Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Cemburu


__ADS_3

"Amel?" tanya Zaidan memastikan orang yang hampir menabraknya adalah Amel.


"Dokter Zaidan, ngapain disini? Kalau ke tabrak tadi bagaimana? Dokter Zaidan baik kan? Enggak ada yang luka kan?" tanya Amel dengan nada khawatir setelah mengetahui orang yang hampir ia tabrak adalah Zaidan.


Zaidan terkekeh mendengar kalimat retoris dari Amel, karena Amel masih aja sama seperti sebelum Zaidan menikah.


"Hehe... Zaidan baik kok, tenang gak ada yang luka juga. Zaidan tadi beli mainan dan buku untuk dibagikan ke anak-anak disana, terus lagi nunggu supir Kirana yang gak tau pergi kemana" jelas Zaidan mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah saya antar aja ya, lagian udah mau maghrib, gak bagus pria tampan berkeliaran sore-sore begini" ucap Amel dengan tertawa kecil.


"Nanti ngerepotin kamu lagi. Zaidan nunggu supir Kirana aja, gak apa-apa kok" ucap Zaidan merasa tidak enak dengan Amel.


"Kayak sama siapa aja. Biasanya juga saya yang jadi driver kamu" seru Amel bercanda.


"Udah ayo! Lagian udah mau hujan dan maghrib" sambung Amel memaksa. Ia masih protektif dengan Zaidan, karena hatinya masih terpaut pada pria itu.


Zaidan akhirnya menurut, mau bagaimana lagi. Ia tidak punya pilihan karena supir Kirana tidak kunjung datang untuk menjemputnya.


Saat Zaidan hendak masuk ke dalam mobil Amel, Kirana melihat Zaidan dari kejauhan. Ia tadi mendengar suara teriakan Kirana, namun dicegah oleh pria yang pernah menjadi tambatan hatinya.


Pandangan Kirana terus mengarah pada Zaidan yang sekarang mulai mencuri hatinya secara perlahan. Ia ingin sekali menghampiri Zaidan dan mengantarnya pulang, namun ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


"Kirana! Aku dari tadi ngomong disini, bukan disana!" ucap pria yang sedari tadi duduk bersama Kirana.


"Iya aku denger kok Kai, lanjutkan" jawab Kirana, namun pandangannya masih mengarah pada mobil BMW yang membawa Zaidan pergi dari sana.


"Aku mau kamu bebaskan suamimu dalam waktu setahun dan nikahi aku! Kamu tega ya Kirana, padahal aku duluan yang nungguin kamu selama 10 tahun!" ucap Kai dengan penuh emosi.


"Aku gak bisa janji, jalani aja dulu" ucap Kirana dengan santai.


Kirana memang tidak pernah berjanji dengan siapapun, termasuk pada Kai.


"Kamu harus janji Kirana! Kenapa sih kamu selalu nurut sama perintah ayah mu?" tanya Kai kesal.


"Karena orang tuaku adalah prioritas ku!" ucap Kirana menaikkan suaranya.


"Orang yang selalu memaksamu untuk melakukan sesuatu, itu orang tua mu!?" tanya Kai lagi sambil tersenyum miris.


"Ya! Mereka orang tua ku! Dan aku sayang sama mereka!" sambung Kirana masih dengan nada tinggi.


"Terus aku gimana Kirana? Aku udah nolak semua cewek yang nembak aku hanya demi kamu!" ucap Kai memelankan suaranya.


Kirana merasa bersalah pada Kai, namun ia juga tidak ingin kehilangan Zaidan. Apalagi sekarang hubungan Kirana dan Zaidan mengalami peningkatan, walaupun sedang ada trouble. Sebenarnya bisa aja Kirana membebaskan Zaidan, namun hatinya sudah terlanjur sayang pada pria itu.


"Aku minta maaf Kai, tapi itulah perintah ayahku" sambung Kirana menyebut suaranya.


"Sampai kapan kamu akan terus menjadi pion mereka Kirana? Mungkin kali ini kamu diminta untuk menikahi pria yang dibesarkan dengan lingkungan yang kurang baik, siapa yang menjamin suami mu baik? Siapa! Bisa aja dia pria li-" belum sempat Kai melanjutkan ucapannya, meja tempat dimana mereka duduk di gebrak oleh Kirana.


Bruak...


"Jaga ucapanmu tentang Zaidan! Dan jaga ucapan mu tentang orang tua ku! Jika kamu tidak suka, maka silahkan pergi!" ucap Kirana menahan amarahnya agar tidak meluap.


"Dan ingat ini baik-baik, Zaidan bukanlah pria liar! Dia pria baik-baik! Aku menyesal mengatakan hal ini padamu, tapi hubungan kita sampai disini! Jangan pernah hubungi aku lagi dan jangan pernah ganggu keluarga ku! Terimalah gadis diluar sana yang lebih baik dari aku" sambung Kirana menggerakan giginya, menahan amarah yang hampir saja meluap.


