
(Mencari Aurel)
Karena permintaan tolong Nafa, Alex membantu mengangkat barang yang mereka suruh. Selepas menaruh barang itu, Alex ingin ke ruang tamu. Tetapi, Nafa bertanya kepadanya secara terus menerus membuat Alex kesal. Gadis ini seperti sedang menahannya untuk tetap di sini. Ingin sekali Alex marah kepada Nafa, tetapi tidak enak dengan Vanesa yang sudah bersikap dan memperlakukan ia dan Aurel dengan baik.
Vanesa sedang membuat kue dengan Nafa yang membuat adonan kuenya. Sedari tadi, Alex melihat cara Vanesa, jika itu lembut Alex akan mencobanya untuk Aurel. Karena, gadis itu sangat suka tekstur yang lembut. Alex bahkan sibuk dengan pikirannya tanpa mendengar pertanyaan Nafa.
“Apakah ada yang bisa kubantu lagi?” tanya Alex ketika melihat Nafa ingin melemparkan pertanyaan lagi padanya.
“Tidak, lebih baik kamu kembali ke depan saja. Ibu akan menyusul bersama Nafa nanti setelah ini selesai.” Jawab Vanesa membuat Alex tersenyum tipis.
Akhirnya ia bisa menjauh dari Nafa. Alex sungguh tidak betah berada di dekat Nafa, karena sedari tadi gadis itu berusaha untuk mendekatinya. Ia adalah milik Aurel, tidak akan ada satu gadis pun yang akan merebutnya dari Aurel atau bahkan mencoba menggeser posisi Aurel dihatinya.
“Baik, Bu. Kalau begitu, Alex permisi ke depan dulu.”
Melihat Alex sudah berpamitan lalu pergi, membuat Nafa kepalang kesal. Padahal ia ingin Alex berada di sini, bukan di depan untuk menemani Aurel. Nafa tahu, jika ia dibandingkan dengan Aurel. Maka ia akan kalah, Aurel yang akan menjadi pemenang. Karena, gadis itu memiliki semuanya, dari paras yang cantik, lucu dan juga kaya. Sangat cocok jika bersanding dengan Alex yang tampan. Sedangkan dirinya? Oh tidak, perbedaannya sangat jauh!
“Nafa?!” panggil Vanesa dengan sedikit berteriak dan menepuk pundak Nafa yang sedang melamun.
“Apa? Ada apa, Bu? Kenapa berteriak?” tanya Nafa dengan berturut-turut setelah tersadar dari lamunannya.
“Harusnya Ibu yang bertanya. Kamu memikirkan apa sampai melamun?” tanya Vanesa dengan heran.
Vanesa sudah memanggil Nafa berkali-kali, tetapi tidak ada sahutan dari Nafa. Padahal sebelumnya, Nafa itu adalah orang yang paling tidak pernah melamun. Karena, jika ada sesuatu Nafa akan bercerita padanya.
“Aku tidak memikirkan apa pun, Bu. Apakah kuenya sudah jadi?” tanya Nafa mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah, ayo kita bawa ke depan.”
__ADS_1
Mereka membawa kue yang sudah matang ke depan. Di sana, terlihat Alex sedang mondar-mandir mencari sesuatu.
“Alex? Sedang mencari apa?” tanya Vanesa dengan heran.
Di wajah Alex terdapat kekhawatiran dan kepanikan. Apa yang membuat Alex panik seperti ini? Pikir Vanesa.
“Aurel, Bu. Saat saya tinggal ke dapur dan saya kembali lagi, Aurel sudah tidak ada di sini.”
Gadis itu rupanya yang bisa membuat Alex panik seperti ini. Pikir Nafa. Ia pun juga ingin berada di posisi Aurel, yang selalu Alex jaga dengan sebaik-baiknya.
“Bukankah tadi Aurel bilang ia ingin ikut dengan Farel? Apakah dia pergi untuk mengikuti Farel?”
Mendengar ucapan Nafa, Alex mengepalkan tangannya. Jika itu benar, apa yang membuat Aurel tertarik kepada Farel?
“Aku pamit ingin mencari Aurel ya, Bu.”
“Aku ikut!” pekik Nafa ikut menyusul Alex.
