Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 47 Memaksa


__ADS_3

(Memaksa)


Alex dengan telaten mengobati luka Aurel dengan kapas. Sebenarnya lelaki itu ingin sekali marah dengan Aurel yang ceroboh. Bukan tanpa sebab Alex marah ketika Aurel mengungkapkan perasaannya kepada Farel, Alex tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu. Seharusnya yang mengungkapkan perasaan adalah lelaki, bukan wanita. Ia takut nanti Farel akan berbuat seenaknya kepada Aurel. Dan juga, ia terlanjur mencintai Aurel. Tidak rela jika gadis itu lebih memilih Farel, daripada dirinya. Memang apa kekurangan ia? Ia sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Aurel.


Jika dibandingkan dengan Farel, ia jelas lebih unggul dari lelaki itu. Memang apa yang lelaki itu punya? Hingga membuat Aurel tergila-gila. Padahal dirinya mempunyai segalanya, kebutuhan Aurel akan terpenuhi jika bersamanya. 


Alex menahan amarahnya, ia tetap memberikan perhatian kepada Aurel. Bagi dirinya, semarah apa pun ia dengan gadis itu. Tetap saja akan luluh saat melihat wajah melasnya.


Bahkan sekarang ini, Alex sedang berjongkok di hadapan Aurel. “Sakit tidak?” tanya Alex mengangkat kepalanya menatap Aurel. Gadis itu hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, seolah enggan mengeluarkan suaranya.


Aurel masih mendiamkan Alex, ia masih kesal dengan lelaki itu. Tetapi ia juga membutuhkan bantuan Alex di saat seperti ini. Sebenarnya Aurel malu, tetapi harus bagaimana lagi? Ia sudah seperti bergantung kepada Alex. Karena biasanya lelaki itulah yang mengobati dirinya. Alex masih saja baik kepada dirinya, di saat ia sudah mengecewakan lelaki itu berkali-kali. Dan tanpa sadar ia sudah membuat Alex repot karena dirinya.


Dalam hati Aurel merasa bersalah dengan Alex, tetapi ia masih tetap memilih diam. Menatap Alex yang sedang bersimpuh di padanya, mengobati kakinya. Lelaki itu masih tetap memedulikan dan perhatian padanya, meskipun saat ini ia masih marah kepada Alex.


"Bilang padaku ketika kamu merasakan sakit, oke?" Aurel lagi-lagi hanya menjawab dengan anggukan kepala, masih tidak ada suara yang keluar dari mulut gadis itu.


Alex kembali mengobati Aurel, karena darahnya tidak kunjung berhenti. Ia menyuntikkan cairan kepada Aurel, agar darahnya membeku. Setelah itu Alex melilit luka Aurel dengan perban.

__ADS_1


Setelah selesai, Alex duduk di ranjang, tepatnya di samping Aurel. Tangannya menggenggam salah satu tangan mungil gadis itu, ia merindukan momen berdua dengan Aurel seperti. Andai saja Aurel tidak pernah bertemu dengan Farel, tidak pernah mengenal dan tidak pernah menyukai lelaki itu. Pasti hubungan mereka berdua tidak renggang seperti sekarang ini. Mungkin saat ini mereka sedang tertawa dan bercanda bersama tanpa memiliki masalah.


Alex mengambil obat di meja, tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. "Minum obat dulu, ya?" Alex menyerahkan beberapa kapsul yang berbeda-beda kepada Aurel. Itu adalah obat yang harus Aurel minum.


Aurel melepaskan genggaman tangan mereka, ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya seraya menggelengkan kepala.


Ia sungguh tidak mau memasukkan ke dalam mulutnya kapsul obat yang terlihat pahit itu. Ia sudah bosan melihat obat itu. Tetapi, Alex terus membujuk Aurel agar mau. Ini juga demi gadis itu sembuh, jika tidak mau. Bagaimana akan cepat sembuh?


"Ayolah, minum ini agar kamu cepat sembuh." Alex menyodorkan kapsul itu di depan wajah Aurel, tetapi gadis itu justru menggelengkan kepalanya dan menepis tangan Alex yang memegang obat hingga obatnya lepas dari genggaman Alex dan terjatuh.