Kai tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh Kirana, ia pun menangis.


"Apa sih yang istimewa dari pria itu? Dia hanya anak pengusaha, sedangkan aku anak seorang balapan. Dia dibesarkan di LA yang kamu tau sendiri kan, gimana lingkungan disana! Sedangkan aku dibesarkan di Yaman" seru Kai sambil menangis sesenggukan.


"Dia istimewa bagiku! Tidak perlu ku jelaskan apa yang istimewa darinya. Urusanku disini sudah selesai, terserah kamu mau menerimanya atau tidak! Dan ingat, walaupun Zaidan hanya anak seorang pengusaha internasional, tapi attitude nya jauh lebih baik dari kamu! Aku permisi, assalamualaikum " ucap Kirana pergi meninggalkan Kai yang menatap punggung Kirana yang sudah menjauh darinya.


"Kamu melakukan hal yang salah dengan mencampakkan ku, Kirana" gumam Kai menatap sinis sekitarnya.


Zaidan dan Amel sudah tiba di rumah Kirana, Zaidan merasa heran mengapa ada teknisi di rumahnya.


"Pak, kok ada teknisi? Emangnya ada yang rusak ya? Perasaan Zaidan pergi tadi gak ada yang rusak" tanya Zaidan pada pak Yanto.


"Mereka memperbaiki kunci elektronik kamar tuan dan nona" ucap pak Yanto.


Zaidan mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumah bersama dengan Amel yang ikut membantunya untuk membawa barang belanjaannya.


"Taruh dimana?" tanya Amel bingung.


"Di sofa aja" jawab Zaidan masih sibuk memeriksa apakah ada barang belanjaannya yang tertinggal.


"Besok mau di jemput atau berangkat sendiri ke bandara?" tanya Amel lagi.


"Jemput boleh? Haha..." ucap Zaidan bercanda dan tertawa renyah.

__ADS_1


"Boleh dong, apa sih yang gak buat kamu," jawab Amel tertawa.


"Gak deh bercanda doang, besok Zaidan bisa mandiri ke bandara kok" sambung Zaidan masih tertawa lepas.


Disaat Zaidan dan Amel sedang bercanda, di ambang pintu Kirana memperhatikan tawa lepas Zaidan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu seperti melepaskan semua bebannya dengan bercanda dan tertawa bersama Amel.


'Pria itu sangat tampan ketika sedang tertawa' gumam Kirana dalam hati.


Kirana merasa cemburu saat Zaidan tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Amel, karena mereka berdua ingin mengambil barang yang terjatuh dari tangan Zaidan.


Kirana berdehem untuk menyadarkan Zaidan dan Amel yang sempat bersentuhan. Kirana terbakar cemburu, karena ia saja sebagai istri Zaidan tidak pernah bersentuhan dengan pria itu.


'Sepertinya benar, pria itu telah mencuri hatiku' batin Kirana yang masih cemburu pada Amel.


Zaidan melepaskan tangannya yang tidak sengaja menyentuh tangan Amel. Ia menatap ke arah Kirana dengan wajah cemberut.


"Assalamu'alaikum" sapa Kirana masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam warahmatullah" jawab Zaidan dan Amel serempak.


Wajah Zaidan berubah menjadi datar, padahal tadinya pria itu sangat ceria waktu bercanda dengan Amel. Bukan tanpa alasan, tapi karena ia masih kesal dan kecewa pada Kirana.


Amel merasa tidak enak melihat perubahan raut wajah Zaidan yang berubah drastis saat Kirana datang. Ia pamit dengan alasan harus visit pasien, padahal jam kerjanya sudah selesai.


"Ehm... kalau begitu saya pamit dulu ya, Kirana, Zaidan. See u tomorrow and assalamualaikum" pamit Amel tersenyum canggung.


"Waalaikumussalam" jawab Kirana dan juga Zaidan.


Setelah Amel pergi, Zaidan membawa satu persatu plastik berisikan mainan dan juga buku-buku ke dalam kamarnya untuk dimasukkan ke koper.


"Sini biar saya bantu" ucap Kirana mengambil beberapa plastik berukuran besar dari tangan Zaidan.


Zaidan tidak menjawab apapun, kali ini ia ingin mode diam dan tidak berbicara sepatah kata pun pada Kirana.


Zaidan mengikuti langkah Kirana tanpa memikirkan sepatah kata pun, bahkan Zaidan tidak menjawab kata-kata Kirana.


"Kamu kenapa diem aja? Terus tadi kenapa dokter Amel bilang sampai jumpa besok? Udah berani pergi tanpa izin?" tanya Kirana.


