
(Rasa takut)
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, setelah berhasil memaksa Aurel dengan paksa. Ia marah kepada gadis itu. Sudah beberapa kali Aurel membuat dirinya kecewa atas apa yang dilakukan oleh gadis itu sendiri. Apa Aurel tidak memikirkan harga dirinya sendiri? Jika saja Mario tahu, pasti pria itu sudah marah besar dengan Aurel.
Mario selalu mengutamakan Aurel daripada apa pun. Tetapi dengan mudah Aurel menurunkan harga dirinya demi lelaki yang tidak mempunyai apa-apa seperti Farel, itulah yang membuat Alex kesal. Bahkan Farel tidak pernah memberikan apa pun kepada Aurel, selain membayarkan coklat pada malam itu.
“Aku sudah bilang kepadamu, Aurel. Sudah berapa kali aku bilang? Jauhi Farel! Jauhi lelaki itu!” ucap Alex menggeram marah. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat membuat urat yang ada di tangannya menonjol. Tingkah laku Aurel sekarang benar-benar menguji kesabarannya.
Alex memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk tenang dan meredam emosinya. Ia tidak mau kelepasan dengan Aurel. Ia menarik nafasnya dan menghembuskan dengan pelan. Sedangkan Aurel, ia menatap jalanan dengan penuh rasa takut karena Alex menjalankan mobilnya dengan cepat. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, mengubur dalam-dalam rasa takut di dalam hatinya. Ia mencoba untuk melawan ketakutannya.
Aurel melirik ke Alex sekilas. Raut wajah lelaki itu terlihat seram dan sepertinya Alex benar-benar marah kepadanya, karena ia sudah membohongi lelaki itu. Tetapi ia juga ingin merasakan kebebasan. Jika seperti ini terus, Alex seperti membatas kegiatan yang ia lakukan. Ingin keluar rumah saja harus izin dan pergi bersama lelaki itu.
“Apakah kamu tidak mendengarkan ucapanku?” tanya Alex menatap Aurel sekilas dengan tatapan tajam. Melihat gadis itu hanya diam dan tidak membuka suaranya membuat Alex kesal dan geram. Apakah Aurel tidak ingin menjelaskan apa yang dirinya lihat? Ya setidaknya meminta maaf karena sudah membohonginya.
Jika saja tadi Alex tidak melihat Farel sekilas saja. Pasti Alex akan jadi lelaki yang bodoh, karena dengan mudahnya ia dibohongi.
“Aku hanya ingin bertemu dengannya. Apakah itu salah?” tanya balik Aurel tanpa menjawab pertanyaan Alex. Ia juga kesal dengan lelaki itu yang selalu marah jika ia bertemu dengan Farel. Padahal Aurel merasa ia juga perlu untuk bersosialisasi dengan orang lain.
__ADS_1
Namun, Alex seperti membatasi serta mengawasi semua pergerakan Aurel dan membuat gadis itu risi dan tidak nyaman. Aurel seperti merasa dikurung di dalam sangkar emas. Seperti sekarang, setelah ini pasti Alex akan memarahinya habis-habisan dan akan memperingatinya untuk selalu memberi kabar kepada lelaki itu jika ingin keluar dari rumah. Aurel ingin seperti gadis-gadis lain yang bebas ingin pergi keluar menikmati masa remajanya, tanpa harus merasa terkekang seperti dirinya.
“Setelah kejadian ini, dan kamu masih bertanya? Apakah kamu tidak merasa bersalah karena telah membohongiku?” tanya Alex, cengkeraman disetir mobil semakin kuat.
Mendengar pertanyaan Aurel membuatnya geram. Kenapa gadis itu masih saja bertanya setelah melakukan kesalahan? Seperti tidak merasa bersalah karena telah membohongi dirinya.
