Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 17 Bersama Alex


__ADS_3

Di perjalanan, Aurel hanya menatap jalanan dan Alex yang sedang fokus menyetir. Keheningan melanda di antara mereka berdua.


Tidak ada yang memulai berbicara, baik Aurel atau pun Alex. Aurel yang sedang memikirkan banyak hal acak di otaknya dan Alex yang canggung.


Alex berdehem untuk menghilangkan kegelisahan yang muncul dalam dirinya.


"Alex," panggil Aurel yang akhirnya membuka suara.


Tanpa ia sadari, Alex menghembuskan nafasnya lega mendengar Aurel mengeluarkan suara. Sedari tadi, Alex terus menahan nafasnya dan menghembuskan pelan-pelan. Sebab, suasana yang menurutnya canggung di dalam mobilnya.


"Iya? Apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Alex menawarkan.


Mendengar tawaran Alex, Aurel berpikir. Apa yang akan ia minta? Aurel bahkan sudah banyak meminta untuk hari ini, tetapi Alex tidak lelah untuk memberinya tawaran.


"Kenapa kamu selalu saja memberiku tawaran? Padahal sudah banyak yang aku minta," jawab Aurel dengan heran.


"Tidak masalah, selagi aku bisa mengabulkan keinginanmu."


Aurel menatap Alex dengan mata berbinar, ia terharu dengan ucapan pernyataan Alex. Inilah yang Aurel suka dari Alex, lelaki itu selalu ada saat Aurel sedang membutuhkannya.


"Terima kasih, Alex!" seru Aurel memeluk lengan kekar Alex, ia terlalu senang mendengar itu semua.


Seketika badan Alex membeku mendapat pelukan dari Aurel. Hatinya tidak terkondisi, ini terlalu mendadak untuknya. Tetapi, Alex berusaha untuk mengontrol tubuhnya dengan baik.


Tangannya terangkat untuk mengelus rambut Aurel yang bergelombang. Aurel tersenyum membuat lesung pipinya muncul, melihat itu Alex ingin sekali mencubit pipi Aurel.


"Kamu terlihat lucu jika tersenyum seperti ini," ungkap Alex dengan jujur dari dalam hatinya.


Pipi Aurel memerah, ia tahu arti yang Alex ucapkan. Sudah berkali-kali Alex mengucapkan seperti itu, dan Aurel belum terbiasa, ia tetap akan salah tingkah.


"Sudahlah, perhatikan jalanmu. Jangan menggodaku seperti itu," balas Aurel dengan nada pelannya. Ia sangat malu!


Alex terkekeh melihat tingkah Aurel yang tidak berubah, masih lucu seperti dulu. Ingin ia gigit pipi Aurel, sebab terlalu lucu.


"Jadi, kamu ingin apa?" tanya Alex mengulangi pertanyaan sebelumnya.

__ADS_1


"Aku ingin ke Supermarket untuk membeli sesuatu, bisa?" tanya Aurel membuat Alex mengangguk dengan mantap, "Bisa."


"Tetapi, kamu yang membayarnya, ya?" Alex menganggukkan kepalanya sekali lagi. Lagi pula, uangnya pasti hanya akan berkurang sedikit. Menurut Alex, Aurel jika meminta sesuatu kepadanya pasti yang Aurel minta itu sangat mudah dikabulkan.


"Tentu saja, bukankah seperti itu setiap harinya?" tanya Alex yang langsung di iyakan oleh Aurel. Alex memang selalu menuruti apa yang ia mau.


Alex menghentikan mobilnya di depan supermarket sesuai permintaan Aurel. Mereka turun dari mobil dan mulai memasuki supermarket.


"Alex, mau Es Krim boleh?" tanya Aurel dengan berharap, tapi harapannya pupus kala Alex menggelengkan kepalanya.


Aurel berjalan meninggalkan Alex dengan menghentakkan kakinya kesal. Ia akan memilih makanan yang lain, tentunya ia akan mengambil banyak.


Setelah selesai membeli makanan, mereka menuju kasir dengan satu keranjang penuh yang dibawakan oleh Alex.


Alex tidak masalah, ini tidak akan mengurangi banyak uangnya. Setelah membayar, mereka masuk ke dalam mobil.


"Alex, terima kasih ya!" seru Aurel pada Alex yang sedang menutup pintu mobil.


"Iya, sama sa--"


Mereka berdua hanya membeku di tempat, Aurel pun tak akan menyangka akan terjadi seperti ini.


