Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 29 Marah


__ADS_3

Mario terus melihat bagaimana perilaku Alex dan Aurel sekarang. Mata tajamnya terus mengawasi di setiap detik, hatinya senang. Sepertinya Aurel akan menerima perjodohannya dengan Alex, ini pasti tidak akan susah.


Terlihat bagaimana Alex sangat peduli dan perhatian kepada Aurel. Mungkin dengan hal itu, Aurel perlahan akan luluh. 


Rasa senang menjalar ke dalam hatinya, melihat putrinya yang sepertinya bahagia jika bersama Alex. Itu berarti pilihannya tidak akan salah. Tetapi, Mario tetap akan marah kepada Alex dan Aurel yang melakukan hal itu. Itu diluar dugaannya.


Mario masuk ke dalam kamar Aurel, dua orang itu tidak menyadarinya. Ia menaruh nampan yang berisi makanan ke meja dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara, dua orang yang sedang berpelukan itu terlonjak terkejut.


Posisi Aurel yang menghadap pintu, membuat dirinya bisa melihat langsung siapa yang memasuki kamarnya. Sedangkan Alex, ia membelakangi pintu dan harus menoleh jika ingin melihatnya.


“Papa,” gumam Aurel dengan kepala yang masih menyender di bahu Alex.


Mendengar gumaman Aurel, Alex dengan cepat melepaskan pelukan mereka. Apakah Mario melihat yang ia lakukan dengan Aurel?


Mario menatap Aurel, “Aurel, Papa ingatkan kepadamu untuk jangan melakukan sesuatu diluar batas.”


Kemudian, Mario mengalihkan pandangannya kepada Alex. “Dan untukmu, Alex. Om mengizinkanmu untuk dekat dengan Aurel, bukan berarti bisa melakukan apa pun dengan Aurel.”


Ucapan Mario yang memperingati Aurel dan Alex, membuat mereka berdua menegang. Apakah Mario melihat apa yang tadi mereka lakukan? Aurel dan Alex saling bertatapan.


“Ini peringatan untuk kalian berdua. Saya sudah melihat semua yang kalian lakukan tadi, dari awal hingga akhir,” ucap Mario lagi sesuai dengan dugaan mereka.


Mendengar semua ucapan papanya, Aurel meremas bantal yang ada di pangkuannya. Ia sangat takut dengan nada dingin dan wajah datar Mario. Karena, tidak pernah Aurel merasakan papanya itu marah kepadanya.


Merasa telah cukup berbicara dan memarahi mereka, Mario keluar dari kamar Aurel. Gadis itu meneteskan air matanya tepat saat Mario pergi.


Setelah melihat Mario pergi ke luar kamar, Alex segera memeluk Aurel yang sedang menangis. Ia menghapus air mata Aurel yang sedang mengalir deras di pipinya.


Dengan sabar, lelaki itu menenangkan Aurel yang saat ini mungkin suasana hatinya sedang kacau. Alex tahu jika ini adalah pertama kalinya Aurel melihat papanya marah di depannya dan memberikan nasihat dengan nada dingin. Karena, Aurel sudah terbiasa dengan Mario yang selalu memanjakannya dan mengabulkan permintaannya. Dan, walaupun Aurel melakukan kesalahan, Mario akan menasehatinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Akan tetapi, tidak untuk sekarang. Meskipun Mario tidak kata-kata kasar, membentak atau mengomelinya. Aurel tetap sedih mendengarnya.


"Sudah jangan menangis," ucap Alex, dengan lembut lelaki itu menepuk pelan punggung Aurel agar tenang.


Alex takut jika Aurel terus menerus menangis, ini akan berdampak pada Aurel. Apalagi gadis itu sekarang masih dengan proses pemulihan. Bila tidak berhenti menangis, nanti ia akan kelelahan dan kambuh kembali.


"Alex, papa marah sama aku," lirih gadis itu dalam pelukan Alex. Kepala Aurel berada di leher lelaki itu.


Alex dapat merasakan bahwa lehernya basah. Aurel menangis.


Sedari tadi Aurel sudah menahan tangisannya karena takut dengan Mario, badannya bahkan bergetar hebat. Tetapi, Mario tidak melihat itu. Dan saat Mario keluar, barulah Aurel menumpahkan seluruh tangisannya di depan Alex.


