangnya.
"Ke kamar yuk" ajak Zaidan mengeratkan pelukannya.
Kirana mengerutkan dahinya. Padahal ia masih ingin menyusuri setiap inci dari rumah baru mereka.
Tanpa menunggu persetujuan Kirana, Zaidan langsung membawa Kirana ke kamar utama yang berada di lantai tiga. Mansion itu terdapat empat lantai, lantai pertama untuk ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan serta dapur. Lantai dua untuk kamar tamu dan kamar-kamar lainnya. Lantai tiga untuk kamar utama dan dua kamar yang di siapkan Zaidan untuk kamar anak mereka kelak. Sedangkan lantai empat, khusus untuk helipad.
Kirana ingin menekan tombol disamping pintu lift. Namun, Zaidan mencegahnya. Pria tampan itu mengajak Kirana untuk naik tangga saja.
"Naik tangga aja" ucap Zaidan dengan berbinar, membuat Kirana tidak bisa menolaknya.
"Kenapa gak naik lift by? Kan lebih cepet" tanya Kirana heran.
"Aku mau naik tangga!" celetuk Zaidan berubah menjadi kesal.
"Yaudah iya" ucap Kirana.
Setelah menaiki 30 anak tangga, akhirnya mereka berdua tiba dikamar utama. Napas Zaidan sedang tersengal, tapi Kirana malah biasa saja padahal gadis itu berlari di tangga.
Zaidan membuka pintu kamar yang dikunci dengan menggunakan pin. Ia memberikan kode pin tersebut pada Kirana.
"By, nomor pin-nya tanggal pernikahan kita" ucap Zaidan sambil menekan tombol-tombol yang berada pada pegangan pintu.
Setelah pintu terbuka, Zaidan langsung mempersilahkan Kirana untuk masuk.
"Silahkan masuk" ucap Zaidan mempersilahkan Kirana untuk masuk.
__ADS_1
Kirana masuk dengan langkah pelan. Kamar itu lebih luas dan besar dari kamar lamanya. Ia melihat lemari yang berjejer rapi disana, terdapat sofa berwarna putih yang sangat elegan.
Zaidan mengunci pintu dan langsung memeluk tubuh mungil Kirana yang sedang menyusuri setiap sudut di kamar itu.
"Mas lepasin dulu, aku capek. Inget kata mas Calvin kan? Kamu gak boleh kelelahan dulu" ucap Kirana tersenyum. Padahal itu hanya alibi Kirana saja.
Kirana langsung melepaskan pelukan tersebut. Ia menyuruh Zaidan untuk beristirahat. Kirana membantu Zaidan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size dengan seprai berwarna peach.
"Istirahat dulu ya by" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan dengan lembut. Kirana hendak pergi mengambil dokumen yang di berikan Adrian tadi. Namun, Zaidan mencegahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zaidan polos. Sebenarnya ia takut ditinggal Kirana sendirian.
"Mau ngambil berkas untuk di tanda tangani mas, kenapa?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.
Zaidan menggelengkan kepalanya. "Kamu disini aja ya" ucap Zaidan manja.
Zaidan tersenyum, lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Kirana dan memeluknya.
"Kamu tadi nanya kenapa kita pindah kan?" tanya Zaidan dan dibalas anggukan oleh Kirana.
"Sebenarnya mas udah rencana sesudah kita menikah kita langsung pindah dirumah mas. Tapi saat itu kamu belum bisa mencintai mas, jadi mas tunda dulu" jelas Zaidan memainkan rambut Kirana.
"Terus kenapa mas gak cerita ke aku?" tanya Kirana penasaran.
"Mas gak mau buat kamu risih by" ucap Zaidan
"Mas yakin cuman itu alasannya?" tanya Kirana ragu.
"Iya by, cuman itu" ucap Zaidan meyakinkan Kirana.
"Terus rumah yang disana kenapa dibiarkan aja mas?" tanya Kirana mengorek semua informasi dari Zaidan. Karena ia merasa ada yang janggal disini.
"Kita biarkan aja, kalau ada yang mau tempati yaudah gak apa-apa. Nanti kamu urus surat-suratnya" jawab Zaidan tersenyum lembut ke arah istrinya.
"Gratis gitu?" tanya Kirana lagi.
Zaidan mengangguk pelan. Ia hanya ingin ada orang yang mengurus rumahnya saja tanpa harus menjualnya. Karena pengalaman Zaidan yang telah lalu, saat ia menjual rumah miliknya yang berada di cluster mewah, performa cluster tersebut langsung anjlok dan Zaidan tidak ingin hal itu terulang kembali.
