Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Debat


__ADS_3

Kirana yang sudah lelah mencari Zaidan ke penjuru rumah memutuskan masuk ke dapur untuk mengambil minum dan ternyata disana lah Zaidan berada. Saat melihat Zaidan, Kirana langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Zaidan yang sedang asik memakai earphone dan memasak terhenyak saat ada orang yang memeluknya secara tiba-tiba.


"Si-siapa?" tanya Zaidan terbata-bata dan menegang seketika.


"Saya mas" jawab Kirana melepaskan pelukannya.


Zaidan berbalik dan memastikan siapa orang yang berani memeluknya secara tiba-tiba.


"Kamu darimana aja mas? Saya khawatir tau sama kamu! Saya udah cari-cari kamu mulai dari kamar, balkon, taman, tapi kamu gak ada. Emang susah ya bales chat atau terima panggilan saya?" Kirana terus mencerca Zaidan dengan banyak pertanyaan.


Zaidan yang mendengar kalimat retoris dari Kirana merasa heran, karena gadis itu tidak pernah berbicara melebihi 10 kata dan sekarang dia berbicara sebanyak 30 kata.


"Aku di dapur dari tadi. Gak kemana-mana juga, mana ada kamu chat aku" kilah Zaidan santai dan melanjutkan aktivitas memasaknya.


Kirana mengambil ponselnya dan memperlihatkan spam chat serta telpon darinya, namun tak satu pun yang di jawab oleh Zaidan.


"Cieee, ciee khawatir ya? Awas entar jatuh cinta sama aku lo" goda Zaidan sambil menyengir kuda ke arah Kirana, kalau biasanya Zaidan yang digoda oleh orang lain, kini gilirannya menggoda Kirana.


Telinga Kirana memerah karena malu, ia pun mencari alibi agar Zaidan tidak tau bahwa dirinya sudah mulai merasa nyaman di dekat Zaidan.


"Mana ada saya khawatir! Saya hanya menjalankan amanah dari mas Calvin untuk menjaga kamu" kilah Kirana ragu.


"Heleh! Bilang aja kamu khawatir sama aku" ucap Zaidan masih terus memasak dan membiarkan Kirana berkutat dengan pikirannya sendiri.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya, kenapa gak balas pesan ataupun terima panggilan dari saya, heum?" Kirana mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Zaidan.


"Wifi disini lagi masalah, males aku kalau harus ke balkon" ucap Zaidan asal, padahal ia tidak ingat meletakkan ponsel yang biasa dipakai untuk chatting dan lebih memilih membawa ponsel untuk streaming mv boygroup favoritnya.


"Oh iya? Bilang aja lagi streaming!" ucap Kirana kesal. Ia merasa di nomor duakan oleh Zaidan.


"Dih! Biarin! Setidaknya aku terang-terangan, gak kayak kamu main di belakang!" ucap Zaidan dengan santainya dan membuat Kirana terkejut.


"Apa maksud kamu main di belakang?" tanya Kirana mengerutkan dahinya.


"Pikir aja sendiri!" ucap Zaidan membereskan peralatan masaknya dan mengabaikan Kirana yang tengah berpikir maksud dari kata-kata Zaidan.


"Terus tadi waktu saya panggil-panggil kamu, kenapa gak jawab? Saya udah teriak manggil nama kamu!" ucap Kirana masih kesal dengan Zaidan yang mementingkan grup k-pop dari pada dirinya.


"Aku pakai earphone, mana denger" jawab Zaidan terus mengabaikan Kirana yang sudah menunggunya untuk berhenti beraktifitas.


"Lebih penting mana? Saya atau mereka?" tanya Kirana menunjuk ke arah ponsel yang dipakai Zaidan untuk streaming boygroup favoritnya.


"Ya merekalah! Setidaknya mereka menghiburku, gak kayak kamu Kirana! Bisanya cuman nyakitin!" ucap Zaidan ketus dan membiarkan Kirana sendirian di dapur.


Kirana menyusul langkah Zaidan dan mencegah tangannya, membuat Zaidan berbalik. Sekarang jarak diantara mereka hanya berkisar 5 cm, hembusan napas Kirana terasa hangat di wajah Zaidan. Dengan cepat, Zaidan memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" tanya Zaidan setelah berhasil memalingkan wajahnya.