Zaidan hanya memutarkan bola matanya jengah dengan kata-kata Kirana yang seolah-olah gadis itu sangat perhatian padanya, padahal kenyataannya tidak.


Mereka berdua sampai di depan pintu kamar yang baru saja pintunya di perbaiki. Kirana memasukkan pin dan mempersilahkan Zaidan untuk masuk terlebih dulu.


Zaidan masuk ke dalam kamar tanpa menjawab ucapan Kirana. Setelah memasukkan semua belanjaan Zaidan ke dalam kamar, Kirana pun menutup pintunya.


"Kamu lagi puasa bicara atau gimana? Sama dokter Amel tertawa, giliran sama istri sendiri datar!" ucap Kirana kesal.


"Pikir aja sendiri!" ucap Zaidan mempacking mainan dan buku-buku yang baru saja ia beli untuk dibawa ke Lombok.


Kirana berpikir keras, mengapa Zaidan sangat dingin padanya, tapi ketika bersama Amel pria itu ceria.


'Ah ya, pasti dia salah paham dengan jawaban ku tadi siang' batin Kirana menemukan alasan mengapa Zaidan datar padanya.


Kirana menghampiri Zaidan yang sedang berkemas, dia bertanya kemana pria itu akan pergi.


"Mau kemana?" tanya Kirana menghampiri Zaidan.


"Lombok" jawab Zaidan singkat.


"Bukannya 9 hari lagi?" tanya Kirana heran, karena di surat persetujuan yang ia tandatangi tertulis dengan jelas bahwa kegiatan dilaksanakan pada tanggal Januari 2023, sedangkan besok baru tanggal 16 Januari.


"Dimajukan karena kami ada kegiatan di tanggal 25 Januari" jawab Zaidan tanpa melihat ke arah Kirana.


"Kalau tanggal 25 Januari ikut lagi?" tanya Kirana lagi.


"Tergantung, kalau di pilih dari rumah sakit ya harus ikut. Kegiatannya dilaksanakan di LA" jelas Zaidan membuat Kirana lemas mendengarnya.


"Gak bisa ditolak gitu?" Kirana terus bertanya pada Zaidan dan membuat pria itu jengah mendengarnya.


Zaidan mengabaikan pertanyaan Kirana yang tidak bermutu dan memilih untuk mempersiapkan segalanya, karena ia besok akan berangkat jam 4 pagi untuk boarding pass, karena keberangkatan mereka jam 6 pagi.


"Zaidan, saya nanya loh!" ucap Kirana yang sudah tidak tahan di abaikan oleh Zaidan.


"Kalau di pilih sama direktur rumah sakit ya gak bisa ditolak" jawab Zaidan masih sibuk dengan barang-barangnya.


"Kirana disini loh, kamu bicara sama siapa heum?" tanya Kirana memegang tangan Zaidan.


Zaidan berbalik dan menatap Kirana dengan wajah cemberut. Wajah yang biasanya ceria, hari ini wajah itu hilang karena perkataan Kirana tadi siang.

__ADS_1


Kirana berusaha untuk membujuk Zaidan dengan mengelus kepalanya, namun ditepis sama pria itu.


"Maafin saya, mungkin ini saatnya saya cerita semuanya sama kamu" ucap Kirana masih berusaha membujuk Zaidan.


Rasa kecewa Zaidan terkalahkan dengan rasa penasarannya, ia menatap Kirana dengan excited dengan apa yang ingin diceritakan oleh Kirana.


"Nah gitu dong senyum, Kalau kamu cemberut bukan Zaidan namanya" ucap Kirana mencibir hidung Zaidan.


"Kirana mau selesaikan salah paham diantara kita, benar saya sempat punya perasaan dengan pria lain tapi rasa itu hanya sebatas obsesi karena dia seorang pembalap nasional. Tapi yang Kirana maksud tadi siang itu Adrian, adik Kirana masa kamu cemburu mau sama Adrian?" goda Kirana dengan tersenyum.


Zaidan tersipu malu mendengar ucapan Kirana, memang benar Zaidan cemburu karena bagaimana pun, Kirana adalah istrinya.


"Sekarang masih marah sama Kirana? Masih kecewa? Apakah bisa kita perbaiki hubungan ini? Saya mau mulai dengan persahabatan denganmu" ucap Kirana menunggu jawaban dari Zaidan.


Zaidan mengangguk karena ia memang masih kecewa dengan Kirana.


'Bisa-bisanya beruang kutub muji pria lain! Mana di depan ku lagi!' gumam Zaidan kesal.


"Kecewa kenapa? Karena saya pernah suka sama pria lain? Atau karena saya mau perbaiki hubungan ini dengan persahabatan?" tanya Kirana mengelus punggung tangan Zaidan.


"Karena kamu muji pria lain! Aku aja gak pernah di puji!" ucap Zaidan cemberut. Satu hal yang wajar bagi Zaidan jika dirinya ingin di puji oleh istrinya sendiri.