Mereka sekarang ini sedang berada di mobil Alex untuk mencari Aurel. Nafa benar-benar ikut dengan Alex, karena tidak ingin berdebat untuk sekarang ini, Alex pun mengizinkannya.
“Alex, kita akan mencari Aurel ke mana?” tanya Nafa menoleh kepada Alex.
“Apakah kamu tahu jalan untuk menuju toko butik tempat Farel bekerja?” tanya Alex balik. Matanya menatap lurus ke depan, tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga urat-urat yang ada di tangannya menonjol.
“Aku tahu, aku akan mengarahkanmu.”
Alex menyetir mobilnya mengikuti arahan dari Nafa, tidak peduli dengan Nafa yang melirik dirinya. Sekarang yang terpenting adalah Aurel. Selain itu, Alex tidak peduli lagi dengan apa pun.
__ADS_1
Nafa sesekali melirik Alex, dapat ia lihat urat tangan Alex yang menonjol akibat mencengkeram setir dengan erat. Dan hal itu membuat Nafa salah tingkah, ia jadi membayangkan bagaimana jika ia menjadi kekasih Alex. Pasti akan sangat menyenangkan dan hidupnya akan lebih baik lagi, mengingat Alex adalah orang kaya dan royal.
Tak sengaja, matanya menangkap siluet Farel dengan Aurel yang berada dalam dekapan lelaki itu. Jika Nafa memberitahu Alex, pasti ia akan marah. Nafa yakin itu!
“Itu mereka!” tunjuk Nafa.
Alex sontak menghentikan mobilnya, ia mengikuti arah tunjukan jari Nafa. Di sana, terdapat Aurel yang sudah tidak sadarkan diri dalam dekapan Farel. Sebenarnya melihat itu membuat hati Alex memanas, tetapi sekarang keselamatan Aurel lebih penting dibanding rasa cemburunya.
Alex membuka pintu mobilnya, ia menghampiri Aurel dan Farel. Tangannya mengambil alih Aurel agar berada dalam dekapannya.
“Bagaimana bisa Aurel seperti ini?!” tanya Alex kepada Farel dengan amarahnya.
“Aku tidak tahu. Gadis itu sendiri yang mengikutiku dan merengek untuk mengantarkan kembali karena lelah, padahal aku tidak memintanya untuk ikut bersamaku.”
Jawaban acuh tak acuh Farel tentu saja membuat Alex menggeram marah. Tetapi, sebenarnya Farel sedikit khawatir dengan Aurel. Mengingat sedari tadi Aurel merengek lalu tidak sadarkan diri.
Ingin sekali Alex menonjok wajah Farel yang berbicara seperti itu. Aurel adalah dunianya, Alex tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Aurel.
Alex menggendong Aurel dan membawanya ke mobil. Selesai meletakkan Aurel di kursi sampingnya, ia mulai menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit. Alex meninggalkan Nafa dan Farel di sana. Nafa mengepalkan tangannya kesal, bukan ini tujuannya. Ia kira Alex akan marah juga kepada Aurel nanti, tetapi nyatanya tidak.
Di perjalanan, Alex menyetir menggunakan satu tangan. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Aurel yang tidak sadarkan diri, hatinya sakit melihat kondisi Aurel yang seperti ini. Biasanya, jika mereka sedang bersama gadis ini akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan randomnya yang sangat konyol. Tetapi tidak dengan sekarang, gadis ini malah sibuk terlelap.
“Aurel, jangan membuatku khawatir lagi dengan kondisimu.” gumam Alex.
Alex membawa tangan Aurel yang ia genggam untuk dicium. Bahkan tangan gadis ini yang biasanya hangat, kali ini terasa dingin. Alex takut, setelah Mario tahu ini. Ia tidak akan diizinkan untuk bertemu kembali dengan Aurel. Ia tidak bisa jauh dengan Aurel.
Alex melepaskan genggaman tangannya dengan Aurel. Ia mengacak rambutnya dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana bisa ia lalai untuk menjaga Aurel? Bahkan sekarang gadis itu terluka karena kecerobohan dirinya. Ia harap, kejadian ini tidak akan terulang lagi, ia akan menjaga Aurel dengan lebih baik lagi.
__ADS_1