Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 49 Tanda Merah


__ADS_3

(Tanda merah)


Aurel memukul punggung Alex karena lelaki itu menyesap lehernya dengan kuat. “Ah, Alex! Jangan membuat tanda!” ucap Aurel memberi peringatan kepada Alex. Ia takut jika nanti setelah pulang dari kantor Mario akan melihatnya.


Seketika lampu kembali menyala, Aurel bisa melihat dengan jelas wajah tampan Alex tepat di depan wajahnya. Lelaki itu menatapnya dengan penuh keberingasan.


 


“Lampunya sudah nyala, aku akan pergi ke kamar.” Aurel mengucapkan itu dengan pelan. Ia malu atas apa yang telah baru saja terjadi. Apalagi tadi ia sempat membalas luma_tan Alex.


Di saat Aurel ingin berdiri dari pangkuan Alex, lelaki itu justru menahannya dirinya untuk tetap berada di pangkuannya. Alex menatap Aurel dengan lekat membuat gadis itu salah tingkah sendiri.


“Aurel, aku minta maaf. Maaf karena telah berbuat kasar kepadamu saat itu, aku tidak bermaksud untuk membuat hubungan kita renggang karena kejadian itu. Aku menyesal telah melakukan itu. Jadi, maukah kamu memaafkanku?” tanya Alex setelah mengucapkan panjang kali lebar. 


Aurel dapat melihat ucapan Alex yang tulus. Padahal bukan hanya lelaki itu yang salah, ia pun salah. Tetapi Alex rela menurunkan egonya hanya untuk memperbaiki hubungan mereka.


Tangan Aurel mengelus rahang Alex yang mulus tanpa ada bulu. “Iya, aku memaafkanmu. Aku pun juga mau meminta maaf,”  jawab Aurel menatap Alex yang sedang memejamkan matanya menikmati elusan tangan Aurel di rahangnya.


Alex kembali membuka matanya, menatap wajah Aurel. “Apakah sekarang aku boleh memelukmu?” tanya Alex meminta izin. Ia takut jika langsung memeluk, Aurel akan marah lagi kepadanya.


“Tentu saja, sini peluk aku!” Aurel merentangkan tangannya membuat lelaki itu mengukir lengkungan yang indah. Alex masuk ke dalam pelukan Aurel, menaruh kepalanya di leher gadis itu.


“Alex, lihatlah. Kamu seperti bayi yang sedang manja,” ucap Aurel dengan terkikik geli, ia mengeratkan pelukannya pada Alex. Ia merasa seperti sedang memeluk kepala lelaki itu.


“Tidak peduli. Aku suka jika bermanja denganmu,” balas Alex, ia menghirup kuat-kuat aroma parfum Aurel. Pelukan gadis itu sangat membuatnya candu.

__ADS_1


Alex merindukan momen di mana ia dan Aurel bercanda dan tertawa seperti ini. Tangannya merengkuh pinggang ramping gadis itu dengan erat. Jika boleh meminta, ia ingin seperti ini terus bersama dengan Aurel, gadis yang Alex cinta.


“Aurel, kamu tidak mau melanjutkan yang tadi?” tanya Alex melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aurel dari dekat. 


Mendengar pertanyaan Alex yang terlalu vulgar, membuat pipi Aurel memerah. Mengingat yang baru saja mereka lakukan, ia sungguh malu sekarang ini. Matanya terus menatap wajah Alex yang dengan perlahan mendekat ke arahnya. Kedua tangan mungil Aurel berada di dada Alex, menahan lelaki itu agar tidak mendekatkan wajahnya.


“Kenapa?” 


“Kenapa kamu menahanku, Aurel?” tanya Alex mengulangi pertanyaannya. Ia terus gencar mendekatkan wajahnya. Kedua tangan Aurel yang berada di dadanya tidak berefek padanya.


“Alex!” ucap Aurel dengan pelan seolah memberi Alex peringatan.


Alex terkekeh, ia menjauhkan kembali wajahnya. Lucu sekali gadis yang saat ini berada di depannya. Tangan Alex menangkup kedua pipi Aurel, bibirnya mengecup bibir gadis itu berkali-kali. “Sangat lucu sekali.”


