Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 30 Interogasi


__ADS_3

Alex pergi ke kolam renang yang berada tidak jauh dari dapur rumah Aurel. Lelaki itu berjalan dengan menggendong Aurel dengan tangan yang melingkar di leher Alex.


Di gendongan Alex, Aurel dapat melihat paras lelaki itu dari bawah. Ternyata, dilihat dari sisi mana pun Alex tetap tampan. Beruntungnya Aurel kenal dengan lelaki itu dan mendapat semua perhatiannya.


"Sangat tampan," gumam Aurel terus melihat wajah tampan Alex yang memesona dari sisi bawah.


Alex yang mendengar gumaman Aurel menahan gejolak dalam hatinya. Wajahnya memanas, hingga menjalar ke telinganya dan membuat telinga Alex memerah. Ucapan Aurel sukses membuat lelaki itu gugup dan canggung. Di dalam hatinya, Alex merutuki dirinya yang selalu salah tingkah jika berada di dekat Aurel.


"Alex, apakah kamu sedang sakit?" tanya Aurel memegang dahi Alex untuk memeriksa. Tetapi, ia tidak merasakan panas.


Perlakuan Aurel, sukses membuat Alex menghentikan langkahnya dan berhenti di tempat. Semua yang dilakukan Aurel, membuat Alex berdebar-debar.


"Kenapa berhenti? Apakah aku terlalu berat hingga membuatmu kesusahan? Kalau begitu, turunkan aku."


Aurel tidak ingin membebankan Alex. Ia bisa berjalan sendiri dengan pelan-pelan, meskipun tangannya harus memegang benda untuk membantunya melangkah. Yang penting, Alex tidak kesusahan karena dirinya.


Aurel melepaskan tangannya yang berada di leher Alex, ia mengayunkan kakinya untuk minta diturunkan. Aurel rasa, kakinya sudah membaik. Ia tidak merasakan sakit dan kakinya pun sudah tidak membengkak.


"Ayo, Alex. Turunkan aku," ucap Aurel ketika Alex masih tidak juga melepaskan gendongannya. Jika memberontak, Aurel takut jika nanti terjatuh.


"Tidak, biar aku yang menggendongmu. Kakimu sedang sakit, Aurel!" ucap Alex memperingati Aurel agar tidak banyak gerak, ia khawatir nanti akan terjatuh.


"Tetapi, kamu sakit. Aku tidak mau membebankanmu," balas Aurel yang sudah tidak bergerak, ia kembali mengalungkan tangannya ke leher Alex ketika lelaki itu berjalan lagi.


"Kamu ini bicara apa, sih? Aku tidak sakit dan tidak juga merasa dibebankan, kamu itu sangat ringan. Oleh karena itu, lain kali kamu harus makan yang banyak."


Aurel cemberut, Alex berbicara seakan mengejek badannya yang kurus ini. Padahal kan memang sudah dari sana badannya kurus, ditambah lagi dengan penyakit yang dideritanya ini membuat badannya lebih kurus.

__ADS_1


"Apakah kamu sedang mengejekku?" tanya Aurel menatap Alex dengan tajam.


Tangan Aurel mengeratkan pelukannya pada leher Alex. Ia kesal dengan ucapan menyebalkan dari Alex.


“Tidak, aku tidak mengejekmu. Aku hanya memberi saran kepadamu untuk makan lebih banyak,” jawab Alex mengelak.


Ia merasakan sakit bagian leher karena pelukan tangan Aurel yang sangat erat. Alex baru saja bisa menghembuskan nafasnya lega ketika Aurel mengendurkan pelukan tangannya.


Setelah sampai di halaman belakang, di mana di sana ada kolam renang. Alex menurunkan Aurel di tepi kolam. Mereka duduk berdua di tepi kolam renang. Menatap air yang terombang-ambing dengan tenang tanpa harus terburu-buru, tetapi ada kalanya air itu harus terombang-ambing dengan cepat karena paksaan. Dan, begitu juga dengan hidup. Ada kalanya masalah akan datang.


Aurel menghirup nafasnya dengan memejamkan matanya. Menikmati angin yang datang lalu pergi, membuat rambutnya berantakan hingga menutupi wajahnya.


“Apakah kamu sedang menikmati suasana?’ tanya Alex menyingkirkan rambut Aurel yang menutupi wajah cantik gadis itu.


