Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 58 Rencana Pergi


__ADS_3

Rencana Pergi


Seperti yang bisa Aurel tebak. Pasca kejadian itu kondisi Aurel mulai menurun. Dia kembali jatuh sakit, pikirannya seolah kacau. Aurel tidak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. Dia sampai jatuh sakit.


Seperti kehilangan semangat hidup, wajah Aurel sangat pucat. Dia bahkan tidak selera makan. Aurel ingin sendirian, tapi orang-orang di sekitarnya seolah tidak mengizinkan perempuan itu untuk sendiri.


Ponsel Aurel berdering, ada sebuah panggilan masuk di sana. Dari Farel, Aurel bisa menebak kalau pria itu pasti akan menghubunginya setelah apa yang terjadi kemarin.


Jemari Aurel bergerak untuk menggeser ikon merah di layar ponselnya. Namun, belum sempat dia melakukannya. Secepat kilat Alex merebut ponsel tersebut dari tangan Aurel, dia menggeser ikon hijau dan menempelkan di telinga.


"Aurel, maafkan aku. Aku tidak tahu akan seperti ini akhirnya. Aku benar-benar minta maaf karena sering membuatmu terluka."


Suara pria itu terdengar, Alex tampak memasang wajah datar saat mendengar suara Farel. Pria itu berusaha untuk meminta maaf, tapi memangnya dia layak untuk dimaafkan?


Farel berusaha membujuk perempuan itu dan berusaha untuk meminta maaf. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa Aurel menderita penyakit serius. Selama ini dia sudah berlaku jahat pada Aurel, Farel merasa tidak layak dimaafkan.


Aurel mendongak, menatap Alex yang ada di hadapannya. Mata pria itu memancarkan amarah, seolah-olah dia akan membunuh Farel jika saja pria itu berada di hadapannya sekarang.


"Aku minta maaf. Selama ini tingkahku sangat keterlaluan, aku benar-benar bersalah. Maafkan aku, Aurel."


Farel masih berusaha membujuk Aurel supaya perempuan itu memaafkannya. Farel tahu bahwa selama ini tingkahnya sudah sering membuat Aurel terluka. Dia bersalah, dan Farel menyadarinya.


Farel berharap Aurel mau memaafkannya meskipun dia merasa tidak layak untuk dimaafkan, tapi lagi-lagi dia merasa bahwa Aurel tidak sejahat itu. Dia pasti masih mau membuka hatinya untuk Farel.


"Mati saja, breng_sek!"

__ADS_1


Alex menjawab ucapan Farel dengan nada dingin, tentu saja Farel terkejut mendengar suara berat itu. Dia pikir sedang bicara dengan Aurel tanpa memastikan siapa yang tengah diajaknya bicara sejak tadi. Farel mulai membeku sesaat.


"Di mana Aurel? Kenapa kau mengangkat teleponku? Berikan pada Aurel sekarang!"


Mendengar ucapan Farel, Alex terkekeh sinis. "Untuk apa? Aku tidak akan membiarkan bajingan sepertimu mendekati Aurel lagi. Jika kehadiranmu hanya untuk membuat Aurel terluka, lebih baik jangan pernah menampakkan diri di hadapan Aurel lagi!"


Tak hanya Farel, Aurel juga terkejut mendengar ucapan Alex. Lebih tepatnya ancaman. Pria itu tidak pernah main-main dengan ancamannya, Aurel mulai merasa ngeri.


"Alex, hentikan. Apa yang kamu lakukan?" seru Aurel, dia merasa pria itu sudah sangat lancang merebut ponselnya bahkan memberikan Farel ancaman. Dia sudah menduga kalau Alex akan bertindak seperti ini.


Alex menoleh ke arah Aurel dan memberinya tatapan tajam. Seolah meminta perempuan itu untuk tidak ikut campur, Aurel menghela napas, kenapa keadaan jadi semakin rumit saja?


"Hentikan, Alex. Ini hanya akan membuat keadaan jadi semakin rumit!"


Mendengar ucapan Aurel yang seolah lebih memihak Farel--padahal Aurel sama sekali tidak berpikiran seperti itu--secara sengaja Alex membanting ponsel milik perempuan itu ke lantai, membuat retakan parah di layar ponselnya. Aurel terkejut melihat apa yang terjadi.