“Tidak mau!”


"Aurel, jangan membuatku marah bisa?" tanya Alex dengan mengepalkan tangannya geram. Ia tidak suka dengan sifat membantah Aurel jika sedang marah kepadanya.


Alex ingin gadis itu masih menjadi Aurel yang ia kenal, bukan seperti sekarang ini. Bahkan mereka seperti orang yang sedang bermusuhan. Hubungan mereka merenggang sejak Alex menghukum Aurel karena mendengar gadis itu menyatakan cinta kepada Farel. 


Menurut Alex, Aurel masih sangat lugu untuk mengenal tentang cinta kepada orang lain. Ia takut jika nanti gadis itu akan disakiti, dan poin pentingnya adalah Aurel hanya miliknya. Tidak ada siapa pun yang bisa merebut gadis itu dari dirinya. Apalagi ia bersaing dengan lelaki seperti Farel.

__ADS_1


Namun, Alex akan berusaha agar Aurel melupakan Farel dan kembali bersamanya seperti dahulu kala. Mengambil kembali perhatian dan rasa kepedulian Aurel. Ia tidak mau kalah begitu saja dengan Farel, ia harus menunjukkan bahwa ia lebih cocok dengan Aurel.


Raut wajah Aurel berganti menjadi takut akan kemarahan Alex, lelaki itu jika sudah marah akan membuatnya sangat takut.


“Aku tidak suka obat, aku tidak mau makan itu.” Aurel mengucapkan itu dengan nada yang sangat pelan, lantaran takut dengan tatapan tajam yang Alex berikan padanya karena ia terus menerus menolak obat yang diberikan oleh Alex.


“Baiklah. Kamu mau makan obatnya sendiri? Atau aku paksa?” tanya Alex dengan raut wajah datar, ia masih menatap Aurel dengan tatapan tajamnya. Meski dalam hatinya muncul rasa tidak tega.


Namun, jika tidak begini. Aurel akan terus membantah dan bersikap kasar, Alex tidak menyukai sifat Aurel yang seperti itu.


Mendengar ancaman Alex membuat Aurel merengut takut. Ia tidak suka dengan ancaman yang diberikan oleh lelaki itu, ia sudah hafal apa yang akan Alex lakukan jika ia tidak mau meminum obat.


"Bisa tidak kalau jangan memaksaku? Aku tidak mau! Itu benar-benar pahit!" jawab Aurel memberanikan diri untuk menolak. Lagi pula, luka di kakinya sudah diberi obat dan darahnya sudah membeku. Lalu, untuk apa ia meminum obat? Ia tidak menyukai benda yang memiliki rasa pahit itu. Aurel sudah bosan karena setiap ia sakit, pasti akan disuruh minum obat itu.


Karena Aurel terus saja menolak obat yang ia beri, tidak ada pilihan lain selain memaksanya. Alex meminum air putih, lalu memasukkan kapsul itu ke dalam mulutnya. Alex menangkup pipi Aurel, ia membuka mulut gadis itu. Setelah terbuka, ia menempelkan bibir mereka, mengoper obat yang ada di mulutnya ke mulut Aurel.


Dengan terpaksa Aurel menelannya, ia tidak bisa menolak dengan perlakuan Alex yang sangat mendadak. Saat Aurel ingin memuntahkannya, Alex menutup mulutnya dengan tangan kekar lelaki itu.

__ADS_1


“Minum dulu,” ucap Alex menyerahkan gelas yang berisi air minum. Ia tahu gadis itu merasa kepahitan. Apa salahnya menelan obat lalu minum? Apakah itu sulit? Jika tidak mau, bagaimana gadis itu akan sembuh?


Jika tidak ingin sakit, maka jangan mencari sesuatu yang bisa memberikan sakit untuk dirinya. Terkadang Alex bingung dengan Aurel yang selalu melakukan kesalahan, hingga berujung gadis itu yang sakit. Bahkan di saat seperti ini pun gadis itu masih saja mendiamkannya 


__ADS_2