Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Rencana Honeymoon


__ADS_3

Zaidan ketiduran karena efek obat yang diminum olehnya. Selang beberapa menit, Bi Inem mengetuk pintu kamar utama tersebut, karena ia ingin membersihkan kamar tersebut.


Sudah tiga kali Bi Inem mengetuk pintu, namun tetap saja tidak mendapat jawaban dari dalam. Bi Inem menekan pin yang diberitahukan oleh Zaidan.


Zaidan memang sudah menganggap Bi Inem sebagai ibunya sendiri, jadi ia memberikan nomor pin kamarnya, untuk membersihkan ataupun sekedar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan suaminya.


Pintu kamar utama terbuka menampilkan pria yang sedang tertidur pulas memeluk guling dengan tubuh yang dibalut dengan selimut. Bi Inem ingin membersihkan kamar itu, tapi ia merasa heran karena kamar tersebut sudah bersih dan tidak ada debu sedikit pun yang menempel.


Bi Inem tersenyum menatap Zaidan "Andai anak bibi sepertimu, tuan" gumam Bi Inem dengan suara paraunya.


"Udah baik, tampan, pengertian, tutur katamu sopan. Andai saja anak bibi bisa bibi ajarkan sikap yang sama persis denganmu" lanjut Bi Inem masih menatap sendu Zaidan. Dahulu, Bi Inem punya seorang anak putra yang lebih tua dua tahun dari Zaidan. Namun, anaknya terjebak dalam pergaulan bebas dan sampai sekarang ia tidak tau dimana anaknya berada.


Bi Inem sudah menganggap Zaidan seperti putrany sendiri dan dirinya lah yang menyatukan hubungan pernikahan Zaidan dan Kirana beberapa minggu lalu.


Beberapa minggu lalu, Bi Inem mengirimkan sengaja mengirimkan foto Zaidan yang kebetulan diantar pulang oleh Amel ke ponsel Kirana. Dan selang satu menit langsung dibaca oleh nona muda satu itu dan langsung kembali ke rumah.


Sepertinya takdir juga memihak agar pernikahan dua insan tersebut tidak hancur. Benar saja, Kirana tiba tepat saat tangan Zaidan tidak sengaja menyentuh tangan Amel. Terekam jelas di ingatan Bi Inem bagaimana wajah Kirana yang merah karena menahan cemburu. Siapa sangka, ternyata usaha tersebut berhasil dan membuat Kirana luluh. Sehingga janji suci pernikahan mereka masih bertahan hingga sekarang.


Bi Inem membantu Zaidan karena dirinya memposisikan bagaimana jika putranya yang berada dalam posisi Zaidan. Sehingga ia memiliki ide tersebut dan Allah memihak dirinya untuk membantu penyatuan dua insan tersebut.


Zaidan menggeliat, samar-samar ia melihat wanita paruh baya sedang berada di depannya. Sontak Zaidan langsung membuka matanya lebar-lebar dan memastikan bahwa dia tidak sedang berhalu.


"Bi inem?" tanya Zaidan dengan suara khas bangun tidur.


Bi Inem tersadar dari lamunannya dan menatap Zaidan sambil mengulas senyum.


"Eh tuan udah bangun, niatnya tadi saya mau membersihkan kamar ini. Ternyata sudah bersih" ucap Bi Inem sopan.


Zaidan mengangguk pelan. "Tadi pagi, udah Zaidan bersihin bi" ucap Zaidan tersenyum. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan Bi Inem pamit karena masih banyak pekerjaan di bawah.


...****************...


Malam harinya, Kirana pulang ke Mansionnya dan langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya. Saat ia masuk, Kirana melihat sesosok pria sedang duduk meringkuk dengan sayup-sayup isak tangis.


Kirana langsung masuk dan menghampiri Zaidan. Ia sangat terkejut karena mendapati pangerannya sedang menangis.


"By, kamu kenapa?" tanya Kirana langsung memeluk tubuh Zaidan.


Hiks... Hiks...


Zaidan semakin terisak, kemeja Kirana sudah basah dengan air mata dan air hidung bidadarinya.


'Untung sayang' batin Kirana mengusap kepala Zaidan dengan lembut.


Kirana membiarkan Zaidan sampai berhenti menangis. Setelah Pangerannya tenang, dia mendongakkan kepala Zaidan.


"Kenapa nangis by? Ada yang sakiti kamu?" tanya Kirana menyerka sisa air mata Zaidan.


Zaidan menggeleng pelan. "Tadi, selesai sholat aku baca novel online terus pemeran ceweknya meninggal karena kecelakaan pesawat mas, kasian banget cowoknya, jadi kayak depresi gitu mas. Hiks..." ucap Zaidan sesenggukan.


