Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 54 Ancaman


__ADS_3

Ancaman


Mario merasa geram dengan putrinya, tetapi ia juga tidak bisa memarahi putrinya. Aurel adalah satu-satunya harta berharga yang Mario punya, ia mungkin tidak bisa membuat Aurel menjauhi lelaki yang bernama Farel itu. Tetapi, Mario bisa membuat Farel menjauhi Aurel dan membuat putrinya tidak ingin mendekat lagi dengan lelaki itu.


"Aku harus membuat lelaki itu menjauh dari Aurel," gumam Mario menatap laptop yang sedang menyala di hadapannya. Hanya Alex yang pantas bersanding dengan putrinya.


Mario menjodohkan Alex dengan Aurel bukan tanpa sebab. Karena ia pernah memberikan lelaki itu sebuah kepercayaan dan tanggung jawab, dan Alex mampu menjalankan semuanya dengan baik. Bahkan dapat membantunya dalam pekerjaan kantor. Bersama Alex, maka kebutuhan dan hidup Aurel bisa terjamin bahagia serta kebutuhannya terpenuhi.


Mario berdiri dari kursi kerjanya, tangannya bergerak menutup laptopnya dengan kencang. Ia cukup emosi mendengar ucapan dari keluarga Alex semalam yang ingin membatalkan perjodohan mereka berdua. Tentu saja ia tidak menyetujuinya, bagaimana pun juga Mario akan selalu memilih Alex untuk menjadi menantunya.


Mario keluar dari ruangan kerjanya, ia akan menemui lelaki yang bernama Farel itu. Mario masuk ke dalam mobilnya dan segera menjalankan. Ia mengendarai mobilnya dengan pelan, sembari melihat lokasi toko butik tempat Farel bekerja yang sudah dikirimkan oleh Alex. Setelah sepanjang jalan Mario melihat-lihat, akhirnya ia menemukan toko butik itu.


Mario segera menghentikan mobilnya, ia turun dan masuk ke dalam toko. Ia dapat melihat Farel yang sedang bekerja melayani pelanggan. Tanpa mengambil barang ataupun baju untuk basa-basi, Mario langsung menghampiri Farel.


"Farel?"


Farel menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia dapat mengingat Mario, bukankah pria ini adalah papa Aurel? Ada apa pria ini menghampirinya?


"Iya, Om?" jawab Farel dengan bertanya, ia sedikit membungkukkan badannya saat menjawab agar terlihat lebih sopan.


"Apakah saya dapat berbicara berdua denganmu? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucap Mario dengan raut wajah yang sangat serius, membuat pria itu terlihat seram.


Hawa dingin mulai merambat ke tubuh Farel, tidak tahu kenapa bulu kuduk lelaki itu menegak bagai tersambar petir.


"Bisa, Om. Tetapi bolehkah saya menyelesaikan pekerjaan saya terlebih dahulu? Om bisa duduk di kursi yang berada di sebelah sana sembari menunggu saya."

__ADS_1


Mario menganggukkan kepalanya, ia berjalan ke arah kursi yang ditunjuk oleh Farel dan duduk di sana. Tetapi matanya tidak berhenti mengawasi setiap pergerakan lelaki itu. Hal itu, membuat Farel gugup dalam menjalankan pekerjaannya. Pasalnya Mario menatapnya dengan tajam layaknya seorang Harimau yang sedang mengawasi mangsanya, membuat Farel sangat hati-hati dalam menjalankan pekerjaannya.


Setelah semua pelanggan pergi, Farel merapikan mejanya. Ia berjalan ke arah Mario dengan rasa takut yang menyeruak dalam hatinya.


"Ingin membicarakan apa ya, Om?" tanya Farel setelah sampai tepat di hadapan Mario. Lelaki itu bertanya sembari menundukkan kepalanya, takut akan tatapan Mario kepada dirinya.


"Duduk!"


Farel menuruti ucapan Mario yang seperti memerintah dirinya, ia duduk di kursi yang berada tepat di depan pria itu dengan ragu-ragu,


Hawa dingin mulai pekat.


"Sebenarnya kita ingin membicarakan apa ya, Om?" tanya Farel lagi dengan memberanikan diri. Untuk mengeluarkan suara saja Farel merasa harus hati-hati, ia tidak ingin salah bicara yang membuat pria di depannya tersinggung.