“Aku suka dengan suasana di sini, seperti tenang,” ungkap Aurel menatap Alex dengan senyuman manisnya.


Seakan mengingat sesuatu, Alex membuka matanya. 


“Aku ingin bertanya, boleh?” tanya Alex memulai percakapan. Tetapi, matanya tetap menatap ke arah air kolam di depannya.


Mendengar Alex membuka suaranya, Aurel duduk tegak menatap Alex yang sedang memandang ke arah depan. Raut wajah Alex terlihat serius, apakah pertanyaan Alex nanti pun hal serius juga? Apakah dirinya berbuat kesalahan? Tetapi, Aurel merasa tidak melakukan kesalahan atau menyembunyikan sesuatu dari Alex.


“Kamu ingin bertanya apa?” tanya Aurel dengan mata yang masih memandang wajah Alex.


Alex mengalihkan pandangannya ke arah Aurel. “Kenapa kemarin kamu bisa dengan Farel?” tanya Alex.


Sesuai pikirannya, Alex akan bertanya tentang hal itu. Aurel bingung akan menjelaskan semuanya dari mana, ia takut nanti Alex akan marah padanya. Tetapi, jika ia tidak menjawab, Alex akan lebih marah lagi.

__ADS_1


Aurel menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena telah membohongi Alex. “Maaf, Alex.”


“Aku bertanya agar kamu bisa menjelaskan, bukan untuk meminta maaf,” balas Alex dengan mengerutkan keningnya.


Alex masih bingung dengan kejadian itu. Tetapi, ia pun marah karena Aurel terluka. Tetapi, hatinya masih penasaran bagaimana bisa Aurel bersama Farel.


Aurel memilin kedua tangannya gugup, ia memejamkan matanya sejenak dan akan menjelaskan kepada Alex dengan pelan-pelan.


“Sebelumnya, aku meminta maaf kepadamu. Sewaktu itu, kamu sedang membantu Kak Nafa dan aku masih penasaran dengan toko butik tempat Farel bekerja. Jadi, aku diam-diam pergi untuk mengikuti Farel,” ucap Aurel menjelaskan.


Dapat Aurel lihat raut wajah Alex yang berubah menjadi datar. Inilah yang ia takutkan, takut jika nanti Alex akan marah dengannya saat sudah selesai menjelaskan. Pastilah, siapa yang tidak kesal jika berada di posisi Alex? Aurel pun menyadari kesalahannya.


“Kenapa? Padahal aku bisa membawamu untuk mengunjungi semua butik yang ada didaerah ini,” balas Alex dengan kecewa. Jika Aurel meminta, tanpa menunggu waktu lama ia pasti akan mengabulkannya. Selama yang diminta adalah hal positif.


“Kamu tahu? Saat kejadian itu, aku sudah mencarimu keliling dengan perasaan gelisah dan khawatir. Takut jika nanti kamu kenapa-kenapa,” lanjut Alex.


Saat mengatakan itu, Aurel melihat pancaran kecewa dari mata Alex. Ia sungguh menyesal karena tidak menuruti perkataan Alex.


“Maafkan aku, Alex.”


“Tidak apa-apa. Lain kali, jika ada yang kamu inginkan langsung kabari saja aku. Dengan senang hati aku akan menuruti permintaanmu,” ucap Alex dengan mengacak rambut gelombang Aurel.


Aurel mendongak untuk menatap Alex yang ternyata sedang tersenyum kepadanya. Hati Aurel cukup meleleh mendengar ucapan Alex yang begitu dalam dan perlakuannya yang selalu membuatnya salah tingkah.


Aurel beruntung bisa mempunyai Alex, ia merasa diperlakukan bagai seorang ratu oleh lelaki itu setelah papanya. Bahkan, Alex sangat peduli dan perhatian kepada dirinya hingga rela menginap di rumahnya. Aurel memang sudah mengenal baik orang tua Alex, tetapi ia tidak menyangka dengan sikap kepedulian Alex yang sangat tinggi.


Meskipun Aurel tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tetapi, setidaknya ia mendapatkannya dari orang-orang terdekatnya. Dengan begini saja, Aurel sudah sangat senang. Ia tidak merasakan kesepian lagi.

__ADS_1


__ADS_2