
Aurel sedang menunggu Alex di depan kampus. Karena, Aurel sudah selesai terlebih dahulu. Gedung mereka cukup jauh, dengan Aurel jurusan Tata Busana dan Alex mengambil jurusan Hubungan Internasional.
Beberapa kali Aurel melihat jam di pergelangan tangannya. Raut wajahnya masam karena Alex tidak keluar juga.
Karena bosan, Aurel pergi untuk mencari makanan. Dan akhirnya, ia menemukan orang yang sedang berjualan bubur. Dengan senang hati ia membeli bubur itu, mengingat bubur adalah makanan kesukaannya karena memiliki tekstur yang lembut.
"Bu, Aurel mau beli buburnya 1, ya." pesan Aurel, ia duduk di kursi yang telah disediakan.
Tidak lama, pesanannya datang. Aurel memakan buburnya dengan lahap, hingga buburnya habis dengan cepat.
"Bu, Aurel minta bubur dua lagi ya dibungkus." ucap Aurel karena ketagihan akan rasa bubur itu.
Ini sangat enak. Alex harus mencoba bubur ini. Jika tidak mau, maka Aurel akan mengancamnya. Setelah mendapatkan pesanannya dan membayarnya, Aurel kembali ke tempat ia menunggu Alex.
Saat di perjalanan, tidak sengaja Aurel bertemu dengan Farel. Tanpa mengucapkan apa pun, Farel segera pergi menjauh dari Aurel.
Aurel diam di tempatnya, matanya terus melihat kearah Farel yang menjauh dari dirinya. Aurel terus melihat apa yang Farel lakukan dari jauh.
Mulai dari Farel berhenti dipinggir jalan. Tidak tahu menunggu apa, yang pasti itu membuat Aurel bingung. Kenapa tidak berhenti di tempat yang tidak panas? Kenapa harus menunggu di pinggir jalan dengan cuaca yang sangat panas ini?
Aurel melihat sebuah angkutan umum berhenti di depan Farel, saat angkutan itu berhenti Farel langsung menaikinya.
Banyak orang ada di dalam angkutan itu, hingga membuat Aurel tertarik dan ingin mencoba untuk menaikinya juga. Aurel mengira jika ia menaiki angkutan umum itu pasti seru, karena di dalamnya banyak orang yang bisa dijadikan teman.
Aurel nanti akan memintanya kepada Alex!
Aurel terlalu lama melihat dan memikirkan hal itu, sehingga ia terhanyut dalam pikirannya. Alex yang sudah berada mengernyitkan keningnya bingung. Kenapa Aurel tidak melihat ke arahnya? Apa Aurel tidak menyadari keadaan dirinya? Gadis itu sedang melamun? Alex menjadi ingin memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, agar ia tahu apa yang sedang gadis di sampingnya pikirkan hingga ia melamun.
“Aurel,” panggil Alex.
__ADS_1
Namun Aurel tidak bergeming, Aurel tetap diam memandang lurus ke arah depan. Beberapa kali Alex memanggil Aurel, tetapi gadis itu tetap saja tidak menjawab.
Alex menepuk bahu Aurel, seketika Aurel terlonjak kaget. Ia menoleh ke sampingnya.
“Alex!” ucapnya dengan marah.
Aurel terkejut ketika ada yang menepuk bahunya. Kenapa Alex senang sekali membuat dirinya terkejut. Sangat menyebalkan!
“Kenapa?” tanya Alex membuat Aurel menggeram kesal.
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu senang sekali membuatku terkejut?” tanya balik Aurel dengan berkacak pinggang menatap Alex yang lebih tinggi dari dirinya.
“Tidak, aku tidak berniat membuatmu terkejut. Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tetapi kamu tidak menjawab. Kamu hanya diam dan menatap ke depan,” jawab Alex menjelaskan.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Banyak. Aku senang memikirkan banyak makanan, akan lebih senang lagi jika kamu membelikanku makanan seperti coklat yang banyak.” Jawab Aurel dengan cengirannya.
“Ingat, kamu tidak boleh banyak memakan coklat atau akan aku laporkan pada Om Mario.” ancam Alex.
