
Setelah Adrian pergi, Kirana dan Zaidan duduk berdua di ruang tamu. Hanya keheningan yang ada diantara mereka, sampai Zaidan membuka suaranya.
"Kirana, kamu izinin aku buat pergi ?" tanya Zaidan menatap wajah cantik istrinya itu.
"Khusus tenaga medis ya?" Kirana mengerutkan dahinya karena saat ini ia benar-benar pusing ingin mengambil keputusan apa.
"Iya, khusus staff yang ditunjuk untuk kegiatan sukarelawan itu, terus juga nanti ada dokter residen dari mesir yang ikut dalam kegiatan ini" jelas Zaidan.
Zaidan mengira bahwa Kirana akan membiarkannya pergi begitu saja, namun faktanya wanita itu malah mempertimbangkan kegiatan ini.
"Sebenarnya saya bisa aja mengizinkan kamu pergi mas, tapi bagaimana kata papa kamu nanti" sebelum mengambil keputusan Kirana akan berpikir dampak apa yang akan terjadi kedepannya, tidak seperti Zaidan yang bertindak dulu baru berpikir dampak yang akan terjadi.
"Aku yakin papa pasti izini, yang penting izin dari kamu, kalau gak kamu ikut sekalian sama mas nanti mas izin ayah sama papa" bujuk Zaidan agar Kirana mau menandatangani surat persetujuan tersebut.
"Tidak bisa seperti itu Zaidan, ayah saya dan papa kamu ada perjanjian bisnis dan jika saya tidak memperlakukan kamu dengan baik, maka kami akan memutuskannya dan itu akan berdampak besar pada perusahaan kami berdua" jelas Kirana datar.
Zaidan menjebik kesal. Ia pikir Kirana mengkhawatirkan dirinya, namun gadis itu bersikap sangat perfektionist.
"Makanya kamu ikut lah" ucap Zaidan kesal. Kali ini kesabarannya benar-benar di uji.
Sebagai seorang pria ia merasa sangat kesal karena menikah hanya untuk perjanjian bisnis.
"Bukan seperti itu Zaidan, saya tidak bisa ikut dengan kamu" Kirana menjelaskan agar pria ini mengerti.
"Terserah! Aku gak peduli! Aku tetap akan pergi ke Lombok! Bulan ini seharusnya aku ke Singapura tapi malah dikurung disini!" ucap Zaidan kesal dan ingin beranjak namun kakinya masih terasa sakit.
"Jadi kamu menyesal menikah dengan saya?" tanya Kirana tiba-tiba membuat Zaidan terhentak.
Lidahnya keluh 'Zaidan lo salah bicara! Mampus mau jawab apa gue!' batin Zaidan.
"Iya!" ucap Zaidan ketus. Ia sangat kesal pada Kirana yang lebih mementingkan bisnis dari pada dirinya.
"Aku mau ke rumah papa, buat ambil mobil!" sambung Zaidan menagih janji yang Kirana buat.
"Berjalan lah dulu, kalau udah bisa baru kita ke rumah papa" ledek Kirana, ekspresi wajahnya datar tapi dari nada bicaranya Zaidan tau kalau Kirana sedang meledeknya.
"Ledekin aja terus!" ucap Zaidan kesal.
"Masih marah? Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Lagian mana ada orang tua yang tega menikahkan anaknya demi bisnis, papa kamu dan ayah saya sahabat dan kebetulan saya ada kerja sama dengan beliau, jadi ya kita menikah dan supaya saya bisa balapan dengan mudah" ucap Kirana menjelaskan agar Zaidan tidak salah paham.
Zaidan diam dan tidak menjawab apapun, ia mengambil ponselnya dan melihat notifikasi yang sedari tadi berisik itu, ternyata dari teman-teman Zaidan yang menyuruh nya untuk ikut kegiatan suka relawan.
Kak Bisma (Rs): Dek ikut kan? Ayok lah, kemarin yang di Singapura gak ikut, masa ini gak ikut juga
Arya (Rs): Bro ikut ya, jangan mentang-mentang lo udah jadi suami, lo gak ikut kegiatan ini
Kak Calvin: Gimana keputusan Kirana dek? Dikasih ikut?
Zaidan hanya membaca pesan tersebut dan tidak membalasnya.
Tiba-tiba ada notifikasi dari konsulennya dahulu.
Prof. Ridwan (Rs): Zaidan ikut ya, ini perintah dari saya
'Mampus gue, prof. Ridwan turun tangan, gimana bilang ke Kirana ya?' batin Zaidan kebingungan.
Zaidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha mencari solusi bagaimana agar Kirana mengizinkannya untuk pergi.
"Kenapa!?" tanya Kirana. Ia merasa suaminya itu sedang dilanda kegundahan.
Zaidan menunjukkan chat dari prof. Ridwan pada Kirana dan berharap wanita itu peka akan keinginan Zaidan.
"Terus?" tanyanya lagi.
"Ih! Peka dikit napa jadi istri! Aku tuh mau pergi, apalagi profesorku udah ngasih perintah" wajah Zaidan memelas, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba.
"Saya akan pertimbangkan" ucap Kirana sudah seperti dosen pembimbing yang merevisi skripsi mahasiswanya.
Zaidan memiliki ide agar Kirana mau menuruti keinginannya.
"Kalau Kirana gak mau turuti aku, aku bakal laporin kamu atas tuduhan KDRT" ancam Zaidan menaikkan sebelah alisnya.
"KDRT? Emang saya melakukan apa?" tanya Kirana heran.
"Nih" Zaidan menujukkan goresan luka yang ada di tangannya.
"Iya itu memang kesalahan saya, tapi kan kamu juga salah, kenapa gak izin dulu? Hem" jawab Kirana tidak ingin kalah.
"Loh kok aku? Aku udah izin ya, salah siapa tidur kek beruang, susah di banguni!" ucap Zaidan ketus. Ia pun tidak ingin mengalah pada Kirana.
"Saya bukan beruang, Zaidan" Kirana sedang berpikir bagaimana ia bisa menahan Zaidan agar tidak pergi.
"Kan emang beruang, bukan beruang biasa tapi beruang kutub!" ucap Zaidan kesal.
"Kenapa beruang kutub?" Kirana kembali bertanya agar pria itu lupa tentang formulir pendaftaran suka relawan.
"Karena Kirana dingin kek beruang kutub di gunung everest!" ucap Zaidan asal.
"Beruang kutub itu adanya di Alaska, di Canada, mana ada di gunung everest!" ledek Kirana.
Zaidan berpikir, yang dikatakan Kirana memang benar tapi ia tidak ingin kalah sampai Kirana mau menandatangi surat persetujuan itu.
__ADS_1
"Tapi kan di gunung everest ada beruang juga" Zaidan terus mencari alasan agar ia tidak kalah berdebat.
"Iya, tapi beruang himalaya bukan beruang kutub!" jawab Kirana dingin.
"Yang penting sama-sama beruang!" Zaidan kesal karena Kirana tidak ingin mengalah dengannya.
"Terserah" Kirana masuk ke dalam kamar meninggalkan Zaidan sendirian di sofa.
Perdebatan mereka berakhir dengan Kirana yang meninggalkan Zaidan sendirian di ruang tamu.
Zaidan berjalan dengan tertatih-tatih, karena kakinya masih lumayan sakit. Ia menatap tangga yang sangat tinggi dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Huft, tinggi ya. Gimana caraku naik?" Zaidan mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal karena Kirana sama sekali tidak menolongnya.
Zaidan duduk di salah satu anak tangga, Karena tidak memungkinkan baginya untuk naik dengan kondisi kaki yang masih sakit. Karena mengantuk Zaidan terlelap di tangga, tidak ada satu pun orang yang mengetahui bahwa Zaidan tertidur di lantai.
Cukup lama Zaidan tertidur, sampai akhirnya bi Inem mengetahui bahwa Zaidan tidak sadarkan diri di lantai, ia mengira bahwa Zaidan pingsan padahal pria itu sedang tertidur.
"Nona, nona Kirana, tuan Zaidan, nona" teriak bi Inem membuat Kirana yang tengah mempertimbangkan keputusannya merasa terganggu.
Kirana keluar dari kamar, umi nya juga ikut keluar karena teriakan bi Inem yang cukup keras. Kirana berlari menghampiri bi Inem dan ia juga melihat Zaidan tergeletak di lantai.
"Astaghfirullah, Zaidan" ucap Kirana mengangkat kepala Zaidan dan pipinya pelan.
Zaidan yang merasa terganggu dengan berat membuka matanya.
"Hem, kenapa? Aku ngantuk serius" gumam Zaidan lalu menutup kembali matanya, pria itu seperti tidak berdosa saat yang lain tengah mencemaskannya.
"Hei bangun lah! Kamu membuat bunda khawatir!" ucap Kirana dingin namun Zaidan tetap terlelap dalam tidurnya, sepertinya pria itu benar-benar mengantuk karena tidak tidur dari malam.
