Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Imamnya Lemah


__ADS_3

Zaidan merebahkan dirinya di sofa tempat ia tidur, dari tadi malam setelah Kirana pulang, Zaidan tidak tidur karena harus ke rumah sakit.


Saat Zaidan mulai terlelap dalam tidurnya. Kirana mencuri pandang wajah Zaidan dengan tersenyum. Ia mulai terpesona saat Zaidan saat tidur.


Kirana mencoba mengalihkan pandangannya, namun sedetik kemudian ia tersenyum.


'Masya Allah, nikmat Tuhan mu yang mana yang kau dustakan?' gumam Kirana saat melihat wajah tampan Zaidanmembuat gairah Kirana tiba-tiba muncul.


Kirana menatap ke arah bibir Zaidan, seperti ingin melakukan serangan pada pria yang ia tolak di malam pertama dan malah memberikan surat perjanjian.


Perlahan Kirana mendekatkan wajahnya pada Zaidan. Zaidan merasa terganggu karena ada sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya dengan terpaksa ia harus membuka mata. Zaidan terbelalak saat melihat wajah Kirana mendekat ke arahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, ia seperti akan kehilangan napasnya saat jari Kirana mendarat di bibir tipis miliknya.


"Izin ya mas" ucap Kirana mendekatkan bibirnya pada Zaidan, tubuh Zaidan gemetaran dan keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.


"A-apa y-yang a-akan k-kamu l-lakukan?" tanya Zaidan terbata-bata, Kirana semakin menguncinya dan membuat Zaidan tidak bisa bergerak banyak.


"Malam pertama yang sempat tertunda" ucap Kirana lembut tepat di telinga Zaidan, Kirana sudah mengambil ancang-ancang, jika Zaidan atau Zaidan bergerak, maka bibir mereka akan bersentuhan.


'Apa dia sudah siap memberikannya' tanya Zaidan dalam hati, ia pun menolak keinginan Kirana yang sudah siap akan menerkam Zaidan.


"Gak, aku ingin melakukan ketika kamu sudah mencintaiku dan memberikannya atas nama cinta" tolak Zaidan sambil mencium pipi Kirana


Kirana meraih dengan lembut tangan Zaidan dan menyingkirkannya.


"Bukan kah tadi kamu yang meluk saya terlebih dahulu, heum?" sambung Kirana meraih dagu Zaidan yang sempat kalah.


"A-aku cu-cuman ka-kangen sama mas Calvin, biasanya dia yang ku peluk sepulang dari rumah sakit" jawab Zaidan masih dengan tubuh yang bergetar.


Kirana tidak menghiraukan penjelasan dari Zaidan, hampir saja Kirana mencium bibir Zaidan, namun Kirana harus mengurungkan niatnya karena sang bunda datang secara tiba-tiba.


"Astaghfirullah bunda enggak lihat" ucap Carissa terkejut melihat posisi putri dan menantunya.

__ADS_1


Kirana terhenyak kaget dan langsung berpaling dari Zaidan, sementara Zaidan menghela napas lega, kali ini keberuntungan berpihak padanya. Zaidan memejamkan bisa menstabilkan detak jantungnya.


"Ehm bunda, Kirana gak ngelakuin apapun kok" jelas Kirana dengan wajah panik, ia tidak ingin bunda nya mengira bahwa Kirana macam-macam dengan Zaidan.


"Ngelakuin apapun juga enggak apa-apa, bunda malah seneng tapi lain kali pintu nya ditutup, untung bunda yang datang kalau sempat Adrian gimana?" sambung Carissa menggelengkan kepalanya, ia mengedarkan padangannya dan menangkap Zaidan yang sedang tertidur.


"Nggih bun, Kirana salah, bunda butuh sesuatu?" tanya Kirana mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Jangan ditanya bagaimana perasaan Kirana saat ini, yang jelas ia malu karena bunda nya menangkap basah dirinya sedang ingin melakukan sesuatu dengan Zaidan.


"Oh iya bunda lupa, ada Adrian di bawah katanya ingin bertemu dengan mu" jawab Carissa membuat Kirana mengangguk paham.


"Zaidan tidur?" tanya Carissa heran karena tadi Kirana sempat ingin melakukan sesuatu dengan Zaidan.


"Ehm iya bun, tadi selimutnya terlepas jadi Kirana ingin memasangkan nya kembali" jawab Kirana asal padahal ia memang ingin memberikan hak Zaidan yang sudah menjadi


"Loh tidur kok pakai selimut? Dan kenapa Zaidan tidur di sofa Kirana?" tanya Carissa yang merasa heran dengan tingkah anak dan menantunya itu.


Kirana menelan salivanya dengan susah payah. Sementara Zaidan, pria itu dengan santai pura-pura tidur membiarkan Kirana di sidang oleh bundanya sendiri.


"Oh kirain, yaudah bunda turun duluan ya, pintu nya bunda tutup takut ada yang masuk dan lihat" goda Carissa dan berhasil membuat Kirana bernapas lega.