"Maaf" lagi dan lagi Kirana mengucapkan kata maaf, namun sering kali gadis itu mengulangi kesalahannya.


Belum sempat Zaidan menjawab, bibirnya sudah di sun oleh Kirana bahkan lebih panas dari kejadian kemarin.


Cukup lama Kirana mencium bibir Zaidan, membuat Zaidan hampir kehilangan oksigen dan mendorong pelan dada bidang Kirana.


"Huft, lain kali bilang dulu! Untung aku gak kehabisan napas!" ucap Zaidan kesal. Ini kejadian yang tiga kalinya, Kirana mencuri kiss nya.


Kirana terkekeh melihat wajah Zaidan yang sudah memerah, beruntung kali ini mereka berada di dalam rumah hanya berdua.


"Baru juga kiss, kalau saya mau yang lainnya juga sudah hak kamu dong" seru Kirana dengan senyum jahil membuat Zaidan bergidik ngeri berada lama-lama di dekat Kirana.


"Tidak! Di surat perjanjian yang kamu buat tertera tidak ada saya menyentuhmu!" ucap Zaidan mengingatkan kembali akan surat perjanjian yang dibuat oleh Kirana.


"Masa sih? Seingat saya gak ada tuh kalimat yang seperti kamu sebutkan!" ucap Kirana seolah-olah sedang berpikir. Padahal ia tau memang ada kalimat seperti itu, namun hatinya sangat ingin berada di dekat Zaidan.


"Ada ih! Perlu aku ambilkan ?" tanya Zaidan kesal.


Kirana terkekeh dan membelai kepala Zaidan dengan lembut "Tidak perlu"


Pipi Zaidan semakin merah saat Kirana membelai kepalanya dan menarik Zaidan ke dalam dekapannya dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya Zaidan masih kesal karena Kirana sering bertemu dengan seorang pria yang ia duga adalah pria yang dicintai oleh Kirana.


"Kirana, aku boleh nanya?" tanya Zaidan membuat Kirana sedikit merengangkan pelukannya


"Boleh, kenapa?" tanya Kirana sudah mulai merubah nada bicaranya menjadi lembut.


"Selain aku, apa kamu punya pria lain?" tanya Zaidan membuat Kirana terhenyak.


Deg

__ADS_1


Tubuh Kirana menegang, Zaidan bisa merasakan hal itu karena ia masih berada dalam dekapan Kirana.


"Iya" jawab Kirana singkat, sontak Zaidan langsung melepaskan pelukannya dan berlari menuju kamar mereka.


Hati Zaidan sangat sakit. Ia pikir Kirana akan berkata tidak, dan pria yang fotonya dikirimkan oleh Adrian, hanyalah rekan kerja. Namun dugaan Zaidan salah.


Zaidan menutup pintu dengan kasar dan menguncinya secara manual dari dalam. Ia menangis tersedu saat melihat foto Kirana yang ada di ponselnya sedang bersama seorang pria. Di dalam foto itu, Zaidan melihat Kirana sangat mesra dengan pria itu.


Sejak tadi, Zaidan menahan tangis saat dirinya melihat sekilas foto yang dibagikan oleh Adrian. Awalnya Zaidan tidak percaya bahwa itu Kirana, namun setelah ia bertanya langsung pada Kirana, membuat hatinya sangat sakit.


'Ya Allah, kuatkan hamba' batin Zaidan meremas bantal yang menutupi wajahnya.


'Dia pria yang dicintai Kirana? Kamu kok tega Kirana!' batin Zaidan meraung sambil melampiaskan rasa kecewanya pada bantal.


Sementara Kirana, ia mengejar Zaidan dan membuka pintu kamar mereka secara manual.


"Zaidan, dengarkan saya dulu" bujuk Kirana, setelah berhasil masuk ke dalam kamarnya. Namun tak di hiraukan oleh Zaidan, karena hatinya sudah terlanjur sakit.


Kirana meraih tangan Zaidan dengan lembut dan langsung di tepis oleh Zaidan. Ia beranjak dari posisinya menuju kamar mandi, karena hanya disanalah Zaidan bisa menangis tanpa di ganggu oleh Kirana.