"Alhamdulillah hanya tertidur, udah Kirana gendong bawa ke kamar" perintah Carissa dan membuat Kirana tertegun.
"Kirana mi?" ucapnya celingukan menunjuk dirinya sendiri.
"Yaiyalah kan enggak mungkin pak Yanto atau bi Inem, kamu istrinya dan kamu yang wajib menjaganya" sambung bunda Carissa geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah putrinya yang kebingungan.
Kirana memperkirakan tinggi tangga di rumahnya, ia takut tidak bisa menggendong Zaidan sampai atas.
'Menggendongnya ke atas? Yang benar aja!' batin Kirana. Tapi disisi lain, ia juga tidak tega melihat pria itu tertidur di lantai yang dingin.
Setelah berperang antara batin dan pikirannya, Kirana memutuskan untuk menggendong pria mungil ini ke kamar. Ia pikir akan sulit untuk menggendong Zaidan ke atas, namun kenyataannya Kirana sudah sampai di depan pintu kamarnya.
'Lumayan juga bisa untuk olahraga ' gumam Kirana tersenyum lebar ke arah Zaidan, namun senyumnya tiba-tiba memudar kala memikirkan sesuatu yang selama ini membuat hati Kirana bimbang.
Kirana merebahkan tubuh Zaidan di atas kasur dan bukan di sofa, ia tidak ingin terlalu kasar pada suaminya yang tidak salah apa-apa karena ini murni kesalahan ayahnya yang menjodohkannya dengan Zaidan.
Kirana memandangi wajah tampan Zaidan, tentram rasanya saat melihat pria polos itu sedang terlelap, garis lengkung yang selama ini hilang perlahan mulai tertarik dari bibir Kirana, walaupun sangat tipis.
"Masya Allah tabarakallah, ternyata ketampanan mu sangat mempesona Zaidan, maaf karena dari kemarin saya tidak memperhatikan mu dengan baik" Kirana mulai merasa bersalah karena telah memperlakukan Zaidan dengan kasar.
Tak ingin terlelap dalam ketampanan Zaidan, Kirana lebih memilih untuk membaca semua surat-surat yang diberikan oleh sahabat suaminya tadi.
"Aku izinin aja kali ya? Kasian juga kalau harus di rumah terus, dia sudah terbiasa aktif dalam kegiatan suka relawan tapi kenapa aku tidak rela membiarkan dia pergi? Mungkin karena semua perhatian dia padaku? Iya mungkin hanya itu aja!" Kirana bermonolog dan mengkibas-kibaskan surat tersebut layaknya kipas, entah mengapa Kirana merasa gerah padahal Ac di kamarnya menyala.
Zaidan tergelinding dan hampir terjatuh dari atas kasur beruntung tangan Kirana cepat tanggap menangkap tubuh pria tersebut.
Zaidan mengerjapkan matanya, ia melihat ada malaikat tampan di depannya yang tak lain adalah Kirana si beruang kutub dan gunung es.
Kirana menarik tangannya setelah tau bahwa Zaidan sedang menatap wajahnya dan membuat Zaidan meringis kesakitan karena terjatuh dari tangkapan Kirana.
"Aduh, tega banget sih!" cebik Zaidan kesal.
"Kenapa gak suka?" Kirana bersikap sangat dingin dan menyebalkan, membuat Zaidan menghela napas kasar.
"Siapa yang pindahin aku disini? Lebih baik aku tidur di sofa atau di lantai karena kalau di kasur keseringan jatuh!" gerutu Zaidan mencoba berdiri, tapi kakinya masih terasa sakit jika harus menjadi tumpuan tubuhnya.
"Saya, kenapa mau protes?" Kirana sebenarnya malas menanggapi pria itu, namun hatinya ingin sekali menjahili Zaidan.
Zaidan melengos kesal, ia terus berusaha untuk berdiri dengan memegang dipan kasur. Namun usahanya gagal, sampai Kirana harus turun tangan membantu Zaidan untuk duduk di tepi ranjang.
"Makanya nurut sama istri! Siapa suruh gak nurut!" ucap Kirana dingin.
"Udah ngaku jadi istri sekarang Kirana?" tanya Zaidan yang penasaran karena selama dua hari ini sikap Kirana mulai berubah, walaupun sempat kasar.
"Kalau gak ngaku terus kamu suami siapa hem?" Kirana meraih kaki Zaidan yang sudah mulai bengkak, memang tadi sempat di urut oleh Amel, tapi kan mereka tidak bisa skinship jadi belum pulih total.