Ingin memberontak, tetapi Alex pasti tidak akan melepaskannya. Lebih baik ia diam. Aurel memejamkan matanya, sesekali mendesis karena Alex terlalu kuat menyesap lehernya.


“Alex, sudah kubilang jangan membuat tanda!” ucap Aurel dengan kesal, ia mencoba menjauhkan kepala Alex dari lehernya. Tetapi karena kekuatan Alex lebih besar, ia tidak bisa melakukan itu. Lelaki itu semakin buas, tangan Alex berada pada leher Aurel.


“Ah, Alex!” erang Aurel saat lelaki itu menggigit lehernya.


Alex menjauhkan kepalanya dari leher Aurel, ia kembali beralih pada bibir gadis itu yang terlihat sangat menggoda. Di sela-sela luma_tannya, Alex meletakkan tangannya pada kaki dan juga punggung gadis itu dan menggendongnya.


Perlahan Alex melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kamar gadis itu dengan bibir yang masih saling melu_mat. Alex meletakkan Aurel di ranjang dengan gadis itu yang berada di pangkuannya. Tangan lelaki itu merambat naik menuju area sensitif Aurel. Setelah menemukan apa yang ia cari, Alex meremas gundukan itu.


Aurel mengalungkan tangannya di leher Alex, membalas luma_tan Alex. Sesekali ia mengerang karena Alex meremas gundukannya dengan keras. Alex merebahkan badan Aurel di ranjang, ia kembali memeluk gadis itu dengan menyesap lehernya. 

__ADS_1


Setelah selesai, Alex menaruh kepala Aurel di lengannya. Memeluk gadis itu dengan erat. “Aku ingin tidur denganmu malam ini,” ucap Alex yang sudah memejamkan matanya.


Aurel mendongak untuk menatap Alex. “Tidak bisa. Mana boleh seperti itu, Alex!” balas Aurel dengan duduk. Ia beranjak berdiri, berjalan menuju kaca.


Dapat Aurel lihat lehernya terdapat banyak tanda merah yang dibuat oleh Alex. Ia melihat ke arah ranjang, di sana lelaki itu sedang tidur terlentang. Aurel mendengus kesal.


“Sudah kubilang, jangan membuat tanda. Bagaimana jika papa melihatnya saat ia pergi ke kamarku?” Aurel memukul Alex dengan bantal gulingnya.


Alex bangun, ia mengambil syal. Kemudian ia lilitkan pada leher Aurel. “Selesai, kan? Ini hanya masalah kecil Aurel, lebih baik sekarang kamu tidur.” Alex pergi ke arah sofa yang berada di kamar Aurel, kemudian ia tidur di sana.


Pagi sudah tiba. Kini mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus bersama. 


“Aurel, mengapa kamu memakai baju panjang seperti itu? Apakah tidak gerah?” tanya Mario yang heran melihat pakaian putrinya yang berbeda. Biasanya Aurel akan memakai baju pendek agar tidak panas.


“Tidak apa, Papa. Tidak tahu mengapa aku merasa kedinginan,” jawab Aurel dengan berbohong, ia melihat ke arah Alex yang tersenyum menggoda dirinya.


Ini semua gara-gara lelaki itu. Padahal ia sudah berkali-kali memberi peringatan pada Alex, tetapi tidak ditanggapi. 


Di dalam perjalanan, Alex terus menggoda Aurel karena pakaian yang ia kenakan hari ini. “Kamu yakin tidak ingin berganti baju?” tanya Alex dengan nada mengejek.


“Tidak,” jawab Aurel dengan raut wajah masam.


Melihat Aurel kesal, membuat lelaki itu semakin gencar menggodanya. “Padahal aku ingin melihat hasil karyaku semalam.”


Aurel menatap Alex dengan mata melotot, ucapan Alex sangat terdengar sangat vulgar. Ia mencubit lengan Alex dengan kuat, tetapi tidak berefek pada lelaki itu. Alex terkekeh melihat perlakuan Aurel, menggoda gadis itu membuat dirinya senang. Ingin sekali Alex memeluk Aurel dengan erat hingga tulangnya remuk.

__ADS_1


__ADS_2