Kirana menggembungkan pipinya menahan tawa melihat tingkah suaminya.


"Kamu ketawa?" tanya Zaidan kesal karena melihat wajah Kirana menahan tawa.


"Gak kok mas" ucap Kirana menggigit bibir bawahnya.


Kirana menarik Zaidan untuk duduk di pangkuannya. "Kamu udah makan?" tanya Kirana lembut.


Zaidan menggeleng pelan. Kalau kamu udah makan?" tanya Zaidan membalikkan wajahnya untuk bisa melihat wajah Kirana.

__ADS_1


"Belum by" ucap Kirana mencium leher Zaidan.


"lish jorok banget sih! Mana belum mandi, udah cium-cium mas!" celetuk Zaidan kesal karena Kirana baru pulang dari luar rumah dan pastinya banyak kuman yang menempel di pakaian Kirana.


Kirana menyengir tanpa dosa. "Hehe, maaf by. Lagian kamu menggoda sih" ucap Kirana salah tingkah.


"Nanti aku cium balik baru tau rasa!" ucap Zaidan sambil mengerucutkan bibirnya.


Kirana tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung membuka kancing atas kemejanya.


"Silahkan mas" goda Kirana menunjuk ke arah lehernya.


"Kirana Imes!" ucap Zaidan mencubit perut Kirana yang sudah kelihatan gendut.


Wajar saja Kirana gendut, ia sudah jarang ke gym karena menjaga suaminya yang sangat menggemaskan itu.


"Lho siapa yang imes by? Kan kamu yang minta" lanjut Kirana mengedipkan matanya jahil.


"Gak mau ih! Kamu belum mandi! Banyak kuman! Udah gitu bau keringet lagi!" celetuk Zaidan menutup hidungnya seolah-olah merasa jijik, padahal tidak sama sekali. Ia ingin pergi dari pangkuan Kirana. Namun, dengan sigap tangan Kirana langsung melingkar dengan erat di pinggang Zaidan.


"Aku wangi loh mas, tadi sebelum pulang, aku mandi parfum" seru Kirana dengan nada jahil.


"Tetep aja banyak kuman!"


Kirana mengusap kepala Zaidan dengan lembut. "Oh iya aku mau tanya, mas mau honeymoon dimana?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


"Seharusnya mas yang tanya begitu, istri mas ini mau honeymoon kemana?" tanya Zaidan menatap balik manik hazel Kirana.


"Bandung atau Yogyakarta boleh mas? Katanya seru tempat wisata disana" jawab Kirana dengan antusias.


"Boleh dong by, mau ke Bandung dulu apa Yogyakarta?" tanya Zaidan tersenyum lembut ke arah Kirana.


cup


Kirana terdiam sejenak. Ia kaget karena Zaidan tiba-tiba menciumnya. Setelah itu, ia memiliki ide untuk menggoda suaminya yang pipinya sudah bersemu merah.


"Yang tadi nempel di pipi aku apa mas?" tanya Kirana dengan nada menggoda.


"Udah ih by, jangan digodain gitu! Mas malu tau!" jawab Zaidan tersipu malu.


Kirana cekikikan, kemudian ia mencibir hidung Zaidan.


"Kenapa malu sayang? Kan istri sendiri" seru Kirana.


Zaidan saja senyum-senyum sendiri. Jujur, ia salah tingkah karena telah mencium Kirana.


"By mas boleh nanya gak?" tanya Zaidan memberanikan diri, setelah jantungnya kembali normal.


"Boleh dong by, jangankan bertanya, kamu boleh minta apapun dari aku" jawab Kirana tertawa kecil.


"Kamu inget gak, di awal pernikahan kita, aku pernah bilang kalau mau membebaskanmu setelah satu tahun. Nah, itu bakalan jatuh talak sampai waktu yang mas ucapin kan? Terus kamu tetep mau mas bebasin?" tanya Zaidan menatap wajah serius wajah Kirana.


'Kenapa dulu aku harus ucapin kalimat itu sih!' batin Kirana menyesal.


Raut wajah Kirana berubah menjadi datar. Lalu sedetik kemudian, ia kembali tersenyum lembut ke arah suaminya.


"Kita laksanakan ijab qabul ulang mas" ucap Kirana dengan pasti.


"Setelah matahari terbenam tepat di satu tahun pernikahan kita, maka kita akan langsung melakukan ijab qabul ulang dengan dua orang saksi yang sah"

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir bahwa aku akan ninggalin kamu mas, aku akan tetap di sisi kamu sampai kapanpun" lanjut Kirana mengusap kepala Zaidan dengan lembut.


