
Setelah menjahili Zaidan, Kirana turun untuk bertemu dengan Adrian asisten sekaligus adiknya.
"Kirana, Kirana bisa-bisanya tergoda. Memang benar kata orang yang paling sulit dilakukan adalah menahan hawa nafsu" Kirana bermonolog mengingat kejadian tadi.
Kirana turun ke bawah dengan wajah sumringah tidak seperti biasanya yang datar tanpa ekspresi membuat Adrian menatapnya curiga.
"Ekhem, sepertinya ada yang lagi jatuh cinta nih" goda Adrian sambil menatap Kirana dan memainkan alisnya.
"Apaan sih! Gak usah ngarang!" ucap Kirana ketus tapi masih terlihat jelas di wajahnya kalau Kirana sedang merasa bahagia.
"Halah! Gak usah sok cuek lo !" Adrian menepuk pundak Kirana membuat Kirana semakin kesal.
"Tumben pulang? Tadi kan udah saya bilang kalau hari ini saya tidak masuk kantor" ucap Kirana dengan nada serius membuat Adrian kembali menatap nya serius.
"Ada hal penting yang harus gue kasih tau ke lo, tapi gak bisa disini" bisik Adrian pada Kirana.
Kirana mengangguk paham, jika adiknya itu sudah berbisik berarti ada sesuatu yang sangat rahasia di antara mereka berdua.
"Yaudah sekarang ke ruang kerja" sambung Kirana dibalas anggukan pasti oleh Adrian.
Mereka berdua hendak ke ruang kerja Kirana yang berada di ujung koridor lantai dua namun mereka menghentikan niatnya saat melihat pria hendak turun menemui mereka. Sialnya pria itu tersandung sendiri dan hampir terjatuh.
Semua orang yang ada disitu menatap ke arah Zaidan, termasuk Kirana. Dengan sigap Kirana berlari menangkap Zaidan agar tidak jatuh ke lantai.
"Zaidan!" teriak Kirana berlari menangkap tubuh kekar Zaidan.
"Kamu gak apa-apa mas?" tanya Kirana dengan wajah tenang dan membantu Zaidan untuk berdiri.
"Iya Kirana, aku gak apa-apa kok" jawab Zaidan dengan tersenyum, tapi sepertinya kaki Zaidan terkilir dan membuatnya tidak bisa berdiri dengan benar.
"Yakin? Berdiri aja gak bisa!" kemudian Kirana menggendong Zaidan ala bridal style menuju sofa yang ada di ruang tamu.
Zaidan menurut dan membiarkan Kirana menggendongnya, mau bagaimana lagi kakinya sangat sakit dan tidak bisa dibuat untuk berjalan.
'Kirana, terkadang kamu baik banget tapi terkadang kamu juga kasar, jujur aku bingung harus gimana' gumam Zaidan menatap wajah Kirana dengan berkaca-kaca.
Kirana mendudukkan Zaidan di sofa dekat dengan bundanya, kemudian Kirana meletakkan kaki Zaidan di pahanya dan mencoba untuk mengurut nya.
"Eh, eh mau di apain kaki ku?" tanya Zaidan panik saat Kirana ingin menyentuh kakinya.
"Di urut!" jawab Kirana dingin membuat Zaidan berdecak kesal.
"Gak! Aku gak mau! Biarin aja, please, bunda lihat Kirana, argh lepasin!" Zaidan merengek seperti anak kecil, padahal tadi ia bersikap seperti orang dewasa sampai membuat Kirana tergoda.
"Kalau enggak di urut nanti makin parah, nak" ucap Carissa menenangkan Zaidan, tapi pria itu terus memberontak sampai membuat Kirana menghela napas kasar.
"Yaudah kalau gak mau!" Kirana menurunkan kaki Zaidan dengan kasar dan membuat Zaidan meringis.
"Aw, sakit loh Kirana..." ringis Zaidan dengan wajah kesal.
Adrian hanya geleng-geleng kepala melihat perlakuan Kirana pada suaminya.
"Jangan kasar kak, nanti gak dikasih pelukan baru tau rasa lo" bisik Adrian dan langsung di lirik Kirana dengan tatapan menghunus tajam.
"Biar di urut Kirana aja kakak ipar, nanti bengkak loh" sambung Adrian namun Zaidan tetap keukeuh pada ketenangannya.
"Gak apa-apa kok, bentar lagi juga sembuh" ucap Zaidan menahan rasa sakit yang menjalar di kaki nya.
"Kakak udah buka hadiah dari ku?" jawab Adrian tersenyum dan membuat Kirana merasa kesal. Ia menyenggol lengan Adrian agar tau batasan dengan suaminya.
__ADS_1
"Hadiah? Masih di rumah papa semua hadiahnya, jadi belum sempat dibuka. Semalam dari gedung langsung kesini dan hadiahnya dibawa ke rumah papa" jawab Zaidan, tersenyum.