"Sebelumnya, saya ingin bertanya. Apakah benar kamu sedang menjalin hubungan dengan putri saya yang bernama Aurel?" tanya Mario dengan memastikan. Ia harus bertanya kepada kedua belah pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Melihat Farel tidak menjawab, Mario mengulangi pertanyaannya. "Kamu saja perlu menjawab, saya membutuhkan jawabanmu. Iya atau tidak?" tanya Mario, ia dapat melihat raut wajah Farel yang gugup.


"Iya, Om. Saya telah menjalani hubungan dengan Aurel selama satu minggu," jawab Farel dengan menunduk.


"Bisakah saya meminta tolong kepadamu?"


Farel mendongak mendengar pertanyaan Mario. Permintaan tolong seperti apa yang Mario maksud? Sedangkan ia tidak bisa membantu dalam hal apa pun.


"Boleh," jawab Farel, tidak mungkin ia akan menolak permintaan tolong Mario. Meskipun begitu, Mario pasti tahu bagaimana keadaan dirinya.

__ADS_1


"Tolong jauhi putri saya, yaitu Aurel. Apakah kamu sanggup melakukan itu?" tanya Mario dengan badan tegap menatap Farel dengan pandangan seperti menembakkan laser.


Farel menegang mendengar itu. Ingin sekali ia menolak permintaan tolong yang Mario ucapkan, Farel sudah terlanjur menyukai dan nyaman dengan Aurel. Mengingat hubungan mereka yang baru saja satu minggu, mengapa tantangan cepat sekali datang kepadanya?


"Farel, saya tahu kamu masih mengingat saya. Sebagai seorang Papa, saya menginginkan yang terbaik untuk putri saya. Melihat keadaanmu, saya tidak yakin jika Aurel akan bahagia denganmu. Meskipun cinta tidak melihat dari harta, tetapi semuanya butuh uang untuk melengkapi kebutuhannya."


Farel masih mencerna penjelasan yang keluar dari Mario. Apakah ini artinya ia tidak mendapatkan restu dari pria di depannya yang memiliki status sebagai papa dari Aurel? Apakah ini gara-gara harta? Memang sih, dirinya tidak mempunyai harta sebanyak Aurel. Tetapi ia bisa berusaha.


Namun, yang orang lain lihat adalah hasil, bukan proses. Tidak peduli sesulit apa dan sepanjang apakah itu prosesnya, jika hasilnya memuaskan itu akan menarik perhatian orang lain daripada proses yang mengagumkan.


“Maaf jika ucapan saya sedikit menyinggungmu. Tetapi, perlu kamu tahu. Aurel sudah saya jodohkan dengan lelaki yang bernama Alex.”


Belum Farel mencerna seluruh ucapan Mario tadi, tetapi pria itu menambahkan ucapan yang membuat hatinya tercabik-cabik. Tetapi wajar saja jika Mario berkata seperti itu. Ia bisa melihat bahwa barang yang Alex gunakan menunjukkan bahwa lelaki itu adalah orang kaya.


“Semoga kamu bisa menjalankan permintaan tolong saya dengan baik. Saya pamit.”


Belum sempat ia menjawab, Mario sudah pergi. Farel menatap punggung Mario dengan ucapan pria itu yang masih menghantui pikirannya. Ia merasa dirinya memang tidak cocok dengan Aurel, gadis itu mempunyai hidup yang serba terpenuhi.


Farel mengambil ponselnya, ia ingin menelepon Aurel untuk membicarakan tentang masalah ini.


“Aurel? Bisakah kita bertemu sore ini?” tanya Farel ketika teleponnya sudah terhubung.


“Maaf aku tidak bisa. Aku memiliki janji untuk makan bersama di luar dengan keluarga Alex.”


Mendengar nama Alex saja sudah membuat Farel emosi. Apakah setelah berhubungan dengannya, Aurel masih dekat dengan lelaki itu?

__ADS_1


“Aurel, kamu sangat cantik memakai baju ini. Apakah kita berangkat sekarang juga?”


Suara Aurel berganti dengan suara lelaki. Mendengar ucapan manis dari lelaki itu membuat Farel panas.


__ADS_2