Alex memberanikan diri untuk mengecup bibir Aurel. Sejenak, tidak ada pergerakan. Ia hanya menempelkan bibir mereka berdua saja. Tentu saja Aurel terkejut dengan tindakan Alex yang mendadak.


Melihat Aurel yang hanya diam, Alex mencoba untuk melu_mat bibir Aurel secara perlahan. Aurel tidak menolak, ia menerimanya dengan memejamkan matanya. Tangan Alex sudah berada di pinggang Aurel untuk menariknya agar mereka lebih dekat, dengan tangan Aurel yang meremas ujung baju Alex.


Mereka berdua sama-sama terhanyut dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Melihat Aurel sudah akan kehabisan nafasnya, Alex menjauh dari wajah Aurel. 


"Manis," celetuk Alex menatap Aurel dengan sayang. 


Aurel tidak bisa menyembunyikan pipinya yang memerah. Ia memeluk Alex, menyembunyikan wajahnya didada bidang Alex.


"Alex, aku malu!"


Sontak, Alex terkekeh dengan pengakuan Aurel yang sangat jujur itu. Ia menangkup pipi Aurel agar menatapnya.

__ADS_1


"Kamu sangat manis, Aurel. Apakah ini karena Es Krim dan coklat yang sering kamu makan?"


Aurel menganggukkan kepalanya. "Iya mungkin, dan kamu harus membelikanku lebih banyak coklat dan Es Krim agar aku tambah manis." jawab Aurel.


Alex mencubit kedua pipi Aurel. Ia mulai menghidupkan dan menjalankan mobilnya. Pikiran Alex masih terbayang-bayang dengan apa yang ia dan Aurel lakukan, hingga tidak sadar mereka sudah sampai di rumah Aurel.


"Alex, berhenti!" pekik Aurel membuat Alex menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Ada apa?" tanya Alex yang sedang terkejut.


"Kamu melewati rumahku," jawab Aurel menatap Alex dengan kesal. Pantas saja sedari tadi Alex diam sembari memandang ke arah depan, ternyata lelaki itu sedang melamun.


Alex memundurkan kembali mobilnya, dan memasukkannya ke dalam halaman rumah Aurel. Saat mereka turun dari mobil, bisa mereka dengar suara pekikan orang dan sesekali suara hantaman barang dari dalam rumah.


Aurel tahu, ini adalah ulah kedua orang tuanya yang sedang bertengkar. Ia menjadi tidak enak dengan Alex karena harus mendengar pertengkaran ini, seharusnya Alex tidak berkunjung ke sini. Aurel takut selepas ini ia akan dijauhi.


"Alex, maaf sepertinya kamu bisa berkunjung lain kali," ucap Aurel dengan tak enak hati.


Alex mengerti dengan perasaan Aurel, tetapi ia tidak mungkin meninggalkan Aurel di saat kedua orang tuanya sedang bertengkar. Aurel pasti sedih, dan ia harus bisa menghiburnya.


"Kenapa?" tanya Alex, Aurel bingung harus menjawab bagaimana. Mendengar kegaduhan dari dalam rumah, apakah Alex tidak juga mengerti?


"Kenapa kamu lebih memilih melalui semua ini dengan sendiri?" lanjut Alex dengan bertanya lagi.


Aurel kini paham. Jujur saja, Aurel sangat kesepian dan membutuhkan teman untuk mendengar cerita keluh kesahnya. Tetapi, Aurel merasa ia sudah banyak bercerita kepada Alex. Ia tidak mau membuat lelaki itu kerepotan.


"Kamu tidak perlu merasa tidak enak kepadaku. Ceritalah jika kamu mempunyai masalah, apakah berteman denganku bertahun-tahun masih membuatmu canggung?"


Aurel dibuat bungkam dengan pertanyaan Alex, ia hanya diam menatap Alex.


"Aku hanya tidak mau membuat kamu repot," jawab Aurel dengan rasa bersalah.


Alex sudah sangat baik dengan dirinya, mendengarkan ceritanya saja itu sudah cukup baginya. Tetapi, Aurel tidak mau terus bercerita kepada Alex. Takut membuat lelaki itu masuk ke dalam masalahnya.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lain kali jika ceritakanlah padaku semuanya, aku akan jadi pendengar yang baik untukmu. Bagaimana jika kita ke dapur? Aku akan membuatkanmu bubur kesukaanmu."

__ADS_1


Aurel mengangguk, mereka masuk ke dalam rumah Aurel dan langsung pergi ke dapur tanpa harus ikut campur pertengkaran Mario dan Carramel.


__ADS_2