Kirana terkekeh mendengar ucapan Zaidan.


"Yaudah sekarang mau di puji gimana? Zaidan itu gak bisa di puji dengan kata-kata tapi dengan tindakan" ucap Kirana membawa Zaidan ke dalam dekapannya.


"Kok manggilnya Zaidan? Udah biasa!" ucap Zaidan memukul pelan dada bidang Kirana.


"Yaudah iya, Kirana panggil byy mau?" tanya Kirana mengacak-acak rambut Zaidan.


"Byy? Sahabat kok manggilnya byy!" ucap Zaidan meledek Kirana.


"Sahabat sehidup sesurga maksud Kirana mas" jawab Kirana dan sukses membuat pipi Zaidan merah merona.


"Aamiin yaa mujibassa'ilin" sambung Zaidan mengaminkan ucapan Kirana.


Mereka berdua menikmati momen yang sudah lama di tunggu oleh Zaidan. Momen dimana ia bisa bermanja dengan gadis yang sudah menjadi mahramnya.


Akhirnya doa Zaidan dikabulkan oleh Allah swt. Setiap malam Zaidan selalu berdoa agar hati Kirana luluh dan akhirnya donya terkabul.


Kirana melepaskan sebentar pelukannya, dan mengambil surat perjanjian yang ia buat sendiri. Sebenarnya Kirana masih gengsi untuk merobek secarik kertas tersebut, namun melihat keakraban Zaidan dan juga Amel membuatnya khawatir akan kehilangan Zaidan.


Kirana pun merobek kertas yang berisikan perjanjian bahwa Kirana tidak akan menyentuh Zaidan dan akan membebaskan pria itu dalam waktu setahun di depan mata Zaidan.


"Loh ko di robek?" tanya Zaidan dengan mata yang berkaca-kaca. Zaidan tidak menyangka kalau Kirana akan berubah secepat itu.


"Karena saya mau kamu menjadi milik saya untuk selamanya, saya juga akan berdoa semoga kelak kamu lah pangeran surga Kirana mas" ucap Kirana dengan lembut dan memeluk Zaidan dengan erat.


Pria tersebut bersembunyi di balik dada bidang Kirana. Ia menangis sambil sesenggukan, ternyata benar setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Seperti sekarang, padahal tadi siang Zaidan sangat kecewa pada Kirana, tapi sekarang ia merasa sangat bahagia dengan perubahan sikap Kirana.


"Udah ih jangan nangis gitu, sekarang bersiaplah, saya mau ngajak kamu ke suatu tempat. Tapi, sebelum itu saya ke masjid dulu ya byy" ucap Kirana melepaskan pelukannya.


Zaidan tersenyum lalu mengangguk pelan. Senyum di wajah Zaidan merekah, ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya, karena ia sangat-sangat bahagia dengan perubahan sikap Kirana yang drastis.


"Yaudah saya mandi duluan ya, byy" ucap Kirana mengecup pipi Zaidan.


Zaidan merasa geli dipanggil 'byy' karena hanya Kirana yang memberinya panggilan itu.


Sembari menunggu Kirana selesai dari kamar mandi, Zaidan melanjutkan berkemas karena ia takut tidak keburu jika harus menyelesaikannya besok pagi.


Kirana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sepinggang, membuat Zaidan kembali berdecak kesal.


"Ish kebiasaan deh" ucap Zaidan mencebik kesal.


"Kenapa byy? Kirana kan gak ngelakuin apa-apa, lagian saya juga udah lihat hal sensitif kamu" goda Kirana dan membuat Zaidan terbelalak.


"A-apa m-maksud K-Kirana?" tanya Zaidan terbata-bata mendengar ucapan Kirana.


"Lupain aja, lagian udah menjadi hak kamu juga kan, byy?" goda Kirana sambil memakai baju gamis yang sudah disiapkan oleh Zaidan.


"Tapi kan, aku belum ngasih izin ke kamu Kirana!" ucap Zaidan kesal.


Kirana tertawa kecil dan menghampiri Zaidan yang sedang galau.


"Kalau saya gak gantiin baju kamu, nanti kamunya masuk angin, jadi terpaksa saya harus melakukan hal itu. Tapi, saya cuman lihat kok, serius" ucap Kirana menunjukkan dua jari pada Zaidan tanda dirinya benar-benar melakukannya dengan terpaksa.


"Jangan marah lagi ya. Yaudah nanti kita sambung lagi, saya mau ke masjid dulu. Assalamualaikum ya Zaujat" pamit Kirana mengecup puncak kepala Zaidan dan mencium punggung tangan Zaidan.

__ADS_1


Setelah Kirana pergi ke masjid, giliran Zaidan yang mandi dan ambil wudhu untuk melaksanakan kewajibannya.


__ADS_2