
(Ke Rumah Nafa)
Nafa tidak menjawab pertanyaan Aurel, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke Alex. Nafa tersenyum paksa, kala Alex menepis tangannya dengan kasar.
"Kakak ingin ke mana?" tanya Aurel lagi, ketika pertanyaannya tadi tidak dijawab.
"Mengantar kue ke sekolah," jawab Nafa dengan ketus. Ingin sekali ia mencabik-cabik gadis cantik di depannya, gadis itu selalu menarik perhatian Alex
Nafa sudah jatuh cinta kepada Alex, saat lelaki itu menggantikan uang kuenya yang terjatuh. Sejak saat itu, ia sudah suka kepada Alex. Selain paras lelaki itu yang tampan, jika Nafa lihat Alex pun sepertinya orang berada. Jika ia bersama dengan Alex, pasti hidupnya akan mudah dan tentunya tidak akan susah seperti ini.
"Alex, jadi tidak ke pantai? Ayo!" ajak Aurel dengan menggandeng tangan Alex yang membawa plastik belanjaan mereka.
Melihat mereka ingin pergi untuk bersenang-senang, Nafa segera mencegahnya. Mereka tidak boleh pergi berdua saja, itu hanya akan membuat mereka semakin dekat. Dan Nafa tidak menyukai itu. Ia harus membuat mereka jauh, agar ia bisa dekat dengan Alex.
Otak Nafa memikirkan hal konyol seperti itu. Tanpa ia sadari, cintanya sudah masuk ke dalam tahap obsesi. Nafa selalu tidak suka ketika melihat Alex berjalan dengan Aurel di sampingnya, mereka tampak serasi dengan barang branded yang mereka gunakan.
Tidak seperti dirinya. Jika ia berjalan di samping Alex, pasti orang yang melihat akan mencaci dan menghinanya. Melihat pakaian branded Alex bersanding dengan pakaian kumuhnya.
Terkadang, Nafa berpikir. Kenapa hidupnya tidak seindah, semewah dan sempurna seperti Aurel. Dapat ia lihat Aurel seperti gadis yang sempurna. Dengan barang mewah yang ia gunakan, bisa dekat dengan lelaki seperti Alex dan tentunya memiliki hidup yang serba ada.
Nafa menatap Aurel. Gadis ini pun memiliki paras yang cantik, pasti semua lelaki yang melihatnya akan langsung menyukai Aurel. Tidak seperti dirinya, bahkan saat ia mendekati lelaki, lelaki itu pasti akan pergi.
"Kalian ingin ke mana?" tanya Nafa memegang lengan Aurel untuk menahannya pergi.
"Kakak tidak mendengarkanku? Aku bilang, aku dan Alex akan ke pantai untuk berlibur," jawab Aurel.
Mendengar itu, membuat Nafa semakin kesal kepada Aurel. Gadis ini memiliki hidup yang sangat enak, tidak seperti dirinya. Ingin berlibur saja, dengan mudah dituruti. Sedangkan Nafa, ingin makan enak saja ia harus bekerja dengan keras.
Tangan Nafa mengepal, kepalanya bertambah panas. Setidaknya, Aurel harus merasakan kepahitan dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aw, sakit!" erang Aurel merasakan sakit pada lengannya.
Mendengar erangan Aurel, sontak Alex terkejut. Ia dengan cepat mengecek lengan Aurel, ternyata di sana, Nafa sedang memegang lengan Aurel dan tanpa sadar mencengkeramnya.
Alex langsung melepaskan tangan Nafa dan menghentakkannya dengan kasar, hingga membuat Nafa yang sedang melamun terkejut.
"Kenapa?" tanya Nafa dengan bingung setelah tersadar dari lamunannya.
"Tanganmu menyakiti Aurel. Menjauhlah dari Aurel, aku tidak mau dia terluka lagi."
Alex menatap Nafa dengan wajah datarnya. Saat bertemu dengan gadis itu, melihat sikapnya kepada Aurel waktu itu. Seketika Alex tidak suka dengan Nafa. Menurut Alex, Nafa itu gadis yang sangat lancang dan berani. Dan Alex tidak menyukai sifat gadis itu.