Zaidan tersenyum. Kegundahan hatinya sudah terpecahkan. Ia langsung menyender pada dada bidang Kirana.


"Katanya bau keringat, tapi nempel-nempel." ledek Kirana dan langsung mendapat tatapan tajam dari Zaidan.


"Aku mandi dulu ya mas" ucap Kirana beranjak dari tempat duduknya dan mengambil handuk.


Bukan langsung ke kamar mandi, Kirana malah berbalik arah mendatangi Zaidan yang masih duduk di tempatnya tadi.


"Mandiin aku mau mas?" tanya Kirana dengan wajah polos.


"Ih sayang!" celetuk Zaidan kesal dan ingin mencubit lengan Kirana. Namun, Kirana berhasil kabur ke kamar mandi.


Selang beberapa menit. Kirana sudah selesai mandi dan saat ini ia sedang mengambil sate padang yang ia beli sepulang kantor untuk dibawa ke kamar.


Namun, tiba-tiba listrik di Mansion Kirana padam. Padahal, hal tersebut belum pernah terjadi.


"Astaghfirullah" ucap Kirana langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya dan meninggalkan dua porsi sate di meja makan.


Kirana sangat khawatir pada Zaidan, karena suaminya itu sangat takut pada kegelapan. Ponsel Kirana berdering dan ternyata dari Zaidan.


"Sa-ya-ng di-ma-na? hiks..." tanya Zaidan dengan terbata-bata dan isak tangis.


"Aku di depan kamar mas, tunggu sebentar ya by. Aku, mau nelpon Adrian dulu" ucap Kirana dengan tenang. Walaupun saat ini hati dan pikirannya sudah tidak sinkron.


"A-aku ta-kut" ucap Zaidan sesenggukan.


Kirana menghela napas kasar. "Jangan takut mas, aku disini. Sekarang kamu tarik napas dulu hm?" ucap Kirana menenangkan Zaidan.


Kirana mencoba membuka pintu kamar mereka. Namun, hasilnya nihil karena pintu kamar itu di desain dengan pin dan hanya bisa dibuka jika terhubung dengan listrik.


Kirana menelpon Adrian untuk memberitahu bahwa ada pemadaman listrik di Mansionnya.


"Assalamu'alaikum Adrian! Kenapa ada pemadaman listrik? Bukankah ini kompleks perumahan elite?" tanya Kirana setelah mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam apa? Pemadaman listrik? Bentar-bentar gua cek kak" ucap Adrian langsung menatap layar komputer di depannya.


"Gua otw sama petugas PLN, lo tenang dulu ya" lanjut Adrian setelah tau apa penyebabnya.


"Bagaimana kakak bisa tenang, Mas Zaidan sendirian dan ketakutan di dalam kamar!" ucap Kirana meninggikan suaranya karena kesal. Ini pertama kali, ia mengalami pemadaman listrik setelah pindah ke Jakarta.


"Astaghfirullah kenapa lo gak bilang dari tadi kak? Di lemari besar lo, ada pintu darurat yang sengaja gue pasang untuk keadaan genting kayak gini. Suruh Zaidan keluar lewat pintu itu dan pintu itu tembus ke perpustakaan" jelas Adrian dengan nada tenang.


"Tapi pintu perpustakaan juga pakai pin dan otomatis tidak bisa dibuka juga!" seru Kirana dengan sangat khawatir.


"Bisa, pintu perpustakaan sengaja gua desain dengan khusus. Bisa dibuka tanpa pin dan sambungan listrik" lanjut Adrian meyakinkan Kirana.


"Oke terimakasih, cepatlah datang. Assalamu'alaikum" ucap Kirana dan langsung menutup sambungan telpon setelah mengucapkan salam.


Kirana langsung mengarahkan Zaidan ke pintu darurat seperti yang di ucapkan Adrian.


"Tenang mas, tarik napas dulu. Bismillah, aku ada disini, jadi kamu jangan takut oke?" ucap Kirana menenangkan Zaidan. Pria itu sangat mudah panik, jika dalam keadaan gelap seperti ini.


Zaidan mengikuti perintah Kirana. Ia membuka lemari besar milik Kirana dan benar terdapat pintu darurat didalam sana. Ia hendak masuk ke pintu tersebut, tapi tiba-tiba ada orang yang menarik tangannya.


"KIRANA!" pekik Zaidan di sambungan telpon.


Infoo!!

__ADS_1


Halo guys cerita mengejar cinta istriku Kirana pindah ke ******* ya dengan judul baru Zaidan Brian-bilanasa


__ADS_2