Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Kagum Tapi Gengsi


__ADS_3

Pada malam hari, mereka semua makan malam bersama. Hari ini Zaidan tidak memasak akibat kakinya yang terkilir tadi pagi.


"Bunda besok mau Kirana antar atau gimana?" tanya Kirana pada bundanya.


"Bunda dijemput sama ayah, sekalian ke pengajian temen ayah dulu baru ke pondok" jawab Carissa dan melanjutkan aktivitas makannya kembali.


Zaidan hanya menyimak percakapan ibu dan anak di depannya ini, ia hanya mengaduk-aduk nasi tanpa memakan nya.


"Zaidan kok enggak makan? Kenapa sayang?" tanya Carissa saat melihat menantunya hanya mengaduk-aduk nasi.


Zaidan menggeleng pelan, mood nya hari ini sedang tidak baik. Pertama karena Kirana tidak mengizinkannya pergi, kedua karena ibu mertuanya akan pulang ke rumah Ayah mertuanya.


"Zaidan ke kamar dulu ya bun" ucap Zaidan ingin beranjak pergi, namun dicegah oleh Kirana.


"Duduk!" ucap Kirana dingin. Zaidan pun menuruti perintah Kirana.


'Kalau gak di depan bunda, udah ku peluk kau Kirana!' umpat Zaidan dalam hati.


Kirana beranjak pergi meninggalkan meja makan kemudian ia kembali lagi dengan surat persetujuan serta formulir pendaftaran dokter spesialis milik Zaidan yang sudah ia tanda tangani. Sebenarnya ada ide jahil dari Kirana, tapi melihat pria itu bad mood membuat Kirana tidak tega melihatnya.


"Nih, puas?" tanya Kirana dingin. Dia sudah mempertimbangkan segalanya dan memutuskan untuk membiarkan pria itu pergi walau hatinya menolak.


Zaidan tersenyum lebar saat melihat surat tersebut sudah di bubuhi tanda tangan oleh Kirana. Pria itu memeluk tubuh atletis Kirana sampai tidak ingat bahwa ada ibu mertuanya disana.


"Makasih Kirana" ucap Zaidan sangking senangnya sampai ia lupa bahwa sedang bersama ibu mertuanya.


Carissa geleng-geleng kepala melihat tingkah Zaidan yang seperti anak kecil. Ia menggoda pasangan yang baru beberapa hari lalu menikah.


"Ekhem" Carissa berdehem membuat Zaidan refleks melepaskan pelukannya.


"Eh bunda" ucap Zaidan salah tingkah mendapat teguran dari mertuanya itu.


"Udah seneng sekarang nak? Makan lah nanti keburu dingin nasinya" perintah Carissa dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.


Selesai makan bersama Kirana dan Zaidan masuk ke dalam kamar mereka. Seperti biasa Kirana tidak banyak bicara, dan langsung mengambil laptopnya untuk mengerjakan sesuatu.


Zaidan mudah sekali merasa bosan, ia mencoba mendekati Kirana dan menghapus rasa canggung diantara mereka.


'Bosan ih! Gangguin Kirana seru nih, lagian tadi siang juga udah meluk-meluk dia gak apa-apa kali ya? Wajar kan meluk doang? Lagian gak macem-macem juga kok ' batin Zaidan dan ia langsung menghampiri Kirana yang sedang berkutat dengan laptopnya di meja belajar.


Zaidan memeluk Kirana dari belakang, ia masih bingung dengan sikap Kirana yang terkadang baik terkadang juga kasar.


Kirana terkejut saat Zaidan memeluknya dari belakang, ini yang kedua kalinya pria itu memeluk Kirana secara tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Kirana menormalkan jantungnya yang berdegup kencang.

__ADS_1


"Penasaran aja, kenapa Kirana tiba-tiba berubah pikiran? Kamu kesambet?" tanya Zaidan membuat Kirana mengernyit.


"Kamu ini! Dikasih izin salah, gak di izini juga salah! Mau kamu apa?" ucap Kirana masih terus fokus pada laptopnya.


"Yaudah deh iya terserah! Aku mau tidur ngantuk!" Zaidan melepaskan pelukannya dan beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian tidur. Ia memang sangat senang memeluk orang, kalau di rumah yang jadi sasaran pelukannya adalah Calvin karena Calvin tidak ada disini, jadilah Kirana yang menjadi sasarannya.


'Kenapa aku merasa kecewa saat Zaidan melepaskan pelukannya?' batin Kirana. Lalu, ia menutup laptopnya setelah selesai membuat bahan presentasi untuk besok siang.


Kirana memijat tengkuknya yang terasa pegal, Zaidan yang melihat hal itu mengangkat bahu tidak tau kenapa Kirana memijat tengkuknya.


'Zaidan, Zaidan! Kenapa tadi meluk-meluk beruang kutub sih! Lihat tuh dia sampai kek jijik gitu!' batin Zaidan merutuki dirinya sendiri yang ceroboh karena sudah sembarangan memeluk Kirana.


"Zaidan" panggil Kirana saat melihat pria tampan itu sudah berganti baju.


"Iya Kirana" jawab Zaidan tersenyum canggung ke arah Kirana.


"Lain kali jika ingin meluk saya, kasih aba-aba, jadi saya tidak terkejut !" ucap Kirana masih dengan ekspresi datarnya.


"Iya" jawab Zaidan singkat dan berjalan ke sofa untuk tidur.


'Kalau mau sun juga bilang-bilang! Kan aku bisa ngehindar !' batin Zaidan kesal karena hanya dirinya yang harus menuruti perintah Kirana.