Aurel cemberut dengan perasaan kesal. Alex selalu mengancamnya dengan membawa nama papanya. Karena jika itu perintah dari Mario, Aurel tidak berani menolak atau menjawabnya.
“Ayo kita pulang!” ajak Alex menggandeng tangan mungil Aurel. Tetapi, Aurel menarik tangan Alex.
“Kenapa?” tanya Alex. Apakah ada sesuatu yang Aurel lupakan? Atau Aurel sedang menginginkan sesuatu?
Aurel seperti ragu ingin mengucapkan ini kepada Alex, ia tidak yakin Alex akan mau menuruti keinginannya yang mungkin diluar pikiran Alex. Tetapi, apa salahnya mencoba dulu? Siapa tahu Alex akan mengizinkan dan mau.
“Aku ingin meminta sesuatu, boleh?” tanya Aurel dengan suara pelan, matanya menatap mata Alex dengan lekat.
Alex menganggukkan kepalanya. Kenapa harus meminta izin? Jika Aurel ingin sesuatu ia bisa memberikannya dengan mudah jika Alex bisa. Bahkan raut wajah Aurel dan suara pelan Aurel menggambarkan bahwa Aurel ragu untuk meminta sesuatu kepada dirinya.
__ADS_1
“Aku ingin menaiki itu,” ucap Aurel menunjuk angkutan umum yang sedang berhenti di pinggir jalan.
Alex mengikuti pandangan dan tunjukan jari Aurel. di sana terdapat angkutan umum yang sedang berhenti dengan banyak orang yang ada di dalamnya. Apa Aurel meminta dirinya agar mereka menaiki itu? Apakah Aurel tidak salah?
Alex menatap Aurel seolah meminta penjelasan. Aurel menghembuskan nafasnya.
“Aku ingin mencoba menaiki itu, Alex. Ayo kita pulang dengan naik itu!” rengek Aurel menggoyangkan lengan kekar Alex.
Alex menggelengkan kepalanya. Selama apapun dan dengan cara apapun Aurel membujuknya, Alex tetap tidak akan mengizinkannya. Aurel baru saja sembuh dan mereka tidak pernah menaiki angkutan itu. Pasti akan banyak debu dan keringat, melihat banyak orang yang menaiki angkutan itu hingga penuh. Tentu saja ini berbahaya untuk kesehatan Aurel.
“Tidak boleh, di sana tidak sehat untuk dirimu yang baru saja sembuh. Lebih baik kita pulang dengan menaiki mobilku dan aku yang menyetir, ayo kita pergi ke tempat mobilku berada.” ajak Alex menarik tangan Aurel, tetapi Aurel tetap saja menahan.
“Ayolah, Alex. Sekali saja, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menaiki angkutan itu,” rayu Aurel dengan wajah yang sangat lucu.
“Sekali tidak tetap tidak!” tolak Alex dengan mentah-mentah.
“Atau aku akan memberitahu pada Om Mario?”
Saat Aurel ingin membalas ucapannya, dengan cepat Alex melanjutkan ucapannya yang membuat Aurel terdiam dan tidak berani lagi membalas untuk membujuknya menaiki angkutan itu.
Melihat Aurel tidak memintanya lagi, Alex menarik tangan Aurel untuk menuju mobilnya. Aurel mengikuti langkah Alex dengan pasrah. Ia tidak bisa membujuk Alex lagi, ia akan memintanya lain kali.
Di mobil Aurel hanya diam. Alex menoleh kepada Aurel yang sedang diam menatap ke depan, ia menghela nafasnya. Ia mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyerahkan kepada Aurel.
“Sudah, tidak usah marah. Lebih baik kamu makan coklat,” ucap Alex, dengan senang Aurel menerimanya. Sudah beberapa hari ia tidak memakan coklat.
“Mau coklatnya lagi!” pinta Aurel ketika coklat di tangannya sudah habis.
“Tidak ada coklat lagi, aku akan memberimu lagi minggu depan.”
Jawaban Alex tentu saja membuat Aurel kesal. Tetapi tidak apa-apa, Aurel akan menunggu minggu depan untuk meminta banyak coklat kepada Alex.
__ADS_1