Hanya Alex yang sudah melihat dirinya menangis, akibat dari penyakitnya yang kambuh atau pun karena orang tuanya bertengkar. Alex sudah melihat semua sisi Aurel. Oleh karena itu, Aurel tidak mau lelaki itu pergi, karena dialah satu-satunya pendengar ceritanya. Tidak tahu cerita bahagia, atau pun keluh kesah..


“Tidak, Om Mario tidak marah kepadamu, Aurel.”


“Tadi papa marah, aku takut melihat itu,” adu Aurel sembari menangis tersedu-sedu.


Aurel tidak pernah melihat Mario marah dari kecil. Ia selalu dimanjakan oleh Mario. Apalagi dengan Carramel yang tidak peduli dengan Aurel, membuat Mario tidak tega jika harus memarahi gadis itu ketika melakukan kesalahan.


“Tidak, Aurel. Om Mario hanya marah kepadaku, bukan kepadamu. Jadi, berhentilah menangis. Aku tidak suka jika kamu menangis,” balas Alex.


Pelukan Aurel kepadanya semakin mengerat, sepertinya Aurel memang sangat takut jika Mario marah kepadanya. Padahal, Mario begitu hanya untuk memperingati mereka atas apa yang dilihatnya. 


“Sudahlah, jangan menangis. Kamu ingin sembuh, bukan?” Aurel mengangguk dalam pelukan Alex.


Alex bisa merasakan kepala Aurel bergerak di lehernya. Sebenarnya, dengan posisi yang lumayan intim seperti ini, Alex canggung. Apalagi dengan kepala Aurel yang berada di lehernya, hingga jika Aurel bernafas mengenai lehernya. Alex meremang, menahan geli di lehernya.


“Jika kamu terus menangis, aku takut nanti kamu akan kambuh lagi.”

__ADS_1


Alex melepaskan pelukan mereka. Dengan terpaksa, Aurel ikut melepaskan pelukannya juga. Padahal ia masih ingin memeluk Alex, pelukan lelaki itu sangat hangat dan membuatnya nyaman. Bahkan, Aurel pernah tertidur di pelukan Alex karena sangat nyaman.


Hati Aurel menghangat ketika Alex mempedulikannya. Tidak tahu nanti jika Alex sudah mempunyai kekasih, apakah lelaki itu akan ingat padanya dan masih bisa mengobrol seperti ini? Atau tidak? Memikirkan itu membuat hati Aurel gelisah. Ia tidak siap jika harus berjauhan dengan Alex, tetapi lelaki itu juga butuh pasangan dalam hidupnya.


Melihat raut wajah Aurel yang gelisah, membuat Alex bingung. Apa yang sedang gadis cantik ini pikirkan?


“Kenapa kamu terlihat gelisah? Apakah ada suatu hal yang mengganggu pikiranmu?” tanya Alex dengan mengelus rambut bergelombang Aurel.


“Ya, hal itu tentangmu.”


Jawaban Aurel membuat Alex diam tidak berkutik. Apakah Aurel sedang mengajaknya bercanda? Memikirkan dirinya?


“Tentangku?”


Aurel menganggukkan kepalanya. “Apakah nanti jika kamu sudah mempunyai kekasih, kita masih bisa mengobrol seperti ini lagi?” tanyanya menyampaikan pertanyaan yang ia pendam.


“Tentu saja, dan aku akan sering bermain ke sini seperti biasa,” jawab Alex. Karena, Aurel yang akan ia jadikan kekasih dan istrinya kelak. Alex hanya menyukai Aurel, tidak dengan perempuan di luar sana.


“Apakah kamu tidak takut jika nanti kekasihmu akan marah?”


“Tidak, justru dia akan merasa sangat senang.”


Mendengar jawaban Alex, gadis itu tampak kebingungan. Bagaimana bisa seorang wanita akan sangat senang ketika kekasihnya bermain dengan wanita lain? Ini tidak masuk akal.


“Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting, Aurel. Bagaimana jika kita pergi ke kolam renang agar hatimu merasa lebih baik?”


“Tetapi, kakiku?”


“Aku akan menggendongmu,” jawab Alex. Ia meletakkan tangannya pada punggung dan kaki Aurel untuk menggendong gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2