
“Farel?” gumam Aurel saat melihat seorang lelaki masuk ke dalam rumah dengan keringat yang membanjiri wajahnya.
Aurel berpikir. Bagaimana bisa Farel berada di sini? Apa hubungan lelaki itu dengan Nafa dan Vanesa?
Farel pun tak kalah terkejut ketika melihat Aurel. “Aurel, kok kamu bisa ada di sini?” tanya Farel kepada Aurel.
“Aku? Aku diajak main ke sini oleh Kak Nafa,” jawab Aurel yang masih bertanya-tanya dalam pikirannya.
Farel menoleh kepada Nafa yang duduk tidak jauh dari tempat Aurel. Sejak kapan kakaknya ini mengenal Aurel dan juga lelaki yang berada di samping Aurel?
“Kalian saling kenal?” tanya Nafa melihat perbincangan Aurel dan Farel.
“Aku sudah mengenal Aurel. Saat itu, pada malam hari dia pergi ke Supermarket untuk membeli dua kemasan coklat. Tetapi, Aurel tidak membawa uang dan aku yang membayarkannya.”
Mendengar jawaban dari lelaki di depannya, Alex menatap ke Aurel agar Aurel mau menjelaskan tentang apa yang telah Farel ucapkan.
Aurel keluar malam untuk membeli coklat? Kenapa Alex tidak mengetahui hal ini? Dan, kenapa Aurel tidak meminta tolong saja kepada dirinya untuk menemani ke Supermarket?
“Aurel, apa berteman denganku bertahun-tahun masih membuatmu tidak berani meminta tolong kepadaku?” tanya Alex yang pastinya membuat Aurel panik.
Aurel takut setelah ini Alex akan menjauh darinya. Sungguh, Aurel tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja malam itu Aurel tidak berpikir ke sana, ia hanya memikirkan untuk memakan coklat diam-diam. Lagi pula, jika ia menghubungi Alex untuk membelikannya coklat, pastinya Alex akan menolak dan menasehati dirinya. Karena Aurel tahu, ia tidak boleh memakan coklat banyak-banyak.
“Tidak, Alex. Bukan begitu,” jawab Aurel dengan pelan.
Tangannya memainkan tangan besar Alex yang berada di pahanya, sebagai pertanda kalau ia sedang takut. Karena, jika Alex marah itu akan lama, hingga membuatnya kesepian.
“Jika bukan begitu, lalu bagaimana?”
__ADS_1
Aurel dibuat bungkam dengan pertanyaan Alex, ia bingung harus menjelaskan dari mana, karena memang ia yang salah di sini. Raut wajah Alex membuat Aurel takut dengan lelaki itu. Alex sama seperti Mario saat marah.
“Aku minta maaf,” cicit Aurel dengan menunduk.
Aurel merasa bersalah dengan Alex. Pasti lelaki ini akan merasa bahwa ia tidak menganggap Alex. Padahal Aurel juga tidak ingin merepotkan Alex terus.
“Aku minta maaf tidak menghubungimu dulu,”
Perasaan bersalah kepada Alex kian membesar. Lain kali Aurel akan menghubungi Alex sebelum melakukan apa pun di luar sana.
Alex menghela nafasnya, ia tidak bisa marah kepada Aurel dalam jangka waktu yang lama. Aura gadis ini membuat ia tidak mampu ia menjauh dan marah kepadanya. Hatinya kerap kali luluh saat melihat wajah Aurel.
“Tidak apa-apa, tapi tidak boleh diulangi lagi, oke? Ini juga demi kesehatanmu,” jawab Alex dengan lembut.
Nafa yang mendengar suara lembut Alex kembali terpesona. Selain parasnya yang tampan dan juga mapan, Alex juga memiliki jiwa yang sabar dan lembut.
Sedari tadi, Farel melihat semua sikap Alex kepada Aurel. Seketika hati lelaki itu panas, Alex sangat perhatian dengan Aurel, mereka berdua seperti sepasang kekasih. Sangat cocok dan serasi, tentunya dengan kasta yang setara.
Setelah itu, semuanya menjadi hening. Melihat tidak ada yang berbicara lagi, Vanesa akhirnya mengeluarkan suara.