Mendengar kata hadiah membuat Zaidan teringat bingkisan dari para koas di rumah sakit yang masih tersusun di mobil Kirana. Ia hendak mengambilnya tapi berjalan aja tidak bisa.
Kirana tidak berkata sepatah kata pun, ia menarik Adrian untuk ke ruang kerja nya, karena tadi Adrian bilang ada yang ingin dibicarakan.
Zaidan merengut kesal karena Kirana bukan membujuk Kirana dengan lembut, wanita itu malah meninggalkan Zaidan yang meringis kesakitan.
'Aku kira kamu sudah mencintaiku' batin Zaidan tersenyum miris.
"Biar bunda aja yang pijat ya" ucap Carissa dengan lembut membujuk Zaidan agar mau di pijat, tapi pria itu tetap keras kepala.
"Gak apa-apa kok bun, bentar lagi juga hilang sakitnya" tolak Zaidan dengan lembut, ia sangat takut jika harus di urut.
Di ruang kerja, Kirana langsung to the point menanyakan ada hal penting apa sampai Adrian harus datang ke rumah pagi-pagi begini.
"Ada hal penting apa sampai kamu datang kesini?" ujar Kirana datar.
"Bagaimana rasanya menikah?" goda Adrian tertawa puas melihat telinga Kirana yang memerah.
"Biasa saja, gak ada yang berubah" jawab Kirana dingin.
"Gak yakin gue, spill dong rasanya nikah, gue jadi pengen nikah juga" Adrian masih terus menggoda Kirana, telinga Kirana semakin memerah.
"Kalau kamu hanya ingin membahas masalah pernikahan, lebih baik tanya ke ayah karena saya tidak tau!" jawab Kirana ingin pergi meninggalkan adiknya itu.
"Gue bercanda. Kasihan ya Zaidan, harus nikah sama gunung es terdingin di dunia!" ucap Adrian tertawa kecil. Sedangkan Kirana, ia hanya menatap Adrian dengan tajam.
"Oke kali ini gue serius. Ada kabar terbaru tentang..." ucapan Adrian terhenti saat mendengar suara teriakan dari lantai bawah.
"AUH"
Pandangan Kirana menangkap Zaidan yang sedang memeluk bundanya dibantu dengan seorang pria lengkap dengan seragam dokter yaitu kakak Calvin. Pandangan Kirana kembali menangkap seorang wanita sedang mengurut kaki Zaidan yang terkilir tadi, walaupun tidak skinship tapi tetap saja Kirana kesal karena hal itu.
Dengan wajah datar, Kirana menghampiri Zaidan, disusul dengan Adrian yang berjalan di belakang Kirana.
"Ada apa?" tanya Kirana saat tiba di ruang tamu.
Carissa menggeser dan memberikan ruang bagi Kirana untuk duduk di sebelah Zaidan, walaupun di tahan oleh Zaidan namun mertuanya tetap menggeser dan menyuruh putri nya untuk duduk di sebelah Kirana.
"Kenapa mas?" tanya Kirana.
"Mereka memaksa ku untuk di urut, sakit tau" ucap Zaidan, manja sambil menunjuk ke arah Calvin dan juga Amel.
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Kirana, padahal di dalam hati. Ia sudah tertawa melihat kelakuan menggemaskan Zaidan. Tapi, namanya juga Kirana si gunung es, mana mau mengakui kalau ia sedang gemas pada suaminya.
"Yaudah kalau gak mau, jangan dipaksa. Nanti kalau makin parah baru tau rasa!" ujar Kirana, dingin.
Zaidan cemberut kesal, ia pikir Kirana akan seperti wanita diluaran sana yang khawatir dan bertanya masih sakit atau tidak, ini malah bersikap dingin seolah-olah Zaidan adalah orang asing.
Amel mengetahui perubahan raut wajah Zaidan yang mulai kesal, ia langsung merubah suasana menjadi lebih santai.
"Mungkin mba Kirana bingung saya siapa dan ada keperluan apa kemari. Saya Amel sahabat Zaidan" ucap Amel memperkenalkan dirinya.
"Sebelumnya kita pernah bertemu kan?" Kirana mencoba mengingat wajah Amel, ia merasa pernah bertemu dengannya.
"Pernah waktu acara pernikahan kalian berdua" sambung Amel, tersenyum.
Kirana mengangguk paham "Ada keperluan dengan suami saya?" tanya Kirana mencoba akrab dengan Amel.
__ADS_1
"Saya ada keperluan dengan Zaidan, karena tanpa persetujuan anda hal ini tidak bisa dilaksanakan" jelas Amel mengambil berkas yang ia letakkan di atas meja dan berikan pada Kirana.
