Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 12 Menemukan Aurel


__ADS_3

Alex mengendarai motor temannya dengan pelan sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Alex benar-benar teliti saat mencari Aurel, ia tidak mau ada yang terlewat. 


Sudah satu jam Alex berkeliling untuk mencari Aurel. Alex memberhentikan motornya sejenak, ia harus mencari kemana lagi? Dahi Alex sudah dipenuhi dengan keringat, ia mengusap keringatnya. Alex mengambil ponselnya yang berada di kantong. Alex menelepon Aurel, barang kali gadis itu mau menerima teleponnya.


Hingga berkali-kali Alex menelepon Aurel, tetap saja tidak diangkat. Hal itu membuat Alex menghembuskan nafasnya dengan perasaan gusar, ia takut jika sampai terjadi apa-apa kepada Aurel.


"Aurel, ayo dong diangkat!" gumamnya dengan rasa gelisah yang mengelilingi relung hatinya.


"Arghhh!" erang Alex mengacak rambutnya. Ingin sekali ia membanting ponselnya.


Apakah ia harus mencarinya di dekat rumah Aurel? Mungkin saja Aurel sedang bermain di dekat rumahnya. Alex dengan segera menjalankan motornya kembali untuk berkeliling mencari Aurel di dekat rumahnya.


Saat Alex sedang mengendarai motornya, ponsel yang berada di kantong jaketnya berbunyi membuat Alex harus berhenti sebentar untuk menerima telepon itu.


Mata Alex melotot melihat nama orang yang menelepon. Ia langsung mengangkatnya dengan berkata, "Aurel?!" 


Di seberang, Alana sontak terkejut mendengar suara keras membahana dari Alex. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Iya, kenapa sih teriak-teriak?" tanya Aurel dengan kesal.


Alex tidak menanggapi ucapan kesal Aurel. "di mana?" tanya Alex dengan singkat dan membuat Aurel bingung dengan apa yang dikatakan Alex.


"Hah?"


"Kamu berada di mana Aurel?" tanyanya lagi menggeram kesal. Kenapa Aurel ini sangat lemot?


"Aku berada di Supermarket yang tidak jauh dari rumah,"


"Aku akan kesana sebentar lagi, kamu tunggu di sana. Jangan pergi ke mana pun!" balas Alex dengan memperingati. 


"Iya," jawab Aurel dengan malas.


Alex segera mematikan sambungan teleponnya. Ia langsung menuju ke Supermarket yang Aurel bilang, di sana ada Aurel yang sedang duduk di kursi depan Supermarket. Alex memberhentikan motornya di depan Aurel.


Aurel menghampiri Alex dengan senyuman senangnya melihat Alex menjemputnya dengan motor. Tetapi, Alex tidak mempunyai motor, lalu motor siapa yang Alex gunakan?


"Ini motor siapa, Alex?" tanya Aurel ketika sudah berada di samping Alex.


Alex menyentil kening Aurel. Bukannya pulang ke rumah, Aurel malah duduk dengan santai disini tanpa menyadari bahwa tingkahnya membuat orang khawatir dan panik. Alex menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan Aurel.


"Bukannya pulang! Om Mario panik mencarimu sampai menelepon aku," 

__ADS_1


Ringisan kecil keluar dari mulut Aurel, ia mengusap keningnya. 


"Aku tidak tahu jika Papa akan mencariku dengan panik, ayo antarkan aku pulang."


Tanpa disuruh dahulu, Aurel langsung naik ke motor Alex. Sedangkan Alex mendengus melihat tingkah Aurel, ia mulai menjalankan motornya. Tangan Aurel melingkar di pinggang Alex.


"Alex!" panggil Aurel  dengan sedikit berteriak. Alex hanya menjawabnya dengan berdehem.


"Mau bubur itu!" pinta Aurel ketika ada yang berjualan bubur. Alex memutar bola matanya malas, bahkan di saat seperti ini pun Aurel masih memikirkan bubur kesukaannya itu.


"Nanti saja, kita beli setelah kamu bertemu dengan Om Mario," jawab Alex dibalas gelengan kepala oleh Aurel.


"Tidak! Aku mau sekarang, ayo berhenti!" ucap Aurel dengan memaksa.


Dengan hati terpaksa Alex menghentikan motornya, membiarkan Aurel untuk membeli bubur. Tetapi, Aurel belum juga pergi, ia berdiri di depan Alex dan menatap Alex dengan senyuman.