"Jangan protes! Lihat udah mulai bengkak, kamu itu dokter tapi tidak tau merawat diri sendiri!" sambung Kirana dingin.
Zaidan hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya saat Kirana mulai akan mengurut kakinya yang terkilir.
"Aduh, hiks... sakit tau, Kirana..." rengek Zaidan seperti anak kecil. Ia menarik tangan Kirana agar menjauh dari kakinya yang sakit.
Kirana geleng-geleng kepala melihat Zaidan merengek seperti anak kecil kecil.
"Dasar anak kecil!" umpat Kirana mencubit gemas pipi Zaidan.
"Aw" ringis Zaidan sambil mengelus pipinya yang dicubit Kirana.
Ponsel Zaidan terus berbunyi, padahal suasana di ruangan ini sedang tentram dan Zaidan belum puas memandangi wajah cantik milik Kirana.
Dengan terpaksa Zaidan mengambil ponselnya dan melihat ada notifikasi dari siapa.
__ADS_1
'Duh, mampus gue! Bisa-bisanya gue lupa bayar donasi!' batin Zaidan, menepuk jidatnya sendiri.
Zaidan berlari kecil menuju kopernya, seakan kaki yang tadinya sakit, hilang begitu saja.
"Eh, jangan lari nanti tambah bengkak kaki mu" Kirana mencoba memperingatkan Zaidan untuk tidak berlari, namun pria itu tidak menghiraukan peringatan Kirana.
Zaidan mencari kartu debit miliknya di tas dan koper, karena ia memang belum membereskan pakaiannya dengan benar.
"Ayolah ketemu, please..." Zaidan terus mencari dengan wajah panik. Ia terus membongkar barang-barang nya, namun yang dicari tidak ketemu juga.
Kirana hanya menatap suaminya yang seperti terkena serangan panik, ia merasa heran karena sebagai seorang dokter, mereka harus tetap tenang di kondisi apapun, itulah yang Kirana pelajari di tahun pertama kedokteran sebelum ia memilih pindah menjadi pebisnis.
"Cari apa?" tanya Kirana tetap dengan wajah datar.
"Black card" jawab Zaidan malas. Saat ini ia sedang fokus mencari kartu debit miliknya.
"Terakhir dimana?" Kirana kembali bertanya dan menghampiri suaminya yang tengah dilanda kebingungan.
"Kalau aku tau, gak perlu dicari!" Zaidan merasa kesal dengan pertanyaan Kirana yang tidak berbobot itu, bukan bantuin malah bertanya dengan pertanyaan yang tidak penting sama sekali.
Zaidan mencoba mengingat dimana terakhir kali ia memegang kartu debit itu.
"Terakhir aku pakai buat bayar biaya operasi Arya, terus aku pulang dari rumah sakit langsung ke kamar" Zaidan menggigit jarinya mencoba mengingat kembali dimana terakhir kali, ia memegang kartu tersebut.
"Ah iya, pasti di kamar ku" dengan sigap Zaidan menekan nomor telpon di ponselnya.
Kirana menatap Zaidan dengan heran, karena pria itu mudah sekali panik.
"Ayolah mas, angkat!" ucap Zaidan khawatir karena Calvin tidak mengangkat panggilan darinya.
Zaidan terus mencoba untuk menghubungi abangnya itu, sampai percobaan ketiga akhirnya diangkat juga oleh Calvin.
"Assalamualaikum mas" sapa Zaidan panik.
"Wa'alaikumussalam ada apa dek? Kenapa nada bicara mu panik?" tanya Calvin di seberang sana.
"Mas, tau black card Zaidan?" Zaidan kembali bertanya untuk memastikan dugaannya benar, bahwa kartu itu berada di rumah papanya.
"Iya ada di rumah papa, kenapa dek?" jawab Calvin
Zaidan menghela napas, ternyata dugaannya benar.
"Zaidan harus bayar donasi unicef mas dan hari ini terakhir pembayaran, bisa anterin ke rumah Zaidan, mas?" Zaidan bertanya dan berharap agar Calvin mau mengantarkan black card miliknya.
"Mas ada tamu janji sama pasien dek, pakai e-money aja" ucap Calvin sambil menyapa beberapa keluarga pasien.
"Ponsel yang ada e-money juga di rumah, Zaidan bawa ponsel yang untuk chatting aja mas" ucap Zaidan dengan nada memelas, ia berharap Calvin merasa iba padanya.
"Hem, yaudah minta ke Kirana aja pasti dikasih" ledek Calvin, karena ia tau betul jika menyangkut urusan donasi, Zaidan tidak mau meminta pada siapapun.