Mendengar pertanyaan Alex, Aurel menghela nafasnya. Ia sungguh tersinggung dengan pertanyaan lelaki itu yang tanpa sengaja menyebut bahwa semua ini adalah kesalahannya. Apakah kali ini ia harus mengalah juga? Aurel lelah mengakui bahwa semuanya adalah kesalahannya. Meski pada malam itu Alex yang meminta maaf terlebih dahulu kepadanya, tetapi hari ini lelaki itu bersikap semua ini kesalahannya.
"Untuk masalah ini, aku minta maaf karena telah membohongimu. Tetapi kamu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini kepadaku, Alex!"
Mendengar jawaban Aurel yang seperti menyalahkan dirinya membuat Alex geram. Bukan jawaban seperti ini yang ia harapkan dari Aurel. "Berbuat seenaknya seperti apa yang kamu maksud, Aurel?"
Aurel tidak suka dengan cara Alex menjaganya seperti ini. Jika terus seperti ini, ia pasti akan sulit mengenal orang asing nantinya. Kalau pun Alex ingin menjaganya, menjagalah dengan cara yang sewajarnya saja.
Mendengar jawaban Aurel, sontak berhasil memancing emosi Alex. Alex menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia terdiam sejenak dengan memejamkan matanya, setelah di rasa emosinya sudah stabil, Alex menoleh kepada Aurel yang berada di sampingnya.
"Katakan padaku dengan jujur. Apakah kamu merasa terpaksa dengan ucapan dan perilaku?" tanya Alex dengan tatapan mata yang sangat dalam.
__ADS_1
Aurel sebenarnya takut dengan tatapan mata Alex, tetapi ia melawan rasa takut itu. "Iya, aku merasa berat dengan perilaku dan sifatmu. Aku merasa seperti terkurung di sangkar emas," jawab Aurel menggebu-gebu.
Alex tidak bisa lagi menahan emosinya, ia memajukan badannya mendekat ke arah Aurel. Gadis itu terlihat mundur, menghindar karena wajah Alex yang perlahan mendekat kepadanya. Tangan Alex mengurung Aurel.
Mata mereka saling bertatapan. Aurel takut dengan Alex saat lelaki itu sedang marah seperti ini. Wajah mereka terlalu dekat, hingga hidung mereka hampir saja bersentuhan. Alex terus menatap Aurel dengan mata tajamnya. "Jadi, selama ini aku keterlaluan, ya?"
"Kenapa kamu tidak bilang? Jika sebelumnya kamu mengatakan hal itu, aku bisa menjauh darimu."
Jika saja Aurel mengatakan bahwa dia keberatan dengan sifat dirinya, setidaknya Alex akan bisa mengontrol dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan Aurel sebelum memiliki perasaan kepada gadis itu.
Aurel tidak menjawab ucapan Alex, ia hanya diam dengan berkedip berkali-kali karena wajah lelaki itu yang terlalu dekat dengannya. Karena terlanjur geram dengan Aurel, Alex langsung menyerbu bibir gadis itu dengan beringas. Aurel terkejut dengan tindakan Alex yang tiba-tiba, ia memukul-mukul bahu Alex untuk melepaskan luma_tannya.
Namun, pukulan itu tidak berefek pada Alex. Bahkan Aurel menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau, ia sudah memberontak agar keluar dari kurungan Alex. Tetapi tetap saja tidak bisa. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Tenaganya sudah lemas akibat memberontak.
Seakan sudah cukup, Alex melepaskan luma_tannya, ia kembali duduk seperti semula. Matanya menatap Aurel yang sedang menghirup udara dengan rakus.
“Jangan ulangi perbuatanmu lagi, dan jaga ucapanmu. Jangan pernah mengucapkan kalimat seperti itu lagi, kamu paham?”
__ADS_1
Aurel menganggukkan kepalanya, ia takut dengan lelaki itu. Sejak kejadian ini, Aurel tidak berani lagi menatap mata Alex atau pun mengeluarkan celotehnya seperti biasa. Perlakuan Alex hari ini, sudah cukup untuk membuatnya takut. Tetapi untuk tidak bertemu dengan Farel, Aurel tidak bisa melakukan itu. Ia akan menemui Farel dengan diam-diam.