Alex mengelus lengan Aurel yang terdapat bekas kuku Nafa, sesekali Alex meniupnya. Inilah yang Alex takutkan.
Darah keluar dari lengan Aurel membuat Alex panik, pasalnya ketika Aurel sudah mengeluarkan darah itu akan susah untuk berhenti. Kulit Aurel sangat sensitif.
Alex berlari menuju mobilnya untuk mengambil kain dan tisu. Setelah mendapatkannya, ia mengelap darah Aurel menggunakan tisu lalu ia lilit dengan kain bisa menghambat darah untuk keluar.
Tidak ada pilihan lain lagi. Ia harus segera mendapatkan es batu untuk membuat darah Aurel berhenti. Jika ia bawa Aurel ke rumah sakit, itu akan membutuhkan penanganan yang lebih lama. Karena mereka harus menuju ke rumah sakit, dan di sekitar sana tidak ada rumah sakit.
Alex harus melakukan sesuatu. Jika tidak, ia akan dimarah oleh Mario karena tidak mampu menjaga Aurel dengan baik.
"Apakah kamu mempunyai es batu di rumahmu?" tanya Alex.
Alex ingat, ia pernah diberitahu oleh Mario. Jika Aurel berdarah, bisa pakai dengan es batu yang dibalut kain. Ya, Alex harus mencari es batu itu.
Nafa berpikir untuk mengingat, apakah di rumahnya ada es batu? Setelah ingat, sepertinya ia sudah membuat es batu dan masih ada.
"Ada, ayo ke rumahku dan obati Aurel di sana."
__ADS_1
Alex mengangguk, ia membawa Aurel ke dalam mobil diikuti Nafa. Mereka menuju rumah Nafa dengan diarahkan oleh Nafa.
Alex menyetir mobil dengan tangan bergetar. Sebelumnya tidak pernah terjadi ini, wajar saja jika Alex merasa takut. Ia takut jika nanti akan terjadi apa-apa dengan Aurel.
Aurel masih sesekali meringis karena rasa nyeri masih berada di lengannya. Meskipun sudah dililit dengan kain, tetap saja masih terasa sakit.
Ringisan Aurel terdengar ke telinga Alex, hingga membuat gigi Alex bergelutuk. Ini adalah salahnya yang terlalu ceroboh hingga membuat Aurel terluka seperti ini, dan jika setelah ini Aurel akan lebih parah lagi. Alex tidak akan bisa memaafkan dirinya dan pastinya Mario akan marah besar dengan dirinya.
Kemungkinan besar akan berdampak pada perjodohan mereka. Alex tidak ingin Mario membatalkan perjodohan mereka, karena kecerobohan dirinya.
Setelah sampai, mereka memasuki rumah Nafa yang sederhana.
"Kalian duduk dulu. Aku akan mengambil es batu dan kain," ucap Nafa mempersilahkan mereka untuk duduk.
Setelah itu, Nafa pergi ke dapur untuk mengambil yang ia butuhkan. Tiba-tiba saja, pundak Nafa ditepuk membuat ia terkejut.
"Nafa, kamu mengambil barang itu untuk siapa?"
Vanesa, Ibu Nafa heran dengan anaknya yang mengambil es batu dan kain. Padahal anaknya baru saja pulang, apa ia ingin minum es?
Nafa berbalik badan menghadap ibunya dengan membawa wadah untuk es batu.
"Temanku lengannya berdarah, Bu. Aku tidak sengaja melukainya," jawab Nafa dengan buru-buru.
Nafa pergi ke depan diikuti dengan Vanesa. Sejenak, Vanesa terpaku dengan wajah Aurel yang menurutnya sangat cantik dan di sampingnya Alex dengan wajah tampannya. Sangat serasi dan cocok.
"Sini, biar ibu bantu mengobati."
Vanesa mendekat ke arah Aurel, ia duduk di samping Aurel. Perlahan, Vanesa mendekatkan es batu itu ke lengan Aurel yang sudah dibuka kainnya dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Aurel dapat merasakan benda dingin bersentuhan di area kulitnya yang terluka. Seketika mulutnya mengeluarkan erangan kecil.
Setelah selesai mengobati, Vanesa membalutkan kain-nya kembali dengan es batu. Di samping Aurel, Alex menghembuskan nafasnya lega.