Kirana berhasil membuat suaminya tertidur dengan pulas. Disaat ia sedang mengamati wajah polos Zaidan, Kirana tergoda dengan bibir tersebut. Ia mengecup lembut bibir kenyal tersebut, hanya mengecupnya tanpa melakukan hal yang lebih dari itu. Karena Kirana tidak ingin menganggu suaminya yang baru saja tertidur.
"Selamat bermimpi mas" ucap Kirana tersenyum lembut, lalu ia membaringkan kepala Zaidan di bantal dan menarik lengannya secara perlahan. Ia sama sekali tidak ingin Zaidan kembali terjaga.
Setelah berhasil menarik lengannya, Kirana keluar dari kamar menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lantai tiga. Ia mengambil semua dokumen tersebut dan membawanya kembali ke kamar utama.
Kirana mengamati setiap orang yang berpapasan dengannya, hanya untuk sekedar memastikan bahwa orang tersebut memang lah salah satu pegawainya.
Ia kembali masuk ke dalam kamar utama dengan dokumen-dokumen resmi yang harus ia baca dengan teliti dan tanda tangani.
Waktu berlalu begitu cepat. Kirana yang kelelahan tanpa ia sadari tertidur di sofa dengan posisi duduk dan sambil memegang dokumen yang harus ia tandatangani.
Zaidan terbangun dari tidurnya dan melirik ke arah jam weker di atas nakas. Ternyata sudah pukul 12 siang. Kemudian pandangannya menangkap Kirana yang sedang tertidur pulas di sofa. Zaidan beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Kirana.
Zaidan menatap sendu istrinya. Ia merasa bersalah karena dirinya lah Kirana sampai kelelahan seperti sekarang. Tangan Zaidan dengan lembut mengelus kepala Kirana, membuat Kirana membuka matanya.
"Mas, udah bangun?" tanya Kirana dengan sayup-sayup.
Zaidan mengangguk kecil. Kirana memposisikan kepalanya berada di paha Zaidan membuat Zaidan merasa geli dan sesekali menjauhkan kepala Kirana dari pahanya.
"By geli tau" ucap Zaidan tertawa kecil.
"Gak tuh" jawab Kirana tersenyum jahil. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di perut Zaidan.
"Yang geli aku! Bukan Kamu!" ucap Zaidan kesal dan memajukan bibirnya, membuat Kirana semakin gemas dan ingin mencium bibir yang sedang cemberut itu.
Cup.
Zaidan terhenyak. Ia benar-benar kaget karena Kirana tiba-tiba menciumnya dengan agresif. Padahal kepala Kirana tadi masih berada di paha Zaidan.
"Gak usah kaget gitu by, kamu mau yang lebih mas?" tanya Kirana menggigit bibir bawahnya. Ia sengaja ingin menggoda sang pujaan hati.
__ADS_1
'Geleng Zaid!' batin Zaidan menanggapi ucapan Kirana. Tapi, pikirannya malah membuat ia menganggukkan kepalanya.
Seperti itulah, jika pikiran dan hati tidak sejalan. Hati ingin apa dan pikiran ingin apa.
Kirana yang mendapat persetujuan dari suami langsung membawa Zaidan ke dalam pelukannya. Ia dengan lembut mencium bibir Zaidan. Padahal ia ingin bermain kasar. Namun, kondisi Zaidan tidak memungkinkan untuk hal itu.
"Boleh ya?" tanya Kirana meminta persetujuan kepada Zaidan yang sedang berada dalam dekapannya.
'Tolak Zaid!' gumam Zaidan dalam hati. Namun, lagi dan lagi pikirannya menyetujui permintaan Kirana. Ia mengangguk dan dibalas senyuman manis oleh Kirana.
Setelah selesai, mereka berdua rebutan untuk mandi karena sudah memasuki waktu sholat dzuhur. Kirana tentu tidak menyia-nyiakan momen itu.
"Kita ambil jalan tengah aja gimana by? Mandi berdua aja, lagian masih ada sekitar 15 menit lagi untuk bersiap-siap" goda Kirana dan dibalas cubitan kecil oleh Zaidan.
"Aw, kok malah dicubit sih mas?" tanya Kirana tanpa dosa. Ketika Kirana lengah, Zaidan berhasil berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Kirana mengulas senyum melihat Zaidan yang masih kelelahan akibat ulahnya dan harus berlari ke kamar mandi agar terhindar darinya.