Setelah bundanya keluar, Kirana kembali menatap Zaidan yang sedang berpura-pura tidur agar tidak mendapat pertanyaan dari mertuanya.


"Bangun lah, bunda sudah pergi" ucap Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.


'Kenyal' kata itulah yang cocok untuk menggambarkan pipi Zaidan, padahal pria itu tidak pernah memakai skincare apapun, namun kulit nya tetap lembut selembut sutra.


Zaidan tidak ingin membuka matanya, karena kalau ia buka pasti Kirana akan bertindak agresif seperti tadi.


"Saya tau kamu pura-pura tidur! Sekarang bangun lah, saya janji tidak akan melakukan apapun sebelum kamu siap mas" ucap Kirana dingin lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta berganti pakaian, Kirana memang tidak biasa mandi subuh, ia mandi jika ingin berangkat kerja.


Zaidan memicingkan matanya, melihat sekeliling memastikan bahwa Kirana sudah tidak berada di dekatnya.

__ADS_1


"Dih! Kemarin malam dia menolak ku dan memberikan surat gak guna itu! Sekarang dia memaksa ku! Dasar beruang kutub!" umpat Zaidan kesal namun malah terdengar jelas di telinga Kirana.


"Siapa beruang kutub?" tanya Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang membuat Zaidan terhentak kaget dan segera menutupi matanya dengan selimut yang ada.


"Astaghfirullah maafin Zaidan ya Allah, astaghfirullah..." bibir Zaidan terus beristighfar setelah melihat pemandangan yang membuat dirinya gemetar dan kaget.


Kirana hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengambil pakaian yang ketinggalan di lemari, ia lupa membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi, mau tidak mau Kirana harus menggunakan handuk sepinggang jika ingin mengambil pakaian nya.


Kirana menganggap Zaidan adalah pria lugu dan polos, baru juga akan di cium dan melihatnya shirtless tapi pria itu sudah gemetaran, apalagi jika Kirana memberikan hak nya, mungkin Zaidan akan pingsan sebelum pertempuran.


Kirana tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian. Setelah itu baru Kirana membuka suaranya.


"Maaf saya tidak bermaksud untuk membuat mu terkejut, karena baju saya tertinggal di lemari, lagian tubuh saya milik kamu" jawab Kirana dingin sambil mengeringkan rambutnya lalu menyisirnya.


"Ta-pi tetap aja gak sopan!" ucap Zaidan masih tetap menutupi wajah nya menggunakan selimut milik Kirana.


"Bukankah saya istri mu? Wajar dong kalau saya shirtless di depan suami sendiri" ucap Kirana membuat Zaidan bergidik takut.


Bukan langsung turun ke bawah untuk menemui Adrian, Kirana justru menjahili Zaidan, ia akan membalaskan dendamnya karena kemarin pria itu sudah berani menjahilinya dengan mengusap belakang Kirana.


"Saya belum sempat melakukan yang tadi, mau sekarang atau nanti malam? Tiba-tiba Saya berubah pikiran setelah melihat mu," goda Kirana membuat Zaidan semakin gemetar, ia takut kalau akan disentuh oleh Kirana.


Ya emang Zaidan akan merasa bahagia karena Kirana perlahan-lahan sudah mulai dekat, tapi tetap saja Zaidan belum siap untuk melakukannya.


"Gak! Aku gak siap!" pekik Zaidan membuat Kirana tersenyum samar, untung semua ruangan di rumah ini di desain kedap suara, jika tidak maka semua orang akan menghampiri mereka, hanya suara dari luar yang bisa sampai ke dalam dan suara dari dalam tidak bisa sampai ke luar.


"Dasar! Saya hanya bercanda, jangan di anggap serius mas" ucap Kirana mencibir hidung Zaidan dan mencium pipi Zaidan dengan cepat


Zaidan heran dengan perubahan Kirana yang begitu cepat, baru beberapa menit lalu Kirana menarik tangannya dengan kasar dan masih meninggalkan bekas, tapi sekarang wanita itu sangat lembut pada Zaidan.


"Adrian di bawah turun lah jika ingin! Oh iya, tadi karena saya disuruh bunda, makanya saya mendekati mu!" ucap Kirana kembali pada sikap asalnya, padahal baru saja Zaidan bersyukur karena Kirana mulai berubah, tapi ternyata Kirana tidak pernah berubah, semua yang ia lakukan hanya demi menyenangkan keluarganya.

__ADS_1


'Aku tau kalau kamu berbohong Kirana, aku ini seorang dokter dan aku juga tau gelagat orang yang berkata jujur atau tidak! Dan kamu berbohong dengan membawa nama bunda, pada hal kamu memang mulai tertarik pada ku' gumam Zaidan tersipu malu dan ia pun beranjak untuk mencuci wajah dan keluar kamar untuk bertemu dengan Adrian adik iparnya


__ADS_2