“Bagaimana jika kita makan bersama? Aurel tentu saja tidak akan kenyang dengan memakan bubur saja, benar bukan Aurel?” tanya Vanesa agar mereka mau dan dengan ini mereka bisa saling mengenal satu sama lain.
Aurel menganggukkan kepalanya. Karena memang benar, perutnya masih tidak puas menerima bubur yang disuapkan oleh Alex dan masih menginginkan makanan lagi.
“Aurel sudah setuju, bagaimana dengan Alex?”
Mau tak mau Alex menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin jika ia membiarkan Aurel makan sendirian.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita pergi ke dapur. Dan Farel, sebelum kamu kembali ke toko, ayo ikut makan bersama kami,” ucap Vanesa dengan ajakan.
Karena, biasanya Farel akan susah jika diajak bergabung dengan orang asing atau orang yang baru saja mereka kenal.
Farel mengangguk, ia setuju dengan ajakan ibunya. Farel ingin ikut makan bersama mereka, karena ada Aurel di sana. Rasa penasarannya kepada Aurel kian makin memuncak. Apalagi dengan lelaki yang berada di samping Aurel.
Perlakuan lelaki itu kepada Aurel seolah menunjukkan bahwa mereka sangatlah dekat. Farel memandang Alex dengan rasa iri. Apa mungkin berarti mobil yang berada di depan rumahnya itu milik lelaki itu? Jika iya, pantas saja mereka cocok. Farel sudah menebak bahwa Alex dan Aurel memiliki kasta yang sama dari pakaian.
Alex dan Aurel mengenakan pakaian branded yang sangat mahal, bahkan uangnya cukup untuk ia pergi dan pulang kerja dengan menaiki angkutan umum selama beberapa minggu.
Sekarang mereka sedang duduk di kursi yang berada di dapur. Meskipun dapurnya tidak besar, tetapi cukup untuk mereka tempati. Mereka makan masakan Vanesa walaupun Alex sempat ragu ingin memakannya, karena ia dan Aurel tidak pernah memakan ini. Tetapi, karena tidak ingin membuat Vanesa kecewa. Alex mengambil sedikit masakan itu untuknya dan juga untuk Aurel.
“Apakah kalian ingin mencoba ini? Ini kami yang membuatnya,” ucap Nafa menawarkan sebuah piring yang berisi kerupuk.
Aurel sedikit tertarik melihat itu. Tangannya melayang guna mengambil beberapa kerupuk itu untuk mencobanya, karena ia belum pernah memakan makanan seperti ini.
Saat ingin memasukkan kerupuk itu ke mulutnya, Alex menahannya dan mengambil kerupuk dari tangannya. Aurel menatap Alex dengan tatapan melas.
“Kok diambil?”
“Kamu tidak bisa dan tidak boleh memakan makanan seperti ini Aurel,” ucap Alex melarang, ia mengambilkan roti tawar untuk Aurel lagi.
Aurel sudah bosan memakan roti tawar yang Alex siapkan untuknya, ia ingin mencoba rasa baru seperti kerupuk itu. Tetapi, Alex tetap saja tidak memperbolehkan. Lelaki itu sungguh posesif, sama dengan papanya.
Farel yang melihat dan mendengar kejadian itu mendengus kesal. Apa maksud perkataan lelaki itu? Apa dia sedang mengejek kerupuk buatannya? Memang apa salahnya mencoba kerupuk ini? Ingin sekali Farel menonjok wajah tampan Alex itu. Tetapi, tidak tahu kenapa lengannya seperti tidak bisa digerakkan.
“Astaga, kekuatan orang kaya memang begitu besar.” gumam Farel.
__ADS_1
Sejak pertama kali Farel melihat Alex, auranya mencekam. Seolah sedang mengancamnya untuk jangan bermain dengan lelaki itu. Padahal, dirinya baru saja pertama bertemu. Tetapi sudah dicekam oleh aura Alex. Hal itu, membuat Farel berpikir lebih jauh lagi. Apakah ini kekuatan dari orang kaya? Hingga membuatnya tak bisa berkutik. Pikirnya.