Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 38 Donor Darah


__ADS_3

(Donor Darah)


Pada malam hari, kini Aurel  tidak kesepian di ruangan inapnya. Karena, di sana ada Alex yang sedang duduk di kursi sebelah brankar dan Mario yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Alex tahu tidak? Waktu malam itu, aku melihat banyak permainan yang sangat bagus dan sepertinya seru," ucap Aurel dengan ceria. Wajahnya selalu terpancar sinar bahagia.


"Wah, apakah seseru itu?" tanya Alex. Tangannya membenarkan rambut Aurel yang mengganggu wajahnya.


Aurel mengangguk dengan semangat. "Aku ingin menaiki salah satu permainan di sana yang sangat tinggi. Tetapi aku tidak berani karena tidak ada kamu di sana."


"Nakal. Jika ingin pergi ke suatu tempat, bilang dulu kepadaku. Aku akan menemanimu ke sana," ucap Alex menggeram dalam hatinya.


Untung saja ia dan Mario cepat datang pada saat Aurel terluka. Jika tidak, gadis itu akan kehilangan banyak darah. Meskipun telah diperban berkali-kali oleh Farel, itu tidak akan membuat darahnya beku. Apalagi lelaki itu tidak tahu cara agar darah Aurel berhenti.


Aurel hanya menjawabnya dengan cengiran andalannya. Ini juga salah dirinya yang pergi tanpa pamit dengan Mario atau pun Alex. Karena Aurel pikir tidak akan ada kejadian seperti ini, malam itu ia hanya ingin membantu Nafa saja. Tetapi, Nafa justru mendorongnya dan menatapnya dengan sinis. Kejadian itu membuat Aurel bingung. Apakah dirinya mempunyai salah kepada Nafa?


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Raut wajahnya terlihat seperti menanggung banyak beban," celetuk Alex yang dihadiahi pukulan dibahunya.


"Aku tidak mau tahu. Setelah aku sembuh, kita harus pergi ke pasar malam!" ucap Aurel dengan mutlak tidak ada bantahan. Ia ingin mencoba semua permainan yang menjulang tinggi itu, jika bersama Alex dirinya tidak akan merasa takut.


Alex terkekeh mendengar ucapan Aurel yang terdengar memaksa itu. Tetapi tidak apa-apa, ia akan mengajak gadis itu ke sana setelah sembuh nanti. Sudah Alex bilang, selama permintaan Aurel masuk akal dan tidak membahayakan dirinya sendiri, ia akan menurutinya.


"Baiklah. Aku akan membawamu ke sana nanti, tetapi jangan lakukan hal seperti kemarin. Itu sangat berbahaya, oke?" Aurel menganggukkan kepalanya. Ia sadar itu salah, pergi tanpa memberitahu papanya hingga Mario panik dan mencari dirinya.


"Iya, maafkan aku ya," jawab Aurel dengan meminta maaf dengan lesu. Tidak tahu kenapa kini badannya lemas, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Alex mengusap puncak kepala Aurel, menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa. Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Alex kepada Aurel.


Aurel dibuat salah tingkah sebab Alex menatap tepat di matanya. Ia mengalihkan pandangan lain sebelum menjawab pertanyaan Alex. Apalagi dengan wajah Alex yang jaraknya sangat dengan wajahnya, karena ketika tangan Alex mengusap puncak kepalanya wajah Alex semakin mendekat.


Aurel meletakkan tangannya ke dada bidang Alex, lalu mendorongnya dengan pelan agar wajah lelaki itu menjauh. “Jangan dekat-dekat.”


Mendengar ucapan pelan Aurel membuat Alex memiliki niat jahil. Ia mendekatkan kembali wajahnya dengan Aurel, lebih dekat dari yang sebelumnya.


Alex dan Aurel sibuk dengan dunia mereka sendiri, seolah tidak ada di ruangan ini hanya ada mereka tanpa memedulikan Mario yang sedang berkutat dengan berkas dan laptopnya. Aurel tahu, papanya akan serius dan tidak peduli dengan sekitarnya ketika sedang mengerjakan pekerjaannya, karena takut salah atau pun keliru.