"Zaidan dengarkan penjelasan saya dulu" Kirana masih terus membujuk Zaidan dengan mengetuk pintu kamar mandi.


45 menit berlalu, Kirana merasa heran karena Zaidan tidak pernah selama itu di dalam kamar mandi. Ia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi dengan kasar.


Pandangan Kirana menangkap sosok pria yang sudah mencuri hatinya hanya dalam beberapa hari. Ia melihat Zaidan duduk bersimpuh di dekat bathup. Kirana memberanikan diri untuk mendekati Zaidan dan menyentuh lengannya. Tubuh Zaidan luruh seketika, karena pria itu sedang pingsan.


"Astaghfirullah Zaidan!" ucap Kirana terkejut melihat Zaidan yang sudah pingsan dengan baju yang basah karena pria itu pingsan tepat di bawah shower yang menyala.


Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung menggendong Zaidan dan menidurkannya di atas kasur. Ia menelpon Adrian untuk memanggil dokter pribadi mereka dan segera memeriksa keadaan Zaidan.


Kirana melihat ke arah Zaidan, ia bingung cara menggantikan pakaian pria itu yang sudah basah kuyup, karena jika dibiarkan terlalu lama Zaidan akan masuk angin.


"Bagaimana caraku menggantikan pakaiannya?" tanya Kirana pada dirinya sendiri.


"Bi Inem lagi gak di rumah pula, duh!" sambungnya lagi.


Akhirnya Kirana memutuskan untuk mengganti pakaian Zaidan, walaupun ia ragu dan sedikit takut.


"Gak apa-apa kali ya, keadaan darurat. Bismillah aja" gumam Kirana perlahan membuka baju koko Zaidan.


"Astaghfirullah" ucap Kirana mengelus dada dan mencepatkan ganti pakaian Zaidan, karena jika terlalu lama takutnya Kirana akan jatuh khilaf.


Setelah mengganti pakaian Zaidan, Kirana duduk di sebelah Zaidan dan menunggu dokter pribadi keluarga mereka datang untuk memeriksa keadaan Zaidan.


Selang beberapa menit, dokter pribadi Kirana tiba bersama dengan Adrian dan langsung menghampiri Kirana di kamarnya.


"Assalamualaikum kak" sapa Adrian yang baru saja tiba di depan kamar Kirana dengan seorang dokter.


"Waalaikumussalam" jawab Kirana langsung mempersilahkan Adrian dan dokter tersebut untuk masuk.


Kirana melirik sekilas, pasalnya dokter yang dibawa Zaidan bukanlah dokter pribadi keluarga mereka.


Kirana menyenggol lengan Zaidan dan berbisik "Siapa dia? Kemana perginya dokter pribadi kita?"


"Itu dokter Ferro, gue tau kalau lo gak suka Zaidan di pegang-pegang oleh orang lain selain lo! Makanya gue minta dokter Ferro untuk menggantikan dokter Raina" jawab Adrian.


Kirana mengangguk dan membiarkan dokter tersebut memeriksa keadaan Zaidan. Ia khawatir karena dari tadi Zaidan masih pingsan dan belum juga sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan suami saya, dok?" tanya Kirana khawatir.


"Suami ibu hanya stress dan hal itu membuat tekanan darahnya menurun. Dan satu lagi, suami ibu juga belum ada makan apa-apa sejak pagi, hal itu juga yang mempengaruhi mengapa suami ibu bisa pingsan" jelas dokter Ferro pada Kirana.


"Saya akan membuatkan resep obat dan vitamin untuk suami ibu" sambung dokter Ferro.


Kirana mengangguk paham. Setelah selesai memeriksa Zaidan, dokter Ferro pamit untuk kembali ke rumah sakit karena ia ada temu janji dengan pasien.


"Saya pamit dulu ya, bu Kirana" pamit dokter Ferro.


"Terimakasih dok" ucap Kirana tersenyum tipis dan menyuruh Adrian untuk mengantarkan dokter Ferro kembali ke rumah sakit.


Kirana duduk di tepi ranjang dan mengelus kepala Zaidan. Perlahan mata sayu Zaidan mulai terbuka, membuat Kirana tersenyum ke arahnya.