"Alex! Apa yang kamu lakukan? Kenapa membanting ponselku!" Aurel tidak terima, meskipun dia takut ketika melihat wajah Alex yang menyeramkan, sepertinya pria itu benar-benar marah padanya.


"Jangan berhubungan dengan pria itu lagi, untuk apa kamu mempedulikan dia? Mau tersakiti sampai kapan, Aurel?"


Alex bertanya dengan nada dingin, seolah-olah dia memberitahu Aurel bahwa Farel tidak cukup baik untuk dimaafkan. Aurel sendiri tidak berniat untuk bicara dengan pria itu, tapi kenapa Alex bersikap seolah dia akan menerima Farel kembali?


Aurel ketakutan setengah mati saat melihat Alex menatapnya tajam, ponsel gadis itu teronggok di lantai dengan layar tidak berbentuk. Alex bisa saja membuat hal yang lebih parah dari ini. Dia tidak mau bernasib sama dengan ponsel itu, karenanya Aurel memilih untuk diam.


Melihat keterdiaman Aurel, Alex sadar kalau apa yang dilakukannya sudah salah, tapi dia melakukan hal itu karena merasa marah pada Farel, dia tidak bermaksud melampiaskan semuanya pada Aurel, meski kenyataannya perempuan itu sudah terlanjur ketakutan.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku hanya ingin membuat dia menjauh darimu. Mulai sekarang jangan berhubungan dengannya lagi," kata Alex berusaha untuk membuat Aurel mengerti.


Beberapa saat kemudian, Aurel menuju ke ruangan Mario. "Papa, papa sedang sibuk?"


Mario menoleh ke arah pintu saat mendengar suara putrinya. Mario tersenyum dan menggeleng, membiarkan Aurel masuk ke ruangannya. 


Mendapat jawaban seperti itu, Aurel pun ikut tersenyum dan melangkah mendekati papanya. Ada hal penting yang ingin dia utarakan pada pria itu, setelah Alex pulang tadi, Aurel merasa harus bicara dengan papanya mengenai hal ini, dia benar-benar takut dan merasa butuh perlindungan.


Aurel tidak langsung bicara, dia terdiam lebih dulu. Lebih tepatnya dia berusaha untuk meyakinkan diri bahwa pilihannya benar-benar baik untuknya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Mario seolah mampu membaca ekspresi yang tercetak di wajah putrinya. Aurel tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya karena itu dia berusaha untuk berterus terang pada ayahnya.


"Papa, aku mau pergi ke luar negeri seperti apa yang papa tawarkan waktu itu. Bolehkah aku mengurus semuanya sekarang?" tanya Aurel cepat. Hal itu membuat Mario mengangkat sebelah alisnya. 


"Ada apa? Kenapa terburu-buru sekali?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku takut. Aku tidak mau ketemu Farel lagi, aku juga takut sama Alex. Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan dari mereka, aku pikir dengan pergi ke luar negeri bisa membuat perasaanku tenang."


Mendengar alasan putrinya, Mario mengangguk mengerti. Pria itu tidak punya pilihan selain menuruti apa yang putrinya inginkan. Dia menghormati keinginan Aurel, jika memang itu permintaannya, maka Mario akan mewujudkannya.


"Baiklah, papa akan mengurus semuanya. Kamu benar-benar ingin melanjutkan pendidikan di London?" tanya Mario sekali lagi untuk memastikan kalau putrinya memang benar-benar ingin pergi.


Aurel mengangguk mantap. "Iya, Pa. Aku bisa menjaga diriku di sana nanti."


Jawaban meyakinkan itu keluar dari mulut Aurel, seketika Mario langsung memberinya dukungan dan bersiap untuk mengurus segala keperluan Aurel pindah ke luar negeri.

__ADS_1


Aurel menghela nafas lega, dia berharap kepergiannya tidak ada masalah. Dia benar-benar ingin menghindar dari dua pria itu. Setidaknya hidupnya akan sedikit lebih tenang jika mereka tidak saling bertemu untuk sementara waktu.


__ADS_2