"Kenapa?" tanya Alex ketika melihat Aurel memejamkan matanya karena wajah mereka yang jaraknya sangat dekat.


Mendengar itu, Aurel membuka matanya. Tepat di depannya, ia langsung bertatapan dengan mata tajam Alex. Sedikit lagi, hidung mereka akan bersentuhan.


Alex mengerutkan keningnya heran. Tumben sekali Aurel tidak membalas kelakuan jahilnya, karena biasanya Aurel akan melawan dan membalaskan dendam pada dirinya. Tetapi sekarang ini gadis itu menaruh kepalanya di bahunya seolah sedang lemas.


"Ada apa, Aurel? Apakah kamu merasakan sesuatu?" tanya Alex dengan khawatir. Ia mengelus rambut bergelombang Aurel.


Hingga tanpa sadar, kepala Aurel mengenai leher Alex. Lelaki itu dapat merasakan rasa panas, ia menaruh telapak tangannya di dahi Aurel. Tidak tahu kenapa rasanya sangat panas, padahal tadi gadis itu masih sehat-sehat saja.


"Alex, kepalaku panas dan pusing huhu." Aurel merengek dengan pelan. Ia tidak mau dalam keadaan seperti ini, sungguh tidak enak. Apalagi jika tubuhnya panas, kepalanya pusing, maka matanya dan nafasnya akan ikut panas juga. Di situlah gadis itu akan tersiksa. Karena kalau makan pun masih tidak akan enak.


Mendengar aduan Aurel, membuat Alex panik. Badan Aurel yang berada dalam pelukannya pun terasa panas. Alex segera berbicara kepada Mario.


"Om, Aurel bilang badannya lemas," ucap Alex dengan menoleh kepada Mario yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya dengan banyak tumpukan berkas-berkas.

__ADS_1


Mario segera meninggalkan pekerjaannya. Ia mendekat ke arah putrinya yang sedang berada di dalam pelukan Alex, Mario mengambil alih badan putrinya. Ia dapat merasakan panas di dahi Aurel.


"Alex, kamu segera panggilkan dokter." 


Alex menganggukkan kepalanya. Ia keluar dari ruangan Aurel untuk memanggil dokter. Di dalam ruangan, Aurel dipeluk oleh Mario. Kepala gadis itu ia letakkan di dada papanya.


"Papa," lirih Aurel yang masih dalam pelukan Mario.


“Iya, Aurel. Papa di sini, sabar ya. Sebentar lagi dokternya akan segera datang,” jawab Mario dengan mengelus rambut putrinya. Sakit rasanya saat melihat keadaan Aurel seperti ini.


Tidak lama, Alex kembali bersama seorang dokter wanita. Mario membantu Aurel untuk merebahkan badannya di atas brankar. Dokter itu segera memeriksa keadaan Aurel dan membiarkan mereka untuk berada di dalam ruangan.


“Nona Aurel mengalami kekurangan darah, karena waktu itu darah Nona keluar banyak sekali. Jika tidak cepat untuk mendapatkan donor darah, Nona Aurel akan merasakan rasa lemas yang lebih daripada ini.”


Mendengar penjelasan dari Dokter yang sudah memeriksa putrinya, membuat Mario ingin mendonorkan darahnya. Tetapi ia mempunyai penyakit darah tinggi, takut jika nanti itu akan berefek pada putrinya.


“Saya carikan donor darah dulu boleh, Dok? Soalnya saya mempunyai penyakit darah tinggi,” ucap Mario.


“Boleh, Pak.”


“Om Mario tidak perlu mencari, Alex bersedia untuk mendonorkan darah untuk Aurel,” ucap Alex mengajukan pendapatnya. Ia akan melakukan apa pun demi Aurel.


Alex menoleh kepada Dokter wanita yang memeriksa Aurel. “Dok, ambil darah saya saja.”


“Baik, Kak. Silakan ikuti saya.” Dokter keluar dari ruangan diikuti dengan Alex. Mereka menuju ke suatu ruangan untuk melakukan pengambilan darah sesuai kemauan Alex. Lelaki itu ingin Aurel cepat pulih.

__ADS_1


__ADS_2