"Ada yang sakit?" tanya Kirana ketika melihat Zaidan seperti sedang merasakan sakit di tubuhnya.


Zaidan menggeleng pelan. Ia memalingkan wajahnya dari Kirana. Zaidan sangat kecewa pada Kirana, jika hanya sikap dingin, mungkin Zaidan bisa terima. Tapi, jika menyangkut pria lain, mungkin Zaidan tidak bisa menerima hal itu.


“Tunggu disini, saya akan mengambil makanan untuk mu” perintah Kirana membuat Zaidan memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Dih! Sok perhatian!" umpat Zaidan kesal, setelah Kirana keluar dari kamar.


Zaidan duduk di dipan tempat tidur, kepalanya terasa sangat berat dan juga pusing. Keadaan Zaidan saat ini benar-benar kecewa pada Kirana, ingin sekali Zaidan cerita ke Calvin. Namun, ia sadar kodrat seorang suami harus menutupi aib istrinya.


Kirana datang dengan membawa sepiring nasi dan lauk yang dimasak Zaidan tadi. Kirana hendak menyuapi Zaidan, namun ditolak mentah-mentah oleh pria itu.


"Gak perlu! Saya bisa sendiri!" ucap Zaidan ketus dan tanpa senyum.


Cara bicara Zaidan yang berbeda, membuat Kirana terhenyak. Biasanya pria itu memakai aku, tapi sekarang dia memakai saya. Zaidan juga selalu bicara dengan lembut, tapi kali ini pria itu berbicara ketus dengan ekspresi wajah datar.


Zaidan makan perlahan-lahan, hati yang hancur membuat selera makan Zaidan hilang. Ia ingin sekali cepat-cepat pergi ke Lombok, menenangkan diri dan jauh dari Kirana.


Kirana memberanikan diri untuk menyentuh tangan Zaidan yang baru selesai makan. Ia ingin menjelaskan maksud ucapannya tadi, agar tidak terjadi salah paham di antara mereka berdua.


"Zaidan" panggil Kirana pelan dan mengelus punggung tangan Zaidan.


Zaidan langsung menarik tangannya, ia sangat tidak ingin disentuh oleh Kirana. Mungkin kali ini akan sulit bagi Zaidan untuk memaafkan Kirana.


"Dengarkan penjelasan saya du-" belum sempat Kirana menjelaskan semuanya. Ponsel Kirana berdering dan membuatnya harus menghentikan ucapannya.


Kirana segera mengangkat telpon tersebut, meninggalkan Zaidan yang sendirian di dalam kamar, karena Kirana menelpon di balkon.


"Baiklah, saya segera kesana" ucap Kirana dengan tenang dan kembali menghampiri Zaidan.


"Mas, Kirana pergi dulu ya, nanti aku jelasin semuanya" ucap Kirana lembut dan mengelus kepala Zaidan.


Zaidan merengut kesal. Bukan minta maaf, Kirana malah pergi meninggalkannya. Zaidan mengecek notifikasi grup chatnya, walaupun kepala Zaidan masih sangat sakit, namun ia harus tetap mengeceknya untuk melihat kapan jadwal keberangkatan ke Lombok.


Kak Calvin: Selamat siang rekan-rekan semua


Saya akan memberitahukan perubahan jadwal volunteering kita akan dimajukan menjadi tanggal 16 Januari 2023, yang seharusnya kegiatan ini dilaksanakan tanggal 25 Januari 2023 menjadi tanggal 16 Januari 2023. Demikian surat elektronik ini saya buat dengan sebenar-benarnya.


Tertanda, Ketua Organisasi Volunteer Weber's Hospital


Dr. Calvin Hafuza Isham Assaba, Sp.Bd, Ph.D


Zaidan tersenyum membaca surat elektronik tersebut, doa nya seperti langsung dikabulkan oleh Allah swt. Padahal ia baru saja berdoa beberapa menit yang lalu. Pusing di kepala Zaidan, seakan hilang setelah membaca surat tersebut.


Zaidan langsung bangkit dari kasur dan membereskan barang-barang nya untuk di bawa ke Lombok. Sebelum membereskan barang-barang nya, Zaidan melihat sekilas ke cermin, seperti ada yang berbeda dengan dirinya.