"Ada apa? Katanya mau beli?"


Aurel mengulurkan tangannya. Tentu saja itu membuat Alex bingung.


"Uangnya?"


Agar cepat selesai dan bisa pulang, Alex memberikan beberapa lembar uang kepada Aurel. Tak lama, Aurel kembali dengan tiga porsi bubur.


Alex menjalankan kembali motornya setelah Aurel naik. Aurel melihat pemandangan, ia belum pernah menaiki motor ini. Karena saat ia ingin menaiki motor, langsung dilarang oleh Mario dengan alasan takut kedinginan.


"Alex," panggil Aurel. Alex harap kelanjutan ucapan Aurel nanti tidak buruk.


"Apa?"


"Ini motor Alex?" tanya Aurel  yang dijawab gelengan kepala oleh Alex. 


"Nanti bisa ajari aku naik motor ini gak?" tanya Aurel lagi. 


Alex melotot mendengar pertanyaan Aurel, sudah ia duga. Pantas saja perasaannya tidak enak, ternyata karena ini. Bagaimana bisa Aurel yang memiliki tubuh kecil ingin mengendarai motor besar seperti ini.


"Tidak!" tolak Alex.


"Kenapa?" tanya Aurel dengan kecewa, padahal ia sudah sangat semangat untuk belajar mengendarai motor.


Alex menghentikan motornya ketika sudah sampai di halaman rumah Aurel. Ia turun dari motor dan menatap Aurel.

__ADS_1


"Memang kamu yakin bisa mengendarai motor sebesar ini?" tanya Alex yang langsung diberi cubitan di lengannya oleh Aurel.


"Apakah kamu sedang mengejekku?!"


"Bagaimana jika kita masuk saja? Om Mario sudah menunggumu," jawab Alex mengalihkan pembicaraannya. Jika dilanjutkan, ia takut Aurel akan benar-benar meminta ajari mengendarai motor besar ini. 


Aurel mengangguk mendengar ucapan Alex. Mereka mulai memasuki rumah Aurel, di ruang tamu ada Mario yang sedang memijat kepalanya sambil memejamkan matanya.


Aurel langsung mendekat ke arah Mario dan memeluknya.


"Papa sakit?"


Mario membuka matanya. Melihat putrinya sudah kembali, mendadak pusing dikepalanya menghilang. Mario memeluk putrinya dan mencium keningnya berkali-kali.


"Kamu dari mana saja? Papa mencarimu ke segala sudut di rumah ini, tetapi kamu tidak ada."


Aurel merasa bersalah kepada Mario. Ini salah dirinya yang pergi tanpa memberitahu siapapun.


"Aurel meminta maaf, Pa. Tadi Aurel pergi ke Supermarket untuk membeli coklat," balas Aurel dengan rasa bersalah. Gara-gara dirinya Mario menjadi panik.


"Tidak apa-apa, sayang. Nanti jika ingin sesuatu atau ingin pergi, beritahu Papa terlebih dahulu, ya?"


Aurel mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali memeluk Mario.


"Alex, terima kasih sudah membantu Om untuk mencari Aurel."


"Iya, Om. Alex juga sedang tidak sibuk, kalau Om mengizinkan apakah Alex boleh menginap di sini sehari untuk menjaga Aurel?" tanya Alex karena kejadian tadi.


Mendengar pertanyaan Alex, Mario tersenyum. Sepertinya Alex dan Aurel semakin dekat, dan itu akan mempermudah jalannya untuk menjodohkan mereka berdua.


"Tentu saja boleh. Kamu masih ada kelas tidak hari ini?" tanya Mario yang dijawab gelengan kepala oleh Alex.


"Om minta tolong, ya. Jaga Aurel sampai sore, karena sekarang Om ada meeting dan akan pulang sore."


"Baik, Om. Aku akan menjaga Aurel," jawab Alex dengan mantap.


Mario tersenyum puas mendengar itu. Ia berpamitan untuk pergi meeting kepada keduanya.


"Alex!"


Alex yang sedang menatap punggung Mario yang menjauh, mengalihkan pandangan ke arah Aurel yang baru saja memanggilnya.

__ADS_1


"Ayo kita makan buburnya!"  ajak Aurel menatap bungkusan bubur yang belum terbuka sama sekali. Alex mengangguk, ia menuruti semua ucapan Aurel.


__ADS_2