10 menit berlalu, Kirana sudah rapi dengan gamis syar'i miliknya. Ia celingukan mencari dimana keberadaan Zaidan. Dan yang dicari malah muncul tiba-tiba di depan Kirana hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya.
"Cari siapa by?" tanya Zaidan yang tiba-tiba muncul di depan bidadarinya.
"Astaghfirullah mas" pekik Kirana kaget. Ia langsung menutupi matanya dengan kedua tangannya.
"Kenapa oleh?" tanya Zaidan tanpa dosa. Ia senang sekali membalas Kirana kesal. Menurutnya wajah Kirana sangat menggemaskan ketika sedang kesal.
"Pikir aja sendiri!" celetuk Kirana langsung pergi dari hadapan Zaidan. Jika ia menatap Zaidan terus-menerus yang ada dirinya akan tergoda dengan tubuh atletis Zaidan dan ia tidak jadi menjalankan kewajibannya.
"Loh berdosa darimana by? Kan mas gak lakuin apa-apa" ucap Zaidan dengan wajah polos. Padahal ia tau apa yang dimaksud oleh Kirana.
"Terserah! Sekarang mau sholat berjamaah atau sendiri-sendiri mas?" tanya Kirana yang sudah siap dengan mukenanya.
"Tunggu mas" jawab Zaidan berlalu dan memakai baju koko serta sarungnya.
Mereka berdua melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah.
***
Waktu sudah berlalu, langit biru sudah digantikan dengan langit senja yang sangat indah. Kedua pasangan suami istri tersebut sedang duduk bersama di balkon kamar mereka, Kirana memijat pelan kepala Zaidan.
"By pusing" ucap Zaidan lirih. Entah mengapa kepalanya terasa sangat berat, padahal tadi siang ia sudah baik-baik saja dan bisa melayani Kirana dengan baik. Walaupun tubuhnya masih lemas, tapi ia tetap berusaha memuaskan Kirana sebagai ucapan terimakasih karena telah menjaga dan merawatnya dengan baik.
"Maafin aku ya mas, pasti ini efek karena ulah aku tadi siang kan?" tanya Kirana menyesal. Tidak seharusnya ia meminta haknya disaat kondisi Zaidan belum pulih sepenuhnya.
"Gak salah kok, lagian cuman pusing doang. Setelah minum obat juga sembuh" ucap Zaidan meyakinkan Kirana.
Zaidan menyandar di dada bidang Kirana. Ia merasa tidak ada tempat yang paling nyaman selain sajadah dan dada bidang Kirana.
"Kita batalin aja buat nonton film ya mas? Lain kali setelah kamu pulih, kita bakal nonton film" putus Kirana. Ia tidak ingin mencari masalah dengan membawa Zaidan keluar malam hanya untuk menonton film.
"Kok dibatalin? Aku gak apa-apa kok" ucap Zaidan mengulas senyum. Ia sudah sangat excited untuk menonton film bersama istrinya.
"Lain kali aja perginya mas, tunggu kamu pulih dulu" jawab Kirana mengelus pelan pipi suaminya.
Zaidan hanya menghela napas kasar. Padahal ia sudah tidak sabar ingin ngedate bersama kekasih halalnya. Namun, rencana mereka malah gagal.
'Kenapa harus sakit sih!' umpat Zaidan dalam hati. Ia kesal karena kondisinya yang membuat mereka batal ngedate.
Zaidan dan Kirana menatap langit senja yang sudah hampir menghilang. Pikiran mereka melayang masing-masing.
Ponsel Kirana berdering, sebenarnya ia tidak ingin mengangkatnya karena telpon tersebut berasal dari Elsa. Satu-satunya orang yang Kirana benci karena sudah membuat suaminya jatuh sakit.
"Ada apa?" tanya Kirana dingin.
"Santai! Gimana keadaan kekasih gue? Ups maksud gue suami lo?" tanya Elsa sengaja memancing emosi Kirana. Hatinya akan merasa senang, jika emosi Kirana meluap.
"Untuk apa bertanya tentang hal itu?" tanya Kirana tenang. Kirana sangat tenang, karena suaminya saat ini sedang memeluk manja tubuhnya.
"Gue hanya ingin tau keadaan kekasih gue, hem sorry maksud gue suami lo, tapi" lanjut Elsa belum sempat menuntaskan kalimatnya dan sudah dimatikan sepihak oleh Kirana.
__ADS_1
Kirana tidak mengucapkan salam ataupun basa-basi. Begitulah karakternya, jika sudah benci dengan seseorang.