"Apa ini?" Kirana mengerutkan dahinya karena di berkas tersebut tertulis 'Formulir Persetujuan Berpartisipasi dalam Acara Sukarelawan di Lombok' dan satu lagi bertuliskan 'Formulir Aplikasi Pendaftaran Ulang Pendidikan Spesialis Anak'
Kirana merasa heran karena ia tidak pernah mendaftar event seperti ini dan formulir pendidikan spesialis? Sementara ia bukanlah seorang dokter melainkan pebisnis muda.
"Maksudnya apa ya? Saya bukan seorang dokter seperti kalian, terus mengapa saya di kasih formulir seperti ini?" tanya Kirana keheranan.
"Itu memang bukan milik mu Kirana, melainkan milik Zaidan, jadi bagaimana Kirana? Apakah Zaidan di ijinkan pergi dalam kegiatan sukarelawan tersebut?" Amel bertanya mewakili Zaidan karena ia tau bahwa pria itu masih merasa takut untuk meminta izin pergi jauh kepada Kirana.
"Berapa lama?" Kirana membaca setiap sudut berkas tersebut, Kirana memang orang yang sangat teliti, jadi dalam bisnis ia tidak pernah ditipu sekali pun.
"Dua bulan" jawab Amel.
Carissa, Adrian dan Kirana terkejut mendengar pernyataan dari Amel, bagaimana bisa pengantin baru dipisahkan selama itu.
"Apa!? Dua bulan? Kalau hanya dua hari pasti saya ijinkan" Kirana menghela napas panjang sesekali menatap ke arah Zaidan yang sepertinya ingin sekali ikut andil dalam kegiatan ini.
'Ada apa dengan ku? Seharusnya aku bahagia mendengar bahwa pria itu akan pergi, tapi kenapa rasanya berat?' batin Kirana.
Kirana mengetuk-ngetukkan jarinya di berkas dan mempertimbangkan keputusannya 'Ya Allah seharusnya hamba merasa bahagia tapi kenapa hamba malah merasa tidak ingin jauh dari mas Zaidan?'
Kirana memijat kepalanya pelan, ia bingung ada apa dengan dirinya sendiri, belum lagi keputusan apa yang akan ia ambil mengenai kegiatan ini.
"Kapan terakhir pengisian ini?" tanya Kirana memecah keheningan.
"Dua hari lagi" jawab Amel dan semakin membuat Kirana merasa pusing.
"Bunda, bagaimana pendapat bunda?" Kirana bertanya pada bunda nya, karena otaknya saat ini benar-benar buntu memikirkan masalah ini. Dalam bisnis aja Kirana tidak pernah sepusing ini.
"Bunda percaya dengan keputusan mu nak, ambillah keputusan yang tepat untuk suamimu" bukan memberikan pendapat Carissa malah membuat dirinya semakin pusing.
Kirana terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.
"Saya akan mempertimbangkan hal ini dulu, keputusannya akan saya ambil besok semoga kalian mengerti" ujar Kirana mengerjapkan matanya.
"Saya mengerti kok, kalian berdua masih pengantin baru, jadi masih ingin berdekatan terus" kini Calvin yang angkat bicara karena Amel sepertinya sedang sedih melihat Zaidan berada dalam rangkulan Kirana.
"Terimakasih atas pengertiannya, semoga apapun keputusan saya nanti, kalian juga mengerti" sambung Kirana datar.
Zaidan hanya diam mendengarkan pembicaan orang disekitarnya, ia tidak bisa bicara karena menahan rasa sakit di kakinya.
"Saya harap mba mengizinkan Zaidan untuk pergi, yasudah kalau begitu kami pamit karena ada banyak pekerjaan di rumah sakit" ucap Amel dengan tenang walaupun hatinya teriris melihat Zaidan yang semakin dekat dengan Kirana.
"Iya, fii Amanilah dan saya akan mempertimbangkan kegiatan ini" ucap Kirana yang ingin beranjak dari tempat duduknya namun ia mengurungkan niatnya karena sadar bahwa Zaidan sedang berada dalam dekapannya.
"Semuanya, saya dan Amel permisi dulu, assalamu'alaikum" pamit Calvin dan Amel, tersenyum ramah.
"Waalaikumussalam" jawab mereka berempat yang ada di ruang tamu tersebut.
"Dek, kakak pamit dulu ya" ucap Calvin dengan tersenyum dan dibalas anggukan kecil oleh Zaidan.
Bunda Carissa pun pamit untuk ke kamar melaksanakan sholat sunnah dhuha.
"Kalau gitu gue kekamar ya kak, lain kali aja gue ceritakan, assalamualaikum" pamit Adrian beranjak dari tempat duduknya.
"Waalaikumussalam" jawab Kirana dan juga Zaidan kerena sang bunda sudah pamit masuk ke dalam kamar.
"Kakak Ipar, aku pamit kekamar ya" ucap Adrian tersenyum pada Zaidan.
__ADS_1
"Iya" jawab Zaidan tersenyum ramah dan membuat Kirana merasa kesal melihat Zaidan tersenyum pada adiknya itu.