"Gak bisa dong, mas! Kan itu tanggung jawab Zaidan, masa harus minta ke Kirana! Mas Calvin jahat! Zaidan marah sama mas!" ucap Zaidan dengan wajah ditekuk, Kirana yang melihat hal itu merasa gemas pada Zaidan dan ingin menggigit nya.
"Yaudah mas sibuk dek, besok pagi sebelum berangkat kerja mas antar oke, assalamualaikum jangan ngambek" goda Calvin dan mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Kirana mendekat ke arah Zaidan yang sedang kesal dan bingung, entah sejak kapan Kirana mulai gemas dengan pria itu.
"Kalau ada apa-apa itu bilang ke istri! Jangan ngadu ke mas Calvin!" ucap Kirana datar walaupun ia ingin sekali menggigit pipi Zaidan yang sedang kesal, namun gengsinya terlalu tinggi sampai ia mengurungkan niatnya.
"Iya" jawab Zaidan singkat. Ia bingung bagaimana membayar uang donasi nya.
"Sini ponsel mu, biar saya yang bayar" ucap Kirana meminta ponsel Zaidan agar bisa membayar tagihan donasi suaminya itu.
Zaidan ingin menolak, tapi mau bagaimana lagi jika tidak dibayar sekarang, maka ia akan dicabut sebagai donatur tetap di organisasi dunia itu dan Zaidan tidak ingin hal itu terjadi.
"Ini Kirana, tapi aku janji bakal ganti uangnya besok" ucap Zaidan menyerahkan ponselnya.
"Tidak perlu Mas, kamu suami saya dan sudah kewajiban saya untuk membantu kamu saat mengalami kesulitan" jawab Kirana mengambil ponsel milik Zaidan, ia tersenyum saat melihat lockscreen ponsel Zaidan adalah foto pernikahan mereka.
Kirana tidak langsung membayar donasi suaminya, melainkan membaca informasi tentang diri Zaidan.
"Nama, Zaidan Brian Alvaro Assaba lahir di Los Angeles, 06 November 1998, tinggal di Los Angeles, USA selama 20 tahun kemudian kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan di Indonesia. Berkuliah di Medical School UCLA dan melanjutkan penyetaraan di Beverly University. Posisi di organisasi, sebagai donatur tetap untuk pengobatan kanker pada anak melalui unicef. Status pernikahan, belum menikah" Kirana terhentak saat membaca status pernikahan Zaidan.
"Kok belum menikah? Terus saya siapa?" tanya Kirana merengut kesal.
"Gak usah di tekuk gitu wajahnya, nanti aku ubah deh kalau ingat, sekarang cepatan bayar ih! Bukan malah baca informasi pribadi aku!" giliran Zaidan yang kesal karena Kirana membaca semua informasi pribadi dirinya seperti dosen yang akan melakukan sidang pada mahasiwanya.
"Kan kamu suami saya, jadi wajar dong saya baca, mana tau kamu ******* yang menyamar jadi suami saya!" ucap Kirana asal, ia tidak berpikir jika hati Zaidan mudah terluka.
Padahal niat Kirana hanya bercanda, namun Zaidan menganggap ucapan Kirana serius sehingga pria itu menitikkan air mata.
"Kenapa nangis? Ada yang salah dengan kata-kata saya?" Kirana mengerutkan dahinya saat Zaidan menangis, ia merasa tidak ada yang salah dari kata-katanya.
"Pikir aja sendiri!" Zaidan berjalan dengan tertatih-tatih padahal waktu panik tadi kakinya tidak terasa sakit sama sekali.
Kirana peka terhadap situasi di sekitarnya karena itu ia tau mengapa Zaidan menangis.
"Jangan dianggap serius, saya hanya bercanda dan ini sudah saya bayar" ucap Kirana, berjalan ke arah Zaidan yang sedang membereskan pakaiannya.
Zaidan tidak menghiraukan ucapan Kirana, ia sibuk membereskan pakaian dan juga barang-barang miliknya ke dalam koper, karena ia belum sempat membeli lemari untuk dirinya sendiri.
"Kenapa di taruh ke koper lagi? Emang mau pindah? Atau mau selamanya disana?" Kirana mencerca Zaidan dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Zaidan diam dan menarik tangan lebih tepatnya kemeja Kirana, ia mengajak Kirana untuk melihat bagaimana keadaan lemari yang sudah dipenuhi oleh pakaian Kirana.
"Yaudah ayo kita beli lemari lagi" ucap Kirana dengan dingin dan bersiap untuk pergi tanpa mendengar persetujuan dari Zaidan.