Kirana memandangi Zaidan yang gelisah seperti tidak bisa tidur. Ia merasa kasihan pada pria itu dan menyuruhnya untuk tidur di sampingnya.


"Hm"


"Tidurlah disini, pasti sakit tidur di sofa dengan posisi seperti itu" ucap Kirana menepuk-nepuk kasur yang berada di sebelahnya.


'Kesambet jin baik dari mana nih orang?' batin Zaidan melihat perubahan sikap Kirana yang 180 derajat berbanding terbalik dengan awal pernikahan mereka.


"Kirana kesambet jin baik dari mana ?" tanya Zaidan heran melihat ke arah Kirana.


"Enak aja bilangin saya kesambet jin! Kalau gak mau yaudah! Terserah!" jawab Kirana ketus dan dingin. Ia kesal saat dirinya mulai menerima Zaidan, tapi pria itu malah bilang ia kesambet jin.


"Kan jin jahat nya masuk lagi, pada hal tadi udah baik!" ucap Zaidan asal dan tidak merasa bersalah dengan ucapannya.


Zaidan terlelap dalam tidurnya. Sementara Kirana, ia terus memandangi Zaidan dan melangkah ke arah Zaidan untuk melihat lebih jelas wajah polos milik Zaidan.


"Kamu mau tau kenapa saya izini kamu pergi? Karena saya tau, kamu sangat suka kegiatan bersama anak-anak" ucap Kirana bermonolog sambil mengusap kepala Zaidan dengan lembut dan menciumnya.


"Lailatukka saiidah, yaa Zauji" sambung Kirana pelan dan beralih mengelus pipi Zaidan.


Kirana sangat ingin menggendong Zaidan untuk tidur di kasur, namun gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan hal itu.


Malam telah berlalu, tepat pukul 2.30 pagi alarm ponsel Zaidan berbunyi. Ia pun segera bangun dan mematikan alarm nya. Zaidan melihat sekilas ke arah Kirana sebelum beranjak ke kamar mandi untuk melaksanakan qiyamul lail.

__ADS_1


Di tengah Zaidan sedang khusyuk melaksanakan sholat malam, Kirana terbangun dari tidurnya. Ia tidak langsung bergegas mengambil wudhu, melainkan melihat Zaidan yang sedang khusyuk berkomunikasi dengan sang rabbi. Kirana semakin kagum pada pria itu yang tidak pernah meninggalkan qiyamul lail dan selalu tepat waktu untuk melaksanakan sholat wajib.


Zaidan mengucapkan salam dan berdo'a setelah itu menghampiri Kirana dan membangunkannya.


"Kirana bangun, sholat malam dulu hem" ucap Zaidan menggoyangkan pelan tubuh Kirana.


Kirana menggeliat, saat dia masih tidur.


"Hm" kata Kirana membuka matanya perlahan. Padangang yang pertama kali Kirana lihat adalah pria tampan sholeh, siapa lagi kalau bukan Zaidan.


"Tampan" kata Kirana yang membuat Zaidan tersenyum jika dipuji orang lain Zaidan sudah biasa. Tapi jika di puji oleh Kirana pipi pria itu seperti kepiting rebus.


Zaidan berbalik karena malu di puji oleh Kirana, Zaidan ingin mengulang hafalannya seperti biasa, namun sayang tangannya di cegah oleh Kirana membuat Zaidan berhenti dan berbalik arah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zaidan kembali ke arah Kirana.


"Gak apa-apa, mau kemana?" tanya Kirana ragu.


"Mau murojaah" jawab Zaidan tersenyum ke arah Kirana.


"Nanti saja bareng saya, hem?" ucap Kirana menaikkan sebelah alisnya.


'Cantik' batin Zaidan saat melihat Kirana


Zaidan mengangguk. Ia memang sudah lama tidak melepas hafalannya, jadi ia menuruti perintah Kirana.


Kirana selesai melakukan shalat Isya dan seperti yang dia katakan sebelumnya, dia akan menyimak hafalan Zaidan.


"Mulailah saya akan simak hafalanmu" ucap Kirana mengambil mushaf al-quran.


Zaidan mulai mengucapkan kalamullah dengan sangat meerdu dan lembut sampai Kirana tidak fokus mendengar perkataan Zaidan dan malah fokus pada suara lembut dan wajah Zaidan.


Zaidan tahu ada satu ayat yang hilang, namun Kirana tidak menegurnya. Ia pun membuka mata dan mendapati Kirana sedang bengong menatap kearahnya.


"Ya Kirana! Bukan nyimak hafalanku mahal bengong!" ucap Zaidan kesal.


Kirana tersadar telah sangat kagum pada Zaidan sampai tidak fokus menyimak hafalannya. Padahal jika di dulu Kirana terkenal sangat fokus saat sedang menyimak hafalan Adrian dan teman-temannya tapi sekarang fokusnya malah hilang.


"Hm? Sudah saya simak dan bagus, gak ada yang salah" ucap Kirana merubah raut wajahnya menjadi dingin. Ia tidak ingin Zaidan tau kalau dirinya sedang terkagum-kagum pada pria itu.


"Tuh kan gak fokus! Tadi ada satu ayat yang terlewat dan kamu gak negur aku! Au ah aku kesel!" ucap Zaidan ketus dan kesal karena Kirana tidak sungguh-sungguh menyimak hafalannya.


'Masa sih aku gak fokus?' batin Kirana meragukan ucapan Zaidan.


Zaidan menghentikan murojaah karena ia sudah terlanjur kesal pada Kirana yang tidak menyimak hafalannya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2