"Loh kok baju koko ku berubah jadi biru? Tadi pagi aku pakai warna navy?"tanya Zaidan bermonolog pada dirinya sendiri.


Zaidan melihat sudah ada dua lemari di kamar besar milik Kirana. Zaidan juga tidak melihat pakaiannya di koper lagi, ia membuka lemari berwarna abu-abu diselingi warna hitam menambah kesan mewah dan elegan pada lemari tersebut. Benar saja, semua pakaian Zaidan sudah tersusun rapi di dalam sana.


Zaidan mengambil koper berukuran sedang dan memasukkan semua pakaian yang akan ia butuhkan untuk kegiatan sukarelawan tersebut. Tak lupa, Zaidan juga memasukkan beberapa buku tentang kesehatan mental pada anak yang akan ia bagikan disana nantinya. Ia juga mengambil 4 pcs buku catatan yang akan ia bagikan juga disana.


Setelah selesai packing, Zaidan bersiap-siap untuk pergi ke mall di dekat rumah sakit dan juga kantor Zaidan. Zaidan hanya mengganti bajunya saja, lalu ia mengambil ponselnya dan juga black card miliknya.


Zaidan menuruni tangga dengan berlari, padahal tubuh pria itu masih sangat lemah. Ketika Zaidan hendak keluar rumah, ia di cegah oleh pak Yanto security kepercayaan Kirana.


"Maaf, tuan Zaidan ingin pergi kemana ya?" tanya pak Yanto dengan sopan.


Zaidan tersenyum membalas senyuman pak Yanto. "Zaidan ingin membeli perlengkapan untuk kegiatan sukarelawan yang ke Lombok itu pak" jelas Zaidan tersenyum.


"Tapi, kata nona Kirana, tuan Zaidan harus tetap di rumah dan beristirahat dulu" ucap pak Yanto menyampaikan pesan dari Kirana.


'Dih! Sok perhatian! Paling juga takut di omelin sama mas Calvin!' umpat Zaidan kesal.


"Kalau gak sekarang, aku gak bakalan bisa ke mall pak. Karena kegiatan sukarelawan ku dimajukan dari jadwal" jelas Zaidan dengan sopan dan lembut.


"Zaidan mohon ya pak, please" sambung Zaidan dengan mata berbinar dan memelas.


"Baiklah tuan, tapi diantar sama supir nggih" jawab pak Yanto tidak tega melihat ekspresi wajah Zaidan yang memelas.


Zaidan mengangguk. Walaupun ia sangat malas jika harus diantar oleh supir, tapi kali ini ia harus menurut jika ingin keluar dari penjara rumah Kirana.


Zaidan masuk ke dalam mobil, dan hanya beberapa menit mereka sudah sampai di sebuah mall terbesar ketiga di kota Jakarta.


Zaidan berbelanja banyak mainan untuk anak-anak disana. Mulai dari mobil-mobilan, robot, boneka, squishy dan masih banyak lagi mainan yang dibeli oleh Zaidan. Ia juga tidak lupa untuk membeli pasta dan sikat gigi untuk dibagikan disana.


Setelah selesai berbelanja, Zaidan tidak melihat kemana perginya supir Kirana dan membuat Zaidan harus menunggu di depan mall dan berada di pinggir jalan raya. Pandangan Zaidan menangkap sosok Kirana yang tengah berbicara dengan seorang pria tampan, membuat Zaidan kembali mengingat tentang pertanyaan apakah Kirana punya pria lain.


Zaidan menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menusuk dihatinya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis melihat Kirana yang seperti sedang berpacaran dengan pria tersebut. Fokus Zaidan hampir hilang dan ia juga hampir tertabrak sebuah mobil BMW berwarna hitam. Sontak orang yang ada disana terhenyak saat Zaidan hampir tertabrak mobil tersebut. Sang pemilik mobil langsung turun menghampiri Zaidan yang seperti orang bingung.


"Maaf mas, saya tidak sengaja. Mas baik-baik aja kan?" tanya pemilik mobil tersebut dengan nada panik.


Zaidan seperti mengenali suara pemilik mobil yang hampir menabraknya tersebut. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2